
Simba berhasil menemukan rumah keempat dari gerbang yang mana itu adalah rumah milik keluarga Kevin. Sima melihat ke berbagai arah untuk menemukan jalur agar dia bisa masuk ke dalam.
Kemudian dia melihat kalau jendela di lantai dua tepat di sebelah pohon besar sedikit terbuka. Rumah di sini ini memang memiliki halaman yang luas dan kebetulan ada pohon besar di halaman rumah keluarga Kevin.
Simba dengan keempat kakinya yang gemuk namun lincah berlari ke arah pohon dan menggunakan cakarnya untuk memanjat pohon dengan lancar dan agar dia tidak terjatuh.
Beberapa langkah Simba ambil dengan hati-hati, lalu setelah beberapa saat, dia sudah sampai di ujung dahan dan melompat masuk ke dalam rumah keluarga Kevin lewat celah jendela.
Melihat kalau kamar itu hanya diterangi oleh lampu meja, Simba berpikir kalau ini adalah kamar milik orang yang ditunjukkan oleh pemiliknya karena dia terlihat muda dan kamar ini cocok.
"Meong." Simba bersuara pelan dan membuka pintu kamar dengan cara melompat lalu menggunakan dua kaki depannya untuk menyentuh gagang pintu.
Langkah kucing tidaklah bersuara dan kucing bisa melihat dalam kegelapan. Itulah mengapa Simba saat ini berjalan dengan santai karena yakin kalau manusia tidak akan bisa menemukannya.
Telinga kucing juga sensitif, Simba mendengar ada suara keras di lantai satu. Berpikir kalau suara tersebut adalah pemilik rumah ini, Simba segera berlari ke arah tangga dan bersembunyi di balik pot.
Namun ia ingat kalau pemiliknya memasang kamera di lehernya, ia menjulurkan kepala agar kamera bisa merekam kejadian yang ia lihat saat ini.
...----------------...
Di lantai satu rumah keluarga Kevin.
"Apa yang Ayah lakukan!? Padahal aku hampir memukul Aksa namun Ayah menghentikanku saat itu!" teriak Kevin dengan marah namun tidak berani menunjukkan amarahnya.
"Kamu sudah berumur 27 tahun, tapi pikiranmu masih seperti anak-anak! Apakah matamu tidak bisa melihat situasi tadi saat orang-orang melihatmu seperti melihat orang bodoh!?" balas Albar yang juga berteriak.
"Ayah!? Apakah Ayah lebih memilih Aksa dibandingkan dengan anakmu ini!? Padahal jika aku menyingkirkan Aksa tadi, Sarah akan menjadi istriku dan Ayah pasti juga senang bukan!?" Kevin menepuk meja dengan sangat keras.
"Dasar bodoh! Meskipun kita mendapatkan Sarah, tapi orang-orang akan meragukan kita yang mana kita akan kekurangan klien di masa depan!?" Albar memelototi putranya dengan ganas.
Istri Albar atau ibu Kevin, Ajeng menjadi takut karena pertengkaran antara suami dan putranya. Ia berdiri di tengah dan mencoba untuk melerai mereka berdua dengan sekuat tenaga.
Ajeng yang hampir menangis berkata, "Kalian berdua hentikan ini! Tidak ada gunanya bertengkar lagi! Kevin, kamu kembali ke kamarmu segera."
__ADS_1
Kevin masih marah dengan ayahnya, namun melihat mata berkaca-kaca ibunya membuat Kevin tenang. Ia mengangguk dan segera pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Suamiku, ayo tenang dulu, akan aku buatkan teh hangat." Ajeng pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat agar Albar menjadi tenang.
Albar hanya mendengus dan duduk di kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Meskipun ia tidak puas, tapi istrinya sudah turun tangan, jadi ia tidak akan melanjutkan masalah ini.
...----------------...
Sementara itu, kucing oranye gemuk yang sedang bosan melihat kalau Kevin berjalan ke arah tangga. Ia segera berdiri dan berlari ke kamar sebelumnya dengan keempat kaki gemuknya.
Simba bersembunyi di balik tirai jendela. Meskipun ada penerangan dari cahaya bulan, tapi tirai nya berwarna gelap sehingga bayangan Simba tidak terlihat.
kemudian langkah kaki terdengar dari luar, pintu didorong terbuka dan muncul Kevin yang memiliki wajah lelah. Kevin melepas sandal rumahnya dan berbaring di atas ranjang.
Setelah terdiam sebentar, Kevin mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi seseorang. Di sisi lain, Simba yang melihat hal ini segera mengarahkan kamera ke arah Kevin.
"Tes, ada apa?" Terdengar suara yang berat dari balik telepon.
Meskipun Kevin tidak mengaktifkan loud speaker, tapi kamarnya sangat sunyi sehingga suara kecil pun bisa terdengar dengan jelas.
