
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Ready...
***
"Baiklah. Mau apa?" balas sang kakak demi kebahagiaan adiknya.
"Tiket honeymoon ke London. Bagaimana?" tantang Gia dengan senyuman manisnya.
Rohan yang sudah geram meminta ijin ke toilet. Gia hanya tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya. Ya, Gia hanya menjalankan tugas mengetes keseriusan akan cinta suaminya yang baru sehari itu.
Rohan lelaki baik, tampan dan sopan. Hanya saja Gia belum terlalu yakin akan cinta yang dia katakan. Harta dan status sosial Gialah yang menjadi ketakutan wanita itu.
"Ngobrol sama yang lain dulu ya, Kak! Rohan cemburu nih!" ucap Gia memberikan ponselnya pada Gara dan menghampiri Rohan yang baru keluar dari toilet.
"Bisa bicara berdua sebentar?" tanya Gia pada Rohan dan dianggukinya.
Mereka jalan menuju kursi yang kosong. Di meja itu masih saling diam tanpa ada yang bersuara. Gia maupun Rohan bingung mau mulai dari mana. Gia yang gugup hanya memainkan tangannya dan dihentikan oleh Rohan. Lelaki itu menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Bicaralah. Nggak usah takut." ucapnya dengan lembut walau cemburu masih menguasai dirinya.
"Apa kamu segitu besarnya mencintaiku?" tanya Gia ragu-ragu dan menatap dalam lelaki di hadapannya.
"Aku sangat, sangat mencintaimu. Apakah kamu tidak bisa melihatnya?" ucap Rohan dengan kelembutan.
"Apa kamu lebih mencintainya dari pada aku? Apa dia lebih berarti dari aku? Segitu hebatnyakah dia untukmu?" pertanyaan bertubi-tubi menghantarkan rasa cemburu yang dimilikinya begitu sempurna.
"Cinta? Ya, pangeranku sangat berarti buatku juga keluargaku. Dia sama hebatnya dengan papa, daddy dan opa. Cinta dan kasih sayangku padanya lebih besar untuknya begitu juga keluargaku." jelas Gia dengan semangat empat lima setiap kali ia mengingat Zayyan kakak sulungnya itu.
"Apa perbedaan aku dan dia?" tanya Rohan dengan nada ketusnya, ia sudah tak sanggup menahan cemburu lagi.
"Sangat besar, dia lelaki kedua yang paling berarti dalam hidupku. Dia lelaki yang tak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun, siaga selalu disisiku dan kasihnya tiada tara sama seperti kasih Mama dan Papa." ucapku dengan penuh kebahagiaan.
"Lalu kenapa kamu masih mau bersamaku?" tanyanya dengan kesal.
"Aku? Bukankah kamu yang melamar dan menikahiku!" seru Gia membuat Rohan makin kesal.
"Dengar pangeranku tak layak kamu cemburui. Jika kelak kamu tahu siapa dia, kamu akan malu." seru Gia saat melihat Rohan bangkit dari kursinya.
Rohan membalikkan badannya dan tersenyum getir. Akhirnya mereka berdua menghampiri keluarga yang lain dan kembali membahas masalah resepsi. Setiap membahasnya Rohan dengan raut wajah ditekuk dan malas mengingat perkataan demi perkataan sang isterinya.
Gara memberikan ponsel sang adik dengan wajah sumringah. Gia tahu jika akan ada hal baik saat saudara kembar tak identiknya itu tersenyum. Wanita yang habis menerima ponselnya itu hanya mengangguk sebagai tanda persetujuannya.
Pangeranku
Aku setuju dengan permintaanmu. Selama suamimu bisa terus manyun sampai kita bertemu.
Anggia
Jahatnya dirimu. Sejak kapan makin parah usilmu.
Pangeranku
Sejak dia menyatakan cintanya padamu. Dan kamu membalasnya.
Anggia
Aish, siapa yang bilang aku sudah membalasnya?
Pangeranku
Jadi aku masih punya kesempatankah?
Anggia
Kumat deh. Nggak usah gombal jagain aja wanitamu yang disana.
Pangeranku
Aish, putriku yang jelita cemburu toh.
Anggia
Ish, biasa aja tuh. Cepatlah kembali. Aku sangat merindukanmu disisiku.
Pangeranku
Bagaimana aku mau kembali, kamu sudah bersama dengannya.
Anggia
Udah deh bahasnya. Selesaikan tugas disana kami rindu pangeran kami.
