
Happy weekend and enjoy for reading gaes..
.
.
Karunia illahi sangatlah luar biasa. Rasa syukur tiada tara patut kita ucapkan untuk segala anugerah yang ia ciptakan dan titipkan. Sama seperti udara yang dihirup dengan bebas, demikian pula akan apa yang tampak di depan mata.
Laut yang indah, hembusan angin yang menyegarkan dan tak lupa kedamaian dalam hati. Sesampainya di pantai punai, Zayyan langsung berhambur ke pinggir pantai menemani ketiga anak kecil yang menggemaskan. Tapi sebelum keempatnya menyebur ke laut, mereka berganti pakaian dahulu.
Aleta menemani sang adik ipar sedangkan Zayyan menggntikan pakaian Banyu juga Rangga. Zeyden dan pasukannya memilih masuk ke dalam cottage untuk istirahat sejenak. Anak-anak berlarian di pinggir pantai dengan didampingi Zayyan juga Aleta.
"Anra!! Ayo kejar Rangga," teriak Rangga yang asyik berlarian di pinggir pantai itu.
Banyu hanya bermain air dengan Aleta. Banyu memang tidak boleh terlalu lelah, apalagi lari-larian seperti kedua anak lainnya. Amara terus mengejar Rangga tanpa henti. Mereka tertawa dengan gembiranya.
"Bun, Banyu ingin seperti mereka, tapi kenapa Banyu masih dilarang?" lirihnya dengan tatapan sendu melihat saudaranya berlarian.
"Sabar ya anak Bunda yang tampan!" sahut Aleta dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Banyu, hayo." ajak Zayyan yang sudah jongkok di depan anaknya itu.
"Panda mau apa?" tanya Banyu dengan polosnya karena bingung dengan sikap sang ayah.
"Kita kejar Anra dan Rangga. Kamu mau?" ucap Zayyan dan mendapat anggukan dari anak tampan itu.
Banyu langsung bersandar di punggung sang ayah dengan berpegangan erat. Tak lupa tangan Zayyan menyanggah bokong sang anak agar tak jatuh. Aleta hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia sungguh tak menyangka jika suaminya mampu melakukan apapun demi kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Hati-hati Mas!" ucap Aleta sambil melepas sang suami juga putranya bermain larian.
__ADS_1
"Ara, Rangga, kami datang." teriak Zayyan yang sudah berlari mengejar adik serta keponakannya.
Amara dan Rangg menoleh saat namanya di panggil. Mereka terkejut saat saudaranya ikut bermain larian walau naik dipunggung lelaki kesayangan mereka. Keduanya menjauh dan menghindar dari Zayyan juga Banyu. Tawa canda menghampiri mereka berempat.
"Kakak nggak bisa tangkap Ara, mbleh!" ledek Amara sambil menjulurkan lidahnya keluar.
"Hayo tangkap kami Panda, Banyu!" ujar Rangga yang tak kalah bahagia meledek sang Om juga sepupunya.Aleta tersenyum melihat putranya tertawa bahagia.
"Terima kasih, Mas. Sudah mau hadir dalam kehidupan kami. Aku bersyukur bisa memiliki kamu dan keluarga kamu. Aku beruntung bisa bersanding denganmu, jangan pernah berubah ya, Mas. Tetaplah jadi ayah dan suami seperti saat ini." gumam Aleta dalam hatinya.
Tak berapa lama Zayyan menurunkan Banyu dari gendongannya. Ketiga anak itu lelah dan memilih membuat istana pasir. Zayyan meninggalkan ketiganya untuk membeli minuman, Aleta masih mengawasi ketiganya dari jarak seratus meter. Saat di warung minuman tampak dua orang wanita bergelayutan manja di tangan Zayyan.
Aleta mengerutkan keningnya, ya posisi anak-anak dan warung itu sejajar jadi saat mata memandang anak-anak, Aleta dapat melihat sang suami juga. Aleta bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri anak-anak terlebih dahulu.
"Diam di sini, jangan kemana-mana. Bunda susul Panda sebentar." ujarnya kepada ketiga anak kecil itu dan mereka menganggukinya.
Langkah Aleta membawanya tepat dibelakang laki-laki juga wanita yang genit itu. Gombalan manis keluar dari mulut kedua wanita itu, tanpa Zayyan balas. Beruntung sang suami tidak membalasnya, itu membuat dirinya senang.
