
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya. Bagaimana kabar kalian?? Semoga selalu baik-baik saja ya..
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Yuks..
1..
2..
3..
Mulai..
***
Priyanka Pradipta Putria
Kami baik kak. Badai sudah berlalu, bagaimana kabar disana?
Mr. A
Kami pun baik. Zayyan histeris kemarin saat melihat berita di internet.
Priyanka Pradipta Putria
Sampaikan padanya kami sudah baik-baik saja. Begitupun dengan ketiga adiknya, dia tidak perlu merasa bersalah. Aku tahu histerisnya dia karena rasa bersalah tak ada disisi adiknya.
Mr. A
Aku rasa juga begitu. Nanti aku sampaikan pesanmu. Sedang apa mereka sekarang?
Priyanka Pradipta Putria
Sedang bersiap mau jalan-jalan kak. Kami mau menghibur Gia, kakak tahu sendiri bagaimana sensitifnya dia.
Mr. A
Have a fun. And I miss you. Salam buat mereka.
Priyanka Pradipta Putria
Baik nanti aku sampaikan. Salam juga buat Kak Sharma, Zayyan dan si cantik Vika, I miss you brother.
Aku membalas pesannya sambil menghampiri keluarga kecilku. Kami sudah siap berangkat ke daerah Bandung. Gia ingin ke salah satu tempat wisata di lembang yaitu Fairy Garden Bandung, tempat wisata itu terletak di Jalan Raya Maribaya, Kelurahan Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Gia yang penasaran mulai mencari informasi mengenai tempat itu. Saking antusiasnya dia sampai membaca salah satu website travelspromo.com. Disana menjelaskan semua hal mulai lokasi, harga, jam buka tutup dan lain-lainnya berikut petikan infonya.
'Fairy Garden Bandung adalah salah satu destinasi wisata yang tepat bersama keluarga. Dimana pengunjung dapat menikmati wisata dengan spot-dpot foto yang Instagramable. Tempat wisata yang bertemakan negeri dongeng, dimana dapat memanjakan pengunjungnya dengan wahana menarik.
Fairy Garden merupakan konsep kedua yang diusung setelah The Lodge yang fokus pada kaum dewasa. Agar memaksimalkan pengunjung usia anak-anak dibangunlah konsep Fairy garden dengan 6 wahana edukasi indoor dan outdoor.
Pengunjung akan disambut pemandu yang berpakaian ala peri negeri dongeng. Banyak pertunjukan yang disuguhkan seperti drama musikal, parade kostum, dan lainnya.
Pengunjung dapat menyewa kostum seperti peri untuk pelengkap berswafoto. Macam-macam wahana dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh pengunjung didalam area taman adalah Art Factory, Florania, Lola's Libray, Wood land, Gopher Maze, dan Resto Fairy Garden.'
"Kak Gia, gimana tempat yang akan kita datangi?" tanya Rakha dengan nelirik ke arah Gia dan Gia hanya menyerahkan ponselnya.
"Wow, keren nih Kak. Atau ada referensi lain yang lebih seru nggak?" ucap Rakha masih ingin mencoba melihat tempat yang keren.
"Coba kakak lihat, De!" seru Gara dengan antusias.
"Wow, lumayan juga. Emang kamu mau kesini atau ada yang lain untuk kita datangi?" ucap Gara yang sependapat dengan adik bungsunya.
"Ade searching dulu ya. Eh tapi emang nggak apa-apa jalan-jalan kali ini Gia yang pilih?" ucap Gia dengan ragu-ragu.
"Nggak apa-apa. Asal kamu senang?" seru kami berempat kompak dan mengundang tawa kami semua pecah.
"Makasih semuanya. Gia sayang kalian semua!" ucap Gia sangat senang.
Gia kembali mencari referensi tempat wisata yang indah di daerah Lembang. Gara dan Rakha memilih bermain game di ponsel masing-masing. Aku dan Zeyden memilih diam, yang sebenarnya aku ingin sekali tidur.
"Gia bingung nih, Ma, Pa. Ada banyak pilihan," ucapnya dengan nada sedikit pesimis.