"Oh jadi gini ya! Selingkuh dibelakang aku." ucap Rohan yang mengintip setiap pesan yang dikirim oleh keduanya.
Suara Rohan yang cukup keras membuat aku, Zeyden dan yang lainnya menoleh. Zeyden mengerutkan dahinya karena marah putri kecilnya dituduh selingkuh oleh menantunya. Saat hendak menegur menantunya, aku menahan tangannya untuk tidak ikut campur.
Gia hanya diam dan mengubah ekspresinya dari tersenyum sampai datar. Ia kesal karena dituduh selingkuh. Ia bahkan tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun selain keluarganya. Gia juga tidak pernah mau dekat dengan lelaki lain jika ia masih berstatus pelajar.
Saat ingin memulai dunia barunya, ia sudah langsung menjadi nyonya Rohan. Gelar itu ia dapatkan setelah beberapa jam usai wisuda. Wanita mana yang tidak kaget dipinang dalam hitungan jam saja. Dia bisa menerima semua kehendak sang pencipta, dan bertekad mencoba membuka hatinya.
Tetapi baru beberapa hari saja suaminya sudah menunjukkan siapa dirinya. Emosi yang dilontarkan pada dasarnya karena cemburu. Namun, ia salah menempatkan pada situasi dan orang yang tidak tepat. Bagaimana mungkin ia bisa cemburu pada kakak iparnya sendiri? Dan bagaimana mungkin istrinya berselingkuh dengan kakak kandungnya?
"Maaf nih Kak Rohan. Maksud kakak apa nuduh Kak Gia selingkuh? Mungkin aku tidak mengerti maksud kakak, hanya saja Rakha merasa itu sesuatu hal yang kurang baik." tegur Rakha yang merasa kakaknya sedang dalam situasi dihina.
"Hm, iya Ro. Kenapa kamu bisa nuduh Gia selingkuh?" tanya Gara yang geram dengan adik iparnya itu.
"Ia masih berhubungan dengan pangerannya lewat pesan yang dikirim dan mengungkapkan rasa rindunya. Bukankah itu menunjukkan dia selingkuh!" tutur Rohan kesal.
"Aish, ini karena pangeran itu. Cemburumu salah pada orang dan situasinya. Itu nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jamin pangeran itu hanya orang yang berarti dalam hidupnya, tapi tak kan pernah bisa seperti kamu." jelas Gara dengan lembut.
"Maksudnya?" tanyanya dengan kebingungan.
"Cukup, saya akan jelaskan siapa pangeran itu!" seru Gibran yang langsung to the point.
"Zayyan bukan yang kalian semua maksudkan?" tanya Gibran pada lelaki-lelaki yang sedang membahas pangeran itu dan mereka menganggukinya.
"Ya ampun, Rohan. Jangan pernah cemburu pada Zayyan. Kamu salah jika cemburu pada putra mahkota generasi kedua keluarga Pradipta. Mengerti sampai sini?" ucap Gibran dan membuat Rohan berpikir.
"Jangan bilang dia kakak ipar pertamaku?" tanya Rohan dengan wajah cemas dan mereka menganggukinya.
"Kamu kenapa nggak bilang sih, sayang!" ucap Rohan memegang pipi Gia dengan wajah merah menahan malu, sedangkan yang lain hanya tertawa.
"Ya Allah, jadi selama ini kamu cemburu pada pangeran kita?" tanyaku yang berpikir akan kejadian menimpa anaknya selesai ijab kabul.
"Iya, Ma." lirihnya dengan perasaan malu.
__ADS_1
"Malu sekarang?" sindir Gia membuat Rohan makin memerah.
"Hm. Kamu juga sih nggak ngasih tahu aku." ucap Rohan membuat Gia jengah dengan ucapannya yang menyalahkan dirinya.
"Haruskah? Dikeluargaku hanya aku anak perempuan satu-satunya dan hanya Kak Zayyan kesayangan kami semua. Tidakkah kamu menyadari hal itu sejak awal?" ucap Gia bete dengan sikap suaminya yang sudah salah paham akan sikapnya.
"Sorry!" lirihnya sambil memohon pada isterinya itu.
"Jangan minta maaf padaku, mintalah maaf pada dia, karena malam itu kamu mengecewakan dirinya." ucap Gia dengan tatapan sedih mengingat malam itu dan Rohan hanya menganggukinya.
Semua persiapan resepsi telah dibahas semua. Tak ada yang terlupakan sedikitpun semua sudah usai. Acara itu akan dilaksanakan sebulan lagi dan di hotel milik keluarga Rohan. Usai pertemuan mereka segera kembali ke rumah.
