
Aksa pulang ke rumah dengan cepat, setelah mandi ia berbincang-bincang dengan keluarganya lalu ia memanggil Elvira dan Elvina ke kamarnya.
"Kakak, apakah sudah dibeli?" tanya Elvira dengan penasaran.
"Ya, sudah." Aksa mengeluarkan dokumen dan surat rumah dari tas lalu menyerahkannya kepada kedua adiknya.
Elvira dan Elvina membaca semua isi dari dokumen tersebut dan mereka memiliki senyum di wajah mereka setelah tahu kalau Aksa sudah membeli rumah baru untuk keluarga.
"Furnitur dan barang-barang sudah lengkap di sana, jadi kalian hanya perlu membawa pakaian dan barang-barang pribadi, kita akan pindah lusa," kata Aksa.
"Siap!" Mereka kembali ke kamar mereka dan segera mengemasi pakaian dan barang-barang pribadi ke dalam tas besar.
Sementara itu Aksa mengunci pintu kamarnya dan masuk ke dalam peternakan game. Seperti biasa ia memeriksa seluruh kandang hewan dan mengambil produk peternakan kualitas C.
Kemudian ia mengambil alat pancing dan mulai memancing di kolam keberuntungan. Sudah puluhan hari tapi Aksa hanya mendapatkan ikan arwana super red dan sisanya adalah ikan biasa.
Sesuai dengan namanya, kolam ini mengandalkan keberuntungan dan itu artinya keberuntungan Aksa sangat buruk karena ia hanya mendapatkan satu ikan yang berharga.
"Oh Sistem dewa, tolong berikan aku sesuatu yang bagus!" Aksa melempar kail pancing ke kolam keberuntungan.
Mungkin karena Tuhan merasa kasihan dengan Aksa, tiba-tiba saja pancing Aksa bergerak segera setelah ia melemparkannya ke dalam kolam keberuntungan.
"Oh ya!!" Aksa berdiri dan menarik pancingan dengan penuh semangat.
Lalu muncul sesuatu yang cukup besar sekitar setengah tubuh Aksa, Aksa yang penasaran segera memeriksa apa yang ia tangkap hari ini.
[Teh herbal: Kualitas A]
[Keterangan: Teh herbal yang diproduksi di pegunungan misterius, orang yang meminumnya akan langsung merasa seperti di surga. Ketenangan +3, kesehatan jantung +3, daya tahan tubuh +2, rasa +1.]
"Gila, atribut yang dimiliki teh herbal ini sangat diluar nalar. Hm, kira-kira ada 10 kilogram, banyak sekali. Butuh berapa lama sampai teh ini habis?" Aksa terkejut dengan berat dari teh herbal di depannya.
Teh celup yang biasa dijual memiliki berat 2 gram per kantong dan itu cukup untuk satu gelas besar. Sekarang di depan matanya terdapat teh herbal sebanyak 10 kilogram yang pastinya membuat Aksa terkejut.
"Yah tapi semakin banyak semakin bagus. Aku akan menggunakan 5 kilogram untuk keluarga dan sisanya digunakan untuk menjamu tamu penting di Sajaya Farm, hm, ide bagus." Aksa menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Aksa mencoba untuk memancing lagi, namun selama satu jam ia hanya mendapatkan ikan biasa tanpa kualitas yang membuatnya menghela napas kecewa.
__ADS_1
Aksa keluar dari kamar dan pergi tidur setelah ia mengemas teh herbal ke wadah karton yang biasanya digunakan untuk membungkus teh atau kopi karena ia akan memberikan ini kepada orang tua Sarah besok.
...----------------...
Aksa bangun pagi dan mandi, ia memeriksa peternakan game dan setelah tidak ada masalah ia turun ke lantai satu menemui ibunya yang sedang memasak sarapan.
Kedua orang tuanya sudah tidak bekerja mulai hari ini, bulan Desember sekarang adalah bulan terakhir mereka bekerja. Aksa memang meminta mereka untuk berhenti bekerja karena ia sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga.
Dan karena kesehatan orang tuanya yang kian memburuk karena bekerja di lingkungan yang kurang baik dan karena mereka yang sering bekerja lembur sehingga kekurangan istirahat.
"Ibu, ini ada teh herbal yang aku beli. Kualitasnya sangat bagus dan tentu saja efeknya sangat efektif. Jadi Ayah dan Ibu sering-seringlah meminum teh ini karena baik untuk kesehatan." Aksa menyerahkan teh herbal yang sudah ia kemas kepada ibunya.
"Oh, teh herbal. Ibu juga mendengar kalau teh herbal itu lebih baik daripada teh biasa." Ibu Aksa mengambil teh herbal dari tangan Aksa dan membukanya.
