
Aksa memberitahu alamat rumahnya kepada Hasan agar tanaman-tanaman yang dia pesan bisa langsung diantar ke sana. Sementara itu Aksa kembali ke Sajaya Farm dan segera memanggil Rofiq.
Pekerjaan Rofiq dan timnya yang membuat patung dari kayu sudah selesai dari jauh-jauh hari. Sekarang Aksa akan memberi mereka tugas baru yang perlu dikerjakan.
"Pak Rofiq, ini ada tugas baru. Tapi sebelum itu, apakah Bapak tahu terarium?" tanya Aksa sebelum dia memberikan Rofiq tugas.
"Terarium? Apakah itu adalah tumbuhan-tumbuhan yang ada di dalam wadah kaca? Aku pernah melihatnya di internet." Rofiq menjawab sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Ya, seperti itu. Singkat cerita, aku berniat untuk membuat terarium raksasa. Pastinya membutuhkan kayu yang banyak, tentu saja kayu ini bukanlah kayu pahat," kata Aksa.
Rofiq berpikir sejenak, lalu berkata, "Apakah tugas kami adalah mencari kayu untuk digunakan di dalam terarium? Saya dan tim akan segera mencarinya."
"Benar, tapi bukan itu saja. Pak Rofiq dan timnya akan memangkas pohon itu sesuai dengan ruang terarium. Selain itu, nanti aku juga berniat menaruh patung kecil di dalamnya," angguk Aksa
Rofiq mengeluarkan ponselnya dan segera mencatat tugas-tugas yang perlu dikerjakan. Mulai dari mencari kayu, memangkasnya sesuai dengan terarium, memahat patung, dan lain sebagainya.
Meskipun tugasnya banyak, Rofiq tidak mengeluh atau memprotes. Karena dia dibayar sesuai dengan apa yang dia kerjakan, alasan lainnya adalah karena dia tidak memiliki tugas yang berat.
Hari-hari mereka hanya diisi dengan memahat patung, ukuran, dan lain sebagainya tentang memahat. Mereka sudah sangat bosan, namun mau bagaimana lagi, karena memang tidak ada tugas.
Sekarang Aksa sudah memberikan perintah, Rofiq tidak berani bersantai-santai. Dia segera mengirimkan tugas yang sudah ia tulis kepada timnya.
"Itu saja, jika tidak ada pertanyaan, Bapak boleh pergi sekarang," kata Aksa setelah menyelesaikan pembahasan tentang pekerjaan yang harus dilakukan oleh Rofiq dan timnya.
"Ya!" Rofiq mengangguk, dia berdiri dan menundukkan kepalanya sebelum keluar dari kantor Aksa.
"Yah, semoga saja ide ini berhasil," pikir Aksa yang kembali mengerjakan pekerjaannya.
...----------------...
__ADS_1
Sore harinya, di kedai kopi yang nyaman, dipenuhi aroma hangat kopi yang baru diseduh. Aksa, sedang memainkan ponselnya karena sedang menunggu seseorang yang sudah berjanji.
"Maaf membuatmu menunggu." Suara wanita terdengar dari depan Aksa, dan wanita itu segera duduk di seberang Aksa.
Wanita itu adalah Delia, ibu Sarah. Tadi dia menelepon Aksa apakah ada waktu luang setelah selesai bekerja. Jadi, mereka berdua sedang bertemu untuk membahas perayaan ulang tahun Sarah.
"Suamiku tidak bisa datang karena masih sibuk dengan pekerjaannya, jadi hanya aku saja di sini." Delia berkata sambil memesan kopi kepada pelayan yang sedang lewat.
"Tidak apa-apa, aku bisa memahaminya." Aksa mengangguk menunjukkan pengertiannya.
Aksa dan Delia berbincang-bincang sebentar sambil menunggu kopi pesanan Delia. Setelah kopinya tiba, baru mereka membahas apa yang akan dibahas.
"Bagaimana rencanamu? Aku ingin mendengarnya." Delia ingin mendengarkan rencana Aksa untuk merayakan ulang tahun Sarah.
