Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 17


__ADS_3

Enjoy for reading..


.


.


Bulan bersinar sangat terang seorang lelaki tampan yang hanya memakai celana pendek selutut tengah memandang indahnya bulan purnama. Tak pernah berpikir dirinya bisa berada di posisi saat ini, di mana Tuhan begitu baik padanya. Terlahir dari keluarga penuh cinta kasih dan jabatan yang di milikinya. Hanya satu kekecewaan pada dirinya yakni belum mampu membahagiakan orang tuanya dengan harapan terbesar mereka.


Lelaki itu masih terus menatap ke arah langit malam walau hembusan anginnya sangat dingin. Tanpa sadar ponselnya terus berdering memanggil dirinya. Asyik melamun hingga tak sadar sudah mengabaikan ponselnya. Sampai terdengar suara ketukan pintu yang menyadarkannya dari lamunan itu.


Tok.. Tok.. Tok..


Kriet..


Saat pintu dibuka tampak seorang lelaki tampan dengan hanya memakai bathdrobe berdiri dihadapan Gara. Hanya tatapan bingung yang terpancar dari lelaki itu.


"Hehe.. Maaf bos, Tuan Zeyden telepon. Katanya bos nggak bisa dihubungi sehingga menyuruh gue liat loe bos. Sorry!" jelas Adrian sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Oke thanks, Yan." sahut Gara sambil menutup pintu kamarnya kembali. Sedangkan di luar kamar Adrian hanya mematung karena shock dengan sikap bosnya.


"Ya Allah si bos kesambet apa ngucapin thanks!" gumam Adrian sambil membalikkan badannya hendak kembali ke kamarnya.


 


\*


 


"Assalamualaikum my queen." ucap Gara saat menelepon seseorang di seberang sana.


"Waalaikumsalam. Kemana aja kamu? Bikin khawatir aja, dan nggak usah ngerayu. Kamu tahu kesalahan kamu apa?" cerocos wanita diseberang telepon dengan nada khawatir.


"Maaf, Ma. Kakak tahu, kakak salah. Maaf tadi nggak langsung ngehubungi mama." jelas Gara dengan nada memohon karena dia tahu mamanya akan segera memaafkannya.


"Jangan diulangi lagi ya, Kak. Kamu tahu di sini mama khawatir banget." aku sang mama yang dari siang kalang kabut belum mendapat kabar dari anak keduanya itu.


"Maaf, Ma. Memang Rakha nggak ngasih tahu mama kalo Kakak sudah sampai? Kan tadi kakak telepon dia karena ada sedikit probl3m waktu mau pinjam ruangannya." jujur Gara tanpa sadar dia membuat masalah buat adiknya.


"Rakha.. Biar nanti mama jewer dia. Ditanya hanya menggelengkan kepala saat ditanya apa kamu ngehubungi dia." jelas Priyanka yang kesal dengan anak laki-laki bungsunya itu.


"Ma, mungkin Rakha lupa. Jangan dimarahi atau dijewer ma. Kasihan si Rakha, kalo kupingnya kayak keledei mana ada cewek yang mau nantinya." Gara berusaha meredamkan emosi sang mama.

__ADS_1


"Kamu ini. Gimana tadi pertemuan dengan utusan Budiman Corp? Siapa yang mereka utus?" tanya Priyanka dengan penasaran.


"Aku rasa nggak akan approve proposal mereka Ma. Banyak kesalahan dalam proposal dan presentasi nggak balance. Dan yang datang tadi Nona April." jujur Gara dan berlanjut menjelaskan kejadian yang terjadi tadi.


"Ingat kamu hati-hati usai keputusanmu ini mereka pasti nggak akan tinggal diam." kembali dia mendapatkan peringatan dariborang terdekatnya.


"Siap my queen. Sekarang mama istirahat dan aku juga. Lusa aku pulang kok. Selamat malam ma. I love you. Assalamualaikum. Muuach." cerocos Gara kepada sang mama.


"Selamat malam sayang, Love you too. Waalaikumsalam." balas Priyanka dan segera memutuskan panggilan teleponnya.


Usai panggilan telepon itu ia kembali merenung di atas kasur. Memikirkan setiap perkataan dan peringatan dari orang-orang terdekatnya. Seakan mereka tahu sesuatu hal yang buruk dari pertemuan ini. Dia segera membuka amplop coklat mengenai Vudiman Corp yang tadi pagi diberikan oleh Adrian. Matanya terbelalak saat membaca setiap kata yang tertulis di kertas itu. Dia tidak menyangka bila Budiman Corp mampu melakukan hal keji seperti itu.