"Kamu mau kemana kami turutin, sayang." ucap Zeyden membuat Gia melebarkan senyuman di wajah cantiknya.
"Oke, Ade mau ke Floating Market aja deh, Pa. Disana banyak tempat yang bisa kita datangi." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Gimana Ma?" tanya Zeyden kepadaku.
"Mama ikut kalian aja para kesayangan, Mama." sahutku menoleh dan memberikan senyum manisku.
"Makasih, Ma, Pa." ucap Gia mendekat ke arahku dan Zeyden serta memeluk kami bergantian.
"Kalian nggak masalah kan Kak, De?" tanya Gia kepada lelaki di kiri kanannya.
"No problem!" ucap mereka berdua kompak tanpa melihat Gia, karena asyik bermain game.
__ADS_1
Drrt.. Drrt..
Ponsel Gia bergetar hebat dan dia langsung menatapnya. Ada sebuah pesan dari salah seorang teman sekolahnya yang membulatkan matanya. Pasalnya Gia tidak pernah memberi nomer ponselnya pada siapapun di kelasnya. Tapi orang ini dapat dari mana, mungkin itu yang dirasakan Gia.
+628578×××××××
Hai Gia. Ini gue Rohan. Gimana keadaan lo sekarang? Semoga baik-baik saja. Sorry kemarin nggak bisa nemenin lo.
Anggia
Aku baik-baik aja. It's okay, no problem Ro. Thanks buat perhatian kamu.
Setelah membalas pesan itu, Gia langsung menyimpan kontak yang menghubunginya. Dia senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Rohan.
Rohan
Gi, jujur gue nggak nyangka lo bagian dari keluarga Pradipta. Udah gitu Anggara dan Arjuna itu saudara lo. Apa itu semua benar?
Anggia
Itu semua benar. Anggara kembaran aku sedangkan Bang Juna itu anak Daddy Bryan dan otomatis sepupuku. Kenapa emang?
Rohan
Anggara kembaranmu? Kok nggak kelihatan ya?
Anggia
Haha.. Kami memang kembar tak identik, jadi wajar nggak mirip-mirip banget tapi kami lahir hanya beda lima menit dua puluh detik.
Rohan
Kalo Arjuna kenapa kamu panggil Abang?
Anggia
Ya, karena dia lahir beberapa bulan sebelum aku dan Kak Gara.
Rohan
Kedekatan kalian bertiga buat gue salah paham.
Anggia
Haha.. Sudah biasa itu. Apalagi kalo aku lagi jalan sama Kak Zayyan atau Rakha mereka disangka pacar aku.
Rohan
Aish, siapa lagi tuh?
Anggia
Rohan
Bukan Rakha. Zayyan maksudku.
Anggia
Pacar kedua setelah Papa. hehehe
Rohan
Gi, gue jeles nih.
Anggia
Maksudnya?
"Ehem.. Ciye.. Udah berani melangkah maju dia!" goda Gara kepada sang adik yang sedang bingung dengan pesan terakhir Rohan.
"Apa sih, Kak? Ngintip-ngintip orang lagi balas chat aja." ucap Gia kesal ada sang kakak.
"Iya kakak nggak ganggu deh! Inget pesan Papa sama Mama ya, De. Belajar dulu yang benar baru pacaran!" Gara mengingatkan pesan mama papanya pada sang adik dan diangguki oleh Gia.
Ponsel Gia berdering kencang sekali membuat semua mata di mobil itu tertuju ke arahnya. Sedangkan terdakwa hanya menatap layar ponselnya dengan tak percaya. Saat dia mengangkat kepalanya ternyata tatapan itu masih mengarah kepadanya dan langaung ia angkat teleponnya.
"Hallo. Ada apa?" ujar Gia dengan nada terburu-buru.
"...."
"Aku lagi dalam perjalanan ke lembang!" sahut Gia menjelaskan hendak kemana ia saat ini.
"...."
"Mau ngapain kamu?" tanya Gia dengan nada bicara tak suka dan membuat semua orang bingung.
"Udah nyusul aja, Ro. Kita tunggu di Floating Market ya!" teriak Gara membantu adiknya untuk mendekatkan keduanya. Gia kesal dan memukul lengan Gara kencang.
