Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Madhang Area, Area Baru milik Pemerintah


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya. Sekarang, polusi udara sudah hampir hilang, karena beberapa hari terakhir ini hujan turun yang membuat udara kotor tertutupi oleh air hujan.


Sekarang, Aksa dan Sarah sedang tidak ada di Sajaya Farm. Mereka berdua ada di area makanan dan minuman yang ada di dekat alun-alun. Ini adalah area yang baru dibuka oleh pemerintah.


"Madhang area? Ini pakai Bahasa Banyumasan ya," kata Aksa yang melihat nama area makanan dan minuman di spanduk besar.


"Tapi ini bagus, tidak memakai bahasa asing," kata Sarah sambil tersenyum. Dia cukup senang karena area ini menggunakan bahasa asli Kabupaten Banyumas.


"Nah, benar. Sepertinya pemerintah memang serius kali ini," balas Aksa yang juga tersenyum.


"Oh? Apa maksudmu pemerintah tidak serius sebelumnya?" Pada saat ini, ada suara seorang pria yang Aksa dan Sarah kenal.


"Pak Bayu, bukankah memang ada beberapa yang tidak serius?" Aksa menoleh, lalu dia berkata sambil tersenyum penuh arti.


Pria yang dikenal oleh Aksa dan Sarah itu adalah Bayu. Dia itu orang dari biro pariwisata, jadi area makanan dan minuman ini termasuk tempat wisata kuliner di Kabupaten Banyumas. Jadi Bayu juga mengurusi tempat ini.


"Aksa, aku tidak ikut-ikutan," kata Bayu sambil menghela napas panjang saat mendengar Aksa mengatakan hal itu.


"Pak Bayu, bagaimana progres tempat ini?" tanya Sarah kepada Bayu.


"Oh benar, gara-gara Aksa aku jadi lupa. Ayo, aku ajak kalian berdua berkeliling, daripada bicara di sini," kata Bayu sambil menepuk dahinya.


Bayu mengajak Aksa dan Sarah untuk berkeliling Madhang area. Aksa dan Sarah juga mengangguk karena mereka berdua cukup penasaran dengan tempat ini.


Sambil berjalan, Bayu juga menjelaskan tempat ini. Ternyata, orang yang mau menyewa tempat untuk berdagang tidak bisa sembarangan memilih tempat. Karena semuanya sudah diatur.


Madhang area memiliki tiga jalan utama yang cukup lebar. Di keenam sisi jalan, sudah diatur untuk toko-tokonya. Jalan pertama adalah restoran dan makanan berat, jalan kedua adalah kafe dan tempat nongkrong, dan jalan ketiga adalah makanan jalanan dan warung makan.


Pemerintah membagi-bagi klasifikasi bukan karena untuk membeda-bedakan, tapi agar pengunjung bisa tahu bagian mana yang harus dikunjungi. Ini juga dilakukan agar pengunjung tidak berputar-putar.

__ADS_1


"Keren juga. Sebenarnya kalau mau banyak untung, tidak perlu diklasifikasi seperti ini. Tujuannya agar pengunjung bisa berkeliling dengan bebas sampai kebingungan, kemudian mereka pasti akan membeli makanan acak," kata Aksa sambil menyentuh dagunya.


"Itu benar. Ada anggota yang mengusulkan hal ini juga. Tapi, kami ini pemerintah, bukan pebisnis. Yang diinginkan oleh pemerintah adalah respon masyarakat, kesehatan masyarakat, dan yang lain tentang masyarakat," angguk Bayu.


"Sepertinya Aksa benar, pemerintah benar-benar serius kali ini," kata Sarah sambil tertawa kecil.


"Woah, kamu keren!" Aksa mengacungkan jempolnya kepada Sarah, sedangkan Bayu hanya bisa terdiam karena Aksa dan Sarah yang serasi.


Mereka berdua terus menjelajahi Madhang area. Sudah ada beberapa pedagang yang membuka toko, tapi para pedagang itu bukan dari pemerintah, melainkan memang individu.


Akan ada beberapakali restoran atau toko yang dijalani oleh pemerintah. Nantinya, Sajaya Farm akan memasok bahan-bahan peternakan ke restoran atau toko milik pemerintah itu.


Meskipun yang akan dipasok adalah bahan-bahan kualitas D, tapi itu tidak masalah. Bahkan kualitas D saja sudah termasuk bahan kelas atas di dunia normal.


