Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Persiapan untuk Perjamuan Keluarga Wilaga


__ADS_3

17 Maret sudah tiba, Aksa pergi ke gudang mengendarai mobil pick up yang ia sewa. Alasannya karena acara perjamuan Keluarga Wilaga membutuhkan banyak sekali bahan.


Acara itu akan dihadiri oleh banyak orang dengan status yang tidak biasa dan setiap meja memiliki makanan yang banyak dan bervariasi agar mereka bisa menikmatinya.


Tidak hanya Aksa yang menyediakan hidangan di sana, Roni juga memesan makanan dari restoran terkenal lain dan beberapa toko dessert yang disukai oleh banyak orang.


Aksa ditugaskan untuk membuat hidangan utama karena akan menggunakan daging dan telur. Dia juga akan membuat minuman yang terbuat dari susu sesuai dengan permintaan Roni.


"Hm~ Hm~" Aksa menyenandungkan irama sambil membawa produk-produk peternakan ke dalam bak mobil pickup.


Setelah itu, Aksa segera pergi ke kediaman Keluarga Wilaga yang ada di pusat kabupaten. Aksa tidak perlu menanyakan alamatnya karena bisa dicari di internet, lagipula, kediaman Keluarga Wilaga sangat mencolok.


"Masalah rasa hidangan yang akan aku buat tidak perlu ditanya. Di acara ini, aku harus mencari orang kaya yang tertarik dengan Sajaya Farm dan membujuknya untuk pergi ke sana," pikir Aksa.


Memang, Aksa yang memiliki keahlian memasak setingkat ahli tidak perlu mengkhawatirkan apapun bahkan jika bahan atau bumbu yang digunakan kurang.


Selain Aksa, ada Indra dan beberapa chef Sajaya Farm lain yang kemampuan mereka tidak diragukan lagi. Mereka adalah orang-orang paruh baya yang sudah veteran dalam hal memasak.


Aksa mempekerjakan mereka dengan gaji yang mahal sesuai dengan kemampuan mereka. Selain itu, lingkungan kerja yang baik dan nyaman membuat mereka bisa bertahan.


"Di sini, kah." Aksa memberhentikan mobil pickupnya di depan gerbang yang sangat besar. Dari gerbang, Aksa bisa melihat ada mansion yang ukurannya tidak usah ditanya lagi.


"Halo, Pak Aksa. Anda bisa langsung pergi ke belakang, di sana sudah ada banyak orang yang sedang melakukan persiapan sama seperti Anda." Seorang penjaga menghampiri aksa dan berkata.


"Ah, baik. Terima kasih atas informasinya," angguk Aksa. Dia pergi ke belakang mansion setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga.


Seperti yang dikatakan oleh penjaga tadi, sudah ada banyak orang yang sedang melakukan persiapan. Kebanyakan dari mereka menggunakan truck untuk mengangkut barang-barang mereka.


Aksa hanya tertawa karena hanya dia yang menggunakan mobil pickup. Mengabaikan mata penasaran orang-orang di sekitar, Aksa memarkirkan mobil pickup dan segera menurunkan produk-produk peternakannya.


"Untung saja fisikku berbeda, jika ini adalah aku yang dulu, bisa dipastikan kalau saat ini aku sedang tidak sadarkan diri," pikir Aksa sambil memindahkan produk-produk peternakan.

__ADS_1


"Um, permisi?" Seroang wanita paruh baya datang menghampiri Aksa dan menyapa dengan suara sopan.


"Ah, halo. Apakah ada yang bisa aku bantu?" kata Aksa dengan sopan karena dia menghormati orang yang lebih tua apalagi jika itu adalah seorang kakek atau nenek.


"Haha, tidak perlu terlalu sopan. Namaku Tini, kepala pelayan di Kediaman Keluarga Wilaga," kata wanita paruh baya itu yang memperkenalkan dirinya kepada Aksa.


"Oh, halo Bu Tini. Apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan dari saya?" tanya Aksa dengan suara yang sedikit terkejut karena tidak menyangka kalau ada kepala pelayan di Kediaman Keluarga Wilaga.


Kepala pelayan berarti bertugas untuk mengelola dan mengoordinasikan pelayan-pelayan lainnya. Itu artinya ada banyak pelayan yang bekerja di Mansion Keluarga Wilaga ini.


"Pak Roni sudah memberitahuku kalau kenalannya akan datang. Jadi aku bertanya kepadamu apakah kamu perlu bantuan?" tanya Tini dengan nada ramah seperti sedang berbicara dengan cucunya.


"Oh, Pak Roni? Terima kasih, tapi kurasa sudah tidak ada hal yang perlu dilakukan selain menunggu karyawanku datang ke sini," jawab Aksa sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, panggil aku jika perlu sesuatu." Tini pergi ke tempat lain setelah meninggalkan kalimat itu kepada Aksa.


