
Setelah istirahat makan siang, Aksa dan Sarah berkeliling Sajaya Farm untuk mencerna makanan. Sambil berbincang-bincang, Aksa juga disapa oleh para pengunjung.
Kepopuleran Aksa memang tidak sebesar Lisa, tapi para pengunjung yang mengenal Aksa selalu menyapa atau tidak hanya sekedar senyum dan menganggukkan kepala saat berpapasan.
"Kamu cukup populer juga," kata Sarah yang melihat kalau ada cukup banyak pengunjung yang mengapa Aksa.
"Terima kasih kurasa? Kamu juga bisa menjadi populer jika tampil di depan kamera, Sarah," balas Aksa sambil melirik Sarah.
"Tidak mau." Sarah tetap dengan tegas menolak untuk tampil di depan kamera.
Selang beberapa waktu, ponsel Sarah berdering dan yang menelepon adalah salah satu karyawan Sajaya Farm. Ia mengetuk tombol jawab dan berbicara dengan sisi lain.
"Ada apa?" tanya Sarah dengan nada datar seperti biasanya.
Karyawan di sisi lain sudah terbiasa, ia pun menjawab, "Kak Sarah, penjualan tiket villa dan kamar sudah terjual habis, dan tidak akan ada villa dan kamar sampai tiga hari berikutnya."
Sarah mengangkat alisnya karena jujur ia terkejut mendengar hal tersebut. "Baiklah. Tapi, apakah ada alasan mengapa tiket villa dan kamar terjual habis? Kita semua tahu kalau orang-orang Banyumas tidak menginap di sini."
"Ya. Saya mengetahuinya, mereka semua ingin mencoba BBQ kita karena melihat postingan orang-orang yang telah memanggang BBQ sebelumnya," jawab si karyawan.
Sarah mengangguk dan berkata, "Begitu, terima kasih."
Setelah menutup telepon, Sarah segera memberitahu hal tersebut kepada Aksa. Sama sepertinya, Aksa juga sedikit terkejut kalau tiket pemesanan villa dan kamar sudah terjual habis.
Aksa sangat gembira karena rencana menarik lebih banyak orang dengan membangun tempat menginap dan area BBQ berhasil sampai tiket villa dan kamar terjual habis dalam waktu satu hari.
Dengan cara ini, akan ada banyak orang dari luar kabupaten atau bahkan luar provinsi yang datang ke Sajaya Farm karena mereka bisa menginap di sana daripada harus mencari hotel.
Namun, untuk saat ini, jika ingin memesan villa dan kamar, Sajaya Farm masing menggunakan sistem siapa cepat dia dapat, Aksa belum menambahkan fungsi reservasi selama hari tertentu seperti itu.
Karena ini masih hari pertama dan masih dalam tahap uji coba apakah banyak orang yang menginap. Setelah tahu kalau tiket villa dan kamar terjual habis, Aksa berniat untuk menambah fungsi reservasi.
Meskipun dikatakan kalau tiket villa dan kamar terjual habis, sebenarnya masih ada 10 villa yang kosong. Kesepuluh villa tersebut akan digunakan untuk orang-orang kaya atau berstatus.
Mereka adalah pelanggan kelas atas dan tentunya harus dilayani dengan pelayanan terbaik. Itulah mengapa Aksa akan menggunakan 10 villa terbaik untuk para pelanggan kelas atas.
...----------------...
Waktu sudah sore hari, karena sekarang Sajaya Farm sudah buka selama 24 jam. Karyawan di sana jadi bertambah banyak dan harus menggunakan sistem shift agar bis membagi waktu.
Tapi tentu saja Aksa dan Sarah pulang seperti biasa di jam empat sore. Sekarang, Aksa menggunakan motor roda tiga di depan dan di belakangnya terdapat Sarah yang sedang mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
Mereka pulang bersama karena Sarah mengatakan kalau dia ingin makan malam bersama dengan keluarga Aksa karena keluarganya tidak akan pulang malam ini karena pekerjaan.
Aksa tentu saja mempersilakan Sarah, oleh karena itu sebelum pulang ia sudah mengirimkan pesan ke ponsel ibunya untuk memasak makan malam lebih banyak.
"Aku pulang!!" teriak Aksa sambil melepas sepatunya dan memakai sandal rumah.
Sarah juga melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu, Aksa membuka lemari kecil di samping rak sepatu untuk mengambil sandal rumah dan menyerahkannya kepada Sarah.
Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga di mana Elvira dan Elvina sedang menonton televisi sambil mengerjakan tugas mereka.
"Kak Sarah!" Mereka berdua jelas terkejut dengan kedatangan Sarah dan segera memanggilnya untuk duduk di dekat mereka berdua.
"Apakah kalian sedang mengerjakan tugas?" tanya Sarah setelah duduk di antara mereka berdua dan melihat buku catatan mereka.
Mendengar pertanyaan Sarah, Elvira mengangguk dan menjawab, "Ya, kami disuruh untuk membuat sebuah rangkuman salah satu bab dan harus diselesaikan dalam waktu satu minggu."
"Gurunya sangat kejam, bab yang kita rangkum berisi banyak informasi dan kami harus merangkumnya dalam waktu satu minggu saja." Elvina menghela napas panjang.
"Fufufu, terima saja, tugas itu adalah salah satu rintangan yang harus dihadapi kalian," kata Sarah sambil tertawa kecil.
