
Boy mendekati kuda poni dan menyentuh bulunya dengan perlahan-lahan. Pada awalnya, Boy merasa takut karena belum pernah menyentuh kuda, tapi ketakutannya diterpa oleh angin saat menyentuh bulu lembut kuda poni itu.
Boy juga mengira kalau kuda adalah hewan yang tempramental. Kuda membutuhkan seseorang yang hebat untuk dijinakkan. Tapi dia tidak menyangka kalau kuda poni di depannya sangat berbeda.
Tapi ini sudah jelas, karena kuda poni itu berasal dari peternakan game. Sebuah peternakan yang memiliki berbagai macam hewan ternak di sana. Setiap hewan ternak mempunyai keunggulan yang jauh lebih tinggi daripada yang ada di dunia.
"Paman, aku mau kuda ini," kata Boy kepada Aksa setelah beberapa saat terdiam.
Semua anggota keluarga yang mendengar perkataan Boy sangat terkejut, karena Boy tidak pernah berbicara duluan kepada seseorang.
"Kamu pikir kamu siapa, anak muda? Bahkan kalau aku memberimu kuda poni ini, dia tidak akan mau menjadikanmu sebagai tuannya," kata Aksa sambil tersenyum.
"Bos!" Ratu berteriak karena merasa kalau perkataan Aksa terlalu berlebih. Tapi Sarah menepuk bahunya sambil tersenyum yang membuat Ratu tidak berani berbicara.
"Aksa, aku yakin kamu punya caramu sendiri," pikir Sarah yang sudah percaya kepada Aksa. Meskipun dia bingung, tapi dia juga percaya pada Aksa.
"Jadi... aku... harus apa?" tanya Boy sambil menolehkan pandangannya ke arah Aksa.
"Bentuk hubungan dengan kuda poni ini. Bermain, makan, berbicara, atau kegiatan lainnya. Ingat, jangan jadikan kuda ini bawahanmu, tapi rekanmu," kata Aksa sambil menunjuk ke arah dadanya dengan jari telunjuknya.
"Rekan..." Boy mengulangi kata terakhir yang Aksa katakan.
Seolah-olah ada kekuatan di perkataan Aksa, Boy merasa kalau jantungnya berdetak dengan kencang. Karena ini, dia mengingat kembali perasaannya dulu sebelum terjadi kekerasan dari ayahnya.
"Paman, aku mau berlatih," kata Boy dengan suara lirih, tapi Aksa bisa melihat ada tekad yang besar di matanya.
"Bagus! Kapan kita mulai? Sekarang, atau besok?" tanya Aksa dengan suara yang penuh semangat. Karena dia berhasil membujuk Boy untuk melakukan terapi kuda.
Boy mungkin akan mau untuk terapi kuda jika dia disuruh, karena Boy sendiri tidak punya keinginan apapun. Tapi hal ini tidak akan membangkitkan semangat dan Boy akan melakukan terapi kuda yang sangat lama.
__ADS_1
Namun beda ceritanya kalau Boy melakukan terapi kuda atas dasar kemauannya. Dia bisa punya semangat di dalam hatinya, dan terapi kuda bisa dilakukan dengan waktu yang lebih sebentar.
"Sekarang..." kata Boy dengan suara yang masih pelan.
Meskipun Boy sudah membangkitkan semangatnya, tapi dia masih belum bisa mengatasi rasa takutnya, karena rasa takut itu sudah tertanam di dalam dirinya sangat lama, dan tidak bisa dihilangkan begitu saja.
"Bagus. Pertama-tama, ayo naik kudanya terlebih dahulu," kata Aksa sambil tersenyum. Dia segera mengambil bangku kecil yang sudah disediakan, dan menaruhnya di samping kuda poni.
Aksa tidak membantu Boy untuk naik ke atas kuda poninya, tapi membiarkan Boy melakukannya sendiri. Ini juga bagian dari terapi kuda, membiarkan pasien berusaha terlebih dahulu sebelum dibantu.
"Terima kasih, paman..." Boy mengangguk. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menginjak bangku, menginjak pengaman kaki di sadel kuda, dan berusaha untuk naik.
