Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Merawat Sarah yang sedang Sakit di rumahnya


__ADS_3

"Aksa, bantu aku melepas pakaianku." Sarah duduk dengan susah payah dan berkata kepada Aksa dengan suara lirih.


Namun setelah beberapa saat, Sarah tidak mendengar Aksa bergerak jadi ia mendongak ke arah Aksa dengan curiga dan melihat kalau Aksa sedang tercengang.


"Aksa, ada apa denganmu?" tanya Sarah dengan curiga.


Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Sarah, bukankah ini tidak baik? Membantumu melepas pakaian, aku tidak memiliki keberanian untuk itu."


Bukan karena Aksa pengecut, tapi karena Aksa takut tidak bisa mengendalikan diri dan tidak baik jika mengambil kesempatan dalam kesempitan saat Sarah sedang sakit.


Setelah mendengar perkataan Aksa, Sarah tertegun. Meskipun ia sedang sakit, tapi ia masih bisa berpikir dan ia juga tahu kalau ada yang salah dengan permintaannya.


Sarah tersipu malu dan Aksa yang melihat wajah Sarah berpikir kalau itu lucu. Ruangan menjadi hening dan suasana menjadi canggung karena keduanya sama sekali tidak berbicara.


"Itu, Aksa, tolong berbalik karena aku akan melepas pakaian dan setelah itu tolong usap punggungku," kata Sarah setelah beberapa saat terdiam.


"Um." Aksa mengangguk dan berbalik. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghilangkan pikiran negatif karena saat ini Sarah sedang sakit dan membutuhkan bantuan.


Sarah melihat Aksa berbalik dan segera melepas atasan piyamanya, Sarah sangat gugup tapi tidak ada pilihan lain karena hanya ada Aksa di sini dan ia tahu kalau orang tuanya sedang sibuk.


Meskipun ia menelepon orang tuanya, mereka pasti hanya akan membagikan untuk beristirahat lebih banyak. Sarah tahu hal itu karena dulu ia pernah mengalami hal yang sama.


"Aksa, aku sudah selesai," kata Sarah.


Aksa berbalik dan melihat Sarah dengan gugup, Sarah sedang menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut dan memperlihatkan punggung putihnya yang membuat Aksa menekan ludah.


"Apa yang kamu lihat? Cepat!" Sarah mengumpulkan tenaga untuk berteriak karena dirinya malu ditatap oleh Aksa dengan tatapan tajam.


"Ah, ya!" Aksa terbangun dari lamunannya dan duduk di belakang Sarah.


Ia mengambil handuk, mencelupkannya ke dalam air hangat, memerasnya agar tidak terlalu banyak air, kemudian mengusap-usap keringat di punggung Sarah yang putih bersih.


Keduanya tidak berbicara karena sama sama malu, namun Aksa tetap melakukan pekerjaannya dengan serius. Ia langsung menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam hatinya saat ada pikiran negatif muncul.


"Selesai," kata Aksa sambil menghela napas lega karena sudah berakhir.


Sebagai pria normal yang tidak pernah memiliki pacar, Aksa tentu saja sangat tersiksa dalam situasi barusan. Adalah bohong jika ia tidak tertarik dengan Sarah karena dia sangat cantik.

__ADS_1


Sarah mengangguk dan meminta Aksa untuk keluar dari kamar terlebih dahulu karena ia akan mengusap tubuh bagian depannya.


Aksa mengangguk dan segera keluar, karena tidak melakukan apapun, ia pergi ke dapur untuk membuat teh herbal peternakan game untuk Sarah dan kopi hitam untuk dirinya.


Sambil menunggu air mendidih, Aksa pergi ke toilet dan masuk ke dalam peternakan game untuk melakukan pemeriksaan rutin.


"Hm, tidak ada yang berbeda. Aku juga belum melihat produk peternakan kualitas B atau diatasnya. Meskipun sedikit kecewa tapi apa yang aku miliki adalah waktu sehingga aku bisa menunggunya," batin Aksa.


Aksa menunggu produk-produk peternakan kualitas B dan diatasnya muncul, namun sudah beberapa bulan mereka tidak pernah muncul sehingga Aksa kecewa namun tidak terlalu banyak.


Setelah berkeliling dan tidak menemukan sesuatu yang tidak beres, Aksa keluar dari peternakan game dan mendengar kalau air yang ia rebus di teko sudah mendidih.


Aksa menuangkan air mendidih ke dalam cangkir yang berisi teh herbal dan kopi hitam. Ia mengaduknya sampai rata dan membawa keduanya ke kamar Sarah menggunakan nampan.


"Sarah, apakah kamu sudah selesai?" tanya Aksa sambil mengetik pintu kamar Sarah.


"Sudah, kamu bisa masuk," kata Sarah dari dalam kamar.