***
Sesampainya di rumah mereka masuk kamar masing-masing. Di kamar Gia masih mendiami Rohan yang tega menuduhnya selingkuh. Memang wajar jika suami mana yang tidak kesal dengan isi pesan isterinya dengan lelaki lain. Hanya saja kesalah pahaman itu terjadi karena komunikasi yang putus. Rohan yang belum mengetahui kakak sulung Gia dan Gia belum memperkenalkannya karena jarak.
Di media manapun juga belum ada info tentang putra sulung dari keluarganya. Karena itu pula Rohan tak bisa mengetahui jati diri sang kakak ipar. Ia pun bertekad akan mencari tahu sosok lelaki yang dikagumi oleh keluarga isterinya.
Rohan menatap foto sang kakak ipar di album keluarga, ia membayangkan dirinya berdiri sejajar dengannya. Zayyan jauh dari dirinya dari segi apapun. Fisik, otak, sikap, sifat dan status. Fisik sang kakak ipar yang tinggi, tampan, putih, dan dari segi apapun pasti jadi rebutan para wanita, sedangkan dirinya hanya beberapa wanita yang merebutkannya. Otak banyak piala diruang keluarga didapati atas nama Zayyan sedangkan dia hanya menjadi juara kelas saja.
Sikap dan Sifat Zayyan jauh lebih baik pastinya dari Rohan, karena lelaki yang menetap di London itu menjadi kebanggaan keluarga. Status sosial Zayyan lebih tinggi dari Rohan. Kekayaan keluarga Pradipta diatas segala-galanya dari kekayaan keluarga Rohan.
Rohan menatap isterinya yang masih mendiaminya walau hanya di dalam kamar. Lelaki itu sudah tak tahan didiami sang isteri, langsung duduk bersimpuh saat sang isteri tengah membersihkan wajahnya.
"Gi, maafin aku. Aku bodoh sudah menuduh kamu yang nggak-nggak. Please maafin aku!" mohonnya sambil menaruh kepalanya di pangkuan Gia.
"Hm, kamu meminta aku belajar mencintaimu. Namun, kamu sendiri nggak memercayaiku. Apa aku salah bersikap seperti ini?" tanya Gia dengan nada sedih.
"Maaf, aku janji nggak akan mengulangnya lagi. Aku akan percaya sama kamu. Kita baru membuka lembaran baru, masa iya lembaran itu harus banyak coretannya yang salah. Maafin aku ya!" pintanya dengan memelas pada sang isteri.
"Ro, Kak Zayyan itu sangat penting dalam hidupku sama pentingnya sama anggota keluargaku yang lain. Kamu baru saja masuk dalam kehidupanku, jadi maaf aku belum bisa menjadikan kamu seperti mereka. Akan tetapi aku nggak tahu kedepannya akan bagaimana. Bisa jadi kamu lebih penting dari Kak Zayyan nantinya. Ro, kamu tahu perkataanmu tadi membuat sakit di dalam hatiku. Selama aku hidup, aku tidak pernah pacaran atau dekat dengan lelaki mana pun selain kakak dan adikku." jelas Gia yang mulai menitikkan air matanya.
"Gi, Please jangan nangis, aku nggak mau kamu nangis karena aku." ucapnya sambil menghapus air mata yang terus jatuh membasahi pipi isterinya.
"Aku butuh bukti dari kamu bukan janjimu. Cintai aku apa adanya jangan lihat harta dan statusku, Ro. Aku sedang berproses menerima dirimu dalam hidupku." ucap Gia dengan suara serak khas habis menangis.
"Aku akan berusaha membuktikan semua ucapanku." ucap Rohan sambil memeluk isterinya dan mendapat respon dari Gia.
***
Hari demi hari terus berganti, minggu demi minggu telah berlalu. Kini Rohan sudah bekerja di rumah sakit pusat milik Zeyden. Dia bekerja di bagian administrasi kantornya. Zeyden percaya bahwa anak menantunya itu sanggup dengan tanggung jawab yang diberikannya. Rohan anak yang dapat dipercaya.
Hubungan dengan Gia pun semakin mesra walau keduanya belum menjadi pasangan suami isteri secara batiniah. Mereka masih belum siap untuk hal itu. Lagi pula mereka belum melakukan resepsi, jadi alangkah indahnya jika dilakukan usai resepsi.
