Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Undangan tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas


__ADS_3

Setelah Aksa dibangunkan oleh alarm ponselnya, ia melihat kalau ada banyak notifikasi dan melihat kalau semua notifikasi berasal dari akun media sosial pribadinya.


Dengan rasa penasaran dan kebingungan, Aksa memeriksa apa yang sedang terjadi dan betapa terkejutnya saat melihat ada banyak berita mengenai dirinya.


Ada banyak berita yang omong kosong saja dan tidak menyampaikan informasi yang sebenarnya. Setelah ditelusuri, Aksa menyadari kalau alasan mengapa dia masuk berita adalah karena siaran langsung hari ini.


"Yah, aku tidak terlalu peduli karena semua beritanya positif. Mungkin aku harus bersyukur? Karena dengan berita ini, Sajaya Farm akan dikenal luas," batin Aksa sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Aksa menyibukkan diri dengan mengurus banyak dokumen dan email-email yang dikirim oleh orang-orang acak serta dari beberapa perusahaan.


Orang-orang acak yang dimaksud adalah pengunjung yang mengirimkan email terkait isi pemikiran mereka terhadap Sajaya Farm. Email ini bisa berisi saran, kritikan, cemoohan, pujian, dan lain sebagainya.


Aksa tidak terlalu peduli dengan email-email negatif dari para pengunjung karena tidak ada yang serius. Jika ada bukti mengapa pengunjung mengirim email negatif, Aksa langsung memeriksanya.


Untuk perusahaan, mereka mengirimkan email yang menawarkan Sajaya Farm untuk bekerja sama. Namun kebanyakan dari mereka mencoba menipu karena bayarannya yang sedikit namun pekerjaannya banyak.


Aksa menolak para perusahaan dengan sopan, namun beberapa perusahaan mengirimkan email balasan yang berisi kata-kata yang kurang mengenakkan bahkan sampai menghina Sajaya Farm.


Meskipun Aksa membacanya sampai selesai, ia tidak mempedulikan email tersebut. Dia tidak marah bukan karena dia tidak memiliki empati, tetapi karena tidak ada gunanya untuk marah.


Dan begitulah kesibukan Aksa hari ini, ia terus bekerja sampai sore sampai semua pekerjaannya benar-benar selesai. Ia tidak suka menunda pekerjaan karena akan merepotkan di masa depan.


Jadi Aksa bangkit dari kursi, mengenakan mantel dan mengambil tas, lalu keluar dari kantor. Seperti biasa, Sarah juga keluar dari kantor dan mereka berdua pergi ke area parkir bersamaan.


Rumah mereka berdekatan, jadi sesekali mereka pulang bersama dengan Sarah yang berada di depan dan Aksa yang berada di belakang mobilnya.


Saat mereka keluar dari Sajaya Farm, sebuah mobil berhenti di area parkir. Aksa dan Sarah mengenali dua orang yang turun dari mobil tersebut, mereka adalah Bayu dan Satria.


"Selamat sore, Aksa, Sarah." Bayu berjalan menghampiri mereka sekaligus menyapa.


Hubungan Bayu dan mereka berdua memang dekat, jadi jika bukan pertemuan formal atau resmi, Bayu tidak memanggil dengan sebutan 'pak' atau 'bu' melainkan memanggil nama langsung.


"Oh, selamat sore, Pak Bayu, apa yang membuatmu ke Sajaya Farm saat sore hari seperti ini?" tanya Aksa dengan penasaran karena tidak biasanya Bayu datang saat sore hari.


"Hahaha, aku ke sini karena ingin memberimu undangan." Bayu tertawa dan mengeluarkan sebuah undangan dari saku jaketnya.

__ADS_1


Aksa mengambil undangan tersebut dan melihatnya dengan penasaran, lalu ia bertanya, "Boleh aku buka?"


"Tentu saja." Bayu mengangguk mempersilakan Aksa membuka undangan itu.


Aksa membuka undangan tersebut, Sarah mendekati Aksa karena penasaran juga. Mereka pun melihat undangan yang diberikan oleh Bayu dengan rasa penasaran karena desain undangannya yang elegan.


Ternyata, undangan tersebut adalah tentang hari jadi Kabupaten Banyumas yang jatuh pada tanggal 22 Februari. Pemerintah mengundang orang-orang berpengaruh untuk datang ke acara perayaan.


Acara perayaan ini akan diadakan tiga hari sebelum tanggal 22 Februari yang berarti saat tanggal 19 Februari dan acara ini diadakan di hotel ternama pada saat malam hari.


Sebagai anak muda yang sukses, Aksa tentu saja mendapatkan perhatian dari banyak orang. Pemerintah memutuskan untuk mengundang Aksa menghadiri acara perayaan.


Acara perayaan ini bukanlah acara yang bisa dihadiri oleh orang biasa karena acara ini termasuk acara yang mewah yang hanya dihadiri oleh orang kaya, status tinggi, atau pebisnis.


Alasannya bukan karena diskriminasi, tapi karena acara ini bertujuan untuk mengumpulkan orang-orang yang berpengaruh yang akan saling bertukar pikiran untuk memajukan Kabupaten Banyumas.


