Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Aksa, Roni, dan Eddy yang Berbincang-bincang


__ADS_3

"17 Maret, merupakan tanggal berdirinya Rumah Sakit Swasta Wilaga. Kami akan mengadakan jamuan yang meriah di kediaman keluarga. Aku di sini karena ingin memintamu untuk menjadi penyedia bahan-bahannya," kata Roni.


17 Maret sekitar lima hari lagi, Keluarga Wilaga akan mengadakan jamuan yang akan dihadiri oleh orang-orang berstatus tinggi di kediaman mereka yang terletak di pusat kabupaten.


Karena sudah tahu identitas Roni, Aksa juga sudah tahu kediaman macam apa milik Keluarga Wilaga. Sebuah mansion dengan halaman yang sangat luas ada di pusat kebupaten, itu adalah kediaman milik Keluarga Wilaga.


Mereka memang sangat kaya karena seluruh anggota keluarga merupakan dokter, apalagi mereka adalah dokter swasta dan dokter yang membuka praktik sendiri.


"Jadi begitu, bisakah Anda memberitahuku berapa banyak bahan yang diperlukan?" tanya Aksa setelah mendengar penjelasan dari Roni.


"Jamuan ini akan dihadiri oleh 100 orang, aku kurang tahu berapa banyak karena bukan aku yang mengurus masalah ini. Bagaimana? Apakah kamu mau?" tanya Roni.


Aksa menyeringai dan berkata, "Tentu saja aku menerima ini, bagaimana bisa aku menolak sesuatu yang sangat spesial?"


Seperti yang dikatakan oleh Aksa, perjamuan ini akan dihadiri oleh orang-orang berstatus tinggi. Aksa tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka.


Apalagi saat ini Sajaya Farm terkenal dengan produk-produk peternakannya. Jika Aksa bisa membuat orang-orang berstatus tinggi merasakannya, mereka pasti akan membanjiri Sajaya Farm.


"Bagus, aku akan menghubungimu untuk membahas bahan-bahan yang diperlukan lebih lanjut," angguk Roni dengan puas dan gembira karena Aksa menerima tawarannya.


"Baiklah, lalu apakah ini giliranku?" Eddy tersenyum dan berkata.


Tapi sebelum mengatakan sesuatu, Eddy mengirim sebuah file dokumen kepada Aksa. "Aksa, baca dokumen itu terlebih dahulu, aku akan membahasnya dengan rinci setelah itu."


Aksa membuka ponselnya dan melihat dokumen yang dikirim oleh Eddy. Matanya menjadi serius saat melihat isinya, karena itu adalah bukti kalau Albar melakukan sesuatu yang buruk.


Albar melemahkan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil menggunakan ancaman. Kemudian dia mencari klien agar mau berinvestasi di perusahaan yang sudah dilemahkan.


Setelah itu Albar mencabut ancaman kepada perusahaan target agar bisa berkembang lagi. Dengan ini dia dan perusahaan investasinya akan meraup banyak sekali keuntungan.


"Kamu sudah melihatnya? Aku baru tahu karena ada seroang pemilik perusahaan kecil yang mengeluh, jika tidak, aku tidak akan bisa mencari tahu tentang hal ini," kata Eddy dengan serius.


"Dengan reputasi Albar saat ini, bisa dipastikan kalau dia akan jatuh. Perusahaannya juga akan ikut jatuh, jika dewan direksi pergi, maka perusahaannya akan menghilang," sambungnya.


Aksa tersenyum di dalam hatinya namun wajahnya tetap tenang. Tidak ada yang tahu kalau dia mempunyai banyak sekali bahan hitam Albar, karyawannya juga hanya tahu kalau dia punya dua video yang sudah diunggah.

__ADS_1


Aksa ingin tertawa terbahak-bahak saat ini, namun dia menahan diri agar tidak dianggap gila. "Terima kasih, Pak Eddy. Bantuan ini sangat berharga, aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalasnya."


Eddy tertawa dan berkata, "Hahaha, bukanlah sudah aku katakan kalau aku akan mengambil keuntungan dari kejatuhan perusahaan investasi Albar? Jangan khawatir."


"Baiklah, kalau begitu." Aksa tersenyum tulus dan mengangguk dengan serius.


"Yah, aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini." Roni menyela pembicaraan mereka berdua dengan nada tidak berdaya.


"Jangan khawatir, Pak. Aku bersumpah tidak akan membuat Anda terlibat," kata Aksa dengan serius.


Meskipun Roni tahu perbuatan Albar dan Kevin, dia tidak ikut campur. Dia adalah seorang dokter, jika dia ikut campur dalam masalah mereka, bisa dipastikan kalau karirnya akan dalam masalah.


