Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Elvira dan Elvina yang Dibelikan Motor Baru


__ADS_3

Aksa mengendarai mobil dengan santai sambil berbincang-bincang dengan kedua adiknya sekaligus sambil makan telur gulung yang masih hangat.


"Kakak, itu tadi perbuatan Kakak, kan?" tanya Elvira sambil makan telur gulung di kursi belakang.


"Hm? Yang mana?" tanya Aksa pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud oleh adiknya itu.


"Jangan pura-pura, aku tahu kalau kakak yang membayar telur gulung tadi!" kata Elvira dengan kesal karena Aksa berpura-pura tidak tahu.


"Hahaha, ya, itu aku." Aksa tertawa sebentar sebelum menjawab.


"Alasan apa Kakak melakukan hal itu?" Kali ini Elvina yang mengajukan pertanyaan kepada Aksa.


"Yah, aku punya uang lebih. Aku senang, penjual telur gulung senang, siswa-siswi juga senang." Aksa menjawab pertanyaan Elvira dengan jawaban yang sederhana namun jelas.


Elvira dan Elvina saling memandang, mereka bisa melihat keterkejutan di mata mereka masing-masing. Apa yang dikatakan oleh Aksa memang benar, tiga pihak yang terlibat sama sama senang.


Apalagi Aksa punya uang lebih, jadi tidak perlu alasan khusus untuk melakukan hal seperti itu. Lagipula, sejak kapan orang harus memiliki alasan untuk membantu orang lain.


"Yah, seperti yang diharapkan dari Kakak," kata Elvira dan Elvina.


"???" Aksa bingung karena tidak tahu apa maksud dari perkataan kedua adiknya itu, tapi dia tidak bertanya karena merasa kalau pertanyaannya akan diabaikan oleh mereka.


Mobil melaju menuju rumah dengan kecepatan konstan. Setelah 10 menit, baru mereka sampai di rumah. Elvira dan Elvina segera mandi dan berganti pakaian dengan cepat karena mereka tidak sabar.


Sementara itu Aksa hanya duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi yang sedikit membosankan. Dia merasa kalau acara televisi di Indonesia kurang bermutu.


Apalagi tidak ada tontonan yang menghibur, kebanyakan hanyalah sinetron atau berita. Acara hiburan yang ada juga kebanyakan berasal dari luar negeri, bukan dari dalam negeri.


"Yah, pemerintah juga tidak akan melirik keluhanku," batin Aksa yang memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.


Setelah setengah jam, Elvira dan Elvina turun dengan pakaian kasual yang nyaman untuk dipakai. Aksa yang melihat itu juga mematikan televisi dan berdiri dari sofa.


"Kalian sudah siap?" tanya Aksa kepada kedua adiknya.

__ADS_1


"Siap!" teriak Elvira dan Elvina yang sangat gembira.


Jadi, mereka segera masuk ke dalam mobil setelah mengunci pintu rumah. Setelah itu Aksa mengemudikan mobilnya menuju dealer motor terbaik di Kabupaten Banyumas.


Alasannya sudah jelas, Aksa ingin kedua adiknya memilih motor dengan variasi yang sangat banyak sehingga mereka tidak akan kecewa jika motor yang mereka inginkan tidak ada.


15 menit kemudian, mobil berhenti di depan gedung yang cukup besar. Mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung.


"Wah, ada banyak motor di sini!" kata Elvina dengan suara kagum.


Pada saat ini, seroang wanita dewasa menghampiri mereka dan berkata, "Halo, apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Halo. Mereka berdua yang ingin membeli motor, tolong tunjukkan, harga bukan masalah." Aksa berkata dengan nada mendominasi yang membuat mata pramuniaga itu cerah karena mendapatkan pelanggan kaya.


"Baik, silakan ikuti saya." Pramuniaga menunjukkan jalan ke area motor yang cukup mahal. Lagipula Aksa berkata kalau harga bukankah masalah sehingga si pramuniaga langsung menuju ke area mahal.


Elvira dan Elvina mendengarkan penjelasan dari pramuniaga dengan serius. Mereka tidak terlalu memperhatikan mesin dan lain-lain, asalkan bodi motornya nyaman untuk digunakan.


Beberapa kali mereka juga mengajukan pertanyaan agar tidak bingung dan pramuniaga juga menjawab pertanyaannya dengan mahir tanpa berbelit-belit yang menunjukkan profesionalitasnya.