"Sayang," Zayyan langsung menepis kedua tangan wanita itu dan menghampiri sang isteri.
"Sudah selesai?" tanya Aleta dan diangguki oleh Zayyan.
Zayyan langsung berlari sambil membuang minuman yang dibelinya. Aleta kaget dengan tingkah sang suami. Ia memungut minuman itu dan matanya terbelalak saat melihat dua anak laki-laki sedang menangis sesegukkan. Ia berlari menghampiri kedua anak itu sambil matanya terus mencari sosok lainnya.
"Mana Panda dan Ara?" tanya Aleta dengan mensejajarkan tinggi badannya.
Anak-anak itu menunduk dengan wajah yang sudah memucat. Hanya tangisan terdengar bersama deburan ombak. Jari telunjuk kedua anak itu mengarah ke laut saat pertanyaan yang sama diajukan Aleta. Dia sangat kaget saat melihat suaminya berjalan ke tepi pantai sambil menggendong anak perempuan di dekapannya.
Saat sampai di tepi pantai anak kecil itu direbahkan di atas pasir. Pertolongan pertama langsung Zayyan lakukan dengan air mata yang terus mengalir. Ia seakan tuli saat melakukan penyelamatan untuk nyawa sang adik. Ketiga orang disekitar Zayyan terus memanggil Amara tapi tetap tak ada respon.
__ADS_1
"Rangga, panggil semua orang ke sini ya, sayang." pinta Aleta kepada Rangga dan diangguki oleh anak itu.
Rangga berlari menuju cottage keluarganya. Sesampainya di sana dia langsung mencari Oma juga Opanya. Tanpa berkata apapun ia menarik tangan Zeyden juga Priyanka dengan air mata yang mengalir. Semua yang melihat tingkah anak itu bingung. Karena Rangga tak menjawab pertanyaan mereka semua.
Saat semua sudah keluar dari penginapan, tatapan mereka mengikuti arah jari telunjuk kecil itu menunjuk. Semua kaget saat melihat Zaayn sedang memompa dada anak kecil. Priyanka berlari sangat kencang menghampiri kedua anaknya.
"Apa yang terjadi sama Ara?" teriak Priyanka menatap anak juga menantunya. "Jawab Mama." Priyanka menaikkan nada suaranya dan itu membuat Rangga juga Banyu ketakutan.
Ya, anak kecil itu tak pernah melihat Oma mereka berkata keras bahkan marah. Rangga juga Banyu langsung memeluk ibu mereka. Zeyden mengambil alih pertolongan untuk sang putri kecilnya. Sedangkan Zayyan sudah dipegang oleh kedua adiknya.
"Zay, jawab Daddy. Apa yang terjadi?" Aryan bertanya dengan menatap mata keponakannya itu, tapi tatapan Zayyan kosong. Dia hanya memberikan gelengan kepala tanda ia tak tahu.
"Rangga, sini Opa Bi mau tanya sama kesayanga opa ini." Rangga menghampiri Bryan dan memeluk lelaki itu dengan menangis keras.
"Anak ganteng, mau cerita sama opa? Kenapa Anra seperti itu?" Bryan mengelus bahu sang cucu dengan lembut, Rangga akhirnya mengangguki kepalanya.
"Tadi saat habis main lari-larian. Panda menyuruh kami di sini untuk kembuat istana pasir. Panda bilang mau beli minum di sana (sambil menunjuk warung yang tadi disibggahi Zayyan). Nggak lama Bunda ke sini, Bunda juga menyuruh kami diam." ucapnya terputus dengan sesegukkan.
"Lalu Bunda kemana?" tanya Bryan dengan lembut.
"Bunda menyusul Panda. Kami sudah teriak memanggil Panda dan Bunda tapi mereka nggak dengar. Saat itu Anra mengejar anak kecil yang ingin mengmbil bolanya. Rangga sudah bilang jangan, tapi Anra tetap mengambilkannya. Bola itu dapat diambil sama Anra dan diberikan kepada anak itu. Tiba-tiba ada ombak dan membawa Anra ke sana!" jelas Rangga menceritakan kejadian yang menimpa sang tante.
.
.
Maaf ya kalo jarang Up kemarin-kemarin. Kalo votenya kenceng aku usahain sering-sering Up deh.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, share dan vote sebanyak-banyaknya gaes...😘😘😘😘