Tidak mudah untuk naik ke atas kuda bagi seorang anak kecil, meskipun kudanya adalah kuda poni yang bertubuh pendek. Tapi, Boy memutuskan untuk mengikuti semangat yang pernah dia miliki di masa lalu.
Setelah beberapa saat, Boy berhasil menaiki punggung kuda poni. Semua orang bahagia saat melihatnya berhasil, bahkan Diah menangis tersedu-sedu saat melihat putranya bisa melakukan sesuatu atas kemauannya sendiri.
"Um." Boy hanya mengangguk, tapi Aksa tidak kesal ataupun marah karena Boy sudah bisa membalas perkataannya.
Kemudian, Aksa segera mengajarkan Boy untuk mengendalikan kuda. Sesekali, Aksa juga memberitahu Boy tentang apa yang kuda poni itu katakan, karena dia bisa memahami bahasa hewan.
Lalu, satu jam berlalu dalam sekejap mata. Terapi kuda sudah selesai karena Boy sudah lelah. Tidak boleh melakukan ini terlalu lama, karena terapi kuda memang sebuah perawatan jangka panjang.
"Paman, terima kasih," kata Boy yang berterima kasih kepada Aksa karena sudah membantunya.
"Santai," kata Aksa dengan nada santai, berbeda dengan sifat yang sebelumnya.
Bahkan Sarah sampai menepuk punggungnya untuk mengingatkan Aksa. Tapi Aksa tidak terlalu peduli, karena ini adalah sifat aslinya. Yang lain juga tertawa dan tidak mempermasalahkan sifat Aksa.
"Aksa, terima kasih banyak," kata Roni kepada Aksa.
__ADS_1
"Pak Roni, santai saja," balas Aksa sambil tersenyum. Dia justru berterima kasih kepada Roni karena berhasil memperkenalkan pasien.
Mereka berbicara selama beberapa saat saja, lalu Roni dan yang lain pergi meninggalkan Sajaya Farm. Aksa, Sarah, dan Ratu melambaikan tangannya ke arah mereka di depan gerbang masuk.
"Aksa, aku mau menanyakan sesuatu," kata Sarah dengan ekspresi serius yang membuat Aksa dan Ratu penasaran.
"Silakan," balas Aksa. Dia penasaran apa yang akan ditanyakan oleh Sarah sampai membuat ekspresi seperti itu.
"Kenapa udara di Sajaya Farm bersih sedangkan diluar Sajaya Farm tidak?" tanya Sarah dengan serius. Bahkan Ratu juga tercerahkan karena dia baru sadar kalau perkataan Sarah memang benar.
Aksa menepuk dahinya karena dia benar-benar lupa. Pembersihan polusi udara yang dilakukan oleh burung-burung kemarin membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
"Mungkin karena ada banyak pohon di Sajaya Farm?" kata Aksa sambil tersenyum. Dia tidak mungkin memberitahu alasan sebenarnya.
Bahkan jika Aksa memberitahu mereka berdua, dia tidak akan dipercaya. Itu wajar, orang mana yang akan percaya saat mendengar kalau burung bisa membersihkan polusi udara dengan kotoran mereka.
"Benarkah?" Sarah menyentuh dagunya dan melihat pohon-pohon di sekeliling mereka.
Sarah percaya kepada Aksa sehingga dia tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Aksa. Tapi Ratu berbeda, dia menatap Aksa dengan tatapan penuh curiga, karena dia sama sekali tidak percaya.
"Siapa yang tahu?" Aksa hanya mengangkat bahunya dan berkata dengan nada tidak serius. Kemudian, dia berjalan masuk ke dalam Sajaya Farm.
Sarah juga seperti itu, dia masuk ke dalam Sajaya Farm tanpa memikirkan apa yang dikatakan oleh Aksa. Namun, Ratu tetap ada di tempatnya sambil memikirkan perkataan Aksa tadi.
...----------------...
"Ah, aku ingat. Pak Bayu meneleponku kemarin!" Aksa berteriak karena dia akhirnya ingat apa yang dia lupakan.
Jadi, Aksa segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana, mencari nomor kontak Bayu, dan segera memanggilnya. Aksa menunggu selama beberapa saat sebelum panggilan terhubung.
__ADS_1