Lagipula hubungannya dengan Aksa juga tidak sedekat itu, dia tidak akan membantu Aksa karena mereka tidak dekat. Namun di dalam hatinya, dia tetap mendukung Aksa untuk melawan Albar.


Roni menghela napas lega dan berkata, "Baguslah."


Setelah itu, mereka berbincang-bincang lagi dengan nyaman sambil menikmati waktu santai. Setengah jam kemudian, Gia kembali dan ingin pulang karena sudah lelah.


Roni bangkit dan pamit undur diri karena dia juga masih harus bekerja. Jadwal dokter itu sangat padat, apalagi dia yang merupakan seorang kepala dokter yang pastinya lebih padat.


"Kalau begitu, aku pamit dulu," kata Roni.


"Ya. Hati-hati di jalan, Pak Roni. Dadah, Gia!" Aksa berkata dan melambaikan tangannya ke arah Gia.


Gia mengangguk dengan malu-malu dan melambaikan tangannya juga. Roni tersenyum karena cucu perempuannya sudah mulai terbuka, tidak terlalu malu-malu lagi.


"Kalau begitu aku juga akan pergi, Aksa." Eddy berdiri dan berkata kepada Aksa.


"Oh? Yah, ini memang sudah bukan jam istirahat. Akan aku antar sampai ke depan," angguk Aksa sambil melihat jam tangannya.


Mereka berdua pergi ke area parkir bersama sambil berbincang ringan. Kemudian Eddy masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju ke mall untuk bekerja lagi.


"Waktunya bekerja." Wajah Aksa berubah menjadi serius dan kembali ke kantornya.


Dokumen yang diberikan oleh Eddy segera Aksa print, kemudian dia meminta Eddy untuk menghapus pesannya agar jika terjadi sesuatu, mereka tidak akan dicurigai oke pihak berwajib.

__ADS_1


"Aku sudah menunggu lama untuk momen ini, haruskah aku mulai sekarang?" Aksa menyalakan komputernya dan masuk ke akun anonim baru karena akun anonim sebelumnya diblokir oleh pihak aplikasi.


Meskipun videonya sudah Aksa edit agar tidak terlalu vulgar, tapi video ini menggiring opini publik sehingga menyebabkan rumor atau kabar buruk berterbangan kemana-mana.


Aksa memilik video dari folder bahagia yang paling intens, kemudian tanpa mengeditnya, dia mengunggahnya ke akun anonim yang baru.


Meskipun resiko diblokirnya lebih tinggi, tapi Aksa yakin kalau akan ada banyak orang yang langsung menyimpan video ini. Jadi saat aplikasi memblokir akun anonim, semua itu sia-sia.


"Ayo!" Aksa menekan tombol enter untuk mengunggah video dari folder bahagia ke akun anonim.


...----------------...


Dunia internet sekali lagi terguncang, itu karena ada akun anonim yang mengunggah sebuah video dengan orang yang sama di dalamnya, yaitu Albar dan Salsa di dalam kamar.


Kali ini tidak sama seperti sebelumnya, banyak orang yang langsung menyimpan video tersebut karena tanpa sensor dan tidak ada satupun hal atau bagian yang diedit.


Karena dampaknya yang terlalu besar, pihak aplikasi juga segera melakukan tindakan untuk memblokir akun anonim tersebut secara permanen dan menghapus video yang beredar.


Namun seperti yang sudah dipikirkan oleh Aksa, tindakan mereka sia-sia karena sudah ada banyak orang yang menyimpan video tersebut dan terus-menerus mengunggah ulang.


Karena hal ini, ada banyak tokoh terkenal yang mulai berpikir kalau akan ada sebuah badai yang akan menerjang Ibu Kota Negara Indonesia, Kota Jakarta.


Karena mereka semua tahu apa yang akan terjadi di Jakarta, tempat di mana perusahaan investasi milik Albar berada akan terjadi sesuatu yang mengguncang seisi perusahaan.


...----------------...


Kembali ke kantor Aksa di Sajaya Farm.


"Hm~" Aksa sedang menikmati teh herbal panas dengan sangat nyaman sambil bersandar d kursinya.


Di depannya ada komputer yang sedang menampilkan komentar-komentar di internet mengenai video yang dia unggah. Meskipun akun anonim nya diblokir, dia tidak merasa sedih.


Karena video yang dia unggah hanyalah sebuah awalan, akan ada banyak orang yang menyebarkan video dari folder bahagia ke berbagai platform dan aplikasi.


"Hari yang santai untukku, hari yang kacau untuk kalian," batin Aksa.

__ADS_1


__ADS_2