Relung Langit

Relung Langit
Part 31


__ADS_3

"Ka, bangun dong." lirih semua orang.


"Maafin tante ya, Ka. Nggak bisa jaga Gibran." ucap Mama Gibran dengan isak tangis.


"Aku minta kamu pergi. Tinggalkan Priya, jangan pernah lagi kamu anggap kita saudara." ujar Bunda dengan lembut.


Anyelir membawa mamanya Gibran ke pintu dan keluar dari kamar. Dia menangisi ketidak berdayaannya, telah membuat semuanya kacau.


"Kabari tante ya, tentang keadaan Priya. Tante sangat khawatir." ujarnya sambil memegang tangan Anyelir dan sahabatku itu hanya mengangguk.


***


Dua jam sudah aku tak sadarkan diri. Aku sudah berada di rumah sakit, dokter mengatakan aku terlalu shock sehingga enggan bangun dari pingsan. Hal itu membuat orang tua dan orang terkasihku sedih.


"Yah, apa perlu kasih tahu Bryan?" tanya kakakku dengan lembut ke Ayah yang terlihat sangat stres.


"Jangan ganggu adikmu yang sedang belajar. Biarkan dia tahu ketika pulang nanti." ujar Ayah yang mencemaskan anak keduanya, jika berita ini sampai ke telinganya.


Kak Bryan jauh lebih emosional dari pada Kak Aryan. Dia bisa lebih sadis kepada orang yang membuatku menangis atau sakit. Ayah masih mencemaskan keadaanku. Aku yang mati enggan hidup pun aku tak mau. Rasa malu keluargaku jauh lebih besar, tapi kekhawatiran terhadapku mengalahkan itu.

__ADS_1


"Nasib apa yang menimpa keluarga kita sampai harus seperti ini?" gerutu Bunda sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Ayah.


"Sabar ya Bun. Kita harus kuat biar Priya juga kuat. Walau Ayah tahu, Bunda sudah hancur. Tapi jauh lebih hancur putri kita." ujar Ayah sedikit menitukkan air matanya.


"Yah, Bun. Aryan sudah kerahkan anak buah Aryan buat mencari si brengsek itu. Jadi Ayah dan Bunda tenang ya." ucap Kak Aryan sambil bersimpuh di kedua kaki orang tua kami.


Orang tuaku kaget mendengar itu. Baru putra sulungnya yang sigap melakukan hal ini ketika adiknya dan keluarga tercintanya di sakiti. Tapi kedua orang tuaku pun tak ingin masalah besar menimpa keluarganya lagi.


"Yan, jangan melakukan hal berbahaya buat kamu dan nama baik keluarga kita ya. Cukup sudah kejadian ini membuat kita malu." cuap Bunda yang masih memikirkan kejadian tadi.


"Yah, Bun. Ini Bi telepon. Aku harus ngomong apa?" Ujar Kakakku yang panik saat melihat ponselnya di telepon oleh adiknya.


"Baik Yah." sahut kakakku.


"Hai Bi. Apa kabar?" tanya sang kakak dengan penuh perhatian.


"Gue baik kok. Kalian gimana? Acaranya lancar kah? Mana Adik gue." tanyanya dengan perasaan bahagia.


"Kami semua baik, hanya saja princess kita demam dan belum sadarkan diri. Boleh gue minta satu hal sama lo?" ujar Kak Aryan dengan nada sedikit ragu.

__ADS_1


"Apa Priya sakit? Gue balik aja kali ya?" ujarnya dengan panik.


"Nggak usah lo balik. Kata Ayah dan Bunda selesaikan tugas kamu sebagai pelajar. Priya masih bisa kami handle. Lo bicara sama dia ya, telepon ini biar gue deketin ke dia. Semoga abis denger suara lo dia mau bangun." ucap Kak Aryan berusaha meyakinkan adiknya.


"Baik. Dekatkan teleponnya sekarang." sahutnya menerima perintah dari kakaknya dan Kak Aryan mendekatkan ponselnya serta tidak lupa di loudspeaker.


"Hai cantiknya aku. Hai my princess, katanya kamu lagi tertidur ya. Bangun dong, kami rindu sekali dengan senyumanmu. Sayangnya Kak Bi, katanya mau lihat wajah kakak. Tapi kalau kamu nggak bangun, gimana kita kangen-kangenannya? Bangun sayang, percaya kalau kita semua ada buat kamu. Kak Bi, Kak Aryan, Ayah dan Bunda sayang banget sama kamu. Bangun ya sayang, kalau kamu bangun, segera video call Kak Bi ya. I love you my princess." suara kakak keduaku yang lembut dan penuh perhatian membuat Bunda menangis.


Ya, ketiga anaknya memang sangat dekat. Terlebih kedekatan aku dan Kak Bryan, melebihi kakak adik. Kedua kakakku memang rela mati demi aku, tapi Kak Bryan yang jauh lebih peduli. Saat semua masih berbicara dengan kakak keduaku, tanpa sadar Ayah melihat aku menangis.


Dia segera menghapus air mataku yang keluar dari ujung mataku. Walau mataku masih terpejam. Ayah sedikit tersenyum karena upaya putranya sedikit menghasilkan. Aku merespon semua ucapan kakaknya.


"Yan, coba sekarang kamu yang bicara sama adikmu. Kalian bertiga memiliki ikatan yang kuat, semoga makin membuahkan hasil baik." pinta Ayah pada putra sulungnya dan kakakku menghampiriku.


Kak Aryan menggenggam jemariku dan mengelus punggung tanganku. Sesekali ia letakkan tanganku ke pipinya, diciuminya tanganku. Dia juga mengusap kepalaku. Kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"De, mungkin kata itu jarang banget Kak Yan, ucapin. Tapi kamu tahu nggak kalo kamu kayak gini bikin kakak sakit juga. Kak Bi, mungkin nggak tahu keadaan yang sebenarnya, tapi kakak tahu, De." lirihnya sambil menghapus air matanya.


"Lelaki itu emang brengsek, tapi 3 lelakimu siap menunggu kamu disini. Bangun ya sayang, kami rindu kamu. Kalau kamu lebih sayang sama kami, bangun. Tapi kalau kamu lebih sayang lelaki brengsek itu tetaplah seperti ini. Mungkin kamu akan jadi cemoohab orang-orang. Dan kamu jangan takut, ada kami sebagai benteng kamu." ucapnya makin tak kuasa, diapun memelukku.

__ADS_1


Jemariku bergerak hanya saja sebagai kode, kalau aku dengar semuanya. Mataku masih terpejam dan belum mau terbuka. Kak Aryan kaget saat dia merasakan pergerakan dari tanganku yang cukup lama sekitar 15 menit. Setelah itu aku kembali seperti sedia kala.


__ADS_2