
"Lo sih Bi kelamaan. Ngambek kan si Princess, nggak dikasih ketemu deh gue sama ponakan gue!" seru Kak Aryan dengan nada super kesal.
"Kok gue sih Kak." sahut Kak Bryan kesal.
"Cukup, sekarang gimana caranya kita susul mereka sebelum Priyanka makin ngamuk!" seru Anyelir yang celingak celinguk.
Kak Aryan langsung masuk ke dalam hotel dan menghampiri resepsionis. Mereka terlibat sebuah perbincangan cukup lama sedangkan Kak Bryan dan Anyelir di luar menunggu. Sekitar limabelas menit kemudian sebuah mobil berwarna silver menghampiri mereka. Ketiganya langsung menyerbu mobil itu.
Mobil silver itu melaju cukup kencang, beruntungnya jalanan hari ini agak lenggang. Hanya berbeda limabelas menit dari kehadiranku di bandara. Mereka langsung mencari-cari aku dan keluarga kecilku. Ya, mereka sampai mengumumkan namaku di penjuru bandara. Aku tak bergeming, walau Zeyden sudah menarik tanganku menuju sumber suara.
Acuh? Ya, aku sangat acuh. Perasaan kesal masih mendominasi dalam dadaku. Sebal karena mereka menyepelekan waktu. Zeyden tidak bisa melakukan apapun saat aku sudah mengambek, dia tidak mau aku makin marah.
"Zayyan lihat mamah deh, jelek ya kalo lagi ngambek." sindir Zeyden dan membuat aku menoleh sambil memanyunkan bibirku.
***
"Keras kepala!" seru Kak Bi sambil menjitak kepalaku.
__ADS_1
Aku hanya melotot saat kakakku melakukan hal itu. Mereka bertiga menjelaskan alasan kenapa terlambat, sayangnya aku tak menggubris setiap perkataan mereka. Tak berapa lama kami semua masuk ke dalam pesawat. Kali ini jarak kami tidak terlalu jauh.
Anyelir dan kedua kakakku terus mengajak bercanda Zayyan. Anakku seakan tahu kalau mamahnya sedang kesal kepada mereka, oleh karena itu diapun tak mengeluarkan senyuman atau tawa balasan. Aku ingin tertawa saat melihat Zayyan bersikap demikian ke para daddy dan tantenya.
"Bantuin kita baikan sama Priyanka dong Zey." ujar kedua kakakku membujuk Zeyden.
"Lah, kalian yang berarti dalam hidupnya aja nggak bisa bikin dia baik, apa kabar gue Kak." sahut Zeyden pasrah.
"Jujur ya, tanpa kalian minta, tadi gue udah coba bujuk. Ya, hanya saja Ade kalian itu keras kepala sama kayak kalian. Tapi dia bisa luluh kok sama kalian mah. Kalian tahu itu kan." ujar Zeyden dengan senyuman manisnya dan kedua kakakku hanya diam.
***
Hai cantiknya aku. Masih jetlag nggak? Hari ini kakak mau aja Zayyan boleh?
Priyanka Pradipta Putria
Nggak
__ADS_1
Mr. A
Masih marah ya? Sorry cantik.
Priyanka Pradipta Putria
Sesuai kesepakatan kemarin. Nggak boleh temuin Zayyan.
Mr. A
Seriusan nih kamu De***?
Aku tak merespon pesan dari Kak Aryan. Sudah tidak kesal, hanya ingin jahilin aja. Jangan hanya mereka yang kadang jahilnya kebangetan bikin orang keki. Sekarang biar dia merasakan dulu dikerjain aku. Mana bisa aku marah terlalu lama sama para pangeranku itu. Semua sudah sesuai rencana, persiapan sudah matang. Besok tinggal eksekusi.
"Zo, semua sudah bereskan. Awas kalo sampe bocor. Gue gigit lo." ujarku pada sahabat laki-lakiku yang paling the best.
"Udah nyonya. Buseng, gigit. Lo kata gue ikan main gigit-gigit aja. Iya udah lo tenang aja sih nyonya." sahut Zoan dengan nada penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu. Thanks ya bro. Awas kalo Anyelir juga sampe tahu." Ancamku sebelum mematikan telepon.
Hanya tinggal menghitung waktu dan permainan akan usai. Dalam sekejap semua bisa terjadi jika aku ingin membuat keisengan buat orang-orang tersayangku. Hanya waktu yang bisa menentukan semuanya, lancar atau tidaknya.