
Hari yang kunantikan tiba juga, diluar semua orang tengah sibuk. Aku sudah duduk didepan meja rias sejak pukul 5 subuh. Ada sedikit perasaan sedih, karena Kak Bryan tidak bisa hadir, ia tidak bisa cuti kuliah saat ini. Tapi beberapa menit yang lalu dia menelponku, dia sangat bahagia melihat adiknya akan segera melepas masa lajangnya.
Awalnya hari ini itu hanya sekedar lamaran, tapi Ayah mendadak berubah pikiran. Ia mau putri satu-satunya ini menikah biar lebih aman katanya. Aku senang banget karena bisa bersama dengan Gibran mulai sekarang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9, tapi rombongan keluarga Gibran belum tiba. Acara akan dimulai dalam waktu 15 menit. Aku mencoba menelponnya tapi tak diangkat.
"Bun, kok Gibran belum bisa dihubungi ya?" tanyaku pada Bunda yang berdiri disampingku.
"Mungkin kejebak macet sayang, dan ponselnya di silent kali jadi nggak tahu kamu telepon dia." ujar Bunda menenangkanku.
"Ya udah Bunda keluar dulu ya sayang. Nanti kalau sudah datang Bunda kabarin kamu." ujarnya sambil mengecup keningku dan berlalu meninggalkan kamarku.
"Ciye.. cantik banget sih sahabat gue!" seru Siska dan Anyelir.
Ya, saat itu aku dan Siska masih bersahabat. Lebih tepatnya kami bertiga. Siska cantik dengan kebaya berwarna pink sedangkan Anyelir kebaya berwarna silver. Mereka jug tidak kalah cantik dariku.
"Tidak.." suara teriakkan dari bawah.
Kami bertiga saling lempar pandangan, kami tak mengerti ada apa di bawah. Aku yang sudah selesai berdandan dan berpakaian lengkap pun memutuskan untuk turun. Rasa penasaranku sangat dalam untuk mengetahui keadaan di bawah.
__ADS_1
Keributan makin terdengar dengan jelas. Suara Bunda menangis dan Kak Aryan yang berusaha menenangkan Bunda. Ayah marah besar terdengar dari nada suara yang emosional.
"Bikin malu aja. Kalau tidak siap bilang, jngan bikin malu kayak gini. Kalian bisa nggak sih mendidik anak." emosi Ayah menjadi-jadi dengan sosok wanita berpakaian daster.
"Ada apa Yah? Kenapa Ayah marah-marah seperti ini?" tanyaku pada Ayah dn membuat semua orang menoleh ke arahku.
"Priya.." Ujar semua orang dengan wajah terkejut.
"Sayang, ikut Bunda sekarang. Kamu tidak baik ada disini." ucap Bunda sambil menarik tanganku pergi.
Aku menepis tangan Bunda. Aku masih kembali ke hadapan Ayah dan kedua orang tua Gibran. Hatiku hancur ketika melihat calon ibu mertuaku masih mengenakan daster. Pikiran negatif yang hadir segera aku tepis.
"Om, Tante mana Gibran?" tanyaku dengan kelembutan, walau ada sesak saat menanyakan hal itu.
"Mana Gibran? Dimana dia?" tanyaku dengan berteriak dan mencengkram baju orang-orang yang kusayangi satu persatu.
"Kenapa semuanya diam?" teriakku menggila.
"Dimana Gibran? Jawab aku." teriakku semakin kencang.
__ADS_1
"Sayang tenang sedikit. Tenang sayang." ujar Bunda mengelus punggungku.
"Dimana Gibran, Bun?" tanyaku melembut dan Bundaku kembali diam saat pertanyaanku kembali terulang mengenai Gibran.
"Baik kalau tidak ada yang menjawabnya. Aku akan hubungi dia." ujarku dengan nada sedikit emosi.
Aku berlalu meninggalkan mereka semua dan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel. Segera ku telepon nomer Gibran, saat ponsel sudah di tanganku. Aku bingung, tersambung namun tak diangkat.
"Ka, Gibran.." potong Anyelir kepadaku dengan gugup.
"Ada apa dengannya?" tanyaku sedikit cemas.
"Gibran, Ka.." ujarnya kembali.
"Jangan buat kesabaranku habis." ujarku dengan sedikit menaikkan nada suara.
"Ka, Gibran pergi. Entah kemana dia kini. Ponsel, dompet, dan bajunya masih ada dirumah." ucap Siska dengan lantang kepadaku.
"Jangan bercanda, Sis. Gibran nggak mungkin ninggalin gue. Gibran janji sama gue bakal jadi kekasih halal buat gue." ujarku dengan sedikit emosi.
__ADS_1
"Tapi itu kenyataannya Ka." ujar Siska dengan penuh keyakinan.
Aku pusing dan tak berapa lama aku tak sadarkan diri. Semua orang panik, keributan makin berlanjut. Om Alex dan Ayahku perang, mereka memutuskan semua hubungan yang mereka jalin. Bunda stres melihat semua kejadian itu karena perpecahan dan ditambah aku pingsan. Bunda hanya bisa menangis, Kak Aryan jelas marah besar. Dia langsung menyuruh orang-orangnya mencari Gibran dalam keadaan apapun.