Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 22


__ADS_3

Gara sangat terkejut dengan kehadiran sang mempelai wanita. Sayangnya kali ini Gara kembali dikerjai oleh keluarganya. Ada dua orang wanita dengan pakaian pengantin yang wajahnya ditutupi oleh cadar. Keduanya melangkah menghampiri Gara. Ya, bukan hanya Gara yang terkejut beberapa undangan pun merasakan hal yang sama. Gia meminta Gara menemukan isteri tercintanya.


"Kak, cari yang mana isteri sah kamu." ujar Gia menggunakan bahasa yang sopan. Anak-anak Priyanka akan menggunakan bahasa yang sopan ketika bersama orang lain walau itu keluarganya. Tapi akan menggunakan bahasa gue loe ketika mereka berempat.


"Dek, jangan main-main dong. Malu tahu dilihatin para tamu." bisik Gara yang masih mampu terdengar oleh orang-orang dan semua orang tertawa mendengarnya. Bagaimana tidak mendengar mikrofon yang dipakai saat ijab kabul masih Gara pegang.


"Kalo mau bisik-bisik, hm.. itu mikrofon ditaro dulu kak." ujar Gia dengan senyuman dan wajah memerah menahan malu akan kecerobohan saudara kembarnya itu.


Seketika Gara mengangkat tangannya dan kaget melihat apa yang dipegangnya. Segera ia taruh mikrofon itu ke meja. Semua pecah tawanya dengan sikap Gara yang terkenal dingin sesaat menjadi komedian. Lelaki itu mendadak cuek dengan sekitar dan menghampiri kedua wanita dihadapannya untuk memperhatikan lebih jelas. Dia berhenti di depan wanita sebelah kanannya.


"Kalo dilihat dari matanya dan aku harus memilihnya itu sama saja aku.." ucapannya terpotong membuat semua tamu penasaran.


"Lanjutkan kalimatmu, Nak!" teriak salah satu tamu undangan.


"Sama saja aku ngadu pedang. Lagian kamu ngapain sih dek pakai mau dandan cewek kayak gini. Jijik tahu nggak." ujar Gara melepaskan cadar dari wajah adik lelakinya dan bergidik ngeri.


Priyanka bangun saat mendapati putra kesayangannya melakukan hal seperti itu. Gara yang sudah memegang tangan isterinya kaget melihat sang mama dihadapannya. Gia, Gara juga Rakha hanya menelan salivanya dengan kasar. Mereka siap menerima amukan sang ratu, wajahnya yang datar tak dapat diprediksi apa yang akan terjadi.


"Ma, are you angry?" tanya Gia dengan raut wajah ketakutan.


"Rakha, kamu cantik banget sayang. Jadi gemes deh mama." Priyanka sambil nyubit pipi anak laki-laki terakhirnya itu membuat si empunya meringis kesakitan dan pipinya merah.


"Itu mama marah tapi nggak mau anaknya malu," bisik Gara ke isteri barunya dan hanya diangguki oleh wanita cantik itu.


"Ma, itu acara dilanjutin dulu ya," ucap Rakha agar cubitannya berakhir dan Priyanka melepas tangannya dari wajah sang putra.

__ADS_1


Priyanka menghampiri pasangan baru itu dan menuntun keduanya kembali ke meja yang masih ada penghulu di sana. Gara dan Chiara menyelesaikan tahapan yang harus mereka selesaikan dengan pihak KUA. Hanya sekitar lima belas menit selesai mereka menyelesaikan hal yang harus diurus.


 


\*


 


Kini mereka sudah berada di kamar, sambil menunggu waktu resepsi yang akan digelar malam nanti. Gara yang lebih dulu membersihkan diri dan Chiara yang masih duduk di tepi ranjang sambil membuka aksesoris di hijabnya. Tak lama Gara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathdrobe. Dia menghampiri Chiara yang sedikit kesulitan melepaskan pengait yang tertanam untuk menyanggah melati di kepalanya.


