Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Sarah yang akan Dijodohkan dengan Seseorang


__ADS_3

"Bagaimana, Aksa? Apakah kegiatannya lancar?" tanya Aji sambil membaca koran.


Aksa yang baru selesai mandi duduk dan menjawab, "Semuanya lancar, Ayah. Pengunjung hari ini adalah yang terbanyak selama Sajaya Farm dibuka selama beberapa bulan."


"Syukurlah kalau memang begitu. Ayah tidak memikirkan apapun asalkan Sajaya Farm baik-baik saja," angguk Aji.


Ani datang sambil membawa piring, Aksa segera berdiri dan membantu ibunya untuk menaruh makanan di atas meja karena sekarang sudah waktunya untuk makan malam.


"Apakah Rina tidak datang ke sini?" tanya Ani yang penasaran.


Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, dia masih harus melakukan sesuatu bersama teman-teman satu jurusannya."


"Begitu. Lalu tolong panggilkan dua adikmu untuk turun," kata Ani yang kembali ke dapur untuk mengambil beberapa piring lagi.


Aksa mengangguk dan berjalan ke lantai dua, ia mengetuk pintu kamar dua adiknya dan meminta merek untuk turun karena sudah waktunya makan malam.


Namun setelah menunggu beberapa saat, tidak ada jawaban dari kedua adiknya. Ia mengetuk pintu sekali lagi dan masih sama. Kemudian ia memegang kenop pintu dan membukanya secara perlahan.


"Vira?" panggil Aksa dengan lirih.


Aksa membuka pintu dan melihat kalau Elvira sedang tertidur dengan lelap. Aksa memikirkan sesuatu dan segera membuka pintu kamar Elvina di sebelah dan benar saja Elvina juga tidur.


Aksa tidak tega membangunkan mereka tapi mau bagaimana lagi sudah waktunya makan malam. Tidak baik melewatkan makan, jadi ia terpaksa membangunkan kedua adiknya.


"Ada apa, Kakak?" Elvira bangun dan bertanya kepada Aksa yang membangunkannya.


"Vira, sudah waktunya makan malam. Basuh mukamu dan turun ke lantai satu," kata Aksa dengan lembut.


"Um." Elvira hanya menganggukkan dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka.


Aksa juga pergi ke kamar Elvina dan membangunkannya, namun Elvina tidak kunjung bangun yang membuat Aksa tidak berdaya dan harus berkata dengan suara agak keras.


"Ahhh, tidak mau bangun..." kata Elvina dengan malas.


Aksa tertegun, Evina ternyata sudah bangun namun ia sengaja tidak mau bangun. Setelah berpikir sebentar, Aksa menarik selimut Elvina dan menggendong adiknya itu di pundaknya.


"Lepaskan aku! Kakak bau! Lepaskan!" Elvina terkejut dan meronta-ronta karena dirinya tidak mau beranjak dari tempat tidur.


Aksa mengabaikan perlawanan Elvina, ia membawa Elvina sampai ke ruang makan di mana Elvira dan kedua orang tuanya sudah duduk di sana. Kemudian Aksa menurunkan Elvina di kursinya.


"Ayah! Ibu! Kakak jahil!" protes Elvina dengan nada cemberut.


"Sudah-sudah, makan dulu." Ani tidak menanggapi protes Elvina dan menyuruhnya untuk makan.

__ADS_1


Elvina menggembungkan pipinya karena kesal, namun ia juga tidak berani membantah ibunya. Jadi ia menendang kaki Aksa dengan ringan lalu mengabaikannya.


Aksa mengabaikannya dan memakan hidangan yang dibuat oleh ibunya. Keluarga Wijaya makan malam dengan harmonis dan kadang-kadang Elvina berulah yang berakhir dimarahi oleh Ani.


...----------------...


"Setelah hari ini, bisa dipastikan kalau Sajaya Farm akan menarik banyak pengunjung. Semoga saja pengunjungnya tidak terlalu banyak selama dua mingguan berikutnya," pikir Aksa.


Bukan karena Aksa tidak ingin Sajaya Farm dikunjungi banyak orang, tetapi ia takut jika terlalu banyak pengunjung, Sajaya Farm tidak bisa menampung mereka semua dan malah berujung kekecewaan.


Alasan mengapa aksa memikirkan dua minggu berikutnya adalah karena dalam dua minggu, villa dan kamar sudah selesai dibangun sehingga bisa menampung lebih banyak pengunjung.


Saat ini Aksa sedang memikirkan kegiatan apalagi yang akan dibuat oleh Sajaya Farm. Ia tidak berpikir untuk menambah area baru karena yang sekarang sudah cukup dan belum banyak orang yang mengenal Sajaya Farm.


Jika Sajaya Farm sudah dikenal oleh banyak orang diluar provinsi atau bahkan diluar pulau, Aksa akan menambah area baru agar pengunjung tidak akan bosan.


"Meong." Simba masuk ke dalam kamar Aksa dan mengelus-elus tangan Aksa dengan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Aksa dengan santai.


Simba tidak menjawab, ia hanya naik ke atas perut Aksa dan berbaring. Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kucing oranye besar yang bersiap untuk tidur itu.


Aksa mengelus-elus kepala dan punggung Simba dengan nyaman karena bulu Simba sangat halus. Elvira dan Elvina biasanya yang memandikan Simba dan menyisir rambutnya.


Simba yang tidak bisa melawan pemiliknya hanya bisa pasrah saat seluruh tubuhnya masuk ke dalam air dan melihat dua gadis bersiap untuk memandikannya.


