
"Suamiku, Sarah mengirim pesan kalau dia sudah berada di bawah." Delia memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Sarah kepada suaminya, Andre.
"Oh baiklah. Ayo kita turun, sudah waktunya untuk pergi." Andre mengangguk dan mereka turun sambil membawa koper.
Setelah sampai di lobi, mereka melihat Sarah sedang duduk dan mengobrol dengan gembira dengan seorang pria di sebelahnya.
"Hm? Siapa dia?" tanya Andre sambil menyipitkan matanya.
"Aku rasa itu Aksa, pemilik Sajaya Farm tempat Sarah bekerja," jawab Delia.
"Oh, ternyata dia cukup tampan. Tapi dia pasti memiliki sesuatu yang spesial karena Sarah bisa bersikap seperti dirinya sendiri di depannya," kata Andre.
Andre tahu kalau putrinya akan bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadap orang yang tidak akrab. Bahkan dengan temannya, ia hanya sesekali tersenyum dan itupun senyuman sopan.
Namun ia tidak menyangka kalau Sarah akan tersenyum dan tertawa dengan bahagia di depan seorang pria dan tentu saja sebagai ayah, ia senang dengan hal tersebut.
Ia tahu kalau dulu ia tidak terlalu memiliki banyak waktu dengan Sarah karena terlalu sibuk mengurusi perusahaan yang menciptakan sifat Sarah yang dingin.
"Sarah!!" Delia menghampiri Sarah dan memeluknya.
"Ibu! Mengapa ibu memelukku!" Sarah terkejut karena tiba-tiba saja Delia memeluknya.
"Ini adalah pelukan terakhir di tahun ini. Kita akan bertemu lagi tahun depan," kata Delia sambil berpura-pura sedih.
Sarah memutar matanya dan berkata, "Kita memang akan bertemu tahun depan namun kita hanya berpisah selama beberapa hari saja."
"Fufufu, apakah kamu Aksa?" Delia menolah ke arah Aksa yang sedang duduk di sebelah Sarah.
"Halo Bibi, halo Paman." Aksa berdiri lalu menyapa Delia dan Andre.
"Yah." Andre hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka tidak banyak bicara karena Andre dan Delia harus segera berangkat. Mereka masuk ke dalam Mobil dan yang mengemudi adalah Aksa. Lalu mobil melaju menuju stasiun yang berjarak 15 menit dari perusahaan.
Setelah sampai, Aksa segera membantu membawakan barang-barang. Kemudian saat di pintu masuk, Aksa memberikan teh herbal kepada Andre.
"Paman, ini teh herbal yang aku beli. Kemasannya tidak memiliki merek karena aku yang mengemas sendiri, tapi Paman bisa tahu dari aromanya kalau ini adalah teh herbal yang berkualitas," kata Aksa.
Andre mengambil teh herbal dan membuka kemasannya, kemudian sesuai dengan perkataan Aksa ia mencium aroma teh herbal tersebut dan merasa kalau pikirannya lebih tenang.
"Aksa, teh herbal ini pasti mahal bukan? Dari aromanya saja aku sudah bisa merasakan ketenangan batin, apalagi nanti saat aku minum," tanya Andre.
Wajar saja Andre berkata seperti itu karena tidak banyak teh herbal yang bisa menenangkan pikiran hanya dengan mencium aromanya dan jika ada pasti itu akan sangat mahal.
"Haha, harga bukankah masalah selama itu bisa menyehatkan tubuh dan pikiran." Aksa hanya tertawa dan tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Yah, kau benar." Andre juga tahu kalau tidak baik bertanya lebih jauh.
Setelah saling berpelukan dengan Sarah, Andre dan Delia pergi sambil membawa koper mereka. Lalu Aksa dan Sarah kembali ke area parkir dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Mau ke mana? Masih pagi dan masih lama untuk makan siang," tanya Aksa.
Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia berkata, "Aku juga tidak tahu, ada saran?"
"Sarah, apakah kamu pernah bermain permainan arkade?" tanya Aksa.
Sarah memiringkan kepalanya dan bertanya, "Apa itu?"
Aksa terdiam karena wanita di sampingnya ini tidak mengetahui apa itu permainan arkade. Lalu, tanpa menjelaskan lebih lanjut, Aksa mengemudikan mobil menuju mall di dekat alun-alun.
Meskipun masih pagi tapi sudah banyak orang di dalam mall karena sekarang adalah hari libur bagi pekerja dan juga bagi pelajar sekolah.
Mereka berdua menggunakan lift untuk pergi ke lantai lima. Di lantai ini ada banyak sekali toko komputer, game, bioskop, dan permainan arkade.
"Permisi, beri kami koin 100.000 dulu." Aksa mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya kepada petugas.
"Baik." Petugas menerima uang dari Aksa dan ia menyerahkan beberapa koin kepada Aksa.
"Sarah, ambil koin ini. Ini berguna jika kamu ingin memainkan sesuatu di sini." Aksa memberikan setengah jumlah koin kepada Sarah.
"Baiklah, tapi aku masih belum mengerti," kata Sarah.
Aksa tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, akan aku ajarkan nanti. Sekarang, kamu pilih game mana yang ingin kamu mainkan."
Sarah melihat ada banyak sekali jenis game, lalu karena bingung ia memutuskan untuk memilih game yang terdekat yaitu game balap mobil.
Mereka duduk di kursi game dan memasukan satu koin ke dalam mesin melalui lubang yang sudah disediakan. Setelah itu layar game menyala dan mereka diminta untuk memilih mobil yang mereka inginkan.
