Relung Langit

Relung Langit
Part 90


__ADS_3

Acara resepsi semakin meriah. Aku yang sudah lelah memilih duduk di meja khusus keluarga. Zeyden dengan setianya menemaniku sambil menggendong Zayyan. Kini di meja bundar hanya ada aku, Kak Aryan, Gibran, Zeyden, Zoan, Zahra dan Gibran. Kami semua berbincang-bincang seru, sesekali Zoan memberikan lelucon membuat kami semua tertawa.


Aku sambil menyuapi Zayyan makan dan sesekali juga Zeyden. Suamiku dari tadi belum menyentuh makanan karena sibuk menjaga Zayyan dan menerima tamu rekanannya. Aku diberikan puding coklat favoritku oleh kakak tersayang. Terkadng terdengar suara meledek dari orang-orang disekelilingku itu melihat tingkah mesra kami.


"Boleh nggak mesra-mesraannya dirumah aja, kita kan yang jomblo jadi gimana gitu." seru Zoan dengan wajah pura-pura melas.


"Tahu nih, aku pulang dari LN bukan liat yang enak malah bikin mupeng aja." sambar Zahra sambil terkekeh.


"Yeah, siapa juga yang mesra-mesraan. Orang sekalian kok ini. Lagian ya, suami gue ini lagi gendong anak gue. Jadi nggak bisa makan sendiri." sahutku dengan alasan sekenanya.


"Ya udah sini Zayyan sama gue!" seru Gibran sambil merentangkan tangan hendak mengambil Zayyan.


"Lo nih ya Bran, anak gue lagi makan sama emaknya. Main ambil aja lo." gerutu Zeyden.


Kami semua tertawa. Kak Aryan hanya melihat kebahagiaan adik-adiknya, sayang dirinya belum bisa merasakan hal yang sama.


"Gue kesana sebentar ya!" ujar Kak Aryan sambil menunjuk ke prasmanan dan diangguki oleh kami semua.


Tiba-tiba terdengar suara dari panggung hiburan. Suara yang sangat familiar menyebut namaku dan Kak Bi. Ya, siapa lagi kalau bukan Kak Aryan.


"Lagu ini teruntuk adik-adikku tersayang. Kakak sayang kalian." ujarnya sebelum sebuah lagu keluar.


Takkan pernah terlintas


'Tuk tinggalkan kamu


Jauh dariku, kasihku


Karena aku milikmu


Kamu milikku


Separuh nyawaku


Hidup bersamamu

__ADS_1


Berdua kita lewati


Meski hujan badai takkan berhenti


Sehidup semati


Mentari pun tahu


Kucinta padamu


Percaya


Aku takkan ke mana-mana


Aku 'kan selalu ada


Temani hingga hari tua


Percaya


Aku takkan ke mana-mana


Kita teman bahagia


Takkan pernah kulupa


Kamu yang kucinta


Dari ujung kaki


Hingga ujung kepala


Kuingin kamu


Kamu yang kumau

__ADS_1


Belahan jiwaku


Kamu masa depanku


Berdua kita lewati


Meski hujan badai takkan berhenti


Sehidup semati


Mentari pun tahu


Kucinta padamu


Percaya


Aku takkan ke mana-mana


Aku 'kan selalu ada


Temani hingga hari tua


Percaya


Aku takkan ke mana-mana


Setia akan.


Lagu dari Jaz itu membuat aku bahagia mendengarnya. Suara indahnya membuat aku dan Kak Bryan secara refleks menghampiri sumber suara. Kami bertiga menjadi menyanyi bersama. Semua mata tertuju pada kami.


"Waw, kompak banget ya mereka. Jadi iri deh melihat kebersamaan mereka." ujar seorang tamu undangan yang berdiri di bawah panggung.


"Iya, kok bisa ya orang tua mereka mendidiknya seperti itu." ujar wanita paruh baya dengan baju kebaya berwarna marun.


Aku dan kedua kakakku hanya saling melempar senyuman. Kami bertiga tidak berhenti menyanyikan lagu itu saja, kami sudah menyanyikan tiga buah lagu. Zeyden hanya mengisyaratkanku untuk segera turun karena Zayyan menangis. Aku segera turun dan mengambil Zayyan. Zayyan rewel karena mendadak badannya agak demam. Zeyden hanya diam, bukan tak mau bertindak namun dia lupa membawa perlengkapan kerjanya ke hotel.

__ADS_1


__ADS_2