Relung Langit

Relung Langit
Part 116


__ADS_3

Hari ini sikap suami dan anak-anakku aneh. Semua minta ditemani, mau tidak mau ku harus menuruti permintaan mereka. Sesampainya dirumah sakit aku hanya duduk di sofa ruang kerja Zeyden. Sedangkan dia asyik menerima pasien-pasiennya. Bosan rasanya aku hanya diam diruangan seorang diri. Aku pun jenuh dan mencoba jalan keluar ruangan untuk mencari suasana yang nyaman. Langkahku mengarah ke sebuah taman di tengah gedung ini. Pemandangan yang sangat asri, membuat aku nyaman disini.


Aku tahu Zeyden selalu berusaha membuat rumah sakit tak menakutkan. Di halaman ini ada kursi untuk duduk-duduk, taman bermain anak, dan di sudut taman ini ada sebuah pohon yang diatasnya dibangun rumah pohon. Di rumah pohon itu dia buat perpustakaan super mini. Aku menaiki tangga demi tangga untuk mencapai puncak rumah pohon. Sesampainya disana aku langsung mengambil salah satu buku untuk kubaca.


Tak terasa waktu terus berjalan. Teleponku berdering membuatku kaget. Segera kuraih ponselku dan melihat layar disana tertera my husband. Sebelum kuangkat telepon itu kulirik jam digital di layar tersebut, dimana jam itu menunjukkan pukul 14.30. Aku dengan segera mengangkatnya.


"Dimana kamu sayang?" tanyanya dengan suara terengah-engah dan cemas.


"Rileks sayang, aku tidak kemana-mana kok. Aku ada dirumah pohon sekarang. Lamu dimana? Biar aku susul kesana sekarang." ujarku berusaha menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Kamu tunggu dibawah rumah pohon aku kesana sekarang. Dan jangan matikan teleponnya. Teruslah bicara padaku!" titahnya seakan tak percaya padaku.


"Iya sayangnya aku. Aku tunggu kamu disini, cepatlah, kita harus menjemput anak-anak bukan?" Cerocosku dan dia hanya menjawab dengan kata hm.


Dia sangat menyebalkan hari ini membuat aku gemas. Walau dia kadang membuatku kesal, tapi aku sangat mencintainya. Lelaki hebat yang bisa tiap hari membuat aku jatuh cinta padanya.


"Brugh.." Aku didekapnya sangat erat dari arah belakang.


"Hei, aku nggak kemana-mana kok sayang. Hanya jenuh tadi diruangan kamu sendirian. Sudah jangan kayak gini malu dilihat karyawan kamu." ucapku sambil mengelus punggungnya.

__ADS_1


"Sekarang kita jemput anak-anak ya!" seruku saat pelukannya sudah melonggar dan diangguki olehnya.


"Dokter Zey lucu ya, ketika sama isterinya. Andai dia belum menikah bahagianya aku." celetuk salah satu perawat yang terdengar ditelingaku.


"Anda ngomong apa barusan? Ingat saya hanya mencintai isteri saya. Dan anda jangan pernah berpikir seperti tadi." sahut Zeyden yang langsung memasang wajah tak suka mendengar ucapan karyawannya.


"Sayang, jangan gitu dong! Kasihan itu staf kamu ketakutan lihat kamu galak gini." ucapku sambil mengelus punggung suamiku dengan sebuah senyuman diwajahku yang tak pernah luntur.


Tanpa menjawab pernyataanku, Zeyden dengan cepat menarikku pergi menjauh dari karyawannya. Aku tahu siapapun akan mencintai Zeyden karena tampang dan sikapnya yang terkadang luar biasa baiknya. Hanya saja super dingin selain kepada keluarganya juga pasiennya. Kami segera berjalan menuju parkiran dan sesampainya di depan mobil, Zeyden langsung membukakan pintu.

__ADS_1


Kami menuju sekolahan Zayyan dan si kembar lebih dahulu, lalu jemput Rakha. Sesampainya di gerbang sekolah kami sudah melihat ketiganya sedang bercanda dengan temannya. Zeyden memberikan klakson dan ketiga anakku langsung berhamburan menuju mobil kami.


__ADS_2