
Keesokan harinya, pintu belakang Sajaya Farm penuh dengan mobil pickup. Semua mobil sedang membawa bahan-bahan material bangunan seperti batu, pasir, tanah, dan lainnya.
Dito memang bekerja dengan cepat dan efisien. Padahal kemarin baru saja ditelepon oleh Aksa tapi hari ini sudah membawa bahan-bahan material bangunan.
Aksa dan Sarah sedang melihatnya dari jauh karena para pekerja sedang bekerja dan tidak bisa diajak mengobrol untuk saat ini.
"Sarah, jika tidak bekerja sama dengan Hotel Lunar, apakah kita bisa membangun area kuda baru dengan anggaran Sajaya Farm yang sekarang?" tanya Aksa dengan penasaran.
Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Seratus persen mustahil. Dengan anggaran Sajaya Farm yang sekarang, kita hanya bisa membuat pagar-pagar nya saja."
"Separah itu kah?" Aksa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Jika melihat rata-rata pemasukan, kita bisa membangun kandang kuda dalam waktu satu bulan." Sarah berpikir sejenak sebelum berkata.
"Satu bulan ya, tidak lama atau cepat." Aksa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Anggaran Sajaya Farm memang sudah setipis itu sehingga mereka tidak bisa menggunakan anggarannya untuk pembangunan, hanya bisa untuk mempertahankan Sajaya Farm agar tidak bangkrut.
Tapi berdasarkan kecepatan pemasukan rata-rata, anggaran mereka akan terkumpul kembali seperti dulu hanya dalam waktu satu bulan.
Belum lagi jika ada keadaan khusus di mana orang-orang kaya membelanjakan uang mereka dengan sangat banyak di Sajaya Farm.
"Begitulah. Aku pergi dulu, harus bekerja lagi." Sarah kembali ke kantornya untuk kembali melakukan pekerjaannya.
"Ya!" Aksa melambaikan tangannya.
Pada saat Aksa sedang memantau para pekerja konstruksi yang sedang memindahkan bahan-bahan material. Dito berjalan menghampiri Aksa dengan pakaian kerjanya.
"Pak Aksa!" Dito menyapa Aksa yang sedang berdiri diam.
__ADS_1
"Oh, Pak Dito!" Aksa menoleh dan membalas sapaan Dito.
"Pembagunan area kuda sama seperti sebelumnya kan? Apakah ada tambahan bangunan atau semacamnya?" tanya Dito kepada Aksa.
"Ah, baru saja aku ingat. Ada bangunan tambahan, tapi bukan hanya di area kuda khusus ini saja, melainkan di seluruh area hewan ternak." Aksa mengatakan sesuatu yang membuat Dito terkejut.
"Semua area hewan ternak? Kalau boleh tahu bangunan apa itu, Pak?" Dito bertanya dengan penasaran.
"Kandang isolasi. Melihat situasi sebelumnya, aku tidak bisa menjadikan kandang asli sebagai tempat untuk isolasi karena standar nya yang berbeda," kata Aksa.
Semenjak kejadian tentang penyakit antraks yang menyerang para sapi, Aksa menjadi semakin berhati-hati. Dia berniat untuk membangun kandang khusus isolasi di seluruh area hewan.
Karena kandang biasa dan kandang isolasi memiliki standar yang berbeda. Di mana kandang isolasi sangat tertutup rapat agar virus dan penyakit tidak menyebar ke tempat lain.
"Ternyata kandang isolasi ya. Aku paham, jika kita melihat kejadian yang menimpa Sajaya Farm beberapa hari yang lalu." Dito mengangguk karena dia paham.
Dan di sisi lain, Dito juga bahagia karena dia akan mendapatkan proyek pembangunan yang lain. Setelah bekerja sama dengan Sajaya Farm, penghasilannya meningkat drastis.
Mengawasi pekerjaan para pekerja konstruksi memang enak dan santai, tapi Dito tidak suka. Dia lebih menyukai pekerjaan yang memakai tenaganya karena itu lebih sehat dan menyenangkan.
