
Satu minggu telah berlalu, selama waktu ini pembangunan area kuda sudah mulai terlihat. Dito dan orang-orang perusahannya bekerja sangat efisien tanpa ada tindakan yang tidak perlu.
Saat istirahat mereka istirahat dan mengobrol, dan saat waktu kerja mereka bekerja dengan serius tanpa bercanda satu sama lain.
Aksa sangat puas dengan sikap mereka, itulah mengapa dia selalu meminta bantuan kepada perusahaan Dito untuk membangun sesuatu karena dia percaya.
Selain itu, Dito adalah orang yang direkomendasikan oleh Bayu, jadi pastinya bukan sembarang orang yang bisa direkomendasikan oleh orang dari biro pariwisata.
Aksa belum menggunakan kartu padang rumput karena tidak terlalu penting mau digunakan sekarang atau nanti karena pada akhirnya ingatan orang-orang akan diedit oleh Sistem.
Saat ini Aksa sedang ada di perjalanan menuju SMA Elvira dan Elvina menggunakan mobil keluarga. Karena dia ingin melihat nilai kedua adiknya apakah bagus atau tidak.
"Setelah ujian, nilai langsung dibagikan, benar-benar cepat. Tidak seperti sekolahku dulu yang harus menunggu satu minggu atau bahkan lebih," pikir Aksa.
Dia sampai di depan SMA, setelah berbicara dengan satpam, dia diperbolehkan untuk masuk. Aksa memarkirkan mobilnya di area parkir khusus tamu, kemudian dia pergi ke ruang tunggu.
Ujian yang kedua adiknya lakukan bukankah ujian akhir semester, melainkan masih tengah semester. Jadi setelah ujian selesai, raport mereka tidak akan dibagikan kepada murid.
"Kakak!" Elvira dan Elvina datang menghampiri Aksa yang sedang menunggu.
"Yo! Kalian ini tidak sabaran ya, sampai harus memintaku untuk langsung ke sini setelah ujian selesai," kata Aksa dengan nada tidak berdaya.
Benar, Elvira dan Elvina lah yang meminta Aksa untuk pergi ke SMA mereka. Padahal mereka bisa menunjukkan nilai ujian di rumah setelah pulang sekolah.
"Hehehe, kami terlalu bersemangat." Elvira dan Elvina hanya tertawa menanggapi perkataan Aksa.
"Yasudah, mana nilainya?" Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengulurkan tangannya meminta nilai ujian kedua adiknya.
"Ini." Elvira dan Elvina menyerahkan beberapa kertas di tangan mereka kepada Aksa.
"Oh ya, apakah di ujian tengah semester ada rankingnya? Aku lupa," tanya Aksa sebelum melihat nilai ujian kedua adiknya.
"Untuk seisi angkatan tidak ada, tapi biasanya wali kelas membuat ranking sendiri untuk murid kelas yang diampu," jawab Elvira atas pertanyaan Aksa.
"Baiklah, aku akan tanya rankingnya setelah ini," angguk Aksa yang kemudian mulai melihat nilai ujian kedua adiknya.
__ADS_1
Membolak-balik kertas, Aksa melihat kalau hampir semua nilai kedua adiknya berada di atas 90. Aksa tidak terkejut dengan ini karena Elvira dan Elvina memang pintar.
Aksa adalah orang yang cerdas, dia bisa memahami sesuatu dengan cara mencari trik agar bisa belajar dengan cepat. Beda dengan Alvan, Elvira, dan Elvina yang pintar karena mereka rajin belajar.
Jadi jika dalam bidang pelajaran yang mengharuskan seseorang untuk belajar, Aksa akan kalah dari ketiga adiknya. Tapi jika tentang sesuatu yang lain, seperti penyelesaian masalah dengan logika, Aksa menang.
Itulah mengapa Aksa bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya karena dia bisa mengambil keputusan yang terbaik sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi.
"Yah, aku tidak terkejut lagi. Ranking berapa kalian?" tanya Aksa setelah selesai melihat nilai ujian kedua adiknya.
"Seperti biasa!" Elvira dan Elvina tersenyum cerah.
"Seperti biasa, kata kalian." Aksa menghembuskan napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak berdaya karena tahu apa maksud kedua adiknya.
'Seperti biasa' yang dimaksud oleh Elvira dan Elvina adalah bahwa mereka berdua ada di rangking pertama dan kedua. Mereka sudah seperti itu sejak kelas satu SMA.
