
"Siapa!!!" Albar berteriak dengan keras bahkan dia melempar apapun yang bisa dilempar. Vas bunga atau sesuatu yang rentan menjadi pecah.
Dia saat ini sedang berada di rumahnya, tepatnya ada di ruang kerja. Sesaat sebelumnya, dia ditelepon oleh sekretarisnya untuk melihat apa yang sedang terjadi di internet.
Pada saat itulah Albar menjadi sangat marah. Emosi yang sudah menumpuk selama beberapa hari terakhir tidak bisa ditahan olehnya, itulah mengapa saat ini dia sedang marah besar.
Sudah puluhan hari dia mencari-cari siapa yang mengambil flashdisk di dalam brankasnya. Namun semua detektif atau polisi sama sekali tidak bisa menemukan pelakunya.
Pada awalnya mereka mencurigakan sepasang kucing dan anjing yang ada di dalam kamera pengawas. Namun mereka segera membuang kecurigaannya karena tidak mungkin hewan mencuri flashdisk di dalam brankas.
Masalah ini juga tidak diberitahukan kepada publik. Jika tidak, maka publik akan tahu apa yang disembunyikan di dalam flashdisk. Meskipun begitu, video yang ada di dalamnya tetap tersebar.
"Ayah, apakah Ayah tidak akan pergi ke Jakarta? Situasi di sana cukup kacau." Kevin yang berdiri di sudut ruangan agar tidak terkena pecahan kaca berkata.
"Ayah akan pergi ke sana besok. Pesankan tiket tercepat saat ini." Albar menjawab setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkannya.
"Baik." Kevin mengangguk dengan patuh dan segera mengeluarkan ponselnya untuk mencari tiket ke Jakarta dengan cepat.
"Apakah kamu akan tetap di sini?" tanya Albar yang sudah cukup tenang kepada Kevin.
"Ya, aku masih belum bisa melupakan perbuatan Aksa," angguk Kevin dengan mata yang terlihat sangat marah dan penuh dendam.
"Terserah. Selesaikan masalah itu dengan cepat kemudian segera pergi ke Jakarta." Albar berkata sebelum keluar dari ruang kerja.
Kevin melihat ke arah kepergian Ayahnya, kemudian dia melihat ke arah ponselnya. Di layar ponsel menampilkan informasi lengkap Aksa yang sudah diselidiki oleh orang yang dia sewa.
Sekarang dia sudah tidak berani melakukan sesuatu secara terang-terangan karena reputasinya sudah rusak. Dia juga sudah takut karena sudah beberapa kali pergi ke kantor polisi.
Meskipun di kantor polisi akan ada petugas yang melindunginya, tapi entah mengapa dia merasa kalau ada seseorang yang menatapnya dengan tajam dan dia merinding saat merasakannya.
"Kurasa aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku, aku tidak ingin masalah ini terus-menerus berlarut. Bersiaplah, Aksa, aku akan membuatmu menghilang dari muka bumi." Kevin berpikir dengan mata yang sangat dingin.
__ADS_1
...----------------...
Kembali ke Sajaya Farm.
Aksa sedang melakukan pekerjaannya, layar komputernya tetap menampilkan situasi di dunia internet saat ini. Berita tentang Albar dan Kevin masih terus-menerus muncul di sana.
Bahkan sekarang lebih parah karena ada banyak media yang mulai menggali kejadian-kejadian masa lalu yang sudah tertimbun dan dilupakan oleh orang-orang.
Albar memiliki sebuah rumor yang mengatakan kalau dia memukuli karyawannya dengan tragis, namun masih belum ada bukti atau sebuah informasi fakta mengenai masalah itu.
sedangkan Kevin, dia memiliki banyak berita buruk di masa lalu. Kebanyakan adalah berita tentang Kevin yang selalu pergi ke bar malam dan mabuk-mabukan di sana, kemudian pergi ke hotel dengan seorang wanita dirangkulannya.
Sudah biasa jika ada kejadian seperti itu, tapi masalahnya Kevin adalah orang yang memiliki identitas tidak biasa. Itulah mengapa perbuatan Kevin menjadi berita negatif.
"Situasi mereka saat ini pasti sedang kritis. Akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, mereka tidak akan melakukan sesuatu kepadaku. Kedua, mereka akan mengerahkan semua kekuatan untuk melakukan sesuatu," pikir Aksa.
Pada saat ini, pintu kantor Aksa diketuk dan terdengar suara Rofiq. "Bos, apakah Bos ada waktu luang? Aku ingin membicarakan sesuatu."
Pintu kantor terbuka, Rofiq masuk ke dalam sambil membawa sebuah kotak kardus di satu tangan. Dia menaruh kotak kardus itu di atas meja setelah menganggukkan kepalanya kepada Aksa.