Aksa menyentuh dagunya dan berkata, "Karena ini sederhana, aku ingin merayakannya di rumah bibi atau di Sajaya Farm."
"Sajaya Farm terdengar bagus, agak membosankan jika dirayakan di rumah," kata Delia dengan ekspresi setuju.
"Ah, benar juga, bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu." Delia menepuk dahinya karena ceroboh tidak memikirkan hal sepele semacam itu.
Aksa mengangguk dan berkata, "Begitulah, jadi mungkin akan ditanyakan di rumah saja."
Setelah sudah disepakati tempatnya yang akan dirayakan di rumah milik Sarah, mereka mulai membahas bagaimana acara itu dibuat.
Sebenarnya tidak banyak yang perlu dibahas karena Delia mengatakan kalau Sarah tidak terlalu suka kejutan yang heboh. Dia lebih suka kejutan sederhana namun perasannya jelas.
Jadi Aksa akan merayakan ulang tahun Sarah dengan sederhana dan biasa saja karena memang tidak ada yang benar-benar bisa ditambahkan dalam acara ini.
Yang diundang juga orang-orang terdekat agar Sarah merasa nyaman dan lebih bisa menunjukkan emosinya. Perayaan ulang tahun tidak asik jika Sarah memasang wajah dingin sepanjang waktu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kue dan makanannya? Apakah kamu akan membelinya?" tanya Delia sambil menyesap kopinya.
Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak, aku akan membuatnya sendiri. Lagipula produk-produk peternakan Sajaya Farm sangat bagus, lebih baik menggunakan itu daripada membeli."
Delia merenung dan perkataan Aksa memang benar, jadi dia berkata, "Masuk akal. Lalu, apakah ada hal yang perlu aku lakukan?"
"Hm, mungkin menyiapkan rumahnya dengan baik, itu saja." Aksa berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Baiklah," angguk Delia.
Mereka berdua membahas beberapa hal kecil lainnya, kemudian setelah selesai, Aksa dan Delia keluar dari kafe. Delia kembali ke perusahaannya sedangkan Aksa kembali ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah, Aksa terkejut karena melihat ada banyak sekali tanaman di ruang tamu. Kejadian Aji dan Ani muncul entah dari mana yang mengagetkan Aksa.
"Ayah, Ibu, apakah ini kiriman yang aku beli?" tanya Aksa sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Ya. Satu jam yang lalu ada mobil pickup yang berhenti di depan rumah dan mengatakan kalau ini adalah tanaman yang dibeli olehmu, Aksa." Aji mengangguk dan menjelaskan apa yang terjadi tadi.
"Lalu, mau di taruh di mana semua tanaman ini?" Aksa berjongkok dan bertanya sambil menyentuh daun-daun tanaman.
"Karena semua ini adalah tanaman pot, ya jelas akan disimpan di rumah. Dan, bawa tanaman kecil ke kamarmu, untuk sekedar dekorasi," kata Ani kepada Aksa.
"Siap." Aksa memisahkan tanaman anggrek ke samping karena itu akan diletakkan di kamarnya. Lalu dia membantu Aji dan Ani untuk membereskan tanaman-tanaman itu.
Mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, dan hampir seluruh ruangan di dalam rumah ada satu atau dua tanaman pot di dalamnya.
Tanaman-tanaman itu masih berupa pot plastik jelek yang merusak pemandangan. Namun itu untuk sementara waktu saja, Aji dan Ani yang akan mengurus sisanya, tugas Aksa sudah selesai.
Aksa naik ke lantai dua sambil membawa bunga anggrek. Dia masuk ke dalam kamarnya dan menaruh bunga anggrek di atas meja kerja, tepatnya di belakang monitor agar tidak mengganggu.
__ADS_1
Setelah itu Aksa bermain game seperti biasa untuk melepas penat. Dan saat malam harinya, dia masuk ke dalam peternakan game untuk melakukan pemeriksaan rutin yang biasa dia lakukan.