"Ya, tapi maaf juga karena tidak bisa membangun kandang isolasi di semua area hewan saat ini. Pak Dito pasti tahu kalau anggaran Sajaya Farm sangat tipis." Aksa menghembuskan napas panjang dan berkata.
"Ya, aku paham. Santai saja, Pak, saat uangnya sudah cukup, Anda tinggal meneleponku saja, haha." Dito mengangguk dengan pengertian.
"Terima kasih, Pak Dito." Aksa tersenyum dan mengangguk.
"Apakah itu saja? Karena katanya ini adalah area kuda khusus pelanggan dari Hotel Lunar yang memiliki status tidak biasa," kata Dito dengan ragu-ragu.
"Bagiku sudah, tapi aku belum menghubungi Pak Jay dari Hotel Lunar. Nanti aku akan memberitahu Anda setelah mendapat jawaban dari pihak lain," kata Aksa.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Dito mengangguk, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya membantu memindahkan bahan-bahan material bangunan.
Aksa duduk di bangku yang ada di sekitar, kemudian dia mengeluarkan peta Sajaya Farm. Orang-orang hanya akan melihatnya sebagai peta pada umumnya yang terbuat dari perkamen.
Kemudian Aksa mengarahkan pandangannya ke arah area yang belum dibuka. Dia sedang mencari sumber air jernih yang baru karena sungai kecil sebelumnya tidak akan cukup memenuhi kuota.
Aksa mencari dengan teliti karena yang dia cari adalah tempat dengan air yang jernih karena akan digunakan untuk sumber air yang akan memasok kebutuhan Sajaya Farm.
"Sungai? Tidak, itu tenang dan tidak mengalir. Kalau begitu danau? Tapi itu sangat kecil untuk seukuran danau. Kalau begitu itu adalah kolam." Aksa menemukan sumber air di area yang belum dibuka.
Itu adalah sebuah tempat dengan air yang tenang, masih terlalu kecil untuk disebut sebagai danau. Jadi Aksa menduga kalau itu adalah kolam yang airnya merupakan sir bawah tanah.
Tanpa basa-basi, Aksa segera mengambil sepeda listrik dan pergi ke kolam itu. Kemudian tidak butuh waktu lama untuk Aksa sampai di sana.
"Benar saja, ini tidak mengalir. Itu artinya air di sini berasal dari bawah tanah dan hujan," pikir Aksa setelah melihatnya lebih dekat.
Air yang muncul dari bawah tanah dapat menjadi sumber air minum yang aman. Air tanah sering kali lebih bersih daripada air permukaan karena telah disaring alami oleh lapisan tanah dan batuan.
Namun, untuk memastikan keamanan air tersebut, perlu dilakukan pengujian kualitas air, terutama jika digunakan sebagai sumber air minum.
Penting untuk memastikan bahwa air tanah tidak terkontaminasi oleh zat-zat berbahaya seperti logam berat, bakteri, atau bahan kimia berbahaya.
Jadi, Aksa pergi ke sungai kecil untuk mengambil pH meter dan kembali ke kolam. Dia segera mencelupkan elektroda pH meter ke dalam air.
"pH airnya 6,9. Ukuran yang aman untuk diminum." Aksa membaca hasil dari pemeriksaan air di layar pH meter.
"Aku akan memberitahu ke Pak Dito lagi kalau di sini perlu membangun bangunan kecil dan memasang generator beserta pipa untuk mengalirkan air sampai ke Sajaya Farm,' pikir Aksa.
Tapi Aksa tidak segera menelepon Dito karena saat ini Sajaya Farm masih belum punya anggaran yang cukup untuk membangun sesuatu meskipun itu adalah bangunan kecil sekalipun.
__ADS_1
Jadi Aksa mencatat rencana ini di ponselnya agar dia tidak lupa. Setelah itu dia kembali ke Sajaya Farm dengan sepeda listrik dan melanjutkan pekerjaannya.