
Kayu pohon sudah dipesan dan diperkirakan akan datang dalam waktu tiga hari lagi. Aksa tidak mempermasalahkan hal tersebut karena tiga hari sudah termasuk sangat cepat untuk mengirim kayu besar.
"Vira, Vina, ayo beli hiasan." Aksa mengambil kunci mobil dan berkata kepada Elvira dan Elvina yang sedang menonton acara televisi pagi.
"Baik, ayo!" Elvira dan Elvina pergi ke kamar mereka untuk mengambil jaket, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Aksa segera menyalakan mesin mobil, kemudian mulai meluncur. Perhentian pertama mereka bertiga adalah toko perlengkapan pesta setempat, tempat rak-raknya dihiasi balon dan pita warna-warni.
Aksa dengan hati-hati memilih berbagai macam balon dengan warna favorit Sarah, perak dan hitam. Sementara Elvira dan Elvina memilih pita cerah untuk digantung di langit-langit.
"Kakak, kita akan menghiasi seluruh ruangan dengan hiasan atau yang simpel saja?" tanya Elvira kepada Aksa yang sedang memasukan balon ke dalam keranjang belanjaan.
"Yang simpel saja, kita akan menggunakan hiasan di sekitar meja," jawab Aksa atas pertanyaan adiknya.
"Baiklah." Elvira mengangguk dengan jawaban Aksa, kemudian dia dan Elvina melihat-lihat pita yang simpel namun indah.
Setelah selesai, mereka segera pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Kemudian mereka keluar dari toko perlengkapan pesta dan melanjutkan perjalanan ke toko selanjutnya.
Perhentian kedua, mereka pergi ke toko kerajinan di dekat sana, tempat mereka menemukan bahan untuk membuat dekorasi khusus. Ide kreatif Aksa mengalir saat dia membayangkan spanduk dan tanda yang dipersonalisasi.
Berbekal glitter, cat, dan kertas kerajinan, mereka menghabiskan waktu satu jam lebih membuat spanduk indah dengan pesan seperti 'Selamat ulang tahun, Sarah!' dan 'Selamat membuka lembaran hidup baru!'.
Karena warna yang mereka pilih adalah perak dan hitam, mereka melanjutkan perjalanan ke toko ketiga, yaitu toko lampu-lampu khusus untuk berbagai acara, tidak hanya lampu biasa.
"Kakak, kita akan membeli lampu berwarna perak, kan? Bukan hitam." Elvina mengajukan pertanyaan kepada Aksa setelah mereka sampai di toko lampu.
Aksa memutar matanya dan menjawab pertanyaan konyol dari adiknya. "Tentu saja, mana ada lampu yang bercahaya hitam."
__ADS_1
"Hehehe." Elvina menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan tertawa kecil karena mengajukan pertanyaan yang konyol.
Aksa tidak terlalu pandai memilih lampu hiasan, karena dia tidak menyukai lampu seperti itu. Jadi, dia menyerahkan pemilihan lampu kepada kedua adiknya.
Elvira dan Elvina segera melihat-lihat, setelah mengunjungi semua area, mereka memilih lampu hias kawat yang bisa dipasang di dinding, lampu hias satuan yang bentuknya seperti lampu bohlam, dan lampu tirai yang merupakan lampu kecil-kecil.
Tapi karena akan terlalu monoton hanya dengan lampu cahaya perak, mereka juga membeli lampu cahaya putih yang nantinya akan diselipkan di antara lampu-lampu cahaya perak.
Dengan tas belanjaan penuh dengan barang-barang, mereka pulang ke rumah karena semua hal sudah dibeli. Untuk hadiah ulang tahun, Delia sudah mengatakan kalau Sarah tidak terlalu peduli dengan itu.
Jadi Delia menyarankan untuk tidak perlu memberikan hadiah, tapi sebagai gantinya, buat hidangan yang lezat agar mereka bisa makan bersama sambil berbincang-bincang dengan canda tawa.