"Apa yang kamu bawa?" Aksa berdiri dan bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ini adalah papan nama yang sudah aku ukir, Bos." Rofiq menjawab sambil membuka kotak kardus tersebut.
Dia mengambil sebuah ukiran kayu yang sangat indah dari dalam kardus. Papan nama itu merupakan ukuran berbentuk pegunungan kecil dengan sapi yang sedang memakan rumput.
Pengerjaannya sangat halus yang memperlihatkan betapa fokusnya Rofiq saat membuat papan nama ini. Aksa juga terpukau dengan papan nama yang dibuat oleh Rofiq.
Di papan nama terdapat nama lengkap Aksa dengan jabatannya yang merupakan pemilik Sajaya Farm. Namanya juga dibuat dengan halus sehingga enak untuk dipandang.
"Pak Rofiq, apakah kamu membuat papan nama ini untukku?" tanya Aksa kepada Rofiq.
__ADS_1
"Ya, Bos. Sebenarnya bukan untuk Bos saja, tapi untuk semua karyawan. Yang memiliki kantor aku buatkan papan nama seperti ini, yang tidak memiliki kantor aku buatkan papan nama untuk di dada," jawab Rofiq.
"Woah, kamu sangat keren, bisa dilihat kalau kamu sangat memperhatikan papan nama ini karena pengerjaannya sangat halus. Tapi mengapa kamu tiba-tiba membuat papan nama?" tanya Aksa dengan heran.
Rofiq menggaruk kepalanya dan berkata, "Sebenarnya karena tim kami tidak memiliki pekerjaan khusus sehingga kami nyaman jika digaji tanpa melakukan apapun."
Aksa mengangguk dan berkata, "Jadi begitu, aku akan mncarikan pekerjaan untuk kalian karena seperti yang kamu katakan, tidak ada pekerjaan khusus. Tapi jika hal ini terjadi lagi, kamu katakan saja kepadaku."
"Baik, terima kasih, Bos!" Rofiq mengangguk dengan gembira karena Aksa bersedia untuk memberi timnya pekerjaan.
Setelah Rofiq keluar, Aksa segera mengganti papan nama biasa yang ada di atas meja dengan papan nama yang dibuat oleh Rofiq. Meja kerja Aksa adalah meja kayu, bukan besi atau plastik sehingga sangat cocok dengan papan nama baru.
Kemudian Aksa mencari informasi di komputernya terkait dengan pekerjaan tukang kayu. Dia melakukan hal ini agar bisa mendapatkan inspirasi untuk memberikan pekerjaan kepada Rofiq dan timnya.
Setelah beberapa saat, Aksa tahu pekerjaan apa yang harus diberikan. Dia langsung mengambil ponselnya dan menelepon Rofiq.
"Pak Rofiq, aku memiliki pekerjaan. Tolong buatkan patung hewan peternakan dengan jumlah sekitar 20. Ukurannya bebas asalkan bisa ditaruh di atas meja, nantinya patung ini akan dipajang untuk memperindah ruangan," kata Aksa.
Rofiq yang mendengar ada pekerjaan baru langsung membalas dengan penuh semangat. "Patung? Serahkan saja pada kami, Bos!"
Aksa mengangguk dan menutup telepon, kayu yang ada di gudang masih cukup sehingga untuk saat ini tidak perlu membeli kayu baru untuk tim tukang kayu Rofiq.
Sekarang Aksa sedang memikirkan untuk membuat minuman baru untuk restoran karena menu saat ini sudah cukup membosankan dan banyak pengunjung yang memberi saran terkait dengan hal ini.
"Aku akan membuat milk tea hangat dan dingin, milk shake, teh telur, dan es krim. Semua bahannya menggunakan susu sehingga rasanya pasti akan lebih enak," pikir Aksa.
Dia langsung menuliskan ide-idenya di komputer agar bisa didiskusikan lagi dengan yang lain. Selain susu dan telur, Aksa akan menggunakan bahan segar lainnya seperti buah-buahan.
"Membuat minuman sehat mungkin terdengar bagus karena ini adalah peternakan. Aku akan mengurangi gulanya dan diusahakan akan menggunakan rasa dari buah yang digunakan," pikir Aksa.
Aksa akan mengusahakan untuk mengurangi gula ke dalam minuman dan akan menggunakan banyak buah sehingga rasanya akan lebih segar dan tentunya akan lebih sehat.
__ADS_1
Harganya mungkin akan sedikit lebih mahal, tapi para pengunjung sudah terbiasa dengan harga yang berbeda dari harga pasar karena sudah sering membeli produk peternakan Sajaya Farm.