Relung Langit

Relung Langit
Part 153


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian. Kami kembali pada aktifitas rutin. Ayah juga sudah pulang ke rumahnya bersama Kak Aryan. Awalnya tak mengijinkan kalau Ayah ikut dengan Kak Aryan, tapi kakak bilang dia juga ingin merawat orang tua kami satu-satunya itu. Jadi mau tidak mau aku mengalah.


Aku selalu ke rumah sakit usai Amara sekolah. Walau lelakiku dibilang sudah pensiun, tapi sebagai pemiliknya tetap memantau. Kali ini Amara meminta untuk keliling ke ruang rawat anak. Si bungsu memang senang bermain dengan pasien anak yang mengidap berbagai penyakit mulai yang ringan sampai yang berat.


Kami selaku orang tua tidak pernah membatasi sosialisasi anak. Malah sangat bangga memiliki anak yang jiwa sosialnya tinggi. Saat sedang menyaksikan Amara tengah asyik menghibur dengan anak-anak itu, ponselku berdering dan tertera nama Zeyden disana.


"Assalamualaikum, Sayang." sapaku dengan penuh kelembutan.


"Waalaikumsalam, kalian di mana. Aku sudah di ruangan kok kalian nggak ada?" tanya Zeyden yang panik tidak mendapati anak dan isterinya.


"Ah, ini sayang. Amara ngajak ke ruangan anak-anak dulu. Kamu mau menunggu sama dia bosan atau kesini?" sahutku sambil tetap fokus menatap putri kesayanganku.


"Aku kesana saja, sekalian mau lihat kondisi anak-anak." sahut Zeyden dan langsung memutus panggilan dengan cepat.


Tak berapa lama Zeyden tiba dan menghampiriku. Dia akan selalu memeluk pinggangku serta mencium keningku setiap saat jika sedang bersama. Dia melihat Amara yang bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan para pasiennya itu.


Zeyden menghampiri sang putri serta mencium ubun-ubun kepala Amara. Tiba-tiba seorang gadis cantik memasuki ruangan rawat anak itu. Wajahnya sangat cantik bak super model, kalau dilihat dari wajahnya usia gadis itu tidak jauh berbeda dengan si sulung.


Dia menghampiri salah satu anak yang mengisi bankar di ujung ruangan dekat jendela. Di tangan gadis itu ada buah-buahan juga bunga mawar putih. Aku terus memperhatikan gerak gerik dari sang gadis. Tanpa sadar sebuah lengkungan tergores indah diwajahku.


"Cantik, baik dan lembut." batinku masih dengan senyuman yang tak pernah luntur.


"Sayang, kamu liatin apaan sih?" suara lembut membuat aku sadar dari lamunanku.


Aku hanya menjawab pertanyaan suamiku dengan menunjuk arah yang ditatap tadi. Zeyden tersenyum dan segera menghampiri kedua orang yang di dekat jendela itu. Ya, anak lelaki yang sedang dijenguk oleh gadis cantik tadi meronta dan berteriak-teriak.


Anak itu terus berteriak memanggil nama putra sulungku. Entah kenapa aku jadi penasaran. Saat nama Zayyan di panggil-panggil, putriku bergegas ke sumber suara yang menyebut nama kakaknya. Dia berdiri di samping sang ayah.


"Hei, kenapa kamu memanggil-manggil nama kakakku?" tanya Amara penasaran sedangkn sang anak terus saja meronta sambil memegang kepalanya.


"Ara, papa minta tolong ajak kakak cantik ke mama ya, biar papa menangani anak laki-laki ini!" pinta sang ayah pada putri kecilnya dengan lembut.

__ADS_1


"Baik, Pa. Kakak cantik hayo ikut Ara menemui mama Ara." sahut Amara sambil menggandeng tangan gadis cantik itu.


"Kakak cantik kenapa anak itu terus memanggil nama kakakku?" cerocos Ara yang masih penasaran.


"Kamu adik dokter Zayyan?" tanyanya dan dibalas dengan anggukan kepala dari Amara.


"Bisa bantu kakak ketemu dengannya?" lagi-lagi Amara hanya menganggukinya dengan kepala.


"Ma, kakak ini ingin bertemu dengan Kak Zay, boleh bantu Ara hubungi kakak?" ucap Amara pada sanga mama.


"Kamu siapanya anak saya?" tanyaku dengan penuh kehati-hatian.


"Bisa saya bertemu dengannya lebih dulu, Tante? saya janji usai bertemu saya akan jelaskan semuanya." sahut gadis itu dan aku hanya tersenyum sambil mengirim pesan kepada putraku itu.


