
Bulan pergi dan matahari datang, malam pergi digantikan oleh pagi. Aksa bangun dari tidurnya lalu mengambil pakaiannya dan pergi mandi. Setelah itu ia segera masuk ke dalam peternakan game.
"Hm, semuanya masih sama. Aku penasaran bagaimana dengan produk peternakan kualitas B. Sudah beberapa bulan namun kualitas B belum muncul," batin Aksa yang penasaran.
Namun saat ia berpikir dengan penasaran bagaimana produk peternakan kualitas B, ia menemukan kalau ada daging sapi dan daging ayam dengan kualitas C. Aksa segera memeriksa atributnya.
[Daging sapi: Kualitas C]
[Keterangan: Daging sapi dengan kualitas yang lebih tinggi dan tentunya memiliki kelezatan yang tinggi juga. Rasa +2, produksi darah +2.]
"Produksi darah? Ah, jadi dengan memakan daging sapi kualitas C, tubuhku bisa memproduksi lebih banyak darah dan orang yang memiliki penyakit anemia bisa dipulihkan dengan ini," pikir Aksa kemudian ia melihat daging ayam kualitas C.
[Daging ayam: Kualitas C]
[Keterangan: Daging ayam yang memiliki rasa seperti ayam dan bisa dipastikan kalau rasanya sangat lezat. Rasa +2, berat badan -2.]
"-2? Aku baru melihat atribut minus. Itu artinya berat badan orang yang memakan daging ayam kualitas C akan berkurang? Aku rasa ini akan populer di kalangan wanita," pikir Aksa sambil tersenyum lebar.
Tapi seperti biasa, jumlah daging kualitas C sangat sedikit. Ia akan menggunakan semuanya untuk dirinya dan keluarganya, dan tidak bisa digunakan untuk menjamu tamu.
Aksa keluar dari peternakan game sambil membawa daging kualitas C itu. Ia turun ke lantai satu dan berjalan menuju dapur, lalu ia menyimpan daging tersebut di dalam lemari es.
"Meong!" Simba yang melihat Aksa turun segera berlari menghampirinya.
"Oh, Simba." Aksa mengambil Simba dengan kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Simba tinggal di kamar Aksa, namun biasanya saat pagi ia keluar dari kamar untuk berjalan-jalan. Aksa tidak mengunci pintu sehingga Simba bisa membuka pintu dengan mudah dan keluar dari kamar.
"Ayo makan di Sajaya Farm, hari ini kita akan mengadakan acara," kata Aksa kepada Simba yang membalas dengan suara kucing.
Aksa dan Simba pergi menuju gudang untuk mengangkut produk peternakan ke Sajaya Farm. Elvira dan Elvina akan pergi nanti menyusul Aksa setelah sarapan.
Mereka berdua sudah bisa mengemudikan motor, jadi mereka akan pergi dengan motor orang tua. Aksa sebenarnya sudah meminta mereka untuk membeli motor namun mereka berdua menolak karena belum cukup umur untuk membuat SIM.
Aksa hanya bisa mengangguk tak berdaya karena kedua adiknya sangat mentaati peraturan. Padahal di zaman sekarang, anak-anak SMP sudah mempunyai motor sendiri dan berangkat sekolah dengan motor.
"Sarah!" panggil Aksa yang melihat Sarah turun dari mobilnya.
__ADS_1
Pertama-tama Aksa meminta Galih dan penjaga keamanan lain untuk membawa produk peternakan ke area penjualan, kemudian ia membawa Simba berjalan menghampiri Sarah.
"Aksa! Simba!" Sarah mengangguk dan mengambil Simba dari tangan Aksa.
Aksa sekarang tahu kalau Sarah adalah pecinta kucing dan ingin memeliharanya namun ayahnya alergi terhadap bulu kucing sehingga ia tidak bisa memelihara kucing di rumahnya.
"Kamu siap untuk acara nanti?" tanya Aksa.
"Tentu saja." Sarah mengangguk dan menjawab dengan nada yakin.
Mereka berdua berjalan memasuki Sajaya Farm menuju area dekat taman bunga di mana nanti area ini akan digunakan untuk kegiatan Rina dan teman-teman jurusannya.
Di sana sudah terdapat beberapa tenda yang nantinya akan digunakan untuk beristirahat atau tempat meneduh. Ada juga tenda tertutup yang digunakan sebagai kamar ganti, ini adalah permintaan Rina.
