
Waktu terus berjalan tanpa henti. Hubungan Aryan dan Sharma makin hari makin serius. Seperti hari ini adalah acara lamaran Aryan kepada Sharma, hanya saja kali ini dia tidak bisa ditemani keluarganya. Om Zaid yang menggantikan Ayahnya melamar Sharma. Awalnya keluarga Sharma sedikit kecewa namun hal itu tidak bisa dia pungkiri karena alasannya memang tidak bisa ditinggal.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keluarga inti dari anak saya Aryan Putra tidak bisa hadir. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada keluarga nak Sharma, saya selaku paman dari Aryan mewakili orang tuanya untuk meminta ijin melamar Sharma untuk anak kami." tutur Om Zaid dengan suara yang lembut dan bijaksananya.
"Saya selaku Ayah dari Sharma menerima kedatangan keluarga Nak Aryan. Walau sejujurnya kami sedikit kecewa tidak bisa bertemu langsung dengan kedua orang tuanya. Namun, kami menerima kehadiran Pak Zaid selaku perwakilan keluarga dari Nak Aryan." ujar Ayah Sharma dengan tegas.
Mc lalu melanjutkan acara dengan mengijinkan Aryan meminta restu dari kedua orang tua Sharma serta meminta Sharma menjadi kekasih halalnya di depan keluarga besar mereka. Sharma menjawabnya dari dalam menerima lamaran Aryan. Acara terus berlanjut sampai menentukan tanggal pernikahan sekaligus resepsi. Aryan tidak mau dipisah hari antara akad dan resepsi, dia mau sekalian capek. Acara keduanya akan dilaksanakan dua bulan lagi, itu tepat sehari sebelum hari ulang tahun Sharma.
Acara lamaran berakhir sukses. Pihak keluarga besar keduanya sudah pulang ke kediaman masing-masing begitu juga dengan Aryan. Aryan langsung menghubungi Gibran untuk menjadi WO-nya. Gibran selalu sukses membuat acara yang diinginkan oleh pengantin.
***
Dua bulan kemudian.
Aryan sudah duduk dihadapan penghulu dan Ayah Sharma. Wajahnya tampak sangat tegang, berkali-kali dia menengok ke arah pintu, dan terkadang ke para tamu undangan. Tangannya sudah keringat dingin seakan ia menantikan kehadiran seseorang. Sebelum ijab kabul di mulai ia melambaikan tangan memanggil Gibran yang tak jauh darinya.
"Mereka udah dateng belom?" bisik Aryan kepada Gibran dan disahut dengan gelengan kepala.
"Udah coba hubungi mereka?" tanya Aryan masih dengan berbisik dan di sahut anggukan dari Gibran.
"Lalu dimana mereka?" ucap Aryan sedikit menaikkan nada bicaranya sehingga semua orang menatap kearahnya.
__ADS_1
"Ada apa Aryan? Apa ada masalah?" tanya Om Zaid yang duduk di bangku saksi.
"Mereka dimana Om?" tanya Aryan dengan wajah tegangnya.
"Sebentar lagi pasti sampai. Mungkin kena macet." ujar Om Zaid menenangkan Aryan.
"Apa bisa kita mulai?" tanya penghulu kepada Aryan dan dengan berat hati Aryan menganggukinya.
Kesal jelas sangat kesal orang tua serta adik-adiknya belum muncul dihadapannya. Padahal mereka berjanji mau melihat ijab kabul Aryan. Kecewa Aryan pada mereka semua. Kini Aryan sudah berjabat tangan dengan Ayah Sharma. Saat Ayah Sharma hendak mengucapkan ijabnya, seseorang setengah berlari dari arah pintu.
"Stop!!" teriak lelaki dengan pesonanya.
Lelaki paruh baya itu diikuti oleh dua orang lelaki muda, wanita paruh baya serta dua orang wanita muda yang sangat cantik. Semua mata tertuju pada mereka. Lima orang dibelakang lelaki paruh baya itu memilih menduduki bangku yang disediakan. Sedangkan lelaki paruh baya itu terus melangkahkan kaki menuju Aryan duduk.
"Tuan Pradipta tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda. Mohon anda tidak berlaku kekerasan kepada calon menantu saya." ujar Ayah Sharma tegas.
"Anda bilang dia calon menantu anda kan. Dan kenapa anda melarang saya menamparnya?" ucap Ayah Aryan dengan santainya.
"Jika Aryan ada salah mohon dimaafkan. Tapi saya mohon jangan membuatnya malu." ucap Ayah Sharma dengan menurunkan nada bicaranya.
"Sudah-sudah. Silakan duduk dulu ya." ujar Om Zaid mengajak badan Ayah Aryan duduk.
__ADS_1
"Sudahlah nggak udah pake drama segala. Bikin malu aja ah." ujar Om Zaid terkesan asal.
"Saya tahu kamu marah sama Aryan, tapi tidak seharusnya menamparnya. Lagi pula kalian semua yang salah datang ngaret gini." ujar Om Zaid membuat Ayah Aryan menatapnya tajam.
"Ar minta maaf ya Yah. Ar pikir tadi kalian tidak jadi datang. Jadi lebih baik acara ijab kabulnya segera dilaksanakan." Aryan meminta maaf sambil berjongkok di hadapan Ayahnya.
"Tunggu, tadi kamu panggil Pak Pradipta apa Aryan? Ayah? Apa tidak salah dengar saya?" ucap Ayah Sharma dengan mengeraskan suaranya yang tidak percaya dengan yang dia dengar barusan.
"Iya Om. Dia Ayah kandung saya, Tuan Shailendra Pradipta. Dan saya putra sulungnya, disana kembaran saya bersama isterinya juga adik bungsu saya bersama keluarga kecilnya dan Ibu saya tercinta juga disana." jelas Aryan kepada Ayah Sharma.
Ayah Sharma langsung duduk lemas dibangkunya. Dan semua oramg disana tidak percaya dengan kejadian luar biasa ini. Untuk pertama kalinya keluarga Pradipta lengkap tampil dihadapan orang banyak.
"Apa benar itu Tuan Pradipta?" tanya Ayah Sharma masih dengan wajah tak percaya dan suaranya terdengar lemah.
"Lanjutkan dulu ijab kabulnya nanti akan saya jelaskan semuanya kepada kalian semua." ujar Ayah Aryan meminta kepada Ayah Sharma.
Ijab kabul berjalan lancar. Semua orang bahagia. Kini sesuai janji kepada Ayah Sharma beserta keluarganya, Ayah Aryan harus menjelaskan semuanya.
"Saya Shailendra Pradipta mengenalkan putra sulung saya Aryan Pradipta Putra, ini kembarannya Bryan Pradipta Putra dan Princess Pradipta yaitu Priyanka Pradipta Putria. Maaf sebelumnya kami tidak bisa hadir di acara lamaran itu, namun kami tetap menyaksikannya." ujar Ayah kepada mertua Aryan.
"Ya Allah, saya sangat beruntung karena impian saya terwujud. Sungguh ini seakan mimpi untuk saya dan keluarga." ujar Ayah Sharma sambil menitikkan air matanya.
__ADS_1
***
Maafkan aku readers tersayang. Maaf beribu-ribu maaf aku sedang sibuk dengan kerjaan akhir tahun dan ditambah aku ngedrop. Maaf ya aku jadi jarang apdet. Ditunggu selanjutnya ya para kesayanganku..