Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Rina dan Mahasiswa dari Universitas Indonesia


__ADS_3

Universitas Indonesia adalah universitas yang terkenal karena peringkatnya bahkan berada di nomor satu. Tentu saja ada banyak orang yang ingin berkuliah di sana namun seleksinya sangat sulit.


Alvan, adik Aksa, menggunakan beasiswa untuk masuk ke Universitas Indonesia yang membuktikan bahwa dia sangatlah pintar sampai diberikan beasiswa.


Orang-orang mungkin kurang mengenal Sajaya Farm atau mungkin mengenal tapi tidak terlalu peduli. Tapi, orang-orang pasti mengenal Universitas Indonesia.


Mereka melihat kalau di akun media sosial Universitas Indonesia terdapat unggahan berupa pemberitahuan kalau jurusan fotografi dan jurusan tata busana akan mengadakan kegiatan di Kabupaten Banyumas.


Mereka melihat ternyata lokasi tepatnya berada di Sajaya Farm, sebuah tempat wisata peternakan yang kurang terkenal dan inilah yang membuat mereka sangat terkejut.


...----------------...


Eddy, yang juga lulusan dari Universitas Indonesia melihat unggahan tersebut dan ia lebih terkejut dibandingkan dengan orang lain karena ia mengenal Sajaya Farm dan mengenal pemiliknya.


"Dewi!! Lihat ini!!" Eddy turun ke lantai satu dan berteriak sambil menunjukkan ponselnya.


"Ada apa!? Sampai berteriak," kata Dewi dengan nada tidak puas. Namun ia sama seperti Eddy salah melihat unggahan di akun Universitas Indonesia dan akun Sajaya Farm.


"Meskipun bukan kerja sama resmi, tapi Aksa sangat hebat karena bisa bekerja sama dengan Universitas Indonesia." Eddy berkata dengan nada kagum.


Jika yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia adalah alumni, pebisnis terkenal, atau seseorang dengan jabatan tinggi maka Eddy dan Dewi tidak akan begitu terkejut karena itu wajar.


Tapi yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia adalah seorang pria muda yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Universitas Indonesia dan pria ini juga tidak terkenal.


"Benar, Aksa adalah orang yang hebat. Dia tidak memiliki hubungan dengan Universitas Indonesia yang berarti dia tidak bekerja sama dengan menggunakan koneksinya," angguk Dewi yang juga mengagumi Aksa.


"Haruskah kita datang?" tanya Eddy dengan ragu-ragu.


"Hm, aku rasa tidak perlu. Bukan karena tidak menghormati, tapi karena kita tidak ada hubungannya dengan mereka. Meskipun kita sama sama alumni Universitas Indonesia, kita bukan di jurusan mereka," kata Dewi setelah berpikir sebentar.


Eddy berpikir sebentar dan mengangguk sebelum berkata, "Kamu ada benarnya, tapi mari kita ucapkan sesuatu kepada Aksa. Kita tidak boleh diam saja melihat teman kita melakukan sesuatu yang hebat."


Benar, teman. Eddy sudah menganggap Aksa sebagai temannya karena ia melihat kalau Aksa memiliki potensi yang sangat besar dan itu karena Aksa adalah anak muda yang sukses.


"Aku setuju denganmu." Dewi mengangguk setuju dengan perkataan suaminya.


Mereka berdua segera mengetik sesuatu dan mengirimkannya kepada Aksa dan tidak lupa untuk bercanda sedikit agar tidak terlalu serius.

__ADS_1


...----------------...


Situasi di rumah Eddy juga terjadi di rumah Andre.


"Sarah, apakah ini benar?" Andre bertanya kepada Sarah dengan nada terkejut sekaligus tidak percaya.


Meskipun dirinya bukan alumni Universitas Indonesia, tapi ia tentu saja tahu seberapa hebat Universitas Indonesia yang menempati peringkat nomor satu di seluruh Negara Indonesia.


"Hm? Ah, itu benar. Aksa juga sudah memberitahuku mengenai masalah tersebut," angguk Sarah dengan datar.


Meskipun Sarah juga terkejut, tapi ia tahu bagaimana Aksa dan Universitas Indonesia bisa bekerja sama. Meskipun begitu, ia tidak akan memberitahu kepada siapapun karena itu tidak berguna.


"Sampaikan salam dari Ayah untuk Aksa besok," kata Andre kepada Aksa.


"Ya." Sarah hanya menjawab dengan singkat dan melanjutkan menonton program televisi.


...----------------...


"Vira, Vina, besok Hari Sabtu, apakah kalian ingin pergi ke Sajaya Farm?" tanya Aksa kepada kedua adiknya yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah mereka.