"Sakit!" teriak Gara membuat kedua orang tuanya menoleh.
"Terserah kamu aja!" ucap Gia kesal dan langsung mematikan teleponnya.
__ADS_1
Ya, Gia sangat gugup saat Rohan ingin menemuinya di tujuan mereka. Detak jantungnya berdetak sangat kencang membuatnya ketakutan karena ini pertama kalinya dia seperti sekarang.
"Pa, di rest area nanti boleh periksa aku dulu nggak?" celetuk Gia dan membuat kedua orang tuanya panik.
"Ade kenapa?" tanya Aku juga Zeyden secara bersamaan.
"Detak jantung Ade kencang banget ini, Pa. Ini pertama kalinya Ade kayak gini, Ade takut kena penyakit jantung, Pa!" jelasnya dengan polos nan lugu. Namun, hal itu justru memecahkan tawa untuk Gara, Aku juga Zeyden. Sedangkan Rakha hanya diam karena tak mengerti apa yang diomongin sama orang dewasa itu.
"Kok kalian ketawa sih!" seru Gia dengan wajah bingung.
"Kamu lucu, De." sahut Gara yng masih tertawa geli.
Gia pun memilih diam tak bersuara. Aku dan Zeyden saling pandang mendengar penuturan anak perempuan kami itu. Ternyata cinta sudah menyusuri kehidupan anaknya. Kami berdua hanya senyam-senyum saja, tetapi tersirat kesedihan dari wajah suamiku yang sangat tampan itu.
Romansa cinta sudah benar-benar menguasai sang anak. Zeyden takut bila dia harus berpisah dengan sang putri begitu cepat. Ayah mana yang tak sedih jika putri kecilnya akan segera berpisah dengannya cepat atau lambat.
"Akan ada waktunya, sayang. Kamu tenang ya, ini belum waktunya kok." ucapku menenangkan suamiku dengan mengusap lengannya dan dia membalas pakai senyuman yang dia paksakan.
Di bangku belakang sangat sepi. Ternyata ketiga anakku sedang terlelap. Aku hanya tersenyum melihat kearah anak-anak dan suamiku. Dia masih fokus ke jalanan dan sedikit bersenandung.
"Ku cinta dia, sayang dia." potongan lirik lagu yang dinyanyikan oleh suamiku.
"Dia siapa?" godaku pura-pura merajuk pada Zeyden.
"Aish, isteriku yang cantik ini cemburu ya!" balasnya sambil menoel daguku.
"Dia itu ada dibelakang kita sayang!" sahut Zeyden yang takut aku merajuk makin parah.
"Aku tahu, sayang. Masa aku cemburu sama anakku sendiri!" ucapku dengan menaikkan alis.
Cup
Kukecup singkat pipinya dan membuat dia merona. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang canggung saat aku kecup pipinya kilas. Ya, aku tak pernah melakukan itu di depan anak-anak. Karena tidak sepatutnya kami bermesraan di depan mereka atau orang lain.
"Ada kita loh, Ma." ucap Gara masih dengan mata terpejam.
"Kamu! Bukannya lagi tidur tadi!" sahutku dengan gemas pada putraku yang pura-pura tidur.
Kucubit pahanya dengan lembut. Putraku langsung membuka mata dan tertawa. Zeyden hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga membuat aku gemas pada kedua lelakiku. Aku menggelitik pinggang Zeyden sebentar, karena aku tahu dia masih mengendarai mobil.
Gara kembali memainkan ponselnya karena bosan. Aku memintanya menemani Zeyden karena mataku sudah sangat mengantuk. Kuterlelap dalam mimpi indah, hanya terdengar sayup-sayup perbincangan kedua lelakiku. Zeyden dan Gara tampak berbicara serius.
Gia, Gara dan Rakha yang sudah segar terdengar seru sekali berbincang dengan sang papa. Aku pun membuka mata dan apa yang terdengar perbincangan tadi tak lain dan tak bukan adalah murojaah anak-anak bersama dengan Zeyden. Aku kaget mendengar suara merdu mereka. Adem rasanya mendengar suara murojaah mereka, damai rasanya hatiku.
