Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Boy Memberanikan Dirinya Agar Bisa Sembuh


__ADS_3

Lama terapi kuda dapat bervariasi tergantung pada tujuan, kebutuhan individu, dan respons terhadap terapi. Terapi kuda biasanya dilakukan secara berkelanjutan selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan.


Bahkan beberapa orang mungkin dengan kondisi khusus memerlukan sesi yang lebih panjang dan terapi jangka panjang, yang lebih lama dari yang lain.


Terapi kuda sering dilakukan dalam sesi yang berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit, dan frekuensinya mungkin berkisar dari beberapa kali seminggu hingga satu atau dua kali sebulan, tergantung pada situasi individu.


Untuk kunjungan hari ini adalah percobaan terlebih dahulu. Percobaan apakah Boy bisa melakukan terapi kuda, melihat bagaimana kondisi Boy, serta melihat bagaimana efek terapi kuda terhadap trauma yang dialaminya.


...----------------...


"Bu Diah. Boy suka hewan apa?" tanya Aksa kepada seorang wanita setengah baya yang memiliki raut wajah yang khawatir.


Dia sedang berada di ruang istirahat bersama yang lain. Wanita yang ditanyai oleh Aksa adalah ibunya Boy. Dia perlu bertanya hal apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh Boy.


Alasannya adalah agar dia bisa berbicara dengan lancar dengan Boy. Hal ini bisa membuat komunikasinya menjadi lebih baik. Ada juga kemungkinan kalau Boy bisa membuka hatinya.


"Um, Boy suka hewan yang ganas. Seperti harimau, singa, serigala, bahkan dinosaurus, haha. Alasannya, dia ingin menjadi pemberani seperti mereka," jawab Diah sambil mengenang masa lalu.


Setelah jeda, dia melanjutkan, "Hewan yang dia benci adalah sesuatu yang melata. Alasannya, mantan suamiku memelihara ular."


Aksa bisa mendengar kalau suara Diah berubah menjadi datar saat menyebut mantan suaminya. Yah itu wajar, karena mantan suaminya melakukan kekerasan kepada anaknya.


"Baiklah," angguk Aksa. Dia juga bertanya kepada yang lain seperti ayah tirinya, pamannya, bibinya, dan yang lain.


Aksa mengajukan pertanyaan yang sederhana kepada mereka. Seperti makanan kesukaan Boy, hobinya, apakah dia sering tersenyum, dan lain sebagainya.


Jika dilihat secara normal, pertanyaan Aksa tidak bermutu karena menanyakan hal yang acak. Tapi ini menyangkut pasien PTSD, jadi semua kemungkinan bisa terjadi di sini.

__ADS_1


"Dia keluar," kata Sarah sambil menyentuh tangan Aksa.


Aksa mendongak dan melihat kalau Boy sudah memakai peralatan pelindung. Tapi dia bisa melihat kalau wajah Boy cukup pucat dan matanya juga sedikit kosong.


"Wajahnya sangat pucat," kata Sarah yang merasa kasihan dengan Boy.


"Dia seperti tidak punya energi kehidupan," kata Aksa. Dia mengambil langkah maju, namun beberapa orang di sekitarnya khawatir apakah Boy bisa menerima Aksa atau tidak.


Aksa berhenti di depan Boy, lalu dia berjongkok. Boy langsung ketakutan saat melihat ada pria dewasa di depannya. Saat Boy hendak lari untuk bersembunyi, dia mendengar suara Aksa.


"Apa kamu ingin bangkit?" kata Aksa dengan nada tenang yang membuat Boy tidak jadi lari.


Boy menoleh ke arah Aksa, tapi tidak berani menatap matanya. Aksa tersenyum karena Boy tertarik dengan perkataannya barusan.


"Kamu bisa paham kata-kataku tadi. Itu artinya kamu punya keinginan untuk sembuh. Katakan, apa alasanmu untuk sembuh?" Aksa berkata dengan nada yang tenang seperti air.


Bahkan Diah mencoba untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Dia sudah sering melihat anaknya murung seperti itu, sampai-sampai emosinya ikut berubah menjadi lebih sensitif.


"Ada monster di dalam tubuhmu, yang membuatmu tidak bisa bicara. Mengapa kita tidak berlatih untuk mengalahkan monster itu? Apakah kamu mau berlatih denganku?" tanya Aksa dengan suara lembut namun tegas.


