
Aksa kembali ke kantornya, dia tidak menunggu burung-burung selesai membersihkan polusi. Alasannya itu membutuhkan waktu yang lama, karena mencakup seluruh area Sajaya Farm.
Lalu pada saat Aksa hendak pulang karena dia sudah selesai bekerja, dia memeriksa ponselnya. Kemudian dia terkejut karena ada banyak panggilan tidak terjawab dari Bayu.
"Mengapa Pak Bayu menelepon?" pikir Aksa. Tapi dia tidak menelepon balik sekarang, karena dia akan pulang dulu.
Aksa memakai jaket, lalu mengambil tas kerjanya. Dia membuka pintu kantor dan hendak keluar, lalu dia melihat kalau Sarah juga keluar dari kantornya.
"Aksa! Aku mau berbicara denganmu," kata Sarah dengan raut wajah gembira saat melihat Aksa.
Sarah ingin mengatakan sesuatu, tapi tadi Aksa terlalu cepat perginya. Jadi Sarah memutuskan untuk menunggu Aksa di kantornya saja daripada mencarinya.
"Hm? Apa ini tentang Pak Bayu?" tanya Aksa, karena dia merasa kalau mungkin Bayu sudah menelepon Sarah saat dia tidak menjawab teleponnya.
"Eh? Pak Bayu? Bukan..." Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh bukan? Baiklah, ayo masuk ke kantorku saja." Aksa sedikit terkejut, lalu dia membuka pintu kantornya dan meminta Sarah untuk masuk.
Mereka berdua masuk ke dalam kantor. Aksa melepas jaketnya karena sedikit gerah. Kemudian dia juga menyeduh air hangat dari termos air yang ada di atas meja.
"Tadi Pak Roni ke sini. Katanya dia mau bicara denganmu, tapi karena kamu tidak ada, aku yang bicara dengan beliau," kata Sarah, sambil meminum air hangat yang diseduh oleh Aksa.
"Pak Roni? Beliau bicara apa?" tanya Aksa dengan penasaran karena Roni tidak meneleponnya.
"Beliau mengatakan kalau ada satu pasien yang menderita PTSD. Beliau bertanya kapan terapi kudanya bisa dilakukan." Sarah menjelaskan semuanya kepada Aksa.
"Ah, jadi sudah ada pasien. Tapi mengapa beliau tidak langsung saja?" Aksa menyentuh dagunya dan berkata dengan bingung.
"Itu karena ini adalah kerja sama antara Rumah Sakit Swasta Wilaga dengan Sajaya Farm," ungkap Sarah yang langsung menjernihkan pikiran Aksa.
"Ah iya. Kalau begitu, tolong atur jadwal untuk besok," jawab Aksa setelah dia berpikir sejenak.
"Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Sarah dengan ragu-ragu. Karena pasiennya adalah anak kecil dan pasti butuh persiapan.
__ADS_1
Aksa memutar matanya, lalu menjelaskan, "Lebih cepat lebih baik. Lagipula kita akan melakukan terapi, bukan sesuatu yang aneh."
"Yah, benar juga sih." Sarah menggaruk-garuk pipinya sambil tersenyum.
Mereka berdua lalu berdiskusi tentang terapi kuda yang akan dilakukan besok. Aksa juga akan meminta data diri pasiennya, agar dia bisa tahu apa yang harus dihindari, karena pasiennya adalah anak kecil.
Anak kecil lebih sensitif tentang perasaan meskipun mereka tidak mengerti. Untuk anak kecil yang menderita PTSD, mereka akan sangat sensitif, apalagi jika ada hubungannya dengan trauma masa lalu.
Jadi Aksa perlu tahu apa trauma yang dialami oleh pasiennya ini. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, dan agar Aksa bisa memberi solusinya dengan cepat.
Setelah berdiskusi selama satu jam, mereka berdua pulang bersama. Setelah sampai di rumah, Aksa memarkirkan motor roda tiganya, dan masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang!" teriak Aksa sambil melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu.
"Aksa, ke sini sebentar." Ani keluar dari dapur, lalu dia memanggil Aksa untuk segera pergi ke dapur.
