
"Sarah? Apakah kamu sudah makan malam?" tanya Delia yang melegakan tas tangannya di atas sofa setelah melepas sepatunya.
Andre pergi ke ruang kerja untuk menaruh beberapa dokumen di sana. Ruang kerjanya berada di dekat ruang tamu jadi Sarah bisa menghela napas lega.
"Ah, aku belum makan Bu," jawab Sarah dengan nada kaku karena ia sedang gugup.
Jika Sarah sedang gugup, ia masih bisa menstabilkan emosinya dan menjaga wajahnya tetap dingin. Namun entah mengapa kali ini ia tidak bisa menstabilkan emosinya dan menunjukkan wajah yang sedang gugup.
"Baiklah, Ibu akan membuatkan makan malam terlebih dahulu, kamu duduk dan tonton televisi saja." Delia mengangguk sambil berjalan ke dapur dan mengenakan celemek.
Sarah mengangguk tapi tidak duduk untuk menonton televisi, ia berjalan ke arah pintu untuk mengambil sepatu milik Aksa dan dengan cepat menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Aksa, bangun." Sarah mencoba untuk membangunkan Aksa dengan suara pelan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aksa dengan ringan
"Um..." Aksa membuka matanya karena tubuhnya digerakkan oleh seseorang. Ia kemudian melihat Sarah di depannya yang memiliki wajah cemas.
Aksa tiba-tiba teringat kalau dirinya merawat Sarah sama ketiduran di kamarnya. Aksa ingin menanyakan kondisinya tapi melihat wajah Sarah, ia berpikir kalau ada masala main.
"Sarah, ada apa? Mengapa kamu terlihat sangat cemas seperti itu?" tanya Aksa dengan ragu-ragu.
"Ayah dan Ibuku sudah pulang ke rumah, kamu cepat berkemas dan keluar dari sini dengan hati-hati, aku akan mengalihkan perhatian mereka," kata Sarah dengan tergesa-gesa.
"Apakah kamu sudah sembuh?' Aksa tidak menanggapi perkataan Sarah dan bertanya tentang kondisi tubuhnya karena tadi Sarah sedang sakit.
Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Belum, tubuhku masih cukup hangat. Namun saat ini sudah lebih baik daripada sebelumnya."
"Yah, syukurlah kalau tubuhmu sudah baikan. Tapi Sarah, apakah kamu lupa kalau aku menggunakan motor dan sekarang motorku ada di dalam garasi rumahmu," kata Aksa.
"Ah!?" Sarah tercengang karena tidak memikirkan hal tersebut. Ia lalu menjadi panik sampai matanya mengeluarkan air mata.
"Sarah, tenang." Aksa berkata dengan nada selembut mungkin agar Sarah bisa tenang karena ia belum sembuh dan tidak baik jika memikirkan sesuatu yang berat.
Sarah yang mendengar perkataan Aksa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan mencoba untuk menenangkan diri.
__ADS_1
"Lalu, apakah kamu punya cara?" tanya Sarah setelah dirinya tenang.
Aksa menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak ada cara lain, jika aku kabur dan orang tuamu bertanya, kita malah akan berada dalam masalah besar. Jadi lebih baik untuk berkata secara jujur."
"Lagipula kamu sedang sakit tadi dan aku di sini untuk merawatmu. Ayah dan ibumu pasti tidak mempermasalahkan hal ini," sambung Aksa.
Sarah diam untuk berpikir sejenak, ia merasa kalau perkataan Aksa memang masuk akal. Lagipula kedua orang tuanya sibuk bekerja dan pasti tidak memiliki waktu untuk merawatnya.
"Baiklah, ayo kita jujur saja." Sarah berkata dengan nada dan tatapan yang tegas setelah berpikir sejenak.
Tapi apa yang tidak mereka duga adalah Delia yang sudah selesai memasak beberapa masakan rumahan sederhana sudah ada di depan kamar Sarah dan sedang membuka pintu.
"Sarah, makan malam sudah siap," kata Delia yang kemudian ia tertegun karena melihat ada pria yang ia kenal di dalam kamar Sarah.
"Halo Bibi," sapa Aksa sambil tersenyum.
Sarah yang tertegun terbangun karena mendengar suara Aksa. Ia meliriknya dan berpikir bagaimana Aksa menyapa ibunya dengan senyum cerah disaat situasi seperti ini.
"Aksa!?" Delia berteriak dengan keras setelah mendengar sapaan Aksa.
...----------------...
