Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 08


__ADS_3

Hai Para kesayangan aku tercinta..


Gimana kabar kalian?


Kangen rasanya aku tak bersua pada kalian semua..


Maaf banget ya, kemarin-kemarin hiatus sebulan lebih. Ada beberapa urusan yang tidak bisa ditinggal.


Yuks, ah kita cus lanjut baca.


Happy reading...


***


Mentari menyinari bumi dan memberikan kehangatan tiada tara. Hembusan angin pagi memberikan kesejukkan untuk setiap insan. Aktifitas keluarga Zeyden sudah kembali seperti sedia kala. Namun, kali ini berbeda. Aryan dan Bryan muncul ditengah-tengah mereka.


Pagi itu Aryan dn Bryan sudah ceria menyapa seluruh penghuni rumah yang sudah berkumpul di meja makan. Amara yang melihat kedua Daddy-nya sedikit aneh menatap dengan tatapan menyelidik. Amara sangat perasa hingga hal kecil saja dia bisa merasakan.


"Dad, are you okay?" tanya Amara membuat Aryan dan Bryan menatap gadis kecil itu.


"I'm okay, Honey. What's Wrong?" sahut Aryan dengan menaikkan dagunya.


"Dad Ar, ada yang disembunyiin. Apa ini kejutan untuk kita?" tanya Amara dengan polos dan membuat kedua Daddy itu menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Baiklah, Daddy jujur nih. Kita akan liburan ke Belitung. Kalian suka?" Ujar Bryan dengan gembiranya.


Anak-anak di keluarga itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Bryan. Seketika raut wajah lelaki kembar itu berubah sendu dan menunduk. Saat keduanya menunduk, senyuman indah tergambar di wajah anak-anak itu.


"Kami senang, Dad." teriak semuanya serempak, Aryan dan Bryan mengangkat wajahnya saat teriakan itu menggema di ruang makan.


Senyuman kembali menghiasi keluarga bahagia itu. Walau sudah dewasa kebersamaan dengan keluarga adalah hal terindah yang dimiliki setiap manusia. Zaman sekarang keluarga harmonis bisa dihitung dengan jari. Tetapi untuk Keluarga satu ini kebersamaan, keharmonisan adalah nomer satu.


 


\\*


 

__ADS_1


Ketika semua sedang berkemas untuk kepergian esok. Berbeda dengan Priyanka yang mengkhawatir sesuatu. Dia hanya memasukkan pakaian Amara dan Zeyden ke dalam koper. Jangan tanya apakah ia memasukkan pakaiannya juga. Jawabannya tidak. Ada keraguan yang terpancar jelas diwajah wanita cantik itu.


Usai merapikan pakaian anak juga suaminya, ia memilih duduk di sofa kamar sambil termenung. Enggan rasanya ia ikut berlibur, tetapi semua keluarganya sangat berharap untuk hal itu. Tanpa disadari sang suami sudah duduk disampingnya sambil memeluknya.


"Sayang, kenapa?" tanya Zeyden sambil menoel dagu Priyanka.


"Sejak kapan kamu di situ?" ujarnya dengan wajah terkejut.


"Ada apa? Cerita sama aku, atau ada yang kamu rasain nggak enak?" Zeyden sangat khawatir terlihat dari wajahnya.


Priyanka menggelengkan kepala dan menaruh kepalanya di dada bidang Zeyden. Dia memainkan jemarinya di punggung sang suami hingga lelaki itu kegelian. Zeyden menghentikan jemari Priyanka dan mengangkat dagu sang wanita tercinta.


Priyanka hanya menggelengkan kepala tanpa ditanya oleh suaminya. Wajah sendu dari wanita itu terpancar jelas di sana membuat Zeyden memeluknya erat.


"Aku kangen Ayah!" ujar Priyanka dalam pelukan sang suami.


"Sudah besar, sudah jadi nenek masih aja manja gini," goda Zeyden dan dipukulnya lengan kekar itu oleh Priyanka yang gemas akan godaan sang suami.


"Memang kenapa kalau sudah menjadi nenek? Tidak bolehkah seorang anak rindu orang tuanya?" kesal Priyanka melepas pelukannya itu.


Ceklek.


"Iya Sa-" ujarnya dipotong oleh bekapan tangan Zeyden yang menariknya terlentang di sofa.


"Ma, mama.. Mama di mana?" ucap Amara dengan nada sedih.


Priyanka melepas tangan suaminya itu. Dan menghampiri putri kecilnya. Terlihat jelas wajah sang anak tampak kurang baik. Pakaiannya sedikit kotor dengan rambut acak-acakkan. Amara memeluk sang mama saat melihat ibu tersayangnya menghampirinya.


