
"Apakah kalian bodoh?" Aksa mengatakan sesuatu yang membuat Bayu dan Satria sangat terkejut sampai mereka berdua berdiri sebagai tiba-tiba.
"Pak Aksa, meskipun saya menghormati Anda, bukan berarti Anda bisa mengatakan hal seperti itu!" teriak Satria dengan marah bahkan sampai menunjuk-nunjuk ke arah Aksa.
Bayu tidak mengatakan apapun namun dilihat dari ekspresi wajah yang ditunjukkan, ia sama marahnya dengan Bayu setelah mendengar Aksa mengatakan sesuatu yang menghina mereka dan para atasan.
"Apa? Marah? Biar aku tanya, apakah pada atasan yang berdiskusi berasal dari jurusan pariwisata? Apakah mereka mengerti soal pariwisata? Apakah mereka paham tentang psikologi penjualan?" tanya Aksa dengan nada dingin.
Tanpa menunggu jawaban mereka, Aksa melanjutkan, "Aku akui kalau ketiga saran tersebut sangat menguntungkan tapi yang aku buat ini adalah tempat wisata peternakan, bukan sebuah perusahaan bisnis."
"Lalu mengapa? Bukankah yang penting tiga saran tersebut bisa menghasilkan banyak keuntungan!?" teriak Satria yang masih marah.
Namun di samping, Bayu mengerutkan keningnya karena menyadari sesuatu dari perkataan Aksa. Ia duduk kembali dan menyuruh Satria untuk duduk juga.
Aksa memandang mereka sebentar lalu berkata, "Saran pertama, aku setuju. Sajaya Farm memang sangat luas, jadi memang dibutuhkan transportasi untuk pergi dari satu area ke area lain."
"Saran kedua, area kelas atas? Aku tidak setuju. Area kelas atas akan membuat banyak orang tidak puas karena tempat wisata adalah tempat yang membuat orang-orang bahagia."
"Jadi yang paling penting bukanlah keuntungan melainkan komentar dan kepuasan orang-orang. Berbeda dengan bisnis yang memang mengedepankan keuntungan."
"Saran ketiga apalagi, aku tidak setuju. Orang-orang yang membeli produk peternakan akan masuk ke dalam Sajaya Farm yang mana mereka membeli tiket masuk yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan penjualan terpisah."
Bayu dan Satria terdiam setelah mendengar penjelasan Aksa. Sekarang mereka paham mengapa Aksa terlihat marah dan mempertanyakan kredibilitas pada atasan yang berdiskusi.
Memang, tempat wisata bergantung pada komentar dan review orang-orang yang mengunjungi tempat tersebut. Selama pengunjung puas, mereka pasti akan memberitahu teman-teman mereka.
Jika ada area kelas atas yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu, maka pengunjung biasa akan merasa tidak puas dan malah menulis ulasan buruk dan menghentikan orang lain yang ingin berkunjung.
Dan jika melakukan penjualan terpisah, maka orang-orang hanya akan membeli produk peternakan dan tidak akan mengunjungi Sajaya Farm yang mana malah membuat pemerintah rugi.
"Kami minta maaf, Pak Aksa. Saya akan mendiskusikan hal ini kepada para atasan dan memperbaiki saran-sarannya." Bayu berdiri dan membungkukkan badannya ke arah Aksa begitu juga dengan Satria.
__ADS_1
"Yah tidak apa-apa, lagipula ada satu saran yang berguna. Itu artinya pada atasan memang berdiskusi dengan serius, namun mereka hanya dibutakan oleh keuntungan." Aksa menghembuskan napas panjang dan melambaikan tangannya.
Perkataan Aksa membuat Bayu dan Satria menghela napas lega. Kesan Aksa menjadi semakin tinggi di hati mereka karena orang ini sangat rasional dan tidak menyalahkan orang lain.
Sebenarnya bahkan jika Aksa marah-marah dan melakukan protes, Bayu juga tidak mempermasalahkan hal tersebut karena saran yang diberikan olehnya memang kurang memuaskan.
Namun Aksa tidak mempermasalahkan hal tersebut dan memuji saran pertama. Bayu menghela napas dan memutuskan untuk mendukung penuh Aksa.
"Kalau begitu, Pak Aksa. Apakah Anda akan menerapkan saran pertama?" tanya Bayu dengan hati-hati dan kali ini nadanya lebih hormat.
Aksa tidak menyadari hal tersebut, ia menjawab, "Ya, aku akan menggunakan bus sebagai transportasi dan tidak ada biaya yang dikenakan untuk menggunakan bus."
