
Acara resepsi semakin meriah. Aku yang sudah lelah memilih duduk di meja khusus keluarga. Zeyden dengan setianya menemaniku sambil menggendong Zayyan. Kini di meja bundar hanya ada aku, Kak Aryan, Gibran, Zeyden, Zoan, Zahra dan Gibran. Kami semua berbincang-bincang seru, sesekali Zoan memberikan lelucon membuat kami semua tertawa.
Aku sambil menyuapi Zayyan makan dan sesekali juga Zeyden. Suamiku dari tadi belum menyentuh makanan karena sibuk menjaga Zayyan dan menerima tamu rekanannya. Aku diberikan puding coklat favoritku oleh kakak tersayang. Terkadng terdengar suara meledek dari orang-orang disekelilingku itu melihat tingkah mesra kami.
"Boleh nggak mesra-mesraannya dirumah aja, kita kan yang jomblo jadi gimana gitu." seru Zoan dengan wajah pura-pura melas.
"Tahu nih, aku pulang dari LN bukan liat yang enak malah bikin mupeng aja." sambar Zahra sambil terkekeh.
"Yeah, siapa juga yang mesra-mesraan. Orang sekalian kok ini. Lagian ya, suami gue ini lagi gendong anak gue. Jadi nggak bisa makan sendiri." sahutku dengan alasan sekenanya.
"Ya udah sini Zayyan sama gue!" seru Gibran sambil merentangkan tangan hendak mengambil Zayyan.
"Lo nih ya Bran, anak gue lagi makan sama emaknya. Main ambil aja lo." gerutu Zeyden.
Kami semua tertawa. Kak Aryan hanya melihat kebahagiaan adik-adiknya, sayang dirinya belum bisa merasakan hal yang sama.
"Gue kesana sebentar ya!" ujar Kak Aryan sambil menunjuk ke prasmanan dan diangguki oleh kami semua.
Tiba-tiba terdengar suara dari panggung hiburan. Suara yang sangat familiar menyebut namaku dan Kak Bi. Ya, siapa lagi kalau bukan Kak Aryan.
"Lagu ini teruntuk adik-adikku tersayang. Kakak sayang kalian." ujarnya sebelum sebuah lagu keluar.
Takkan pernah terlintas
'Tuk tinggalkan kamu
Jauh dariku, kasihku
Karena aku milikmu
Kamu milikku
Separuh nyawaku
Hidup bersamamu
__ADS_1
Berdua kita lewati
Meski hujan badai takkan berhenti
Sehidup semati
Mentari pun tahu
Kucinta padamu
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Aku 'kan selalu ada
Temani hingga hari tua
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Kita teman bahagia
Takkan pernah kulupa
Kamu yang kucinta
Dari ujung kaki
Hingga ujung kepala
Kuingin kamu
Kamu yang kumau
__ADS_1
Belahan jiwaku
Kamu masa depanku
Berdua kita lewati
Meski hujan badai takkan berhenti
Sehidup semati
Mentari pun tahu
Kucinta padamu
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Aku 'kan selalu ada
Temani hingga hari tua
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Setia akan.
Lagu dari Jaz itu membuat aku bahagia mendengarnya. Suara indahnya membuat aku dan Kak Bryan secara refleks menghampiri sumber suara. Kami bertiga menjadi menyanyi bersama. Semua mata tertuju pada kami.
"Waw, kompak banget ya mereka. Jadi iri deh melihat kebersamaan mereka." ujar seorang tamu undangan yang berdiri di bawah panggung.
"Iya, kok bisa ya orang tua mereka mendidiknya seperti itu." ujar wanita paruh baya dengan baju kebaya berwarna marun.
Aku dan kedua kakakku hanya saling melempar senyuman. Kami bertiga tidak berhenti menyanyikan lagu itu saja, kami sudah menyanyikan tiga buah lagu. Zeyden hanya mengisyaratkanku untuk segera turun karena Zayyan menangis. Aku segera turun dan mengambil Zayyan. Zayyan rewel karena mendadak badannya agak demam. Zeyden hanya diam, bukan tak mau bertindak namun dia lupa membawa perlengkapan kerjanya ke hotel.
__ADS_1