"Sarah, karena ini adalah game individu, kita tidak bisa bermain bersama. Tapi ayo pilih jalur yang sama dan lihat siapa yang lebih cepat mencapai garis finish." Aksa tersenyum menantang Sarah.
"Hmph, siapa takut." Sarah menerima tantangan Aksa dengan arogan.
Setelah memilih mobil yang mereka inginkan dan memiliki jalur yang sama, mereka memulai kompetisinya. Aksa mengemudi dengan ekspresi tenang dan santai namun berbanding terbalik dengan Sarah yang sangat serius.
Setelah beberapa menit, Aksa sampai di garis finish lebih cepat dan tantangan dimenangkan oleh Aksa. Sarah yang melihat itu hanya menatap Aksa dengan tatapan dingin.
Aksa tertawa dan berkata, "Oh ayolah, jangan diambil hati."
Aksa tahu kalau Sarah tidak benar-benar marah, dia hanya kesal karena kalah dan menatap Aksa dengan tatapan dingin.
"Ayo coba sekali lagi!" tantang Sarah.
"Tentu." Aksa tersenyum dan menerjmanya.
Mereka memulai tantangan baru dan Sarah memilih mobil yang lain. Namun setelah beberapa menit, Aksa lah yang memenangkan tantangan dan Sarah menjadi frustasi.
"Hahaha, tidak ada yang bisa mengalahkan diriku!" Aksa tertawa dengan puas dan menjelaskan kepada Sarah kalau dia dulunya adalah pemain ahli.
Setelah itu mereka mencoba berbagai banyak game dan di akhir mereka mencoba untuk masuk ke dalam kotak foto. Sarah sangat tertarik dengan ini dan ia memaksa Aksa untuk mengambil banyak foto.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka makan siang bersama dan pergi menonton film di bioskop di lantai atas. Sarah berpura-pura berani dan memilih film horor meskipun pada akhirnya ia ketakutan dan tidak berani menontonnya.
"Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini," kata Sarah sambil memakan es krim.
Mereka sedang duduk di dalam toko es krim setelah selesai menonton film horor. Sarah memesan es krim dan Aksa hanya memesan minuman karena ia masih kenyang saat makan siang tadi.
"Benarkah? Kamu tidak pernah melakukan hal-hal seperti tadi?" tanya Aksa dengan penasaran.
"Ya. Aku tidak mempunyai teman karena dulu aku selalu fokus belajar sehingga saat teman-temanku bersenang-senang, aku berdiam diri di rumah untuk belajar," jawab Sarah.
Aksa terdiam dan merasa kasihan kepada Sarah, ia memegangi tangan Sarah dan berkata, "Yah, jika ada kesempatan, mari kita melakukan hal-hal yang menyenangkan lagi."
"Di lain kesempatan? Baiklah, aku menantikannya." Sarah tersenyum dan tidak menarik tangan yang dipegang oleh Aksa.
Saat mereka berbincang-bincang, Aksa mendapat telepon dari ayahnya dan ternyata Alvan sedang dalam perjalanan pulang dan sebentar lagi dia sampai di stasiun dan ayahnya menyuruh Aksa untuk menjemput Alvan.
"Sarah, adikku akan pulang, jadi bisakah kita pergi ke stasiun untuk menjemputnya?" tanya Aksa karena ia menggunakan mobil Sarah.
"Yah, aku harus cepat-cepat membeli mobil karena tidak baik merepotkan Sarah," pikirnya.
"Tentu, ayo kita jemput adikmu." Sarah mengangguk dan tidak mempermasalahkan.
"Terima kasih." Aksa berterima kasih lalu mereka berdua pergi ke area parkir dan masuk ke dalam mobil dan melaku ke stasiun.
Setengah jam kemudian saat Aksa dan Sarah sedang mengobrol, ponsel Aksa berdering. Ia mendapat pesan dari Alvan kalau dia sudah sampai dan bertanya Aksa ada di mana.
Aksa segera memberitahu Alvan dan setelah beberapa saat, ia melihat ada seorang remaja muda yang mirip dengannya. Orang itu adalah Alvan, adik Aksa yang berkuliah di ibukota.
Saat Aksa hendak menyapa adiknya, ia tercengang karena saat ini Alvan sedang menggandeng tangan seorang gadis cantik di sebelahnya.
"Sial, kamu punya pacar!?" teriak Aksa.
"Kakak!" Alvan mendengar suara yang ia kenal dan segera menghampiri Aksa.
Kedua saudara hanya berpelukan sebentar lalu sedikit berbincang-bincang, kemudian Alvan memperkenalkan gadis di sebelahnya yang bernama Rina.
Rina menundukkan kepalanya dan berkata, "Halo, Kakak ipar."
"Kakak ipar!? Yah, terserah. Ayo pulang." Aksa terdiam mendengar panggilan Rina.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Aksa memperkenalkan Sarah kepada mereka. Alvan bertanya apakah Sarah adalah pacar Aksa dan Sarah juga penasaran dengan jawaban Aksa.
"Bukan." Aksa menjawab secara singkat.
Sarah sedikit kecewa dengan jawaban Aksa namun tiba-tiba ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk menghilangkan pikiran tersebut.
"Sarah! Kamu memang bukan pacar Aksa mengapa kamu terlihat kecewa! Tapi, apakah aku menyukai Aksa?" pikir Sarah.
Mobil melaju kencang menuju rumah Aksa. Sepanjang perjalanan pulang mereka berempat saling mengobrol namun Sarah mempertahankan sifat dinginnya seperti biasa.
__ADS_1