Relung Langit

Relung Langit
Part 113


__ADS_3

"Eh, nggak apa-apa kok sayang. Aku cuma nyebut nama kamu bukan manggil," ucapku dengan wajah memerah karena malu dan marah jadi satu.


"Oh.." sahut Zeyden hendak melangkah meninggalkan kami.


"Hm, sayang jangan pernah marah sama kakak kamu, yakin saja kalo dia melakukan sesuatu pasti untuk kebaikan kita walau sikap dia salah!" seru Zeyden berbalik dan kemudian melanjutkan langkahnya.


"Jadi?" tanya Kak Aryan dengan kebingungan.


"Iya, aku maafkan. Kalo bukan nasihat Zeyden mungkin kakak akan habis sama hukuman dari aku." sahutku sambil tersenyum manis.


Kak Aryan memelukku sambil mencium kedua pipiku. Manis bukan, kedua kakakku memang dari dulu selalu manis. Maka dari itu aku menyayangi keduanya lebih dari diriku sendiri.


***


Malam ini udara sangat sejuk. Kami semua berada di halaman belakang. Semua sudah menunggu disana, aku dan Zeyden segera menghampiri mereka dengan terus menggandeng tangan lelakiku. Mereka semua sudah siap untuk barbeque-an. Aku hanya duduk manis karena keadaanku masih belum fit. Kaum lelaki memanggang sedangkan Bunda dan kedua iparku membuat sambal untuk cocolannya.


Zayyan yang asyik bermain bersama adik dan sepupunya tertawa bahagia walau sorot matanya tak lepas mengarah kearahku. Aku hanya tersenyum saat dia memandangku. Aku duduk di pojok gazebo, karena udara semakin dingin. Rumah ayah yang memang sangat rindang sehingga suasana di rumah ini dingin. Aku hanya menatap kearah Zeyden yang tengah sibuk berbincang dengan Ayah sambil membolak balikkan daging yang dipanggangnya.


Tak berapa lama rasa kantuk menghantuiku, tanpa terasa mataku mulai terpejam. Hanya terdengar suara binatang malam dan tawa dari orang terkasihku. Mungkin mataku masih tak bisa kubuka, tapi aku merasakan kehangatan pada tubuhku. Sebuah dekapan yang tulus mampu menghantarkan hawa hangat kedalam selimut yang membelit tubuhku.


"Ma, jangan sakit ya! Kakak sayang mama. Kakak nggak mau lihat mama kedinginan, biar kakak peluk mama, sampai nanti papa selesai membuat makanan untuk mama!" celoteh Zayyan, anakku yang paling dewasa. Tak terasa air mataku membasahi pipiku.

__ADS_1


"Mama, jangan nangis, kan kakak disini nggak meninggalkan Mama." celoteh Zayyan sambil menghapus air mataku.


"Ya Allah bahagianya aku, mendapat perlakuan manis dari putraku. Aku sangat menyayanginya." batinku.


Terdengar langkah kaki yang mendekati tempat aku duduk. Kepalaku terasa diusap sangat lembut, membuat aku ingin membuka mata tapi sulit sekali. Entah kenapa rasanya berat sekali membuka mataku. Sebuah kecupan di keningku membuat aku menitikkan air mata walau aku tak menginginkannya.


"Mama kenapa Kak?" suara yang sangat membuat hatiku hangat.


"Mama bobo dari tadi, kakak datang pakaikan selimut dan peluk mama. Mama dingin semua tadi," cerocos putra sulungku dengan suara sendu.


"Kakak nangis?" tanya suara berat itu lagi.


"Tidak, kalau kakak nangis, mama akan sedih. Kakak tidak mau mama sedih karena kakak." sahutnya dengan lembutnya.


Aku sudah merasakan kehangatan luar biasa. Aroma kamarku yang wangi akan parfum dari Zeyden membuat aku makin terlelap. Hangat hanya itu yang terakhir kurasakan.


"Kak, acnya tolong dimatikan ya. Terus minta Mommy Anye bawakan air hangat ya!" titah sang lelaki itu dengan lembutnya.


"Dad, apa papa harus kakak panggil untuk periksa mama?" tanyanya polos.


"Tentu sayang, tapi bicara pelan-pelan ya, agar yang lain tidak mendengarnya." seru kakakku dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Aku mendengar suara pintu dibuka dan langkah yang semakin menjauh. Aku pun dapat mendengar kakakku memanggil terus namaku dan menggosokkan telapak tanganku dengannya. Tak lupa dia memberikanku minyak kayu putih untuk menghangatkan badanku. Dia sesekali bersenandung untukku dengan nada indahnya.


"My princess.. Plis.. Ba.." lirihnya terpotong saat tiba-tiba suara pintu terbuka dan terbanting keras ke tembok.


"Zey, jangan gila deh, panik boleh tapi jangan ngebunuh orang deh." gerutu kakakku sambil mengusap dadanya karena terkejut ulah suamiku tersayang.


"Sorry Kak Bi. Nggak maksud." ucapnya sambil mendekat ke lemari dan mengambil tas kerjanya lalu menghampiriku.


"Bagaimana keadaan my princess?" tanya Kak Bi sedikit khawatir saat Zeyden memeriksa kondisi tubuhku.


"Tidak ada yang serius kak!" serunya namun wajah Kak Bryan tak menerima begitu saja.


"Jangan bohong lo, dari di gazebo dia diam saja." gerutu Kak Bryan tak terima dengan sahutan dari adik iparnya.


"Gue serius. Dia baik-baik aja. Sepertinya dia kelelahan dan kedinginan saja. Lihat ini suhu badannya normal." gerutu Zeyden walau tadi sempat mengakali termometer itu sebelum dikasihkan ke kakakku.


"Baiklah gue percaya sama lo. Tapi awas ya kalo lo bohong." ancamnya dan diangguki oleh Zeyden.


"Gue keluar dulu takut yang lain nyariin gue, terus panik karena khawatir sama Priyanka." ucap Kak Bryan sambil melangkah kaki keluar .


"Ya ampun sayang kenapa kamu tidak memanggilku sih, kalo kamu sakit gini. Masa aku harua berbohong, agar mereka tidak khawatir sama kamu!" gumam Zeyden yang masih terdengar di pendengaranku.

__ADS_1


Aku hanya mampu mengerakkan jemariku dan aku langsung menggenggam tangan Zeyden erat. Mendadak mataku mulai terbuka saat Zeyden tanpa henti menciumi punggung tanganku.


"I'm okay sayang. Jangan khawatir lagi ya!" lirihku sambil berusaha tersenyum.


__ADS_2