 


\*


 


Pagi hari saat di restoran hotel seorang pelayan menghampiri Gara juga Adrian dengan sebuket bunga. Pelayan itu memberikan buket itu kepada Gara dengan sesikit tergugup karena tatapan tajam si lelaki tampan.


"Se-Selamat pagi tuan-tuan. Maaf jika saya mengganggu anda. Saya hanya ingin mengantarkan buket bunga ini untuk anda Tuan Anggara!" tutur si pelayan sambil menaruh buket itu di meja dan segera beranjak. Namun langkahnya terhenti oleh perkataan Gara.


"Tunggu. Aku sudah menerima buket ini dan bawalah untukmu. Sampaikan kepada April bahwa aku tidak menyukai caranya." perkataan Gara membuat Adrian mengedipkan matanya berkali-kali sedangkan sang pelayan hanya mampu menganggukkan kepalanya.


Adrian tak pernah menyangka seorang Anggara mampu berkata demikian. Tidak suka dengan sikap April namun masih mengatakan kata-kata sopan. Padahal jika Gara suka marah terkadang sumpah serapah bisa terlontar begitu saja, tapi entah kenapa emosinya kali ini lebih bisa ditahan. Mereka pun kembali menikmati makananny tanpa suara.


Usai makan mereka masih duduk-duduk santai di restoran itu sampai ekor mata Gara menangkap sosok wanita yang berjalan menghampirinya. Sesaat wajah Gara mendadak dingin dan datar, tatapan matanya yang tajam seakan-akan dia hendak menerkam siapapun. Adrian merasakan situasi yang tidak enak segera menengok ke arah lirikan sang bos.


"Aish, wanita ini ganggu mood bos gue aja. Bikin masalah aja nih orang. Awas aja kalo ujung-ujungnya gue kena imbasnya abis loe sama gue." gerutu Adrian dalam hatinya.


"Yan, kita cabut yuk. Kita tinjau Rumah sakit juga resto dan butik di sini." Ujar Gara yang langsung bangkit saat April beberapa langkah lagi sampai di meja makan. Sedangkan Adrin hanya mengangguki kepalanya.


"Tuan Anggara!" panggil April namun tak membuat langkah kaki kedua lelaki tampan itu.


"Kurang Ajar! Beraninya dia mengabaikan gue!" kesal April yang menghentakkan kakinya sepeninggalan kedua lelaki itu.


Gara dan Adrian kini sudah di dalam mobil. Mereka berniat untuk menyidak butik Gia, rumah sakit sang kakak juga resto Rakha. Dia ingin mengecek laporan keuangan di sana secara dadakan sudah tentu sesuai permintaan saudara-saudaranya. Hari ini dia memang sengaja untuk sidak.


 


\*

__ADS_1


 


"Ini apaan? Kenapa banyak pengeluaran yang nggak jelas seperti ini? Saya minta semua invoice dibawa ke hadapan saya dalam waktu limabelas menit. Dan itu di mulai dari sekarang," tegas Gara kepada bagian keuangan dan hal itu membuat bagian keuangan kalang kabut. Bahkan kedatangan Gara membuat seisi rumah sakit ketakutan kecuali pasien.


Semua bagian keuangan langsung ngabrit untuk segera mencari semua dokumen yang di minta oleh Gara. Adrian hanya menggelengkan kepala saat melihat sang bos sudah mengeluarkan tanduknya. Gara hanya memijat keningnya yang pusing dengan laporan keuangan berantakan.


***Gara


Gila laporan keuangan ancur parah, Kak. Sampe pusing Gara lihatnya.


Zayyan


Laporan yang ada di kamu segera kirim ke kakak. Biar kakak pelajari.


Gara


Siap***.


Gara langsung mengirim laporan itu ke ponsel sang kakak. Lima belas menit kemudian bagian keuangan masih berada di ruangan rapat bersama Gara. Gara memanggil Adrian dengan isyarat kepalanya, dan lelaki itu segera menghampirinya.


"Cek keaslian dokumen-dokumen ini segera. Saya kasih waktu lima belas menit." titah sang bos membuat Gara mengangguki kepalanya.


"Dan kalian semua dilarang keluar sampai semua jelas." tegas Gara dengan tatapan mematikan dan mereka hanya diam tak bersuara.


 


\*


 


Nah loh Gara galak juga ya. Itu asli apa palsu hayo? Dan berhasil nggak April deketin Gara?


.


.


Jangan lupa share komen like dan vote ya kesayangan aku.


.


.

__ADS_1


Aku mau bilang selamat hari kemerdekaan yang ke 75 untuk Indonesia tercinta.


__ADS_2