"Ada apa, Bu?" tanya Aksa, setelah dia melepas jaketnya dan menaruh tasnya di atas sofa. Lalu, dia pergi ke dapur menanggapi panggilan dari ibunya.
"Siap, Bos." Aksa menganggukkan kepalanya menerima perintah dari ibunya. Lalu dia segera membawa nampan itu ke ruang makan.
Setelah setengah jam, Elvira dan Elvina pulang dari sekolah. Mereka langsung membaringkan diri di atas sofa. Aksa yang melihatnya segera menuangkan air hangat untuk mereka berdua.
"Pulangnya sore sekali, ada kegiatan?" tanya Aksa sambil menyodorkan dua gelas berisi air hangat untuk kedua adiknya itu.
"Sebentar lagi ulang tahun sekolah, aku dan Vina diundang untuk ikut sebagai panitia event," kata Elvira sambil meminum air hangat dari Aksa.
"Itu benar! Kita harus mengurus banyak hal!" Elvina berteriak dengan tidak puas karena pekerjaan mereka cukup banyak.
"Oh? Event. Ini menarik, apa aku bisa jual produk ku di sana?" Aksa tidak menghiraukan protes mereka, tapi dia lebih tertarik dengan event sekolah mereka.
"Ah Kakak!" Elvina berteriak dengan marah karena Aksa tidak menghiraukannya.
Tapi Elvira menjawab pertanyaan Aksa, "Bisa, tapi Kakak harus menjadi sponsor dulu. Atau, Kakak harus harus jadi kenalannya kepala sekolah."
__ADS_1
Itu wajar, karena ini adalah event yang diadakan oleh sekolah. Jadi orang yang ingin masuk untuk berdagang harus membayar biaya sewa, yang nantinya akan digunakan sebagai sponsor.
Sekolah juga butuh uang, atau setidaknya cara ini dilakukan oleh sekolah untuk mendapat tambahan uang. Karena event ulang tahun sekolah tidak didanai oleh pemerintah, melainkan dari dana sekolah itu sendiri.
"Kapan eventnya dimulai?" tanya Aksa dengan penasaran.
"10 hari lagi," jawab Elvira.
"Baiklah, besok aku akan pergi ke sekolahmu untuk minta izin." Aksa tersenyum, dia memutuskan untuk berjualan di event ulang tahun sekolah kedua adiknya.
"Benarkah!?" Elvira dan Elvina terkejut, tapi mereka berdua gembira karena Aksa juga bisa ikut event sekolah mereka.
Aksa mengangguk, lalu dia berkata, "Ya. Tapi ngomong-ngomong, apa orang luar boleh ikut masuk juga?"
Kali ini giliran Elvina yang menjawab, "Boleh! Selain undangan, orang luar bagus bayar 5 ribu untuk masuk!"
"Baiklah." Aksa menganggukkan kepalanya.
Alasan Aksa menanyakan hal itu, adalah karena dia tahu kalau pasti ada orang luar yang akan datang. Orang luar tersebut pasti akan membeli produknya, karena produk yang akan dijual di sekolah Elvira dan Elvina berbeda dengan yang asli.
Target Aksa berjualan di sana adalah siswa-siswi, jadi tidak bisa sama dengan yang asli. Itulah mengapa, pasti akan ada banyak orang yang tertarik juga.
Mereka bertiga kemudian berbincang-bincang, Aksa mengetahui kalau event sekolah akan diadakan selama lima hari. Satu hari untuk konser dan stand food, sisanya adalah lomba-lomba.
...----------------...
Keesokan paginya, Aksa bangun dan masuk ke dalam peternakan game untuk melakukan pemeriksaan. Setelah tidak ada yang salah, dia keluar dan segera mandi.
Aksa sarapan sederhana berupa roti selai, lalu dia keluar dari rumah, menyalakan mesin motor roda tiganya, dan pergi ke gudang penyimpanan.
Setelah sampai di Sajaya Farm, aksa melihat kalau ada beberapa mobil hitam. Dia mengangkat alisnya karena belum pernah melihat mobil-mobil itu ada di Sajaya Farm.
Tapi Aksa tidak terlalu peduli, dia segera masuk lewat pintu belakang. Kemudian dia meminta karyawan di sana untuk membantu membawa produk-produk peternakan ke area penjualan.
__ADS_1