Aksa dan Sarah sudah memberikan penjelasan dan ada kamera pengawas di luar rumah dan ruang tamu. Meskipun Sarah tidak bisa menjelaskannya dengan jelas karena ia masih gugup.
"Jadi begitu, ini memang salah kami. Kami tidak memiliki waktu untuk Sarah karena perusahaan sangat sibuk," kata Andre dengan nada pahit.
Ia bukanlah orang yang tidak masuk akal, meskipun ia sedikit marah karena Sarah membawa seorang pria, ia juga tahu kalau ini adalah salahnya yang terlalu fokus dengan urusan perusahaan sampai mengabaikan urusan keluarga.
"Delia, siapkan piring lain, biarkan Aksa makan malam bersama kami," kata Andre kepada istrinya.
"Ya." Delia pergi ke dapur untuk mengambil piring dan memberikannya kepada Aksa.
Delia menuruti suaminya, ia tidak marah seperti Andre karena Sarah menelepon Aksa, tapi ia sedikit khawatir karena perkembangan mereka berdua terlalu cepat dan takut Aksa melakukan sesuatu yang negatif.
__ADS_1
"Terima kasih, Bibi." Aksa berterima kasih kepada Delia yang memberikannya piring.
Mereka berempat makan malam dalam diam, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Andre yang marah, Delia yang tak berdaya, Sarah yang gugup, dan Aksa yang tenang.
Setelah membantu Delia membereskan piring dan peralatan makan lainnya, Aksa berpamitan karena hari sudah malam. Sarah pun mengantar Aksa menuju depan rumahnya.
"Aksa, terima kasih untuk hari ini dan aku juga minta maaf," kata Sarah sambil menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya.
"Sama-sama, tapi aku tidak tahu untuk apa kamu meminta maaf?" tanya Aksa sambil memakai helm.
"Yah, hanya saja, karena aku kamu jadi dimarahi oleh Ayahku," kata Sarah dengan tak berdaya.
"Hahaha, santai saja Sarah. Lagipula aku ke sini atas keinginanku sendiri. Ngomong-ngomong, besok kamu jangan berangkat terlebih dahulu, istirahat yang banyak agar kamu cepat sembuh," kata Aksa yang sudah menyalakan motor.
Sarah mengangguk dan berkata, "Baik, kamu hati-hati."
"Ya. Sampai jumpa!" Aksa melambaikan tangannya dan pergi ke pom bensin untuk mengisi bensin motor milik Galih karena ia sudah pergi terlalu lama dan tidak enak jika hanya meminjam.
Setelah mengisi bensin sampai penuh, Aksa pergi ke Sajaya Farm yang sudah tutup dan gelap. Ia memarkirkan motor milik Galih di area parkir khusus karyawan dan memberitahu Galih kalau motornya ada di tempat parkir.
Aksa berjalan ke motor roda tiganya dan pulang ke rumah. Sampai sana, ia ditanyai oleh ibunya apakah Sarah baik-baik saja karena Aksa sudah memberitahu kalau dirinya pergi ke rumah Sarah karena dia sedang sakit.
"Yah, hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan," batin Aksa yang sedang berbaring di atas ranjang setelah selesai mandi.
Melelahkan karena ia harus menghadapi orang tua Sarah dan menjelaskan semua kejadian mengenai dirinya yang datang ke rumah mereka dan merawat Sarah sampai dia baikan.
Menyenangkan karena ia bisa melihat Sarah dalam keadaan lemah yang menurutnya cukup imut. Karena biasanya Sarah memasang wajah dingin dan sulit untuk melihat dia tersenyum apalagi dalam keadaan tak berdaya.
Aksa masuk ke dalam peternakan game untuk melakukan pemeriksaan rutin sebelum tidur. Melihat kalau tidak ada yang tidak beres, Aksa keluar dari sana dan melompat ke tempat tidur lalu tertidur dengan nyenyak.
...----------------...
Berbeda dengan Sarah yang saat ini masih terjaga karena ia selalu membayangkan kejadian Aksa yang sedang mengusap keringat di punggungnya tadi saat ia mencoba untuk tidur.
__ADS_1
"Ahh, apa yang aku bayangkan! Aku tidak bisa menghilangkan bayangan itu dari otakku!" batik Sarah yang malu-malu.
Setelah setengah jam, akhirnya Sarah tertidur karena kondisinya masih belum sembuh dan ia dengan cepat kelelahan setelah berguling-guling untuk menghilangkan bayangan tadi.