Satu jam kemudian, Elvira dan Elvina sudah memilih motor yang mereka inginkan. Motornya dari merek yang sama, dengan bodi yang tidak terlalu ramping dan tidak terlalu besar.


Cocok untuk digunakan oleh perempuan remaja sampai wanita dewasa. Bahkan orang gendut sekalipun aman jika menggunakan motor ini.


"Baiklah, kalian ingin warna yang apa?" tanya Aksa sambil menepuk-nepuk kepala kedua adiknya.


"Tidak tahu." Elvira dan Elvina menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak bisa memilih warna yang diinginkan.


"Kalau begitu pilih hitam saja dulu, nanti kita bisa mengubah warnanya di bengkel resmi," kata Aksa yang membuat mereka berdua setuju tanpa berpikir panjang lagi.


Pada saat ini, pramuniaga yang dari tadi menunggu berkata dengan nada penuh harap kepada Aksa. "Pak, apakah Anda akan membeli dua motor ini?"


Aksa mengangguk dengan pasti dan berkata, "Ya, aku beli dua motor ini. Bisa langsung diantar hari ini?"

__ADS_1


"Bapak juga bisa langsung mengendarainya sekarang juga!" kata pramuniaga dengan wajah yang berseri-seri karena Aksa membeli dua motor sekaligus.


"Kakak, aku ingin langsung mengendarainya!" teriak Elvina dengan penuh semangat saat mendengar perkataan pramuniaga itu.


"Aku pun!" Elvira juga tidak kalah semangatnya.


"Baiklah kalau begitu." Aksa tersenyum melihat kedua adiknya bahagia.


Pramuniaga segera mengambil dokumen terkait, Aksa segera menandatanganinya. Kemudian Aksa segera mengirimkan uang pembayaran ke rekening yang sudah diberitahu oleh pramuniaga.


Sebenarnya dealer kendaraan akan menyarankan pelanggan untuk mengambil kredit karena itu lebih untuk bagi mereka daripada secara tunai.


Namun Aksa membeli dua motor sekaligus sehingga pramuniaga tidak membujuk Aksa untuk mengambil kredit. Lagipula, dia juga sudah melihat mobil yang Aksa kendarai tadi.


Itulah mengapa pramuniaga berpikir kalau Aksa adalah orang kaya sehingga dia pasti akan langsung menolak kalau disarankan untuk mengambil kredit.


Jadi, daripada membuat Aksa kesal dan pada akhirnya tidak jadi membeli motor di tempat mereka, si pramuniaga memutuskan untuk tidak mengatakan apapun, hanya melakukan penjelasan saja.


"Vira, Vina, kalian di depan, aku di belakang," kata Aksa sebelum masuk ke dalam mobil.


Elvira dan Elvina mengangguk, mereka memakai helm, menyalakan mesin motor, dan mengendarainya keluar dari gedung dealer motor.


"Terima kasih telah membeli di tempat kami!" Pramuniaga tadi membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda ucapan terima kasih.


Elvira dan Elvina mengendarai motor baru mereka dengan perasaan baru. Meskipun mereka sudah pernah mengendarai motor milik Aji, tapi saat ini motor yang mereka kendarai adalah milik mereka sendiri.


Meskipun itu dibeli atas nama Aksa karena Elvira dan Elvina masih di bawah umur. Namun Aksa jelas memberikan kedua motor itu kepada mereka.


Jadi, mereka tidak berani mengendarainya terlalu cepat. Aksa juga tersenyum karena bisa mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.


"Motor baru ya, semoga nilai mereka bisa meningkat lagi karena hal ini," batin Aksa yang senang karena kedua adiknya juga senang.


Setelah sampai di rumah, Elvira dan Elvina segera memberitahu kabar gembira itu kepada Aji dan Ani. Kemudian mereka menelepon Alvan yang ada di Jakarta dan pamer kepadanya.

__ADS_1


Alvan yang mengetahui hal itu langsung terkejut, dia sedikit iri karena Aksa membelikan Elvira dan Elvina motor baru, tapi tidak begitu iri karena dia sudah kuliah.


Dan Aksa juga sudah membelikannya komputer dan laptop baru agar dia bisa belajar dengan lebih nyaman lagi. Karena itulah Alvan bertekad untuk mengurangi beban yang sedang Aksa tanggung.


__ADS_2