Gia dan Rohan tidak melanjutkan kuliah ke London, tetapi keduanya memilih universitas nomer satu di sini. Gara sudah menyusul sang kakak di London. Jadi rumah Zeyden sepi dari hal konyol yang di lontarkan oleh Gara. Tetapi saat resepsi semuanya akan hadir termasuk si sulung.
Zayyan memang tidak akan pulang sebelum kuliah selesai. Namun, ia akan hadir di hari bahagia adik perempuan satu-satunya itu. Tak ingin membuat kecewa sang adik. Di hari itu juga satu-satunya momen seluruh keluarga bisa berkumpul lengkap.
Gia dan Rohan memang tidak tahu bila keluarga dari London akan datang. Selama empat minggu Kak Aryan beserta keluarga dan anak-anakku akan tinggal di Indonesia. Selama itu pula aku mempersiapkan momen terbaik bersama pangeran-pangeranku tersayang.
***
"Ma, besok kita janjian sama Om Gibran untuk tester makanan dan dessert. Mama nggak sibuk kan?" tanya Gia saat kami sedang berkumpul di ruang tamu.
"Besok jam berapa?" tanyaku sambil bersandar pada lengan suamiku.
"Jam sebelasan kalo nggak salah." sahut Gia dengan memberikan Rohan minuman.
"Di tempat kemarin kan? Mama nyusul aja ya! Karena harus menjemput klien penting." jelasku dengan baik.
"Di tempat Om Gibran, Ma. Ya sudah kalo gitu Mama nyusul ya!" ucap Gia dan itu membuat orang disampingku mengepalkan tamgannya.
"Besok Mama dan Papa menyusul ya!" ucapku berusaha menenangkan suamiku.
Zeyden memang masih suka cemburu tidak jelas jika berhubungan dengan Gibran. Walau aku sudah menunjukkan bahwa tak ada rasa apapun pada masa laluku itu. Kami berdua tahu, Gibran memang masih menaruh rasa padaku. Karena sampai detik ini dia belum juga menikah. Alasannya sangat simpel, masih asyik berkarir.
***
Keesokan harinya atau dua minggu sebelum resepsi. Aku, Zeyden menjemput kakak dan anakku di bandara sedangkan Rakha menemani Gia juga suaminya. Usai menjemput dan mengantar mereka semua ke rumah Ayah. Kami berdua pamit untuk bertemu Gibran.
Berat untuk meninggalkan mereka yang baru kujumpai setelah sekian tahun. Tapi apa daya demi suprise untuk Gia, jadi kurelakan berpisah dengan mereka lagi. Zayyan ingin menemani tapi dilarang oleh semuanya, selain demi kejutan juga dia masih jetlag.
Kami berdua menaiki mobil sport milikku karena mobil Zeyden di pakai oleh Gia. Hm, lagi dan lagi kami menikmati masa pacaran. Suamiku tak lepas menggenggam tanganku, wajahnya sudah masam. Hanya satu alasannya cemburu.
"Apa kita batalkan saja bertemu dengan Gibran?" tanyaku sambil mencium punggung tangannya.
"Kasihan Gia, jika kita batalkan!" serunya yang masih memikirkan putrinya.
"Tapi, aku nggak mau lihat wajah kamubyang kecut ini." sahutku sambil mencubit dagu suamiku dengan menggodanya.
"Genit!" serunya sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Aish, siapa yang genit barusan? Kalo aku kan genitnya cuma sama kamu." godaku sambil memeluk lengan tangan kirinya.
"Nah, gitu dong senyum. Kan gantengnya jadi makin-makin." ucapku dengan mencium pipinya kilas.
"Hei, kamu sering betul belakangan ini mencuri kesempatan dariku." gerutunya yang tak terima aku agresif padanya.
"Biarin." ucapku sambil kembali mencium pipinya. Namun, dia malah menoleh dan yang kena adalah bibirnya.
Segera aku memundurkan wajahku. Aku takut dia akan lepas kendali, bahaya itu. Zeyden hanya tersenyum melihatku tersipu akan sikap yang baru saja kami lakukan. Aku memang paling jarang mau mencium bibirnya, bukan karena bau mulut. Akan tetapi dia akan menjadi buas setelah mendapatkannya.
Waktu yang kami ditempuh menuju tempat Gibran adalah satu jam. Karena macet yang sangat luar biasa. Kini mobil kami memasuki kawasan perumahan elit di Jakarta. Zeyden mengikuti google maps untuk sampai tujuan. Karena kami berdua belum ada yang pernah kerumahnya lagi.
