
"Bos, ada berita buruk dan berita baik. Mana yang ingin Bos dengar dulu?" tanya seorang karyawan kepada Aksa yang sedang mengangkut produk-produk peternakan ke area penjualan.
"Hah? Yang baik dulu," jawab Aksa tanpa memalingkan wajahnya.
"Bagus! Kabar buruknya adalah, ada banyak orang kaya yang ke Sajaya Farm. Kita harus berhati-hati karena mereka punya status yang tidak biasa," ungkap si karyawan kepada Aksa.
Aksa mengepalkan tangannya dan hendak memukul karyawannya itu, tapi dia menahan diri. Lalu dia berkata, "Lalu kabar baiknya adalah ada banyak orang kaya yang datang. Kita bisa mendapat banyak keuntungan dari mereka, kan?"
"Wah! Bos memang hebat!" Karyawan itu mengacungkan jempolnya kepada Aksa dan berkata dengan nada kagum.
Aksa terdiam sejenak. Tapi itu sangat mudah ditebak. Dia sudah mengira kalau orang kaya yang dibicarakan oleh karyawannya adalah orang-orang di depan gerbang. Setelah mendengar kabar buruk dari karyawannya, Aksa sudah mengetahui kabar baiknya.
Tapi ini memang benar. Aksa harus berhati-hati karena mereka punya status yang tidak biasa. Dan dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan banyak keuntungan dari mereka.
"Ini pasti ada kaitannya dengan pasien yang akan datang itu," pikir Aksa sambil menghela napas panjang.
Dia mulai menyesal kalau dia menerima pasien secara tiba-tiba seperti ini. Karena dia malas dengan orang-orang kaya, yang hanya tahu bagaimana cara komplain, tapi tidak tahu yang lain.
"Jika mereka membuat masalah, bahkan jika status mereka tidak biasa, aku akan mengusir mereka," batin Aksa dengan tegas.
Setelah selesai mengangkut barang, Aksa segera pergi ke area kuda khusus. Karena di sana adalah tempat dilakukannya terapi kuda, dan pasien dari Rumah Sakit Swasta Wilaga pasti akan ke sana.
Tapi, saat diperjalanan, Aksa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Dia merasa seperti melupakan sesuatu, tapi tidak tahu apa itu, jadi dia mengabaikannya untuk saat ini.
...----------------...
Di gerbang Sajaya Farm.
"Pak Roni, selamat datang di Sajaya Farm," sambut Sarah kepada Roni. Hari ini Roni membawa pasien dari rumah sakitnya, jadi Sarah juga harus hadir.
Ini merupakan terapi kuda pertama yang Sajaya Farm lakukan. Apalagi, pasien pertama adalah seorang anak kecil yang menderita PTSD karena beberapa trauma di masa lalu, yang cukup sulit untuk disembuhkan.
"Sarah! Terima kasih, tapi mari kita langsung mulai saja," balas Roni sambil tertawa kecil.
"Tentu saja. Kita akan langsung menuju area kuda khusus," kata Sarah sambil tersenyum. Lalu dia meminta karyawan untuk memandu para tamu masuk ke dalam bus.
Sarah membuka pintu depan, lalu masuk ke dalam mobil. Si supir yang juga merupakan karyawan Sajaya Farm mengangguk, lalu dia menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas.
__ADS_1
"Di mana Aksa?" tanya Roni kepada Sarah.
"Aksa juga sedang menuju area kuda khusus, Pak," jawab Sarah dengan jujur
"Dia juga akan ikut kan?" Kali ini, seorang pria setengah baya yang bertanya. Dia duduk di sebelah Roni.
"Tentu saja, Aksa sangat mementingkan masalah ini. Dia akan turun tangan agar tidak terjadi satupun kesalahan," angguk Sarah dengan tegas kalau dia percaya kepada Aksa.
"Kepercayaan yang bagus. Baiklah, aku menantikan terapi kuda ini," balas Roni.
...----------------...
"Di mana mereka?" Aksa melihat sekeliling tapi tidak melihat Sarah dan yang lain. Dia sudah sampai di area kuda khusus lebih cepat.
Karena belum melihat yang lain, jadi Aksa menelepon Ratu. Karena Ratu yang mencetuskan ide terapi kuda, dia juga berhak hadir di terapi kuda untuk pasien pertama.
"Ratu, kamu ada di mana?" tanya Aksa kepada Ratu setelah panggilan terhubung.
"Bos, aku ada di kandang kuda. Sedang memeriksa kondisi kuda-kudanya," jawab Ratu atas pertanyaan dari Aksa.
"Oh, keluarlah sekarang. Kita perlu menyambut tamu sebentar lagi," kata Aksa.
"Mau apa? Pergi ke pintu area kuda khusus, kita menunggu di sini. Sarah sudah menjemput para tamu," kata Aksa kepada Ratu.
