Relung Langit

Relung Langit
Part 53


__ADS_3

"Hush jangan berisik. Udah gede juga masih kejar-kejaran dalam rumah!" bentak Priya yang kesal melihat kedua lelaki dewasa itu berlarian di depannya.


"Suami lo nih, nggak lepasin gue. Padahal gue kangen sama ponakan gue yang gemes itu." ujar Kak Bryan yang berlari ke belakang Priya.


"Kak Bryan tuh, yang ngegantungin aku." ujar Zeyden yang membuat aku bingung menafsirkannya.


"Gantungin kamu?" tanyaku menyelidik.


"Maksud aku ceritanya." sahutnya dengan mencoba menangkap Kak Bryan.


"Stop, gue sama Zayan pusing liat kalian begini. Kalian mau anak dan ponakan kalian kepuyengan?" bentakku dengan kesal.


Akhirnya kedua lelaki itu duduk dengan aku ditengah keduanya. Tak lama kemudian Kak Bryan mengambil Zayan dari gendonganku. Diciumi pipi anakku dengan gemasnya oleh Kak Bryan.


"Jadi masalah kalian itu apa sih?" tanyaku mulai membuka obrolan yang tadi mulai sunyi.


"Kak Bryan belum cerita tentang dia." jelas Zeyden dengan wajah penasaran campur kesal.

__ADS_1


"Ye, kan gue bilang mau main dulu sama ponakan gue. Cerita gue bisa entar-entaran kali." bela Kak Bryan sambil mengusel-ngusel pipi Zayan dengan hidungnya.


Zayan tertawa saat Kak Bryan melakukan hal menguyel-nguyel pipinya. Zeyden menaruh kepalanya di bahuku sambil memeluk pinggangku. Aku melihat ke kakakku lalu ke Zeyden membuat aku tertawa. Lucu melihat kekepoan Zeyden yang tidak biasanya.


"Kak Bi, mau kakak yang ceritain atau princessmu yang ceritain?" tawaranku kepada kakakku dengan senyuman licik.


"Gue aja. Tapi entar malem ya Zey. Gue mau main dulu sama ponakan gue." sahut Kak Bryan menoleh sesaat lalu melanjutkan aktifitas main dengan keponakannya.


"Istri gue aja deh yang ceritain Kak." ucap Zeyden dengan lembut dan polos.


"Nggak. Gue nggak percaya, nanti dia lebihin kebenarannya." sahut kakakku dan aku hanya tertawa saat mendengar jawabannya.


***


Waktu makan malam kami semua duduk di meja makan. Zeyden berbicang sedikit mengenai perkembangan rumah sakit dan perusahaannya. Aku hanya mendengarkan dengan baik, terkadang Kak Bryan juga bercerita masalah di kampus.


Aku rindu ingin kembali kuliah. Ya, Zeyden memang sudah mengijinkannya. Tapi aku rindu karena kedua sahabatku sudah tidak menemaniku saat kuliah lagi. Seusai makan aku ke kamar lebih dahulu untuk melihat Zayan. Sedangkan kedua lelaki itu memilih duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


***


"Jadi gimana ceritanya Kak?" tanya Zeyden mulai membuka percakapan.


"Mau mulai dari mana?" tanya balik Kak Bryan pada adik iparnya itu.


"Lo sejak kapan pacaran?" tanya Zeyden penasaran.


"Gue pacaran mulai SMA. Mau dari sana aja ceritanya?" tanya Kak Bryan sedikit menantang.


"Boleh." sahut Zeyden mulai membetulkan posisi duduknya, mencari posisi yang enak.


"Lo tahu nggak kalo gue dari TK sampe kuliah itu pisah sekolah dan kampus sama Aryan? Dan tahu nggak alasannya?" tanya Kak Bryan sebelum bercerita.


"Pernah denger dari Priya sih, cuma nggak tahu alasannya." sahut Zeyden sambil mengunyah biskuit.


"Ayah dan Bunda sengaja memisahkan kami, karena biar kami saling belajar dan berbagi perbedaan. Apa yang gue dapat disekolah, akan gue bagi ke Aryan begitu pun sebaliknya. Dari kecil Aryan meminta di sekolah negeri, sedangkan gue masuk ke sekolah swasta yang dibilang internasional itu." jelas Kak Bryan.

__ADS_1


"Priya bisa merasakan kedua sekolah itu. Balik ke gue sama Aryan lagi. Gue dan dia sering banget belajar memecahkan sebuah rumus fisika dengan cara berbeda. Rumus itu akan kami tuker, yang gue dapat akan dipakai Aryan begitu sebaliknya. Sampai suatu hari disekolah gue kedatangan seorang siswi baru, namanya Naina Al Katiri. Rambutnya hitam lurus, pipinya sedikit chubby dan memiliki lesung pipi di kedua pipinya." jelas Kak Bryan membuat Zeyden melongo dibuatnya.


"Terus gimana lanjutkan dong ceritanya!" pinta Zeyden tak sabar dan Kak Bryan meminum minuman di cangkirnya.


__ADS_2