
Author mau mengucapkan Taqabbalallahu minna waminkum. Shiyamana wa Shiyamakum. Taqabbal ya kariim. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin. Selamat Idulfitri 1441 H.
Maafin Author ya kalo banyak salah dalam penulisan dan kekhilafan dalam membalas komen-komen kalian. Maaf juga kadang suka buat emosi kalian campur aduk melalui tulisan ini.
***
Bintang dan rembulan sudah menghiasi langit kelabu. Nyanyian penghuni malam beriringan dengan suara deru kuda besi. Pasukan keluarga Pradipta sedang disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Anak-anak dan Zeyden sedang latihan vokal sedangkan para wanita sedang sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Rakha, Gara juga Zayyan sedang membahas masalah bisnis mereka masing-masing.
Saat jam dinding menunjukkan pukul 18,30 semua sudah berkumpul di meja makan tanpa di panggil. Maklum panggilan alam sudah lebih dulu menyadarkan mereka sebelum diingatkan. Para wanita menyiapkan makanan untuk suami juga yang lainnya. Berbeda dengan Priyanka yang memang sengaja tidak makan bersama, dia memilih menyuapi ketiga anak kecil itu. Agar ketiganya lebih dahulu selesai dan baru ia makan.
Si kecil memang akan selalu di suapi ketika sarapan mau berangkat sekolah dan makan malam. Bukan tanpa alasan, anak-anak itu selalu makan lama saat makan sendiri. Sedangkan Priyanka punya aturan untuk makan malam anak-anak harus istirahat dua jam usai makan. Karena tidak baik jika habis makan langsung istirahat, jadi sebisa mungkin dia tepat waktu memberikan makan anak-anak kecil itu.
__ADS_1
Aleta yang melihat sang mertua belum makan merasa tak enak hati dan ingin membantunya. Priyanka hanya membalas dengan senyuman dan meminta untuk makan lebih dahulu agar usai dia makan langsung menggantikannya. Beruntung Aleta mengerti, langsung dia melanjutkan makannya. Wanita cantik itu juga ingin menjadi sosok ibu yang baik seperti sang mertua.
Keempat lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah dua wanita dewasa yang mulai saling berbagi tugas. Mereka tahu jika Priyanka bukanlah orang yang egois untuk bisa berbagi dengan orang lain. Saking baiknya rela disakiti oleh siapapun dia itu dan memilih diam. Saat selesai makan Aleta langsung mengambil alih tugas sang mertua dan bergantian makan.
Lelakinya pun masih makan perlahan untuk bisa menemani wanita itu mengisi perutnya. Tak ada suara percakapan selain dentingan sendok dan garpu yang mengisi ruang makan itu. Zeyden memang tidak suka jika ruangan makan dipakai untuk diskusi atau berbicara, ada waktunya untuk hal itu.
"Bun, Ara haus!" ucap Amara yang seret tenggorokannya dengan cepat Aleta mengambilkan minum untuk ketiga anak kecil yang sangat menggemaskan itu.
Usai makan mereka semua kembali ke ruang keluarga, meja makan sudah di bersihkan oleh para assisten rumah tangga. Di ruangan itu semua berbincang-bincang mulai dari hal ringan sampai yang berat. Apalagi yang berat jika bukan masalah politik.
"Iya, kemarin Gara di tawarin untuk masuk ke dunia politik. Jelas saja nggak mau dong, mending jadi pengusaha aja dari pada anggota dewan. hahaha!" seru Gara diiringi ketawa juga yang lainnya menimpalinya.
__ADS_1
"Inget ya Kak, Mama nggak pernah ridho kamu ikutan berpolitik. Tetap jadi pengusaha aja, lebih sedikit tanggung jawab kamu. Berbeda ketika kamu masuk ke sana, tanggung jawab kamu satu negara." Priyanka sudah memberikan ultimatum kepada anak-anaknya.
Seorang ibu hanya mengkhawatirkan ketidak mampuan anaknya mempertanggung jawabkan perbuataannya kelak di akhirat. Jika anak-anaknya tak bisa berbuat baik ia juga akan sedih. Beruntungnya setiap ucapan Priyanka dan Zeyden selalu dituruti oleh kelima anaknya maupun cucu serta menantunya. Karena mereka juga tahu tujuan kedua orang tuanya baik.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 anak-anak kecil di antar Aleta untuk bersiap tidur. Kali ini Priyanka membiarkan menantunya melakukan tugas seorang ibu. Ia tahu anak menantunya itu menginginkan menjaga dan belajar merawat anak-anak menggemaskan itu. Terlebih Zayyan sudah memberikan keputusan untuk kembali tinggal di rumah itu. Bukan tak ingin mandiri, tetapi sang anak yaitu Banyu juga tak ingin pisah dari Amara juga Rangga. Karena Rangga sudah menetap bersama Opa omanya, kedua orang tua anak itu lebih sering ke luar kota untuk urusan kerjaan jadi dia aman bersama keluarga Zeyden.
"Bunda, kami sayang Bunda." ucapan mereka bertiga sebelum menaiki kasur masing-masing.
"Bunda juga sayang kalian." balas Aleta sambil bergantian menghampiri ketiganya untuk memberikan ciuman di kening anak-anak itu.
Kamar Amara dan kedua keponakannya hanya bersebelahan di batasi dengan sebuah pintu. Kebersamaan tetap dijaga begitu juga batasan dalam tidur. Zeyden sudah menerapkan kamar berbeda untuk anak-anak berlawanan jenis itu, bergitu juga dengan kamar mandi. Batasan-batasan masih sangat dia jaga demi kebaikan mereka di masa depan.
__ADS_1
Usai anak-anak tidur Aleta kembali dan langsung mengajak Zayyan istirahat. Begitu juga dengan yang lain segera beranjak untuk istirahat. Mereka semua sudah terlelap dalam dunia mimpi masing-masing.