
Bukan aku tak menyukai Anyelir menjadi kakak iparku. Aku sangat bahagia bila itu terjadi. Tapi kedua kakakku itu mengutamakanku diatas segala-galanya. Aku takut hal itu menyakiti Anyerlir. Mereka rela melepaskan tunangan masing-masing hanya karena aku. Bagaimana bisa jika hal itu terjadi pada sahabat baikku. Tak bisa kubayangkan jika aku secara tidak langsung menyakiti sahabatku sendiri.
Kedua kakakku sangat baik, cocok sama Anyelir. Aku bingung harus bagaimana sekarang. Segera aku meraih ponselku.
"Halo, An." suaraku agak lirih.
"Hai, Ka. Kenapa suara lo?" sahut Anyelir dengan nada khawatir.
"Kerumah Ayah gue sekarang ya." suaraku lirih.
"Baiklah, sekarang gue meluncur ya." sahut Anyelir menenangkanku.
Kedua kakakku sudah pergi ke habitat masing-masing, aku masih merenung di ruang kerja Ayah. Zayyan dijagain oleh assisten rumah tangga Ayah. Galau, jelas aku sangat galau dibuat oleh kakak-kakakku.
__ADS_1
Tak berapa lama kudengar suara sahabatku berteriak memanggil namaku. Aku masih enggan bangkit dari singgasana Ayah. Terlalu nyaman dikursi ini. Aku menjawab sahutan sahabatku dengan berteriak kembali. Pintu ruangan pun mulai terbuka. Anyelir sangat cantik hari ini, celana jeans dengan kemeja bunga-bunga. Seperti biasa make up natural membuat dia makin cantik.
"Hai, my princess. Tumben diruangan Ayah?" ujarnya sambil meraih kursi didepanku.
"Lagi kangen sama Ayah." ujarku sambil tersenyum miris.
"Bukan cuma itu kan sampe lo nyuruh gue kesini?" ujarnya dengan tangan sudah didagunya.
"Tau aja lo. An, menurut lo, Kak Ryan gimana?" tanyaku dengan wajah serius.
"Lo suka gak sama salah satu dari mereka?" tanyaku dengan nada serius.
"Aku.." mendadak dia tergugup.
__ADS_1
"An, gue tahu lo mungkin ada rasa sama salah satu dari mereka. Tapi gue nggak mau lo atau mereka sakit hati. An, lo tahu kan bagi mereka prioritas utama adalah gue. Apa lo siap jika jadi kakak ipar gue dengan resiko seperti itu?" tanyaku dengan wajah yang serius.
"Ka. Sejujurnya iya, gue suka sama salah satu dari Ryan. Keduanya baik sama gue, hanya saja gue masih bingung rasa gue buat siapa. Jika rasa gue nggak bertepuk sebelah tangan, gue siap menerima resiki yang lo bilang tadi. Karena bagi gue lo juga prioritas gue Ka. Lo itu sahabat sekaligus saudara buat gue." jelasnya dengan kejujuran.
Aku mencari pembelaan dari mata sahabatku, sayangnya aku tak menemukannya. Anyelir menjawab sesungguhnya dengan sepenuh hati.
"Lo yakin siap An? Apa lo tahu mereka sempat tunangan dan berakhir putus?" tanyaku dengan serius dan dia menggelengkan kepala.
"Kak Aryan sempat bertunangan dengan Kak Kaila, sedangkan Kak Bryan lo tahu sendirikan." jelasku.
"Ka, gue nggak tahu alasan mereka putus. Tapi gue yakin itu semua karena lo. Mungkin para wanita itu tidak suka sama lo, dan menghina lo. Bener kan?" ujarnya dengan penuh percaya diri dan aku mengganggukkan kepala.
Anyelir benar semua karena aku. Tapi apa kali ini pun juga karena aku? Aku hanya berharap kebahagiaan untuk kedua kakakku dan juga sahabat-sahabatku. Aku tak mau mereka hancur karena aku.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Gue tahu lo baik sama semua orang tapi apa yang terjadi sama Kak Ryan bukan salah lo." Anyelir menjelaskan dengan memegang tanganku.
"Siapa yang lo sukai dari kedua Ryan di keluarga Pradipta?" tanyaku membuat wajah sahabatku memerah.