Gara dengan perlahan membantu sang isteri melepas semua aksesorisnya tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu. Setelah selesai semuanya, wanita cantik yang tengah tersipu malu. Gara pun mengisyaratkan wanita itu untuk segera membersihkn dirinya. Chiara masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Gara melanjutkan mengganti pakaiannya. Walau mulutnya hendak berkata tapi dia menutupnyabkembali. Perlahan ia mengambil pakaian yang ada di koper yang sudah disiapkan sang mama.


"Chiara, aku keluar dulu ya." ujar Gara di depan pintu kamar mandi dan tanpa menunggu sang isteri menjawab dia langsung menuju ke taman tempat semua orang berada.


Bisnis, bisnis dan bisnis. Itulah pembahasan mereka semua, Gara rasanya jenuh mendengarkan itu semua. Tak jauh dari keberadaannya tampak tiga kurcaci kecil kesayangan mereka sedang bermain bersama. Dia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri ketiganya.


"Hei, sedang apa kalian?" tanya Gara yang membuat ketiganya menoleh ke lelaki itu.


"Hm, itu loh Kak. Ara lagi ajak Banyu dan Rangga bermain kejar-kejaran. Tapi Ara lupa Banyu tidak bisa melakukan hl itu." jujur sang adik bungsu nan manis itu.


"Siapa bilang Banyu nggak bisa? Kan sudah ada Kak Gara di sini, jadi Kak Gara akan gendong Banyu." ujarnya sambil berjongkok dan siap menerima tubuh kecil sang keponakan itu.


"Tunggu, gimana kalo Banyu dan Rangga panggilan sayang ke Om diganti jadi Daddy Gara? Kalau setuju kita akan main." ujarnya yang kadang membuat kedua anak lelaki itu bingung.


"Okey, Dad." teriak kedua kurcaci manis itu.

__ADS_1


Mereka berempat bermain kejar-kejaran sambil tertawa dan bahagia. Beberapa pasang mata akhirnya menatap ke arah sumber tawa itu. Hanya senyum yang dapat mereka lukiskan melihat kebahagiaan terindah dalam hidup seorang Anggara.


"Mas!" teriak Chiara memanggil sang suami dengan langkah yang menghampirinya.


"Makan dulu yuk, sebelum berangkat ke hotel." ajaknya dan Gara menurunkan Banyu serta mengajak tiga kurcaci itu untuk makan bersama.


 


\*


 


Kini mereka sudah berada di tempat resepsi. Chiara bagaikan ratu dati negeri dongeng yang sangat cantik begitu pun dengan Gara yang tampannya tak terkalahkan. Gara menggandeng sang isteri menuju singgasana pelaminan nan mewah itu. Sesekali Gara mengelus tangan kekasih halalnya itu yang gemetar. Perjalanan menuju pelaminan dengan ribuan mata yang memandang ke arahnya.


Kegugupan dan kebahagiaan terpancar jelas di wajah wanita berhijab yang kini sudah menemani Gara di pelaminan. Saat ribuan tamu berjajar hendak memberikan ucapan selamat, terdengar suara anak kecil yang hendak bernyanyi membuat semua mata menoleh panggung hiburan. Ya, trio kurcaci keluarga Pradipta tengah berdiri di sana.


"Lagu ini untuk Daddy dan Mommy!" seru ketiganya dengan pakaian ala-ala putri dan pangeran negeri dongeng.


Mereka bertiga menyanyikan lagu berjudul Let it go milik Idina Menzel sukses menghipnotis para tamu undangan juga keluarga besarnya. Bukan hanya itu yang membuat keterkejutan semua orang. Ketiganya menari sesuai dengan alunan musik itu membuat setiap orang gemas melihat kelincahan ketiganya. Rasa kagum yang sesekali terlontar dari tamu undangan mampu membuat hati para orang tua anak-anak itu tersenyum bangga. Ya, orang tua mana yang tidak bangga dengan prestasi anaknya terlebih diakui orang banyak.


\*\*\*


***Hai kesayanganku semua. Maaf pendek dulu ya. Semoga esok bisa aku lanjutkan.


Jangan lupa share, like and comment. Ah, satu lagi. Jangan lupa vote untuk cerita ini ya. I love you guys.. 😘😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2