Saat hendak kembali ke rumah, hujan mulai turun dari langit. Mulanya hanya gerimis kecil, namun menit demi menit, gerimis mulai menjadi besar dan menjadi hujan yang lebat.
Jadi, saat sampai di rumah, suhu udara sudah sangat dingin. Bahkan pemanas ruangan dinyalakan agar menjaga suhu di dalam ruangan tetap hangat.
Karena suhunya masih dingin, Aksa berinisiatif untuk berkata, "Suasana yang cocok untuk makan makanan yang berkuah hangat. Aku ingin membuat sup ayam, ada yang mau?"
Aksa bertanya tapi sebenarnya dia akan membuatkan sup ayam untuk semuanya. Dan seperti yang sudah diharapkan, Elvira dan Elvina mengangkat tangan mereka dengan penuh semangat.
Aksa berdiri dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia mengambil dan memakai celemek yang tergantung di dinding. Kulkas dibuka dan diambilnya bahan-bahan sup ayam.
Paha ayam yang besar dan penuh daging, wortel dengan warna oranye nya, seledri yang harum, dan campuran rempah-rempah yang sudah dihaluskan terlebih dahulu sebelumnya.
Aksa memotong-motong daging ayam dan yang lain dengan fokus yang tinggi. Dia teringat kata-kata dari chef yang ada di internet, 'Kunci masakan yang enak terletak pada kesabaran memasaknya'.
Kemudian dia merebus air dan memasukkan daging dan bahan lainnya ke dalam panci dengan air yang sudah mendidih. Lalu, dia memasukkan rempah-rempah untuk menambah rasa.
__ADS_1
Pada saat ini, Elvira dan Elvina datang ke dapur dan melihat panci yang diisi dengan bahan-bahan berkualitas. Mereka ke dapur karena ditarik oleh aroma harum sup ayam yang dibuat oleh Aksa.
"Kakak, aroma sup ayamnya sangat harum! Aku tidak sabar untuk mencobanya," kata Elvira dengan nada terkejut.
"Bahkan aromanya sampai ke ruang tamu, sepertinya akan sangat lezat." Elvina berkata sambil menghirup aroma sup ayam yang sangat harum itu.
Aksa tersenyum dan meminta kedua adiknya untuk menyiapkan mangkuk dan sendok. Elvira dan Elvina mengambilnya dari rak piring yang ada d dekat wastafel.
10 menit kemudian, Elvira dan Elvina membawa sup yang sudah ada di dalam mangkuk ke meja makan dan menaruhnya di atas meja. Kemudian mereka memanggil Aji dan Ani untuk makan bersama.
Aksa melepas celemek nya dan mencuci tangannya di wastafel. Setelah mengeringkan tangannya dengan kain lap, dia berjalan menuju ruang makan.
"Kalau begitu, selamat makan!" Semua orang berkata dengan serempak. Lalu mereka memasukan satu sendok kuah sup ayam ke dalam mulut.
Saat mereka meminum sesendok pertama, mereka bisa merasakan kehangatannya meresap sampai ke dalam jiwa mereka.
Aji menghela napas dan berkata, "Aksa, sup ayammu lebih dari sekedar makanan. Ini adalah pelukan yang menenangkan. Sup ayam menyembuhkan hati dan menyehatkan jiwa."
Aji bahkan sampai menggunakan kata-kata yang sedikit puitis karena memang sup ayam buatan Aksa terlalu lezat untuk dirasakan.
"Hahaha, terima kasih Ayah." Aksa tertawa saat mendengar pujian dari ayahnya.
Maka, di tengah ruang makan yang nyaman itu, di mana waktu terasa melambat setiap saat, Aksa menyadari bahwa membuat sup ayam bukan sekadar seni kuliner, melainkan sebuah metafora indah untuk kehidupan itu sendiri.
Sebuah resep yang penuh dengan bahan-bahan berkualitas, kesabaran, dan kefokusan yang tinggi harus digunakan untuk membuat hidangan yang sempurna.
Mereka menikmati sup ayam yang hangat sambil membicarakan kenangan karena suasana yang terjadi memang sangat cocok.
__ADS_1