Aksa menggunakan beberapa kata yang cukup aneh. Tapi dia perlu melakukan hal ini, karena anak-anak lebih bisa memahami imajinasi mereka sendiri.


Dan ini Aksa lakukan agar Boy bisa memahami situasi dirinya sendiri. Boy akan menganggap kalau dia sakit karena seorang monster, dan dia harus berlatih, yang merupakan terapi kuda, agar bisa sembuh.


"A... a... aku mau..." Boy berkata dengan nada lirih setelah beberapa saat terbata-bata.


Suaranya tidak bisa didengar oleh orang selain Aksa, jadi mereka tidak mengubah wajahnya. Tapi Aksa tersenyum cerah, dia berdiri dan menepuk kepala Boy dengan lembut.

__ADS_1


Boy merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Biasanya, dia akan lari ketakutan karena melihat pria dewasa. Tapi sekarang, entah mengapa dia tidak berpikir untuk lari meskipun masih ada rasa takut.


Yang lain juga terkejut, apalagi anggota keluarga Boy. Mereka adalah yang paling tahu tentang kondisi Boy, jadi mereka sangat terkejut karena Aksa bisa menepuk kepala Boy.


"Ahh..." Bahkan Diah tidak bisa menahan air matanya agar tidak keluar. Dia menangis dan memeluk pria setengah baya di sampingnya.


"Bagus, Boy, kan? Aku Aksa. Aku akan menjadi pelatihmu hari ini. Jadi, petualang muda, ayo kita berlatih!" Aksa mengangkat tangannya dan berteriak dengan penuh semangat.


Boy tidak pernah melihat orang yang sangat bersemangat seperti Aksa. Tapi entah mengapa dia merasa kalau ini menarik, jadi dia juga mengangkat tangannya, meskipun dia tidak berteriak karena masih takut.


"Pertama, peralatan pelindung sudah dipakai, bagus-bagus. Kedua, keinginan untuk berlatih sudah ada, bagus-bagus. Ketiga, keberanian, apakah kamu punya keberanian?" tanya Aksa dengan serius.


Boy merasa ketakutan saat melihat wajah Aksa yang serius, tapi dia mendengar pertanyaan Aksa. Jadi, dia memberanikan diri untuk menganggukkan kepalanya.


Meskipun itu hanyalah sebuah anggukan kepala biasa, tapi itu artinya Boy sudah bisa mulai berkomunikasi. Aksa tentu saja senang dengan hal ini, jadi dia segera meminta karyawannya untuk membawa kuda.


Kuda yang akan digunakan adalah kuda poni, karena ini cocok untuk anak-anak. Apalagi hari ini hanyalah untuk percobaan dan pengamatan terlebih dahulu.


Jika Boy sudah berkembang, tidak menutup kemungkinan kalau dia bisa mengganti kudanya. Tapi tentu saja meskipun bisa, itu sangat sulit. Karena Boy harus mengatasi rasa takut di dalam hatinya.


"Ini adalah rekan seperjuangan mu mulai sekarang. Coba sentuh dia. Jangan khawatir, ada aku di sini," kata Aksa sambil tersenyum lembut.


Boy melihat Aksa, lalu melihat kuda poni di depannya. Dia pernah melihat di televisi kalau ada ksatria yang menunggang kuda. Tapi dia belum pernah melihat kuda poni sebelumnya, dan dia merasa sedikit kurang senang.


Aksa tentu saja tahu apa yang Boy pikirkan. Jadi dia berkata, "Jangan berlebihan. Lakukan apa yang kamu bisa lakukan. Kuda poni ini cocok untuk pemula sepertimu. Kenali batasanmu, tapi jangan berkecil hati."


Boy memikirkan perkataan Aksa. Kemudian dia juga ingat kala ksatria yang menunggangi kuda besar adalah orang dewasa. Dia melihat anggota tubuhnya yang masih kecil. Jadi dia mengangguk dan berjalan mendekati kuda poni itu.

__ADS_1


"Bagus, tetap tenang. Hati dan kepala yang tenang bisa menyelesaikan hampir semua masalah," kata Aksa kepada Boy.


__ADS_2