"Pa, cari toilet dong, aku sudah kebelet nih!" seru Gia dengan wajah memerah menahan sesuatu.
"Tunggu sebentar sayang, di depan ada rest area kok." ucap Zeyden dengan nada deg-degan.
Tak berapa lama kami tiba di rest area. Ketiga anakku berlari dalam sekejap untuk menuntaskan masalah mereka. Aku pun ikut turun walau tidak ingin buang air kecil tapi berusaha menuntaskannya. Karena perjalanan kami masih lumayan jauh.
Lima belas menit kami kembali ke mobil. Semua sudah berkumpul dan tiba-tiba ponselku berdering. Segera kuangkat panggilan video yang tertera disana. Putra sulungku yang menelpon ternyata, bahagia sekali aku rasanya.
"Assalamualaikum, Ma, Pa!" sapa si sulung dengan wajah sumringah.
"Waalaikumsalam, Kak." sahut kami kompak.
"Kakak apa kabar disana? I miss you, Honey!" ujarku dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak baik, Ma. Kalian bagaimana kabarnya? Dan plis jangan sedih gitu deh, nggak suka kakak lihatnya." ucapnya dengan nada sedikit kesal.
"Okey." sahutku dengan senyuman yang menggembangkan.
"Kakak!" teriak ketiga adiknya dengan suara cempreng.
"Hai kesayangan kakak." balas Zayyan dengan senyuman tak kalah histeris.
Mereka pun asyik melepas kangennya. Tak lupa Zayyan pun menanyakan kejadian kemarin dan adik-adiknya menjelaskan dengan runut masalah yang terjadi. Terlihat di video Zayyan menangis.
Hatiku sakit melihat putraku menangis. Gia menenangkan dan meyakinkan sang kakak bahwa dirinya baik-baik saja. Badai telah berlalu kini pelangi telah hadir, itulah kata-kata yang diucapkan oleh Gia kepada kakaknya.
Ribuan kata maaf terucap dari bibir Zayyan kepada adik-adiknya. Mereka hanya tersenyum sebagai tanda tidak masalah. Karena kesalahan memang bukan terletak padanya. Namun, ada pada mereka yang membully. Sekarang phn keadaan Gia sudah membaik jadi tidak perlu lagi membahas hal itu.
"Gia sudah ikhlas, Kak. Jadi kakak jangan kecewa gitu. Kesalahan bukan pada kakak kok. Disini memang Gia yang salah juga. So, no problem, okay." ujar Gia dengan senyuman yang membuat Zayyan sedikit lebih tenang.
"Kak, gimana kabar Vika?" tanya adik-adiknya yang merindukan sepupunya.
"Hai guys. I'm fine, how are you? I miss you so much guys!" cerocos Devika yang langsung mengambil alih ponsel sang kakak sepupu.
"Vika.." teriak mereka bertiga kompak dan membuat aku menoleh.
"Kami baik-baik aja. Pulanglah ke Indonesia jika kau rindu kami." sahut Rakha dengan senyuman mematikannya.
"Mau, tapi nunggu Kak Zayyan kelar kuliah aja!" sahutnya dengan santainya dan rambutnya kena badai tangan Zayyan yang gemas.
"Baiklah. Kalo gitu, kami akan menunggu kalian berdua. Bilang sama Kak Zayyan lekas selesaikan studinya dengan ekspres." sahut Gara dengan nada berapi-api.
"Tenang aja, De. Kakakmu ini jenius, jadi bisa secepatnya selesaikan kuliahnya!" teriak Zayyan tanpa wujudnya.
"Dih, orangnya ngilang kemana itu?" celetuk Rakha yang tak melihat batang hidung kakaknya.
"Kenapa sih? Masih rindu kakak." godanya yang tiba-tiba muncul lagi di depan kamera dan hal itu membuat kaget adik-adiknya. Karena gemas dengan sikap kakaknya mereka memanyunkan bibirnya secara kompak dan membuat dua orang di seberang telepon tertawa.
__ADS_1
***
jangan lupa like, comment, share dan votenya ya sayang-sayangnya aq..