Relung Langit

Relung Langit
Part 83


__ADS_3

Gibran sudah pulang ke rumahnya. Padahal tadi kami sudah menyuruhnya menginap hanya saja dia tidak bersedia. Beberapa jam dia pulang, Kak Ryan dateng. Mereka langsung memeluk Zayyan. Kami berempat bercanda bersama dengan putraku.


"Kenapa baru kesini Kak Bi?" tanya Zeyden dengan pelan-pelan.


"Sibuk." ujarnya singkat.


"Kak, boleh aku bicara berdua dengan kakak?" tanyaku sambil menatap Kak Bryan yang sedang menggoda Zayyan.


Aku dan Kak Bryan berjalan keluar ruangan keluarga. Kami melangkah ke gazebo halaman belakang. Disana lebih santai untuk berbicara. Aku duduk di pinggiran gazebo sedangkan kakakku sudah duduk di tengah.


"Apa yang mau kamu tanyakan? Pasti tentang Anyelir kan?" ucapnya tanpa memandangku.


"Iya. Kak, kakak tuh serius nggak sih mau nikahin Anyelir?" tanyaku to the point.

__ADS_1


"Hm.. Jujur, ada ragu dalam hati kakak saat ini." ujarnya menatapku.


"Jangan sakiti Anyelir kak. Jika belum siap lebih baik lepaskan dia. Tapi ingat, cukup kejadian aku saja yang batal nikah. Kakak tahu, saat kemarin Gibran kembali itulah dimana ras penyesalan dia terbesar. Apa kakak mau, saat kakak mutusin berakhir dengan Anyelir, kakak akan merasakan penyesalan. Apa kakak mau kayak gitu?" tanyaku dan kakakku hanya menggelengkan kepala.


"Sebenarnya perasaan kakak ke Anyelir gimana?" tanyaku dengan hati-hati.


"Aku sayang sama dia dan mau bersamanya selamanya. Hanya saja aku takut menyakitinya!" serunya padaku.


Kak Bryan menundukkan kepalanya, aku melihat ada buliran yang jatuh dari wajahnya. Aku menangkup wajahnya secara cepat, ya kakakku menangis. Kelemahanku keluar lagi, saat kakakku menangis, seakan kesalahan terbesar dalam hidupku membuatnya menangis. Aku peluk dia dengan erat, dan aku ikut terhanyut dalam tangis.


"Maaf.." Lirih Kak Bryan ditelingaku.


"It's okey Kak. Sekarang kakak bisa fokus sama acara pernikahan kakak yang sebentar lagi kan!" ucapku sambil menghapus air mata kakakku dan dia mengangguk.

__ADS_1


Aku hanya ingin menyadarkan Kak Bryan agar dia fokus mengurus acaranya bukan Kak Aryan. Aku tak tega melihat Kak Aryan mengurusi acara pernikahan wanita yang dia sayangi. Bagaimana hatinya bisa sekuat itu sampai dia rela melakukannya. Aku masih berbicara dengan Kak Bryan mengenai hubungannya dan Anyelir.


***


"Hati lo terbuat dari apa sih Kak, sampai rela melakukan semuanya buat Anyelir dan Kak Bryan?" tanya Zeyden sambil menyuapi Zayyan biskuit.


"Gue belajar semuanya dari lo. Lo contoh buat gue Zey!" seru Kak Aryan membuat Zeyden bengong.


"Gue?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.


"Iya lo Zeyden Thamrin. Lo yang mengajarkan gue kekuatan cinta dan keterbukaan. Lo ingat betapa sakitnya lo saat princess dipeluk di depan mata lo sama Gibran? Terlebih lagi mereka sangat erat dan saling menangis. Itu pelajaran yang gue ambil dari lo. Lo kenapa bisa sesabar itu sama princess?" ucap Kak Aryan menatap Zeyden dan dia salah tingkah.


"Gue nggak tahu kak. Yang gue tahu hanya satu, kebahagiaan Priyanka diatas segala-galanya. Nggak akan gue biarin dia menangis karena gue." jelas Zeyden tanpa sedikit kebohongan dimatanya.

__ADS_1


__ADS_2