"Aksa, apa kamu mau membuka toko di sini?" tanya Bayu kepada Aksa, setelah mereka duduk di salah satu kios makanan jalanan.


"Toko? Di sini? Tidak," jawab Aksa dengan langsung setelah dia memesan minuman kepada pemilik kios.


"Kalau aku buka toko, ya para pengunjung banyak yang akan beralih ke sini. Aku mau menjual produk-produk peternakan di Sajaya Farm saja," jelas Aksa kepada Bayu tanpa berpikir panjang.


"Pak Bayu, Sajaya Farm itu tempat wisata. Kami menjual jasa dan kesenangan, makanan dan minuman bisa dibeli di sana. Kalau kami menjualnya di toko, maka kami malah seperti pedagang," tambah Sarah.


"Yah, kalian berdua benar juga. Kalau kalian membuka toko, Sajaya Farm akan sepi." Bayu menghela napas panjang, karena dia berpikir kalau otaknya perlu istirahat karena tidak bisa memikirkan hal sepele seperti itu.


Setelah beberapa saat, makanan dan minuman yang mereka pesan sudah tiba. Mereka berbincang-bincang tentang Madhang area ini sambil makan dan minum pesanan mereka.


...----------------...


Sore harinya, Aksa dan Sarah kembali ke Sajaya Farm setelah urusan di Madhang area selesai. Sajaya Farm dan pemerintah sudah resmi bekerja sama, dan tinggal menunggu satu atau dua hari lagi untuk pembukaan Madhang area.

__ADS_1


"Aksa, aku mau lanjut kerja dulu," kata Sarah kepada Aksa. Lalu tanpa menunggu tanggapan dari Aksa, Sarah langsung pergi ke kantornya.


Sementara itu, Aksa bingung mau melakukan apa. Semua pekerjaannya sudah selesai, dia juga sudah melakukan patroli tadi pagi. Tapi kemudian, dia ingat kalau sekolah adiknya akan mengadakan event.


Jadi, Aksa mengirimkan pesan kepada Elvira apakah ada waktu luang. Lalu pesannya dibalas dalam hitungan menit. Elvira mengatakan kalau kelasnya sedang kosong karena gurunya sedang rapat.


Jadi, Aksa memutuskan untuk menelepon Elvira. Setelah telepon dijawab, Aksa berkata, "Elvira, kapan sekolahmu akan mengadakan event?"


"Event? Lusa, Kak. Apa Kakak jadi berjualan di sini?" tanya Elvira kepada Aksa.


"Eh? Kakak menelepon?" Terdengar suara Elvina dari balik telepon.


"Lusa? Waktu berlalu dengan cepat ternyata. Baiklah, aku akan ke sekolah kalian setelah ini, jangan langsung pulang," kata Aksa kepada Elvira dan Elvina.


Elvira dan Elvina menggunakan motor kalau ke sekolah, jadi Aksa takut kalau mereka akan pulang duluan sebelum dirinya sampai di sekolah mereka.


"Kakak mau ke sini? Baiklah," balas Elvira.


"Kakak! Bawakan aku makanan dan minuman! Aku rindu dengan rasa Sajaya Farm," timpal Elvina sambil membayangkan rasa produk-produk peternakan Sajaya Farm.


"Kamu ini ya, baiklah, aku akan bawa beberapa nanti," balas Aksa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa daya karena adiknya yang satu ini penyuka makanan.


"Asik! Terima kasih, Kak!" kata Elvina dengan nada gembira.


Setelah itu, Aksa mengakhiri panggilan. Tapi karena Aksa tidak ada kegiatan, dia memutuskan untuk berkeliling Sajaya Farm menggunakan sepeda listrik saja.


Polusi udara sudah menipis, jadi angin bisa berhembus dengan kencang. Aksa menghirup udara segar sambil melihat-lihat pemandangan di Sajaya Farm. Dia juga membalas sapaan pengunjung yang menyapanya.


Lalu, waktu tiba saat jam pulang kerja. Aksa segera pergi ke sekolahnya Elvira dan Elvina menggunakan transportasi online. Karena tidak mungkin dia ke sana dengan motor roda tiga.

__ADS_1


"Ah, karena jam pulang kerja, banyak orang di sini," batin Aksa sambil melihat jalan yang sangat ramai dengan kendaraan dan orang berlalu lalang.


__ADS_2