Setelah muter-muter selama lima belas menit, akhirnya kami tiba juga di rumah Gibran. Mobil kami terparkir di pinggir jalan karena halaman rumah berwarna biru itu tidak cukup. Usai memarkirkan mobil Zeyden menghampiri pintuku dan membukanya. Tak lupa dia menggandengku tanpa dilepas sedikit pun.
Tanpa perlu menekan bel, kami sudah disambut oleh Gibran secara langsung. Bahagia, tidak bahagia sama sekali karena dia hanya masa laluku yang pahit. Kami melangkah mengikuti langkahnya, menuju sebuah ruangan yang sudah ada anakku.
Ketiganya menyapa dan menghampiri kami serta tak lupa mencium tangan. Sopan santun dalam keluargaku sangat penting, jika tak ada sopan mau jadi apa generasi ini.
Gibran langsung menunjukkan makanan dan minuman untuk kami semua cicipi. Jika ada yang kurang pas maka bisa diperbaiki. Kami semua mencicipi mulai nasi goreng, ikan fillet saus asem manis sampai dessert es doger.
Gia, Rakha, Rohan dan Zeyden menyukai semuanya. Jadi sesuai kesepakatan semua menu diambil untuk acara resepsi. Bukan hanya makanan ternyata untuk tester hari ini, tetapi sekalian fitting baju.
Ketiga pemuda pemudi itu sudah lebih dahulu fitting, kini tinggal aku dan Zeyden. Aku memakai baju kebaya berwarna tosca yang akan dipakai nanti. Baju setelan jas berwarna senada pun di pakai oleh Zeyden. Ya, Zeyden yang meminta untuk memakai setelan jas untuk orang tua.
Dia enggan mengikuti tren, karena pola pikir dia yang kadang absurd juga anti mainstream. Selama kami sibuk fitting baju, ponselku tak henti berbunyi. Hanya pesan masuk tapi membuat aku tak konsen dan langsung membukanya.
Zayyan
Ma, apa aku harus fitting baju juga? Tadi Om Gibran menelepon aku lima menit setelah klian pergi.
Mr. A
Apa kami harus ke tempat Gibran?
Zayyan
Ma, are you okay?
Mr. A
My princess plis jawab.
__ADS_1
Aku bingung harus menjawab yang mana. Keduanya sama saja membuat aku galau, kalau mereka sekarang datang maka suprise akan gagal. Jadi kuputuskan untuk diam tak merespon.
Zayyan
Ma, jika mma tidak menjawab kami akan kesana sekarang.
Priyanka Pradipta Putria
Nggak usah kesini hari ini. Besok saja ya ditemani papa. Karena rumah Om Gibran bukan yang biasanya.
Zayyan
Baiklah, Ma. Nanti aku sampaikan ke daddy.
Priyanka Pradipta Putria
Oke, sayang. See you.
"Siapa yang mengirim pesan, sayang? Kok kamu tegang gitu." ujar Zeyden dengan cemas karena aku tegang.
"Zayyan dan Kak Aryan mau kesini tadi. Tapi sudah aku larang, besok kamu temni mereka ya!" bisikku kepada Zeyden yang tak ingin anak-anak itu mendengarnya.
Zeyden mengangguki permintaanku sebagai tanda setuju dan tidak keberatan. Dia senang karena bukan aku yang diminta datang lagi kesini. Senja sudah pergi, kini rembulan telah tiba. Kami semua undur diri dan bergegas pulang ke rumah. Dipertengahan jalan kami berhenti karena rasa lapar menguasai diri kami.
Anggia
Ma, mampir makan dulu ya! Rakha laper katanya.
Priyanka Pradipta Putria
Baiklah. Mau makan apa kalian?
Anggia
Apa saja kata Rakha, Ma!
Priyanka Pradipta Putria
Nasi padang atau bakso?
Anggia
Ada pilihan lain nggak. hehehe.
Priyanka Pradipta Putria
Mau apa? Mama sama papa ikut kalian aja.
Anggia
Rakha mau makan di tempat biasa, Ma. Boleh?
Priyanka Pradipta Putria
Hm, Rakha atau Gia?
Anggia
Hehehe. Kami bertiga sih. Boleh?
Priyanka Pradipta Putria
Bicaralah sama papamu!
Tak ada jawaban dari putriku membuat aku senyum sendiri. Karena untuk urusan makanan Zeyden akan melarang keras. Sesekali boleh, tapi jika rutin tidak akan boleh. Suamiku memang keras untuk urusan makanan. Zeyden yamg penasaran mulai buka suara.