"Sajaya Farm ya, tentu saja aku tahu. Tempat wisata itu sudah sangat terkenal di Kabupaten Banyumas, tapi untuk mengacaukan tempat terkenal membutuhkan banyak usaha," balas pria dengan suara berat.
"Santai saja, aku percaya diri jika itu soal uang. Aku akan memberikan uangnya kepada Tora agar dia bisa memberikannya kepadamu, bagaimana?" tanya Kevin dengan tenang.
"Sepakat." Setelah mengalami itu, pria dengan suara berat langsung menutup telepon.
Kevin melempar ponsel mahalnya dan berkata, "Aksa, mari kita lihat apakah kamu masih bisa bertahan untuk kedepannya. Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengacaukan bisnismu."
"Inilah akibatnya kalau kamu menggangguku, kamu tidak akan lolos dengan mudah. Aku akan mencabik-cabik dirimu dan membuatmu sekaligus keluargamu dipermalukan!"
"Dan juga Sarah, karena kamu lebih memilih orang miskin yang itu daripada aku yang tampan dan kaya ini, aku akan membuatmu menyesal dengan keputusanmu itu!"
Kevin mengatakan kata-kata kasar sambil marah-marah, namun dia tidak menyadari kalau ada sesosok kecil di balik tirai yang sedang merekam perkataannya secara diam-diam.
__ADS_1
Setelah itu, Kevin pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan tertidur. Simba yang akan pergi berpikir kalau ia harus memeriksa dua orang lain di lantai bawah takutnya mereka juga merencanakan sesuatu.
Jadi, Simba menggunakan dua kaki depannya untuk membuka pintu dengan hati-hati. Kemudian ia pergi bersembunyi di tempat yang sebelumnya dan merekam Albar dan Ajeng yang sedang berbicara di ruang keluarga.
"Suamiku, meskipun Kevin memang salah, tapi kamu juga tidak perlu memarahinya sampai seperti itu," kata Ajeng dengan nada tak berdaya karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Albar mendengus dan berkata, "Jangan memanjakannya. Kevin sudah kita perlakukan sangat baik dan itulah mengapa dia memiliki sifat keras kepala seperti sekarang ini. Dia akan mewarisi perusahan kita namun dengan sifatnya sekarang, dia sama sekali tidak cocok."
Ajeng membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa karena apa yang dikatakan ole suaminya memang fakta dan dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan hal itu.
Meskipun Ajeng adalah ibu rumah tangga, tapi dia mengerti mengenai urusan perusahaan dan tahu kalau dengan sifat putranya sekarang tidak akan bisa memimpin perusahaan.
Bahkan jika Kevin memimpin perusahaan investasi yang merupakan perusahaan jasa dan perlu mempunyai sikap tenang agar bisa menangani berbagai macam klien yang datang.
Namun sebagai ibunya, Ajeng tidak bisa mengubah sifat Kevin karena dari awal sifatnya memang seperti itu. Ajeng hanya bisa membatasi sifat Kevin agar tidak di luar kendali.
"Tapi, meskipun aku tidak menyukai sifat Kevin, kita memang harus melakukan sesuatu kepada si Aksa itu," kata Albar dengan waja muram.
"Yah, kalau ini aku setuju." Ajeng menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan suaminya, Albar.
"Kalau begitu kamu hubungi temanmu untuk membuat rumor buruk mengenai Sajaya Farm. Sebarkan rumor tersebut sampai terdengar sejauh mungkin.", Albar meminta istrinya untuk melakukan sesuatu.
"Baiklah, serahkan ini padaku." Ajeng mengangguk dan segera menelepon temannya.
Orang-orang kaya pasti memiliki teman atau relasi seperti ini yang berguna untuk menjatuhkan perusahaan lawan dengan rumor buruk yang akan dibuat dan di sebarluaskan.
Setelah itu, Albar dan Ajeng kembali ke kamar mereka dengan tenang. Simba berdiam diri sebentar mencoba mengamati situasi, melihat tidak ada yang perlu dilakukan, Simba memutuskan untuk pulang.
Tapi saat ia masuk ke dalam kamar Kevin dan akan melompat ke jendela, ia melihat kalau lemari Kevin terbuka dan di dalamnya ada brankas kecil yang sepertinya cukup kokoh.
Simba tidak memperhatikan brankas tersebut, yang ia perhatikan adalah ada rak di bawah brankas yang berisi kertas-kertas. Simba sering menonton televisi bersama Elvira dan Elvina, sekarang ia tahu kalau brankas adalah tempat untuk menyimpan sesuatu.
Jadi tanpa pikir panjang, Simba mengambil kertas-kertas tersebut menggunakan mulutnya. Setelah itu ia keluar lewat celah jendela dan melompat ke dahan dengan tenang.
__ADS_1
Simba turun dari pohon dan kembali ke Aksa dalam bayang-bayang karena ia membawa sesuatu dan pasti akan aneh melihat kucing berkeliaran saat malam hari sambil membawa banyak kertas.