
"Tuh kan gue bilang juga apa. Nggak ada." ujar Zoan dengan pedenya sambil menepuk bahu Zeyden dan dia menoleh.
"Yah, beneran nggak ada ya, Kak! Gue capek nih muter-muter." Ujar Anyelir dengan wajah ditekuk.
"Balik aja yuk, Kak." pinta kedua sahabatku pada Zeyden dengan wajah memelas.
"Iya kita balik. Tapi tunggu martabaknya jadi ya." ujar Zeyden tersenyum bahagia.
"What?" teriak Zoan tak percaya.
"Jangan boong deh lo, Kak. Secara ya, ini nggak musim durian kali. Dan gue udah sembilan kali loh turun, dengan hasil yang nihil. Nggak mungkin banget lo langsung dapat." ujarnya dengan wajah kesal.
"Akhirnya besok rumah gue bersih, lumayan istri sama pembantu gue bisa sedikit berleha-leha. Ya nggak, Zo" ujar Zeyden tertawa dan diikuti dengan Anyelir, sedangkan Zoan masih tak terima serta memikirkan seperti apa rumahnya
"Mamam lo, Zo. Kena karma sama ucapan sendiri." ledek Anyelir.
Saat mereka sedang tertawa bahagia. Jendela mobil diketuk oleh orang yang membawa dua kotak persegi di bungkus dengan plastik bening.
__ADS_1
"Makasih ya, Pak." Ujar mereka bersamaan dan dijawab oleh anggukkan kepala dari si penjual martabak. Mereka segera meluncur ke rumah Zeyden.
***
Mereka sampai di rumah yang tidak terlalu luas dilihat dari depan. Mereka memasuki rumah itu dan Zoan seketika lemas.
"Kenapa Zo?" tanya Zeyden dengan senyuman termanisnya.
"Rumah lo, Kak!" serunya.
"Iya, ini rumah gue sama Priya. Kenapa sih lo?" ujar Zeyden sedikit bingung.
"Selamat ya, Zo. Kak Zey, dimana kamar gue. Udah ngantuk nih." ujar Anyelir sambil berlalu dan tertawa.
Zeyden mengantarkan kedua tamunya ke kamar masing-masing sebelum dia kembali ke kamar. Martabak yang dia beli ditaruh di meja makan. Saat dia memasuki kamar, aku sudah terlelap. Zeyden hanya membuang nafas kemudian mencium keningku.
Jam dinding menunjukkan pukul 03.30 WIB. Aku merasa haus dan lapar, ketika tanganku mencari gelas di nakas hasilnya nihil. Semalam aku lupa mengambil air minun. Akupun segera pergi ke dapur.
__ADS_1
Aku langsung mengambil air lalu duduk di meja makan. Aku melihat bungkusan dan segera kuraih. Aku memakannya dengan lahap.
"Arghhh... Hantu...." sebuah teriakkan memecah kesunyian malam.
"Hantu.." Suara teriakkan itu membuat seisi rumah bangun dn menghampiri sumber suara.
Aku hanya menatap orang itu dan kembali melanjutkan makanku. Tak berapa lama lampu rumahku menyala semua. Mereka melihat aku yang sedang asyik makan martabak tanpa terusik.
"Gila lo ya, makan dalam kegelapan dengan rambut nggak dikuncir sampe mata lo nggal kelihatan. Udah gitu, ngapain sih lo pake baju tidur long dress warna putih gitu. Udah kayak kuntilanak aja tau nggak sih." ujar Zoan kesal sambil menoyor kepalaku beberapa kali tanpa kugubris.
"Nyonya Zeyden diam aja lo. Wah Kak Zey, isteri lo ke sambet tuh." lanjut Zoan kesal.
"Lo bisa nggak sih nggak berisik, Zo. Inget lo dirumah gue." sahutku dengan mulut penuh martabak.
"Lo aja yang dodol, Zoan. Udah dodol, pengecut lagi. Duh, sial banget cewek lo nantinya ya." ucap Anyelir sambil mengacak-acak rambut Zoan.
"Sayang, kamu doyan apa laper sih? Itu satu kotak setengah udah abis loh." ujar Zeyden yang shock melihat kelakuanku dan segera merampas sisa martabak.
__ADS_1
"Kak Zey, siniin nggak. Masih mau akunya." rengek aku sambil berusaha merebutnya.
"Nggak, sayang." ucapnya dengan lembut dan memberikan kotak itu ke Zoan.