Ratu menganggukkan kepalanya, setelah panggilan berakhir, dia segera keluar dari kandang kuda dan pergi ke pintu masuk area kuda khusus. Dari kejauhan, dia bisa melihat Aksa yang sedang berdiri.
Ratu mempercepat larinya. Aksa menoleh karena dia bisa mendengar suara napas yang terengah-engah. Kemudian, mereka berdua berdiri di sana dengan diam.
Setelah beberapa menit, mereka berdua melihat ada dua mobil yang mendekat dari arah yang berbeda. Pertama adalah mobil bus Sajaya Farm dari arah gerbang masuk, kedua adalah ambulans dari arah gerbang belakang.
"Mengapa ambulans nya dari arah belakang?" tanya Ratu dengan bingung. Karena dia berpikir, mengapa tidak dari gerbang masuk saja.
"Agar tidak membuat pengunjung lain panik," jelas Aksa dengan singkat.
"Ohh! Jadi begitu!" Ratu menjadi tercerahkan, dia langsung paham setelah mendengar jawaban Aksa.
Kedua mobil itu sudah dekat, dan beberapa menit kemudian, keduanya berhenti di depan pintu masuk area. Banyak orang turun dari bus, namun belum ada yang turun dari ambulans.
__ADS_1
Aksa mengambil langkah maju, diikuti oleh Ratu. Kemudian Aksa berkata, "Selamat datang di Sajaya Farm, Pak Roni. Selamat datang di Sajaya Farm, semuanya."
Aksa menyambut mereka semua dengan ramah. Dia juga menyambut Roni dengan sopan, karena sekarang adalah kunjungan resminya sebagai dokter, dari Rumah Sakit Swasta Wilaga.
"Terima kasih atas sambutannya, Aksa," balas Roni sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Aksa juga berjabat tangan dengan orang lainnya yang merupakan dokter di Rumah Sakit Swasta Wilaga, serta beberapa anggota keluarga pasien.
Setelah itu, Roni menganggukkan kepalanya kepada supir ambulans. Si supir mengerti kodenya, dia segera membukakan pintu belakang bersama rekannya, lalu membantu pasien untuk keluar.
Aksa bisa melihat kalau pasiennya adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Anak itu bernama Boy, anak yang menderita PTSD karena beberapa masalah di masa lalu.
Tanpa basa-basi lagi, Aksa meminta karyawannya untuk membawa Boy ke dalam untuk dibantu memakai peralatan pelindung. Dia juga meminta karyawan lain untuk membawa para tamu ke ruang istirahat terlebih dahulu.
"Bos, apakah Bos sudah tahu biodata anak itu?" tanya Ratu, karena dia tidak dapat biodatanya.
Aksa menepuk dahinya, lalu berkata, "Ah, aku lupa tidak memberikannya padamu. Kamu juga mengapa tidak memintanya?"
"Maaf Bos. Aku kira aku tidak boleh membaca biodata anak itu," kata Ratu sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
Aksa dan Sarah tertegun, mereka lupa kalau Ratu adalah orang yang sedikit tertutup. Apalagi, dia baru masuk ke Sajaya Farm. Jadi pasti dia belum memiliki banyak teman di sini selain Aksa dan Sarah.
Jadi, Sarah menepuk bahu Ratu dan berkata, "Ratu, kita ini rekan kerja sekaligus teman. Jadi, kalau ada apa-apa, langsung bicara saja, ya?"
Aksa juga mengangguk dan berkata, "Aku tidak tahu bagaimana kamu di masa lalu. Tapi sekarang, bicarakan kalau ada sesuatu."
Ratu membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya, dia hanya mengucapkan dua kata, yaitu, "Terima kasih!"
Aksa dan Sarah saling memandang dan tersenyum. Sarah menenangkan Ratu sebentar. Lalu setelah Ratu tenang, Aksa berdehem dan mulai mengatakan biodata anak itu kepada Ratu.
"Boy adalah anak berusia 9 tahun. Dia menderita PTSD yang cukup parah sampai dia tidak pernah keluar dari kamarnya. Bahkan dia keluar kamar hanya untuk ke kamar mandi saja."
"Dia memiliki trauma berat, yang disebabkan kekerasan oleh ayah kandungnya dulu. Ibunya memutuskan bercerai dan menikah lagi. Tapi Boy sudah terlalu takut dengan pria dewasa."
"Itulah mengapa, orang-orang di sekitar Boy tadi adalah wanita. Karyawan Sajaya Farm yang membawa Boy juga wanita, kan?"
Ratu sangat terkejut dengan trauma yang dimiliki oleh Boy. Dia tidak menyangka kalau seorang anak berusia 9 tahun pernah mengalami kekerasan sampai menyebabkan trauma berat.
__ADS_1
"Begitulah. Itulah mengapa kita harus hati-hati kali ini," kata Aksa kepada mereka berdua yang dibalas anggukan kepala.