...----------------...


Sementara itu di rumah Sarah, ia sedang berganti pakaian karena ia baru saja mandi. Sarah mengenakan pakaian yang bagus karena ayahnya akan kedatangan tamu dan mereka akan makan malam bersama.


Sebenarnya Sarah tidak ingin ikut makan malam karena ia tidak menyukai makan malam formal karena itu sangat membosankan.


Tapi mau bagaimana lagi, Ayahnya memaksanya untuk ikut makan malam karena katanya tamu yang akan datang berasal dari Jakarta dan mereka dari perusahaan yang cukup terkenal.


Sarah membuka pintu kamar setelah selesai berganti pakaian dan sedikit berdandan. Kemudian saat akan pergi ke ruang makan, ia bertemu ibunya yang juga baru selesai merias.


"Sarah! Kamu memakai pakaian yang cantik! Ayo kita ke ruang makan bersama!" Delia menggandeng lengan Sarah dan menariknya ke ruang makan.


Sarah mengangguk dan tidak bertanya siapa yang akan datang karena itu bukan urusannya dan ia juga tidak terlalu peduli siapa yang datang.


Tapi saat mereka hendak melangkah ke ruang makan, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi. Andre keluar dari ruang makan berniat untuk membuka pintu dan kebetulan bertemu dengan Delia dan Sarah.


"Ayo kita ke depan, tamunya sudah datang," kata Andre.

__ADS_1


"Ya." Delia mengangguk dan melepaskan lengan Sarah, kemudian mereka bertiga lalu berjalan bersama menuju pintu rumah.


Di depan pintu gerbang, ada sebuah mobil hitam yang berhenti di sana. Mobil tersebut merupakan mobil yang sangat mahal jika dilihat dari modelnya.


Tiga pintu mobil terbuka dan turunlah tiga orang dari sana. Mereka salah sepasang suami istri yang usianya hampir sama seperti Andre dan Delia, lalu ada seorang pria muda yang sedikit lebih tua dibandingkan Sarah.


"Selamat datang, Albar!" Andre membuka pintu dan menyambut mereka bertiga.


"Hahaha, aku datang, Andre." Pria paruh baya yang bernama Albar itu tertawa saat melihat Andre datang menyambutnya.


Andre segera membawa Albar dan keluarganya menuju ruang makan. Delia juga berbicara dengan wanita di sebelah Albar yang merupakan istrinya.


Sarah mengikuti mereka dengan diam dan memasang wajah dingin seperti biasa. Ia sudah menduga kalau kedua orang tuanya pasti akan langsung berbicara dan tidak mengatakan apapun kepadanya.


Lalu ia sedikit melirik ke pria muda di sebelahnya yang sepertinya adalah anak dari Albar dan istrinya. Namun ia tidak mengajaknya berbicara karena ia tidak pernah berbicara dengan pria manapun kecuali untuk bisnis dan tentu saja kecuali Aksa.


Mereka sampai di ruang makan dan segera makan malam bersama dengan harmonis. Setelah selesai, mereka mulai membahas apa yang perlu dibahas.


Apa yang mereka bahas adalah mengenai perusahaan, mereka berencana untuk bekerja sama dan sedang memikirkan beberapa hal penting.


Barulah setelah selesai membahas, Andre mulai berbicara kepada Sarah. "Sarah, pria muda di depanmu adalah Kevin, dia anak Albar dan istrinya. Ayah dan Albar adalah rekan bisnis yang sudah lama saling mengenal."


"Sarah, sapa dia," kata Delia kepada Sarah sambil tersenyum.


Sarah melirik ibunya dan ia menganggukkan kepalanya ke arah Kevin. "Halo, aku Sarah."


Kevin tersenyum dan mengangguk, "Hai Sarah, aku Kevin. Semoga kita bisa saling mengenal satu sama lain dan berteman dengan baik."


Namun Sarah mengabaikan perkataan Kevin dan tetap menunduk yang membuat Andre mengerutkan keningnya. Sarah tentu saja bisa melihat ekspresi ayahnya namun ia tidak peduli.


Tapi karena Andre juga tahu sifat putrinya, ia hanya menghela napas dan mulai mencari topik agar bisa berbicara dengan santai.


Setelah satu jam, Albar dan keluarganya pamit pulang karena sudah malam. Mereka sudah memesan hotel mewah di dekat sana karena mereka berasal dari Jakarta.


"Ayah, jika aku tidak terlibat dalam pembicaraan mengapa Ayah menyuruhku untuk ikut makan malam?" tanya Sarah sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.


Andre menghela napas dan berkata, "Sarah, bagaimana dengan Kevin? Dia adalah pria muda yang cukup tampan dan memiliki keterampilan yang baik. Di usianya yang terbilang muda, dia sudah bisa memimpin perusahaan."


"Bahkan sebentar lagi Albar akan menyerahkan perusahaannya kepada Kevin karena dia memang bisa memimpin perusahaan ke arah yang lebih baik," lanjutnya.


"Aku tidak paham maksud Ayah, selamat malam." Sarah langsung pergi ke kamarnya di lantai dua.


Sarah bukan orang bodoh dan tentu saja ia paham dengan perkataan ayahnya yang bermaksud untuk menjodohkan dirinya dengan Kevin.

__ADS_1


"Aksa..." Sarah memikirkan Aksa sebelum ia tertidur.


__ADS_2