Aksa menggunakan satu tangan untuk memegang nampan dan menggunakan tangan yang lain untuk memutar kenop pintu dan membukanya.


Ia masuk ke dalam kamar lalu menaruh nampak berisi dua cangkir itu di atas meja kecil di sebelah tempat tidur. Ia melihat kalau Sarah sudah mengenakan pakaian yang ia ambil.


Aksa menaruh pakaian Sarah ke dalam keranjang pakaian yang ada di kamar mandi, setelah itu ia kembali ke sisi Sarah dan membantunya meminum teh herbal.


Setelah itu Aksa membaringkan Sarah dan menutupinya dengan selimut untuk beristirahat. Aksa mengambil mangkuk bekas sup telur tadi dan akan mencucinya di dapur.


Namun saat ia akan berdiri, sudut pakaiannya di pegang oleh Sarah. Aksa menoleh namun melihat kalau Sarah ternyata sedang menutup matanya sambil memegangi sudut pakaiannya.


Aksa tersenyum dan menghela napas pendek, ia menaruh mangkuk di atas meja kecil dan duduk di ranjang di sebelah Sarah karena dia memegangi pakaiannya dengan erat.


"Aksa.. Terima kasih.." Sarah berkata tanpa membuka matanya.


"...Iya." Aksa tersenyum dan mengangguk.


Aksa melihat Sarah yang sudah diam berpikir kalau dia sudah tidur. Aksa menggerakkan tangan kanannya untuk mengelus-elus kepala Sarah.


"Aksa.." tiba-tiba Sarah membuka matanya dan berbicara yang membuat Aksa menarik kembali tangannya.

__ADS_1


"Ya?" balas Aksa dengan hati-hati.


"Kamu masih di sini kan?" tanya Sarah dengan lirih.


"...Ya, aku masih di sini, jangan khawatir," angguk Aksa.


"Itu bagus, aku hanya ingin mendengar suaramu." Sarah menutup matanya setelah mengatakan hal itu.


Aksa duduk, ia meminum kopinya sambil melihat-lihat berita di ponsel. Sebelumnya ia sudah memberitahu Galih kalau dirinya tidak bisa ke Sajaya Farm dan memberitahu kalau Sarah sedang sakit.


Setelah setengah jam, Sarah melepaskan sudut pakaian Aksa yang ia pegang. Aksa berdiri dan mengambil mangkuk serta gelas yang perlu dicuci di dapur.


Setelah mencuci, Aksa kembali ke kamar Sarah. Ia memindahkan kursi yang ada di sudut ruangan ke sebelah tempat tidur agar ia bisa mengawasi Sarah.


Aksa juga tidak menganggur, ia membuka ponselnya dan mencari-cari ide untuk membuat Sajaya Farm terkenal. Ia adalah orang awam dalam hal bisnis, oleh karena itu ia harus belajar lebih banyak lagi.


Tapi mungkin karena terlalu lama menatap layar ponsel dan karena suasana yang hening membuat mata Aksa lelah. Ia memejamkan matanya mencoba untuk istirahat namun tanpa ia sadari, ia malah tertidur.


...----------------...


Waktu berlalu dalam sekejap, diluar langit sudah gelap tanda bahwa siang sudah lewat digantikan oleh malam yang ditemani bulan dan bintang.


Sarah membuka matanya, ia duduk dan mengusap-usap matanya. Karena ia haus, ia berniat turun ke dapur untuk mengambil air untuk diminum, namun ia melihat seseorang di sebelahnya.


"Aksa!?" Sarah melebarkan matanya karena sangat terkejut Aksa berada di dalam kamarnya.


Lalu ingatan tiba-tiba membanjiri pikirannya, Sarah mencoba mengingat-ingat dan ia tahu kalau ternyata dirinya sedang sakit dan Aksa di sini untuk merawatnya.


Wajah Sarah memerah karena malu, ia sendiri tidak menyangka kalau akan memanggil Aksa ke dalam rumahnya dan ia juga meminta Aksa untuk mengusap keringat di punggungnya.


"Aku sudah tidak bisa menikah lagi," kata Sarah sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Namun, setelah beberapa saat rasa malunya mulai reda dan melihat wajah Aksa yang sedang tertidur di kursi. Ia bisa melihat kalau Aksa tidur dengan nyaman karena napasnya sangat tenang.


Sarah tidak mencoba membangunkan Aksa, ia turun dari tempat tidur dan berjalan dengan pelan agar tidak membangunkan Aksa. Ia turun ke dapur untuk mengambil air karena tenggorokannya kering.


Saat Sarah menghabiskan minumnya, ia mendengar suara pintu terbuka. Seluruh tubuh Sarah tidak bisa digerakkan karena ia tahu kalau kedua orang tuannya sudah pulang kerja dan ada seorang pria di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Matilah aku," pikir Sarah saat itu juga.


__ADS_2