"Cantiknya mama kenapa?" Priyanka dengan lembut mengelus kepala sang putri yang masih memeluk kedua kakinya.


"Rangga, Banyu dan Kak Rakha jahatin Ara!" adunya dengan wajah sedih.


"Siapa yang jahatin tuan putri papa?" sahut Zeyden menghampiri isteri dan putrinya.


"Hayo kita adukan mereka sama Daddy, biar mereka dijewer, gimana?" Ajak Zeyden sambil menggendong sang putri dan menciumi pipinya. Amara hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya.


\*\*\*

__ADS_1


"Omka, Banyu nggak ikutan ya. Kalau Anra ngadu sama opa dan oma. Itu semua ulah Omka," cicit Banyu yang takut kena omel kakek neneknya akibat menjahili sang tante.


"Anra pasti ngadu sama Panda dan Bunda deh. Aku takut Omka," lanjut Banyu dengan wajah ketakutan begitu pula Rangga.


"Tenang, Ara nggak akan ngadu sama opa oma apa lagi sama orang tua kalian. Ara itu nggak berani," celetuk Rakha penuh keyakinan.


Tak berapa lama Amara dan Aryan menghampiri om beserta keponakannya itu di halaman belakang. Kedua anak lelaki itu makin ketakutan karena yang menghampiri mereka adalah orang yang membuat seisi rumah ketakutan. Ya, Aryan menghampiri keponakan serta cucunya dengan wajah sangat dingin.


"Hei, kalian kenapa kayak lihat setan saja!" ucap Rakha melihat wajah keponakannya pucat pasi. Kedua bocah itu hanya menunjuk ke arah Amara dan Aryan. Rakha mengikuti jari telunjuk kedua bocah itu.


Saat menoleh, ia melihat Aryan dengan wajah yang menyeramkan. Rakha hanya menelan salivanya dengan kasar. Seketika wajahnya pucat pasi.


"Matilah aku. Ara kenapa ngadu ke Daddy sih. Lebih baik diomelin papa, mama dan kakak deh. Kalau diomelin Daddy bisa panjang ini!" batin Rakha ketakutan.


"Jadi siapa yang jahilin tuan putri?" tanya Aryan sambil menoleh ke arah Amara.


Banyu dan Rangga menggelengkan kepala. Amara hanya tersenyum samar melihat kedua keponakannya ketakutan. Rakha pun tak kalah ketakutan dengan menjewer telinganya sendiri, seakan ia memohon kepada sang adik.


"Daddy, Kak Rakha yang mengajak Banyu juga Rangga untuk menjahili Ara." ceplos Amara kemudian ia menjulurkan lidahnya kepada sang kakak.


"Benar itu, Banyu, Rangga?" tanya Aryan kepada kedua anak kecil dihadapannya. Mereka menganggukinya.


"Aish, anak-anak ini bikin aku ribet aja deh urusan sama Daddy. Tamatlah aku sekarang!" batin Rakha kesal melihat tingkah adik dan keponakannya.


Aryan menghampiri Rakha dan menjewernya. Rakha meringis kesakitan dengan memohon ampunan kepada sang Daddy. Ia pun berhasil karena mengakui kesalahannya itu. Rakha langsung memeluk Amara dan menciumi wajah sang adik.


"Janji kakak nggak akan jahilin Ara lagi." ucap Rakha dengan ketulusan yang terpancar di wajahnya.


"Kakak, Ara sayang kakak. Jangan nangis ya, maafin Ara. Mmuuaacchh" Amara mencium pipi sang kakak dan memeluknya.


"Punya adik tuh disayangi jangan diisengin. Maafin Daddy ya!" Aryan membentangkan tangannya dan dismbut oleh Rakha.


"Rakha salah Dad. Rakha sayang Daddy!" ucap Rakha dalam pelukan sang Daddy.


Kelima orang itu kemudian masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum sampai di dalam, satu ember air mengalir deras dan membasahi Rakha seorang. Aryan dan anak-anak sudah menjauh saat melihat Zayyan juga Gara dari balkon atas.


"Arghh!!!" teriak Rakha kesal. Ia memasuki rumah dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Happy birthday to Rakha. Happy birthday, happy birthday Rakha." suara nyanyian dari orang terkasih berjalan menghampiri Rakha. Anggia membawa kue ulang tahun untuk adik kesayangannya.


Air mata Rakha luluh lantah dibuat oleh mereka semua. Tanpa ragu dia memeluk sang mama dan menangis. Priyanka hanya mengelus kepala sang putra kemudian mengecup kening putra tersayangnya. Rakha menoleh saat sang kakak keduanya menepuk pundak lelaki itu.


__ADS_2