
"B.. B.. Bukan.. Dia bukan Zeyden." Ujar wanita yang mulai mendekat ke arah kami semua.
"Iya dia bukan Zeyden." ujar beberapa wanita lain dengan sangat pasti.
"Hah!" ujar kami semua yang berada disana.
"Tapi saya beneran Zeyden Thamrin." Jelas Zeyden kepada semua wanita yang datang mencari orang bernama Zeyden.
"Bukan.. Kami yakin banget itu bukan anda. Lelaki bernama Zeyden itu pernah datang bersama perempuan bernama Priyanka." jelas salah seorang wanita cantik dengan pakaian sangat minim.
"Apa? Aku!" ujarku kaget.
"Bu.. Bukan.. Perempuan itu.." ujarnya terpotong dan melihat kearah Siska.
"Dia Priyanka.." tunjuk wanita itu ke Siska dan wajah Siska pucat.
"Anda salah orang, nama saya Siska bukan Priyanka." kilah Siska dengan terbata-bata.
Siska ditampar dan di permalukan oleh wanita-wanita itu. Aku, Zeyden dan keluarga kami bingung harus bagaimana. Tapi kami selesaikan baik-baik. Siska meminta maaf padaku dan Zeyden, karena menghancurkan nama baik kami. Siska memang tahu aku pernah menaruh hati pada Zeyden.
Ia terlalu membenciku, karena itu ia tidak ingin aku bahagia terlebih bersama lelaki yang ku cintai. Jahat. Memang sangat jahat. Teman bukan seperti itu. Zeyden dan aku marah tapi kami hanya bisa diam.
***
"Maafin gue Ka. Gue nggak tahu kalo ini rencana sahabat lo." ucap Arik dengan rasa bersalah dan malu.
__ADS_1
"Bukan salah kamu kok. Aku sama Zeyden nggak mempermasalahkannya." ujarku sambil menatap Zeyden dan dia hanya menganggukkan kepala.
"Siapa bilang tidak mempermasalahkannya. Nama Zeyden dan Priyanka tercoreng. Kita harus urus tuntas kasus ini." Ujar kedua kakakku serentak dengan marah.
"Kak, sudah ya! Aku baik-baik aja kok." pintaku pada mereka.
"Mereka benar, ini harus diurus sampai tuntas. Biar aku aja yang bantu urus, sebagai permintaan maaf aku ke kalian." ucap Arik dengan menjabat tangan kakak-kakakku.
Aku dan Zeyden sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka sudah menetapkan sendiri jalur hukum untuk mengakhirinya. Zeyden hanya diam dan tersenyum melihat aku. Lalu dia sadar bahwa aku terluka. Dengan segera dia mengobati lukaku.
Zeyden mengobatiku dengan sangat hati-hati. Lembutnya Zeyden membuat aku makin cinta sama dia. Tatapannya yang hangat dan senyum manisnya membuat aku tidak ingin jauh darinya.
Semua masalah hari ini seakan membuat aku makin yakin memilih Zeyden. Masalah yang baru kami lalui seakan menguatkan kepercayaan satu sama lain. Awal memulai rumah tangga seberat ini kah, mungkinkah aku dan Zeyden sanggup melaluinya.
***
"Saya terima..." ujar Zeyden terpotong oleh perkataan seorang wanita.
"Tunggu. Zeyden Thamrin harus menghentikan akad nikah ini. Dia harus tanggung jawab sama saya." Ujar Siera yang sudah berdiri tepat dibelakangku.
Aku hanya menangis melihat kehadirannya. Tapi aku harus kuat, karena aku percaya Zeyden tidak seperti itu.
"Apa maksud kamu?" ucap Om Zaid mulai buka suara.
"Saya hamil anak Zeyden." ucapnya membuat semua orang kaget.
__ADS_1
Kedua kakakku bangkit dari duduk dan segera meraih kerah baju Zeyden. Aku menggelengkan kepala ke arah mereka, seakan aku memohon tidak menyakitinya. Hatiku sakit mendengar ucapan Siera dan sikap kakakku. Tapi aku bingung harus melakukan apa, lelah sudah badanku juga hati dan pikiranku. Terlebih dengan masalah sebelumnya.
"Cukup sudah. Aku minta hentikan ijab kabul ini. Lebih baik batalkan. Aku tidak mau Zeyden menikahi putriku." Ujar Bunda dengan tegas dan kemudian merangkulku untuk membawaku meninggalkan tempat itu.
"Tunggu Kak. Jangan seperti itu, aku yakin Zeyden tidak seperti yang dituduhkan." ujar Om Zaid kepada Bunda.
"Cukup Zaid. Aku capek melihat kejadian hari ini secara terus menerus. Bagaimana dengan putriku? Dia menangis tanpa henti." Jelas Bunda dengan wajah sedikit kesal.
"Kak, aku hanya mau Priyanka jadi menantuku. Selain dia aku tidak mau." Ujar mamahnya Zeyden sambil menahan tangan Bunda.
"Tante, ini cucu tante. Tante tidak bisa seperti ini padaku." teriak Siera.
"Siera, darimana kamu tahu. Kalo yang kamu kandung itu anakku?" Ujar Zeyden menyelidik.
"Kamu ingat waktu kamu melamarku, saat itu kita berada di hotel. Disanalah kita berhubungan." cerita Siera dengan keyakinan.
"Wow, jadi dia anak Zeyden ya Siera Ayudia." Suara Arik dengan lantang dan Siera menoleh ke sumber suara.
"Arik.." serunya kaget.
"Kamu melakukan hal yang sama denganku beberapa bulan lalu. Sekarang kamu lakukan lagi? Aku jadi yakin dengan Zeyden. Kamu hanya perempuan jalang yang menginginkan kekayaan lelaki." Ujar Arik mbuat Siera menangis.
"Siera pernah melakukan hal sama ke saya. Jadi bisa dipastikan Zeyden bukan ayah dari anak yang ia kandung. Lanjutkan akad nikahnya. Biar wanita jalang ini saya yang tangani." ujar Arik sambil menarik tangan Siera untuk meninggalkan rumahku.
"Bunda, ijinkan Zeyden menikah dengan Priyanka. Zeyden mohon Bunda. Zeyden janji tidak akan membuat Iya menangis lagi." ucap Zeyden dengan janji manis ke Bunda.
__ADS_1
"Zeyden sekali kamu sakitin Priyanka, kamu yang akan menghadapi Papa. Papa tidak akan segan-segan menghukum kamu seberat mungkin." Ujar Om Zaid dengan tegas tanpa terbantahkan dan Zeyden hanya menganggukkan kepala.
"Bunda ijinkan princess-mu ini menikahi pangeran yang dicintainya ya? Iya janji, tidak akan menangis lagi. Iya janji akan bahagia jika bersama Kak Zeyden. Kak Zeyden yang terbaik buat Iya, Bun." rengekku sambil memeluk Bunda dan mencium pipinya.