"Ingin!!" teriak mereka tanpa pikir panjang karena mereka juga gahu kalau ada kegiatan di Sajaya Farm besok.


"Kami tidak akan ikut. Jelas sekali kami orang tua tidak cocok dengan acara seperti itu. Lagipula kami juga tidak mengenal siapapun kecuali Rina," kata Aji dan diberi anggukkan oleh Ani.


"Baiklah kalau begitu." Aksa mengangguk dan tidak memaksa mereka untuk datang.


Kedua orang tuanya selalu berada di rumah dan sekitarnya. Mereka biasanya menyirami tanaman, mengobrol bersama tetangga, pergi ke taman, dan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para orang tua.


Aksa juga membeli banyak suplemen dan vitamin agar tubuh kedua orang tuanya semakin bugar. Dengan suplemen dan produk peternakan, kedua orang tuanya saat ini bisa bergerak dengan bebas.


...----------------...


Malam harinya, di stasiun.


Rina dan teman-teman lainnya sudah sampai di Kabupaten Banyumas. Mereka segera memeriksa barang-barang mereka dan keluar dari kereta tanpa berdesak-desakan.


"Bu Cici, kita langsung ke hotel dekat Sajaya Farm atau bagaimana?" tanya Rina kepada seorang wanita di depannya yang merupakan dosennya.

__ADS_1


"Langsung saja, kamu juga tolong hubungi pemiliknya ya," kata Cici dengan mata penuh syukur.


Cici terkejut karena kakak dari pacar Rina memiliki sebuah tempat yang udah dan kebetulan mereka sedang bingung harus mencari tempat di mana untuk melakukan kegiatan mereka.


Di saat Cici dan yang lain bingung, Rina meneleponnya dan memberitahu usulannya. Cici segera berdiskusi bersama dengan yang lain dan dengan cepat mereka memutuskan untuk menyetujui usulan Rina.


"Baik, Bu!" Rina mengangguk dan segera menelepon Aksa.


"Rina, dilihat dari waktunya, apakah kamu dan yang lain sudah sampai?" tanya Aksa setelah penggilan terhubung.


"Ya, kami sedang berada di stasiun dan akan pergi ke hotel di dekat Sajaya Farm," kata Rina sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, apakah perlu aku jemput?" tanya Aksa.


"Tidak perlu, Kakak ipar. Kami sudah memesan bus di sini dan kami juga sudah lelah, jadi kalau Kakak ipar datang akan kesepian karena tidak ada yang berbicara haha," tolak Rina sambil bercanda.


"Benar juga, hahaha. Baiklah, perhatikan keselamatan." Aksa juga membalas dengan candaan lalu mereka menutup panggilan.


Rim berjalan menghampiri Cici yang sedang mengoordinasikan pada mahasiswa dan berkata, "Bu Cici, aku sudah menghubungi Kakak ipar."


"Bagus, terima kasih ya," angguk Cici.


...----------------...


Di kamar Aksa.


"Aku kurang beruntung. Jika villa sudah selesai dibangun, maka mereka akan menginap di sana dan aku akan mendapatkan pendapatan tambahan," pikir Aksa yang sedikit kecewa.


Namun mau bagaimana lagi, villa dan kamar akan selesai dibangun dalam waktu dua minggu lagi. Tidak mungkin untuk mempercepat pembangunan villa dan tidak mungkin menunda kegiatan Universitas Indonesia.


"Yah, tapi dengan kerja sama dengan Universitas Indonesia, nama Sajaya Farm pasti akan dikenal sampai luar provinsi," pikir Aksa yang bahagia.


Aksa juga menerima pesan dari Eddy, Andre, dan beberapa teman. Mereka sama sama mengucapkan selamat kepada Aksa karena bisa bekerja sama dengan Universitas Indonesia.


"Tapi sebenarnya Rina adalah perantara hal ini. Aku harus memberinya sesuatu, akan aku tanya Alvan nanti," batin Aksa.


Alvan tidak datang ke sini bersama Rina karena mereka berbeda jurusan. Rina adalah jurusan fotografi sementara Alvan adalah jurusan manajemen. Aksa juga tidak tahu bagaimana bisa mereka bertemu padahal berbeda jurusan.

__ADS_1


Aksa mengambil pakaiannya dan mandi, setelah mandi ia masuk ke dalam peternakan game untuk memeriksa hewan ternak. Setelah pemeriksaan rutin, Aksa keluar dari peternakan game dan tidur.


Di dalam tidurnya, Aksa bermimpi kalau dia sudah menjadi orang kaya dan ada seorang wanita cantik di pelukannya meskipun wajahnya masih samar-samar.


__ADS_2