"Baiklah, mau beli motor kapan?" tanya Aksa yang membuat kedua adiknya bahagia.
"Hore!!" Elvira dan Elvina melompat-lompat dan bersorak dengan bahagia sampai siswa lain melihat ke arah mereka dengan bingung.
"Bisa, tapi nanti kita pulang dulu ke rumah. Tidak baik pergi ke tempat umum dengan seragam sekolah," kata Aksa.
"Baik!" Elvira dan Elvina mengangguk dengan gembira.
Aksa kembali ke Sajaya Farm dengan mobil karena dia akan menjemput kedua adiknya nanti sore. Dia mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu karena nanti akan pergi membeli motor.
Pada saat ini, Dito menelepon Aksa. "Halo Pak Aksa, pembatas untuk dua area kuda menggunakan pagar pendek atau tinggi?"
"Yang tinggi saja Pak Dito, agar kuda tidak bisa melompati pagar," jawab Aksa tanpa berpikir lagi.
"Baiklah." Dito menjawab kemudian menutup telepon.
...----------------...
Hari sudah sore, Aksa pergi ke area parkir bersama Sarah, kemudian mereka berpisah di pertigaan jalan. Sarah kembali ke rumahnya sedangkan Aksa pergi ke SMA Elvira dan Elvina untuk menjemput mereka.
__ADS_1
Setelah sampai, di melihat kalau ada banyak siswa-siswi di depan gerbang yang sedang menunggu jemputan atau hanya sekedar duduk mengobrol di sana.
Di sekitar depan pagar sekolah juga ada penjual kaki lima yang menjual berbagai jajanan. Ada banyak siswa-siswi yang membelinya karena enak dan murah.
Elvira dan Elvina juga termasuk, Aksa melihat kalau mereka berdua sedang membeli telur gulung di salah satu pedagang yang berdagang dengan motor.
Aksa memarkirkan mobilnya di tepi jalan, setelah itu dia turun dan berjalan menghampiri Elvira dan Elvina. "Yah, terasa nostalgia, aku juga sering pergi jajan di depan sekolah karena tidak ada jajanan seperti ini di kantin."
Aksa menepuk pundak kedua adiknya dan berkata, "Yo, masih lama?"
"Ah, Kakak!" Elvira dan Elvina terkejut karena ada orang yang menepuk pundak mereka namun ternyata itu adalah Aksa.
Kemudian mereka menjawab sebentar lagi, telur gulung mereka sedang dibuatkan oleh penjual. Aksa yang melihat hal itu juga memutuskan untuk membelinya.
Pada saat ini, teman-teman Elvira dan Elvina datang. Mereka mengobrol bersama dengan riang sedangkan Aksa hanya berdiri diam sambil menyandar ke pagar.
Baru setelah beberapa saat, penjual telah selesai membuat telur gulung dan menyerahkannya kepada Aksa. Aksa pun bertanya, "Berapa totalnya Pak?"
"Totalnya 10 ribu rupiah saja," jawab penjual telur gulung.
"Jadi satu telur gulung seribu rupiah ya," pikir Aksa. Dia mengeluarkan dompetnya dan melihat kalau tidak ada uang kecil, hanya ada uang pecahan 50 dan 100 ribu.
Jadi Aksa menyerahkan uang 50 ribu kepada penjual dan berkata, "Pak, sisinya dibuatkan telur gulung lagi dan bagikan kepada siswa-siswi yang ingin membelinya."
"Eh? Kamu serius?" Penjual itu jelas terkejut karena belum pernah bertemu orang seperti Aksa.
"Ya, serius." Aksa tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, serahkan saja padaku!" Penjual itu juga tersenyum dan mengangguk menerima tugas dari Aksa.
"Vira, Vina, ayo pulang. Teman-teman Vira dan Vina juga bisa ambil telur gulung ini, aku sudah membayarnya." Aksa berkata kemudian pergi menuju mobilnya.
Elvira dan Elvina melambai-lambaikan tangan mereka dan segera mengikuti Aksa. Sementara itu teman-teman mereka terkejut dengan perjalanan Aksa barusan.
Mereka segera bertanya kepada si penjual apakah itu benar, si penjual yang sedang sibuk mengangguk dan berkata kalau mereka bisa mengambil telur gulung nya karena memang sudah dibayar oleh Aksa.
__ADS_1
Jadi, beberapa detik kemudian, ada kerumunan siswa-siswi di sekitar penjual telur gulung yang ingin mengambil telur gulung karena mereka tidak perlu membayarnya.