Aksa duduk sambil menunggu Indra dan yang lainnya datang. Pada saat ini, ponselnya berbunyi tanda bahwa ada notifikasi masuk. Dia segera memeriksanya dan ternyata ada pesan dari Sarah.


"Apakah kamu sudah sampai di sana? Apakah kamu perlu bantuanku?" Itu adalah pesan yang dikirim oleh Sarah kepada Aksa.


"Baiklah jika kamu berjaga seperti itu, kabari aku jika perlu sesuatu," balas Sarah dalam hitungan detik.


Mereka berdua saling membalas pesan, setengah jam kemudian, Indra dan chef lainnya datang. Mereka menghampiri Aksa dan segera melapor.


"Kalian sudah di sini? Kalau begitu ayo juga potong-potong dagingnya dan persiapkan bahan pelengkap agar nanti malam bisa langsung dimasak tanpa menunggu waktu lama," kata Aksa.


"Baik, Bos!" Indra dan yang lain mengangguk dengan cepat.


Mereka pergi ke dapur yang sudah disediakan oleh Keluarga Wilaga. Aksa dan yang lain segera memotong daging dan bahan-bahan pelengkap lainnya agar nanti malam bisa langsung memasak.


Dengan keahlian memasak Aksa, dia bisa memotong bawang dan sayuran dengan sangat cepat bahkan Indra dan chef lainnya terdiam di tempat melihat kecepatan tangan Aksa yang diluar akal sehat.

__ADS_1


Indra sudah tahu kalau bosnya bisa memasak tapi tidak menyangka kalau bisa memotong dengan sangat cepat bahkan dirinya yang sudah berpengalaman selama beberapa tahun tidak bisa menandinginya.


Karena bukan dapur khusus, melainkan dapur yang luas, chef dari restoran dan toko lain juga menolehkan kepala mereka ke arah Aksa karena mendengar suara pisau yang sangat cepat.


"Gila, apakah dia seorang jenius dalam memasak? Kecepatan memotongnya sangat tinggi, bahkan beberapa chef ahli tidak bisa menandinginya."


"Di usianya yang masih muda, dia sudah memiliki kemampuan seperti itu. Tidak bisa dibayangkan betapa hebatnya dia dalam beberapa tahun lagi."


"Sebagai seorang chef, aku cukup kagum dengan anak muda itu yang bisa memotong dengan sangat cepat dan dengan wajah tenang seolah-olah itu adalah hal yang biasa saja."


Para chef dari restoran dan toko lain kagum dengan Aksa karena memiliki kemampuan yang memukau di usianya yang masih tergolong muda.


Karena hal inilah yang membuat semangat mereka menjadi membara dan melakukan tugas mereka dengan sungguh-sungguh karena tidak ingin kalah dari Aksa yang masih muda sementara mereka sudah berpengalaman.


Indra dan yang lain tersenyum karena memiliki bos yang sangat hebat. Mereka juga segera melakukan pekerjaan mereka dan mengabaikan hal-hal yang mengganggu pikiran.


...----------------...


Sementara itu di Rumah Sakit Swasta Wilaga. Di salah satu bangsal pasien VIP di mana orang yang ada di sini merupakan orang kaya atau berstatus tinggi.


Roni sedang berdiri di samping seorang anak laki-laki yang belum dewasa, jika dilihat dari wajahnya, dia berusia sekitar 14 tahun. Namun wajahnya sangat pucat saat ini seperti orang ketakutan.


"Pak Roni, bagaimana kondisi anak saya?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang memegang tangan anak laki-laki itu dengan mata yang berlinang air mata.


"Bu Diah, kondisi Vincent tidak serius, hanya membutuhkan perhatian lebih agar kondisi mentalnya kembali seperti semula," jawab Roni dengan nada lembut karena merasa kasihan dengan Vincent si anak laki-laki berwajah pucat.


Wanita paruh baya yang bernama Diah menghela napas lega. "Syukurlah, terima kasih, Pak. Aku tidak tahu harus bagaimana jika mental Vincent dalam kondisi yang sangat buruk."


"Sama-sama, Bu. Coba ajak Vincent hadir di acara perjamuan di Keluarga Wilaga saya. Di sana akan ada banyak hiburan dan hidangan yang lezat, mungkin pikiran Vincent bisa teralihkan." Roni memberi saran kepada Diah.


"Itu patut dicoba, aku akan membicarakan hal ini kepada suamiku nanti," angguk Diah dengan serius setelah mendengar saran dari Roni.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu karena masih ada beberapa pasien yang sedang menunggu." Roni mengangguk dengan sopan sebelum meninggalkan bangsal.


"Vincent." Diah memandangi putranya dengan mata sedih.


__ADS_2