Aksa mengangguk dan berkata, "Ya, kebetulan kita belum sarapan jadi mari kita ganti susu murni menjadi teh herbal karena efeknya lebih bagus."
Setelah itu Aksa membantu ibunya merebus air dan membuatkan teh herbal untuk keluarga. Kemudian satu keluarga itu sarapan bersama.
"Teh dari mana ini? Ayah merasa kalau pikiran Ayah menjadi tenang padahal Ayah sedikit pusing kemarin karena terlalu banyak bekerja." Aji terkejut merasakan ketenangan di pikirannya.
"Wah Ibu juga merasa kalau tubuh Ibu menjadi hangat." Ani juga merasa kalau tubuhnya menjadi hangat setelah meminum teh herbal.
"Yah, ini teh herbal yang aku beli dari saluran khusus," kata Aksa dengan tenang meskipun dirinya juga terkejut dengan efek dari teh herbal ini.
"Kakak, pasti harganya mahal bukan?" tanya Elvira.
Elvina juga mengangguk dan berkata, "Pasti, sekarang teh biasa juga cukup mahal apalagi teh herbal."
Aksa tersenyum, ia mengelus-elus kepala kedua adiknya dan berkata, "Tentu saja mahal, tapi ini untuk kesehatan kita jadi berapapun harganya, akan aku beli."
Orang tuanya selalu mengajarkan kepada Aksa dan adik-adiknya kalau jangan menghemat uang jika itu terkait dengan kesehatan dan kenyamanan tubuh dan pikiran.
Itulah mengapa meskipun keluarga mereka miskin, mereka selalu sehat karena memakan makanan yang sehat dan juga terkadang Aji dan Ani membeli beberapa suplemen vitamin.
Setelah makan, ponsel Aksa berdering dan ia melihat kalau Sarah mengirimkan pesan bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju rumah Aksa.
Aksa segera pergi ke kamarnya dan berganti pakaian yang lebih sopan. Ia mengenakan kaos putih dengan blazer hitam, celana panjang hitam, dan sepatu kets berwarna putih.
__ADS_1
Tentu saja ia tidak mengenakan pakaian yang formal, malahan ia akan terlihat seperti orang yang akan melamar pekerjaan.
Setelah itu ia mengambil bungkusan teh herbal yang sudah disiapkan dan turun ke bawah. Kedua adiknya yang melihat pakaian Aksa mau tidak mau bertanya kepadanya.
"Kakak, mau ke mana?" tanya Elvira dengan penasaran karena Aksa jarang memakai pakaian yang sempurna.
Elvina juga penasaran, ia melihat Aksa dengan mata berbinar-binar karena Aksa sangat tampan dan ia berpikir kalau dirinya juga akan sangat cantik jika memakai pakaian yang bagus.
"Kencan," kata Aksa dengan jenaka.
"Apa!?" Elvira dan Elvina tercengang.
Mereka berdua berlari ke arah dapur sambil berteriak, "Ayah! Ibu! Kakak akan berkencan!"
"Hm? Lalu kenapa?" tanya Aji dengan bingung.
"Apakah Ayah tidak terkejut!?" tanya Elvina.
"Yah, kakakmu itu sudah dewasa dan Ayah tidak akan terkejut kalau dia punya pacar. Justru Ayah akan terkejut kalau dia tidak punya," jawab Aji dengan santai.
"Benar juga." Elvira dan Elvina menggaruk-garuk bagian belakang kepala mereka.
"Ayah! Ibu! Aku keluar dulu!" teriak Aksa.
"Ya! Hati-hati!" balas Aji dan Ani.
Aksa keluar dari rumah dan melihat ada mobil yang ia kenal di depan rumahnya. Sarah keluar dari mobil dan menyapa Aksa dengan senyuman indahnya.
Sarah mengenakan turtleneck berwarna putih dengan cardigan panjang selutut berwarna abu-abu, skinny pants berwarna hitam dan high heels berwarna cream.
"Kamu sangat cantik hari ini," kata Aksa dengan serius.
Wajah Sarah memerah mendengar pujian Aksa. Ia pun membalas, "Terima kasih, kamu juga sangat tampan."
"Haha, ngomong-ngomong, apakah kedua orang tuamu menyukai teh herbal? Aku membeli teh herbal yang efeknya sangat efektif." Aksa menunjukkan teh herbal di tangannya.
"Orang tuaku menyukainya. Tapi, bukankah aroma teh herbal ini sangat memabukkan?" Sarah mencium aroma teh herbal Aksa.
__ADS_1
Aksa tersenyum dan berkata, "Tentu saja, ini teh herbal berkualitas tinggi."
Setelah itu Aksa masuk ke dalam kursi pengemudi dan Sarah duduk di kursi penumpang di depan. Mobil mereka melaju menuju perusahaan real estate karena orang tua Sarah perlu mengurus sesuatu sebentar sebelum pergi.