"Lalu sebagai permintaan maaf, biarkan saya yang mengurus masalah pembelian bus. Kebetulan saya memiliki teman yang tahu dengan hal-hal seperti itu," kata Bayu.
"Oh! Kalau begitu maaf merepotkan. Pak Bayu bisa membuat daftar dan mengirimkannya kepada saya. Nanti saya akan berdiskusi dengan yang lain," balas Aksa dengan nada terkejut.
Bayu tersenyum tulus dan mengangguk, "Tidak masalah. Saya dan Satria akan mengurus hal ini dengan sungguh-sungguh."
"Silakan dinikmati." Pelayan membungkukkan badannya sedikit lalu menutup pintu setelah ia keluar dari ruangan.
"Nah, silakan. Daging yang dipakai lebih enak daripada yang ada di pasaran. Saya jamin kalian berdua akan menikmatinya haha," kata Aksa sambil tertawa kecil.
"Hahaha, saya tidak akan meragukan produk peternakan Sajaya Farm. Kalau begitu, mari makan." Bayu tertawa lalu mengambil sendok dan mulai memakan hidangan di depannya begitu pula dengan Satria.
Sama seperti Eddy dan Dewi, reaksi mereka sangat terkejut setelah memasukan daging sapi ke dalam mulut mereka. Bahkan mereka tidak tahu harus mengatakan apa terhadap kelezatan itu.
"Pak Aksa, aku jamin setelah produk ini diketahui oleh publik, Sajaya Farm akan kebanjiran pengunjung!" teriak Satria dengan penuh semangat.
"Apa yang Satria katakan benar, Pak Aksa!" Bayu mengangguk dan setuju dengan perkataan Satria.
"Hahaha, aku tahu hal itu. Tapi kita harus menunggu selama satu bulan terlebih dahulu," kata Aksa sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanan dan berbincang-bincang sebentar, Bayu dan Satria memutuskan untuk kembali ke kantor mereka dan membicarakan terkait dua saran yang tidak berguna itu.
Aksa mengantar mereka sampai di restoran saja dengan wajah tersenyum. Tapi saat Bayu dan Satria tidak terlihat, senyum di wajah Aksa menghilang dan dia menghela napas panjang.
"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu dengan pembicaraan kalian?" Sarah datang menghampiri Aksa dan bertanya karena melihat Aksa menghela napas panjang.
"Yah, begini..." Aksa memberitahu hal-hal yang terjadi di ruangan pribadi tadi saat berbicara dengan Bayu dan Satria.
"Jadi begitu, yah, kamu memang punya hak untuk marah. Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti itu," angguk Sarah yang paham mengapa ekspresi wajah Aksa terlihat salah.
...---------------...
Satu minggu kemudian, kemarin kandang sapi potong dan ayam potong sudah selesai dan hari ini Aksa segera pergi ke Sajaya Farm pagi-pagi sekali sebelum para karyawan bangun.
Aksa mengeluarkan banyak sapi potong dan ayam potong dari peternakan game ke kandang masing-masing hewan. Setelah itu ia mengamati apakah kedua hewan merasa tidak nyaman atau stres.
"Sepertinya mereka baik-baik saja, syukurlah. Lalu, nanti aku akan meminta Lisa untuk membuat video pemberitahuan," pikir Aksa.
Aksa menaiki motor roda tiganya dan pergi ke gudang karena ia langsung ke Sajaya Farm setelah mandi. Seperti biasa ia mengambil produk peternakan dan kali ini ada tambahan yaitu daging sapi dan daging ayam.
Aksa sudah membeli freezer besar untuk daging sapi dan daging ayamnya. Jadi, daging-daging tersebut tidak akan membusuk dan tetap awet.
"Galih, tolong bawa ini ke area penjualan ya," kata Aksa kepada Galih yang sudah siap siaga.
"Siap, Bos!" Galih segera meminta penjaga keamanan lain untuk membantunya membawa produk-produk peternakan ke area penjualan.
"Oh, Bos! Apakah daging-dagingnya akan dijual hari ini?" Galih memperhatikan kalau ada banyak daging di motor roda tiga Aksa.
"Ya! Aku akan meminta Lisa untuk membuat video pemberitahuan, apakah kamu tahu Lisa ada di mana? Aku sudah meneleponnya tapi tidak dijawab," tanya Aksa.
"Kalau tidak salah tadi saya lihat Lisa sedang berada di area sungai. Saya akan menelepon penjaga yang ada di sana, Bos tunggu saja di kantor," kata Galih.
__ADS_1
"Oh, terima kasih." Aksa mengangguk dan tidak menolak usulan Galih. Lalu ia pergi ke kantornya dan melakukan beberapa hal.