"Kenapa yank?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.
"Putrimu minta makan di tempat biasa. Boleh?" tanyaku jujur apa adanya.
"No, no dan no. Sering sekali mereka itu makan disana." tegas Zeyden dengan wajah berubah datar nan dingin.
"Hei, jangan ngomel ke aku atuh yank. Ngomong sama anak-anak nih!" ujarku sambil menekan nomer telepon Anggia dan tak lupa menyalakan loud speaker.
Lama aku menunggu, namun tak kunjung diangkatnya. Aku pun menghubungi Rakha berharap diangkat, kembali tak lupa menyalakan loud speakernya.
"Halo, Ma. Kenapa?" ucap Rakha dengan santainya.
"Papa mau bicara nih!" seruku dan terdengar suara hembusan nafas kasar.
"Papa nggak ijinkan makan di tempat itu. Boleh yang lain asal tidak disana!" ujar Zeyden tegas tak ingin dibantahkan.
"Kok Rakha yang diomelin sih, Pa. Itu Kak Gia dan Kak Rohan yang mau." gerutu Rakha yang tidak tahu apa-apa karena dari tadi dia tidur.
"Hehe. Maaf, Pa. Itu Gia yang mau, bukan Rakha." teriak Gia mengakui kesalahannya.
"Sejak kapan kami mengajari kamu berbohong apalagi membawa nama orang lain?" ucap Zeyden dengan nada kesal akan sikap putrinya.
"Maaf." lirih Gia.
"Baiklah kita makan di restoran depan setelah pom bensin." titah Zeyden dengan nada kembali melembut.
"Baik, Pa." seru ketiganya kompak dan aku langsung menggelengkan kepalanya.
Aku hanya mengelus lengan Zeyden untuk menenangkannya. Dia selalu merasa bersalah sesaat setelah memarahi anak-anaknya.
***
Di depan parkiran restoran favorit Zeyden. Kami semua memasukinya, aku terus menggandeng tangan suami tercinta hingga seluruh pengunjung menatap ke arahku. Kami memasuki ruang VIP di restoran itu. Ketiga orang yang mengikuti kami tampak bingung dengan sikap karyawan restoran itu. Sikap mereka sangat ramah pada keluarga kami, dan juga kami tanpa memesan lebih dahulu bisa masuk ke ruangan itu.
Mereka bertiga hanya diam memerhatikan sikap demi sikap para pelayan. Bahkan manajer di restoran itu turun langsung menghandle untuk menjamu kami. Gia hendak membuka suara namun Zeyden menatapnya dengan tatapan tajam, sehingga dia kembali menutup mulutnya.
Makanan pun datang. Kami semua menikmati makanan tanpa suara. Di restoran itu Zeyden memperlihatkan sosok romantisnya. Dia menyuapi aku makanan sesuap demi sesuap. Membuat siapapun yang melihatnya iri. Rohan dan Gia setiap harinya hanya belajar dan memahami arti kebersamaan.
Rohan langsung menggenggam tangan Gia dan hanya menatap suaminya dengan senyuman manis. Rakha selalu bersyukur setiap kali melihat keharmonisan orang tuanya.
"Boleh bertanya?" Rakha berkata dengan hati-hati takut salah bicara.
"Kami tahu apa yang akan kamu tanyakan." sahut Zeyden sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ini semua akan jadi milik Rakha." ujar Zeyden dengan tegas.
"Tapi, Pa?" ucap Rakha dan Gia bersamaan.
"Nggak usah khawatir. Semua sudah papa atur. Rumah sakit milik Gia dan akan dibantu Rohan dalam pengelolaannya." sahut Zeyden membuat kedua anak kami kaget luar biasa.
"Untuk Gara dan Zayyan juga sudah ada sendiri. Kalian tidak usah berpikir banyak ya. Lakukan yang terbaik akan apa yang sudah papa kalian tinggalkan." ucapku dengan tegas.
Mereka pun akhirnya diam tak berkutik setelah mendengar perkataan kami. Ya, jauh sebelum mereka dewasa kami berdua sudah mempersiapkan usaha yang akan mereka tangani. Bukan karena kami merasa mampu, tetapi ingin mereka memiliki usaha masing-masing agar kelak tak meributkan masalah harta.
***
Hai kesayanganku, sudah aku panjangin..
__ADS_1
Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Lanjut nggak nih...