Hanya saat di keluarga Aksa dia bisa banyak tersenyum dan tertawa. Mungkin karena terbawa suasana keluarga ini yang sangat harmonis apalagi Elvira dan Elvina yang imut dan lucu.
"Hey, ke mana Ayah dan Ibu?" Aksa berjalan menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi gelas yang diisi jus.
"Begitu." Aksa mengangguk dan duduk di sofa sambil menonton televisi.
Ia juga sedang memikirkan untuk menggunakan cairan spiritual untuk hewan apa saja karena cairan ini bisa digunakan untuk 100 hewan dan itu merupakan jumlah yang cukup besar.
Bersamaan dengan itu, Aji dan Ani masuk ke dalam rumah sambil membawa tas belanja. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menggunakan tas belanja pribadi dibanding dengan kantung plastik.
"Ibu!! Apakah pudingnya ada?" Elvina langsung berlari menghampiri Ani dan bertanya dengan mata berbinar-binar.
"Kamu ini ya, tenang saja, ini puding yang kamu mau." Ani menggeleng-gelengkan kepalanya tak berdaya dan menyerahkan beberapa puding dengan berbagai rasa kepada Elvina.
"Terima kasih, Ibu!" Elvina mencium pipi ibunya dan berlari kembali ke depan televisi.
"Halo, Paman, Bibi." Sarah berdiri dan mengapa mereka berdua.
Ani mengangguk dan berkata dengan nada gembira, "Oh, Sarah! Kamu duduk saja, kami akan memasak terlebih dahulu."
"Baik." Sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedikit.
__ADS_1
"Ah!! Kakak nakal!" Terdengar teriakan kesal Elvina saat ini. Sarah segera menoleh dan melihat kalau Aksa sedang memakan puding milik Elvina.
"Oh ya, aku minta maaf." Meskipun begitu tidak ada nada penyesalan di perkataan Aksa yang membuat Elvina semakin kesal.
Elvina mengambil bantal di sofa dan melemparkannya ke arah Aksa. Tentu saja Aksa dengan mudahnya menghindari banyak tersebut karena dia sudah terbiasa.
Elvina yang melihat hal itu segera melemparkan banyak lagi dan lagi. Dia menjadi semakin kesal karena Aksa berhasil menghindari semuanya, jadi ia maju dan langsung menerkam Aksa.
Sarah tercengang karena dia belum pernah melihat situasi pertengkaran antara saudara. Ia menoleh ke arah Elvira yang sedang duduk dengan diam sambil memakan puding yang diberikan oleh adiknya.
Elvira merasakan tatapan Sarah, ia pun berkata, "Kak Sarah, biasakan saja. Dari dulu mereka memang seperti ini, dan meskipun begitu, Kak Aksa yang selalu memenangkan pertarungan."
"Ah? Apakah Vina tidak pernah menang?" tanya Sarah dengan penasaran karena dia cukup tertarik.
Elvira menyerahkan puding kepada Sarah dan berkata, "Ya, Kak Aksa adalah yang terkuat. Dulu kami bisa mengadu kepada Ayah dan Ibu, tapi sekarang mereka bahkan berada di pihak Kak Aksa."
Sarah memakan puding yang diberikan oleh Elvira dan berkata, "Jadi begitu. Kalian berdua adalah target yang mudah ditindas oleh Aksa ya."
"Bukan kami, tapi Elvina." Elvira berkata sambil menahan tawanya.
Sarah juga tertawa kecil, ia pun berkata, "Kalau begitu jika Aksa mengganggu, kalian bisa mengadu kepadaku. Aku yang akan melawan Aksa."
Kebetulan sekali Elvina mendengar perkataan Sarah, ia segera menghentikan pertarungannya dengan Aksa dan menatap Sarah dengan tatapan kagum.
"Apakah itu benar, Kak Sarah!?" tanya Elvina dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja." Sarah mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Hahaha, Kakak! Apakah Kakak mendengar itu!? Kak Sarah sekarang berada di pihak kami!" Elvina menatap Aksa dengan arogan karena dia mendapatkan bantuan.
"Meskipun begitu kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku," kata Aksa dengan nada mengejek.
"Ahh!" teriak Elvina dengan kesal dan akan memulai pertarungan sebelum pada akhirnya dihentikan oleh Ani karena makan malam sudah siap.
Jadi, mereka segera berjalan menuju ruang makan dan duduk di kursi. Sarah sedikit terkejut melihat ada berbagai macam jenis makanan mulai dari ikan, ayam, sayur, sosis, dan lain sebagainya.
"Bibi, apakah Bibi yang memasak semua ini?" tanya Sarah dengan nada kagum.
"Hahaha, memang Bibi yang memasak semua ini, tapi Paman juga membantu Bibi," kata Ani sambil tertawa bahagia karena dipuji oleh Sarah.
"Ayahku memang selalu membantu Ibu memasak," kata Aksa yang sedang menyiapkan piring untuk mereka semua.
__ADS_1
Mereka kemudian makan malam bersama dengan harmonis dan diiringi dengan canda tawa. Seperti biasa makan malam mereka tidak tenang karena kadang-kadang Aksa dan Elvina membuat masalah seperti berebut lauk pauk.
Tapi hal inilah yang membuat makan malam keluarga mereka berasa sangat nyaman. Bahkan Sarah juga banyak tersenyum dan tertawa saat makan bersama mereka.