Kebetulan sekali saat mereka datang, ponsel Aksa berbunyi karena Rina memanggilnya. Aksa menggunakan ibu jarinya untuk mengetuk tombol hijau dan menerima panggilan.
"Kakak ipar! Apakah Kakak ipar sudah ada di Sajaya Farm? Aku dan yang lain sudah siap untuk berangkat!" teriak Rina dengan semangat yang membara.
Bahkan meskipun keduanya sedang saling menelepon, Aksa bisa membayangkan wajah Rina yang sedang bersemangat dengan api berkobar di kedua matanya.
"Baik!" Rina menutup telepon dan segera memberitahu yang lain.
Jarak antara Sajaya Farm dan hotel tempat mereka menginap sangat dekat sekitar tiga sampai lima menit dengan berjalan kaki dan lebih cepat lagi jika menggunakan kendaraan.
Tapi karena sangat dekat, percuma menggunakan kendaraan. Jadi Rina dan yang lain pergi ke Sajaya Farm dengan berjalan kaki dengan semangat.
Mereka menyeberang jalan dengan hati-hati, masuk ke Sajaya Farm sambil diantar salah satu karyawan, dan bertamu Aksa dan Sarah yang sedang menggendong Simba.
"Pak Aksa." Cici melangkah maju dan mengulurkan tangan kanannya.
Meskipun jelas kalau Aksa masih muda, tapi sekarang mereka sedang bekerja sama jadi Cici harus memangil Aksa dengan formal. Jika situasi biasa maka dia hanya akan memanggil nama Aksa.
"Halo, Bu dosen." Aksa tersenyum dan berjabat tangan dengan Cici.
Mereka berdua segera berbicara dan membahas beberapa hal terkait acara ini. Seperti yang disepakati sebelumnya kalau pengunjung Sajaya Farm boleh berfoto dengan mereka secara gratis.
Kemudian Aksa juga menekankan untuk mentaati peraturan yang ada dan Cici juga mengangguk dengan serius bahwa dia akan mengatur mahasiswa-mahasiswa agar tidak melanggar peraturan.
__ADS_1
Setelah itu, Cici segera menyuruh semua mahasiswa untuk mulai. Ada yang mendirikan tenda baru, menyiapkan kamera, membuka tas dan mengambil pakaian, dan ada yang langsung berganti pakaian.
Pakaian yang dibuat oleh mahasiswa jurusan tata busana memiliki tema Indonesia namun tidak terbatas pada suku manapun, yang penting masih dalam ruang lingkup Negara Indonesia.
Aksa melihat kalau ada mahasiswa jurusan tata busana membuat pakaian dari berbagai macam suku, ada juga yang Aksa tidak kenal namun sepertinya pakaian tersebut adalah desain pribadi.
...----------------...
Di luar Sajaya Farm.
"Parkir di mana?" tanya Elvira dengan ragu-ragu.
Elvira dan Elvina sudah sampai di Sajaya Farm dengan motor, Elvira yang mengemudi sedangkan Elvina yang dibonceng, karena Elvina belum bisa membonceng orang lain.
"Tidak tahu, parkir di sana saja." Elvina menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunjukkan ke arah area parkir karyawan.
Elvira mengangguk dan segera mengemudikan motor ke sana. Namun Galih melihat mereka dan segera meminta mereka untuk berhenti.
"Permisi, di sana adalah area parkir khusus karyawan dan Sajaya Farm masih belum buka," kata Galih sambil tersenyum sopan.
Elvira dan Elvina melepas helm mereka, Galih terkejut karena ia tentu saja mengenal adik bosnya. Galih segera mempersilakan mereka memarkir motor di area parkir karyawan.
...----------------...
"Kakak!" Elvira dan Elvina berlari menghampiri Aksa.
"Oh, kalian sudah datang?" Aksa sedikit terkejut karena kedua adiknya datang dengan cepat.
"Ya! Kami langsung ke sini setelah mandi dan sarapan." Elvira mengangguk lalu melihat sekeliling.
"Halo, Kakak Sarah!" Elvina menyapa Sarah yang sedang menggendong Simba.
"Hai, Vina. Apakah kalian berdua akan melihat acara ini?" Sarah tersenyum dan mengangguk lalu ia bertanya.
"Ya! Kami libur dan Kakak mengajak kami untuk datang," angguk Elvina.
Mereka berempat berbincang-bincang sambil menunggu Rina dan teman-temannya siap. Lalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 dan sudah waktunya Sajaya Farm buka.
__ADS_1