Tak lama Zayyan menghampiri ke ruangan anak dan mencium tangan juga pipi aku. Lelaki tampan itu juga menciumi wajah sang adik sampai gafis kecilnya tertawa geli. Tak lupa ia menghampiri Zayden yang masih di bankar dekat jendela bersama Amara.


Dia pun menanyakan kesehatan anak yang di tangani sang papa. Zayyan heran kenapa anak itu ingin sekali bertemu dengannya. Padahal dia bukan dokter anak atau yang menangani anak itu.


"Dokter Zayyan, mau jadi papaku?" pertanyaan yang sontak membuat kedua lelaki itu bagai disambar petir.


Mereka keluar ruangan dan masih dalam diam. Terlihat jelas wanita itu kebingungan. Zayyan merasakan kecanggungan yang luar biasa. Terlebih setelah ia mendengar pernyataan seorang anak yang belum pernah ia temui.


"Maaf atas kelancangan putra saya tadi. Nama saya Aleta, anda pernah bertemu dengan saya sebelum. Anda pernah menolong saya waktu di Bandung." jelas Aleta dengan ragu-ragu kepada Zayyan.


"Ah, iya saya ingat. Lalu kenapa putra anda bisa mengatakan demikian?" sahut Zayyan dengan datarnya.


"Saya kehilangan suami saya saat melahirkan putra saya itu. Saya bekerja di Bandung sebagai pelayan resto. Hari itu saya hendak pulang lebih awal, karena akan menjenguk anak saya disini. Anak saya mengalami kelainan jantung, saat saya pulih putra saya menanyakan keberadaan saya yang tidak datang beberapa minggu. Saya menceritakan semuanya, sampai dia ingin bertemu dengan anda. Beberapa hari yang lalu, putra saya mendengar adik anda menyebut-nyebut nama anda, dokter. Sejak saat itu dia ingin sekali bertemu dengan anda." jelas Aleta panjang lebar dan hal itu membuat Zayyan diam tak mampu berkata apapun.


"Saya minta maaf atas perkataan anak saya!" seru Aleta dengan mata yang berkaca-kaca karena malu akan sikap anaknya tadi.


"Sayang, penuhilah permintaan anak itu." ujarku sambil mendekati keduanya.

__ADS_1


"Mama sudah dengar semuanya. Buka hatimu sayang." potongku sebelum putra sulungku bicara, aku egois memang meminta anakku menikah dengan wanita yang belum dia kenal.


Zayyan meninggalkan aku dan Aleta, entah kemana dia pergi. Hanya satu yang kutahu dia ingin menenangkan diri atas sikapku barusan. Aku memang salah terlalu memaksakan, hanya saja tak tega jika putraku menjadi bujang lapuk.


Aku juga ingin dia bahagia, tidak hanya memikirkan keluarga dan kerjaannya. Tapi dia juga harus memikirkan generasi penerusnya.


***


Sepanjang hari sejak kejadian di rumah sakit aku tak lagi melihat si sulung. Rasa bersalahku semakin menjadi-jadi, sudah mencoba menghubunginya namun hasilnya masih tetap nihil. Khawatir seorang ibu makin membuat penderitaan dalam hati.


Takut terjadi sesuatu pada putra sulungku. Kali ini aku paham bahwa keegoisanku merusak kebersamaan dengan anak-anak. Tanpa pikir panjang aku hanya mampu mengirimkan pesan singkat.


To Zayyan


Maafkan, Mama sayang. Please pulanglah. Mama rindu kamu, janji tidak akan mendesak kamu lagi.


From Zayyan


Ma, maaf. Biarkan aku sendiri dulu hari ini. Aku akan pikirkan semua baik-baik.


Senang rasanya akhirnya putraku membalas pesan. Walau aku tak ingin jauh darinya, ucapanku tetap akan ditepati.


***


Keesokan harinya putra sulungku pulang dan langsung memelukku. Aku yang sedang memasak dibuat kaget oleh kedatangannya. Hanya senyuman yang mampu terlukis diwajahku.


"Zayyan setuju dengan permintaan, Mama!" serunya membuat aku kaget dan langsung membalikkan badan menghadapnya.


"Apa pernikahan Zayyan akan membuat mamaku yang cantik ini bahagia?" tanyanya dengan tatapan sendunya.


"Mama akan bahagia jika anak-anak mama bahagia. Apa kamu terpaksa dengan keputusan ini?" sahutku sambil menangkup wajah tampan putraku.

__ADS_1


"Tidak. Selama mama bahagia, aku bahagia." tuturnya sangat singkat.


"Sayang, pernikahan itu sekali seumur hidup. Cintai istri dan anakmu dengan tulus, jangan biarkan pernikahan itu kandas." nasihatku sambil menciumi wajah putraku.


__ADS_2