Pihak pemerintah kabupaten juga akan hadir dan biasanya ada sesi pembahasan suatu masalah dan orang-orang yang hadir dipersilakan untuk memberikan saran yang mereka pikirkan.


"Jadi begitu, tidak kusangka kalau aku mendapat undangan untuk menghadiri acara perayaan yang dihadiri oleh orang-orang berpengaruh," kata Aksa dengan penuh emosi.


"Ngomong-ngomong, apakah orang tuamu hadir di acara ini?" tanya Aksa saat ingat kalau orang tua Sarah adalah pemilik perusahaan real estate.


Sarah mengangguk dan berkata, "Ya, kedua orang tuaku diundang dalam acara ini. Paman Eddy dan istrinya juga sama."


Aksa ingat kalau Eddy tidak hanya berpengaruh di Kabupaten Banyumas, dia juga berpengaruh di Provinsi Jawa Tengah karena dia adalah salah satu orang terkaya di Jawa Tengah.


"Bagaimana? Kamu akan datang bukan?" tanya Bayu sambil tersenyum.


Bayu hanya bertanya secara simbolis, orang yang mendapat undangan seperti itu tentu saja akan hadir karena acara ini memiliki peluang bisnis dengan orang-orang yang hadir.


"Tidak perlu ditanya, aku akan datang. Tapi, apakah aku boleh membawa seseorang? Atau aku hanya boleh pergi sendiri?" Pertama Aksa menjawab kemudian ia bertanya.


"Jangan khawatir, kamu boleh membawa maksimal tiga orang ke acara tersebut," jawab Bayu.


Aksa mengangkat alisnya dan bertanya lagi," Tiga orang? Bukankah itu terlalu banyak? Biasanya hanya bisa membawa satu atau dua orang saja."

__ADS_1


Sebelum Bayu membuka mulutnya, Sarah sudah lebih dulu menjawab keraguan Aksa. "Itu karena mereka membutuhkan pengawal sehingga bisa membawa tiga orang ke acara tersebut."


"Ah, jadi begitu!" Aksa menepuk dahinya karena lupa kalau orang kaya biasanya memang membawa pengawal kemanapun mereka pergi.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Bayu dan Satria pamit undur diri karena mereka masih perlu untuk mengirim undangan ke orang lain.


Adapun mengapa mengirim secara manual, itu karena terkesan lebih sopan. Jika memberi undangan secara online atau lewat pesan saja, itu memang efisien namun terkesan kurang sopan.


Apalagi yang diundang adalah orang-orang yang memiliki pengaruh yang pastinya lebih penting daripada orang-orang awam yang biasa.


Aksa dan Sarah kemudian pulang bersama, namun mereka tidak memperhatikan kalau di dekat mereka ada beberapa orang yang sedang melihat mereka dari saat keluar dari Sajaya Farm sampai pulang.


Beberapa orang tersebut berpenampilan acak-acakan seperti preman atau anak geng. Namun di paling depan terdapat satu pria tampan dan satu pria botak dengan tubuh kekar.


Orang biasa bahkan bisa mengetahui kalau pria botak yang kekar itu adalah seorang pengawal dan pria tampan di sebelahnya adalah orang yang dia layani.


Aksa mungkin tidak mengenal mereka, tapi Sarah mengenal pria tampan tersebut karena mereka berdua pernah bertemu di rumah Sarah sebelumnya.


Benar, pria tampan tersebut adalah Kevin. Dia datang ke Sajaya Farm setelah memeriksa identitas Aksa. Adapun alasan mengapa dia melakukan hal itu, karena akhir-akhir ini Sarah tidak membalas pesannya.


"Jadi pria itu yang membuat Sarah tidak membalas pesanku. Dia adalah pemilik dari tempat wisata rendahan ini? Dasar katak dalam tempurung, berani-beraninya dia ingin bersama dengan Sarah?" batin Kevin dengan geram.


"Tuan muda, tolong berikan kami perintah," kata si pria botak bertubuh kekar dengan sopan.


Kevin berpikir sejenak sebelum berkata, "Tora, nanti malam, kamu bawa lebih banyak preman atau orang lainnya untuk merusak properti Sajaya Farm. Ingat, jangan sampai ketahuan!"


Tanpa ragu-ragu, Kevin memberikan perintah yang cukup kejam. Alasan dia tidak takut adalah karena ayahnya adalah orang yang berpengaruh di Jakarta.


Tentu saja dia tidak akan takut dengan Aksa yang hanya berasal dari keluarga biasa, atau bisa dikatakan keluarga miskin yang perbedaannya seperti langit dan bumi.


"Baik, Tuan Muda." Pria botak tubuh kekar yang bernama Tora mengangguk dengan patuh.


Tora tidak terkejut dengan peringan kejam dari Kevin karena dia sudah terbiasa. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon beberapa orang yang bisa melakukan apapun asalkan ada uang.


"Aksa, kita lihat saja apakah kamu bisa berdiri di sebelah Sarah selanjutnya." Kevin berpikir dengan kejam dan wajahnya menunjukkan seringai menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2