
Elvira dan Elvina pada awalnya panik karena pria di depan mereka ingin melakukan sesuatu. Tapi mereka menjadi tenang karena melihat ada sosok yang mereka harapkan untuk datang menyelamatkan mereka.
Namun mereka tidak berteriak karena tahu jika berteriak maka sosok itu akan ketahuan dan para penculik akan bergegas untuk menghentikan sosok itu agar tidak mendekat.
Sosok itu tentu saja adalah Aksa, dia berlari dengan sangat cepat ke arah pria yang ada di depan kedua adiknya. Dia melompat dan menendang pinggang pria itu dengan keras sampai terjatuh.
"Siapa!?" teriak pria yang ditendang oleh Aksa sampai terjatuh.
"Malaikat pencabut nyawa!" Aksa menginjak perut pria itu dengan keras, memegang tangannya dan melempar dengan mudah seolah-olah pria itu adalah benda mati.
"Elvira, Elvina, tutup mata kalian." Aksa tersenyum cerah kepada kedua adiknya.
"Um!" Mereka berdua mengangguk dan segera menutup mata dengan patuh.
"Siapa!!?" Bos penculik melihat seseorang di depan dua orang yang ia culik.
"Yo." Aksa menyapa mereka dengan santai seolah-olah mereka adalah teman baik.
Wajah Bos penculik berubah menjadi muram, dia mengenali Aksa karena dia sudah memeriksa informasi yang diberikan oleh Kevin kepadanya. Ia berpikir dengan cepat bagaimana bisa Aksa ke sini.
Namun sebelum dia bisa sampai ke kesimpulan yang tepat, anak buahnya maju ke arah Aksa sambil berteriak. Bos penculik mencoba untuk menghentikan anak buahnya namun sudah terlambat.
"Matilah kamu!!" Anak buah bos penculik berteriak sambil memukul Aksa dan postur tubuhnya seperti seorang ahli tinju.
"Oh? Seorang ahli malah menjadi penculik?" Aksa berkata dengan nada heran sambil memiringkan kepalanya dengan mulus untuk menghindari pukulan pria itu.
Aksa mengulurkan kedua tangannya untuk memegang bahu dan tangan kiri pria itu, kemudian ia mengangkat dan membanting pria itu ke tanah dengan kencang.
Sebelum dia bisa beraksi, beberapa pria sudah mendekati Aksa dan akan memukulnya. Aksa tidak bisa menghindari semua pukulan, jadi dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menepis pukulan-pukulan yang datang.
Tangan Aksa bisa digerakkan dengan sangat mudah karena cukup lentur. Itu karena dia memiliki keahlian memasak yang mengharuskan tangan bergerak dengan cepat dan tepat.
Jadi meskipun Aksa tidak mempelajari seni bela diri, Aksa bisa dengan mudah mengalahkan semua anak buah bos penculik karena keahlian memasaknya dan tubuh yang sudah ditingkatkan menjadi tiga kali lipat.
Jadi, pemandangan yang mengejutkan terjadi. Semua anak buah bos penculik berbaring di tanah dengan kesakitan. Ada yang memegangi perut, lengan, pinggang, betis, dan bagian tubuh lainnya.
__ADS_1
Aksa sudah mengendalikan kekuatannya agar tidak sampai membunuh seseorang. Ia tidak memiliki masalah dengan para penculik ini, melainkan dengan bos di belakang layar.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana kamu bisa mengalahkan semua anak buahku dengan mudah bahkan mereka tidak bisa melawan?" Bos penculik berkata dengan nada tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Aksa mengangkat bahunya dan berkata, "Hm? Itu mudah, aku lebih kuat dari mereka. Lagipula, mereka ini hanya mempunyai tubuh yang kekar namun tidak bisa memanfaatkannya dengan baik."
Bos penculik terdiam, meskipun dia tahu kalau anak buahnya hanya memiliki penampilan yang garang namun keahlian mereka setara dengan sampah, tapi masalahnya adalah Aksa sama sekali tidak tergores.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Menyerah dengan damai atau berkonfrontasi dengan kekerasan?" Aksa menatap bos penculik dengan tatapan tenang.
"Gila, aku hanya memiliki keahlian tinju dasar. Jika dia memukul titik vital, maka bisa dipastikan kalau aku langsung kalah," pikir bos penculik.
Jadi, setelah memikirkan pro dan kontra, bos penculik mengangkat kedua tangannya tanda bahwa ia memutuskan untuk menyerah. Meskipun dia ini penjahat, tapi dia juga manusia yang memiliki rasa takut.
Jadi, dia berpikir kalau lebih baik dimasukkan ke dalam penjara tanpa luka daripada masuk ke penjara dengan tubuh penuh luka setelah bertarung dengan Aksa yang seperti monster itu.
"Keputusan yang bagus. Sekarang ceritakan siapa yang memerintahkan kalian untuk melakukan hal ini." Aksa mengangguk puas dan mengeluarkan ponselnya untuk mereka.
Tapi sebelum mulai merekam, dia melepaskan tali yang mengikat tubuh kedua adiknya dan lakban yang menutupi mulut mereka.
Itu wajar karena mereka hanyalah gadis sederhana yang tiba-tiba diculik. Bisa tetap tenang tanpa memberontak juga sudah bagus, tidak seperti orang biasa yang menangis atau melakukan sesuatu yang bodoh.
"Baik, baik, aku ada di sini." Aksa menepuk-nepuk punggung mereka berdua mencoba untuk menenangkan mereka.
Setelah beberapa saat, Elvira dan Elvina sudah tenang. Mereka menghapus air mata di sudut mata mereka dengan punggung tangan. Aksa mengangguk dan mulai merekam menggunakan ponselnya.
"Sekarang, katakan," kata Aksa dengan nada tenang.
Bos penculik mengangguk dengan cepat dan mulai menjelaskan. "Yang memerintahkan kami adalah musuh Anda, Kevin. Dia menyuruh kami untuk mengacaukan Sajaya Farm, namun aku memutuskan untuk menculik adikmu."
Setelah mendengarkan penjelasan bos penculik, Aksa sudah paham apa yang terjadi. Seperti yang ia pikirkan, yang memerintah mereka adalah Kevin namun yang memutuskan untuk menculik kedua adiknya adalah bos penculik.
"Hm, terima kasih atas penjelasannya. Berikan ponselmu." Aksa mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel bos penculik.
Bos penculik memberikan ponselnya dengan patuh..Kemudian setelah Aksa menyimpannya, ia memukul wajah bos penculik dengan keras sampai membuatnya pingsan.
__ADS_1
"Kakak!?" Elvira dan Elvina terkejut dengan tindakan kakaknya.
"Meskipun dia sudah membantu kami, tapi dialah yang memutuskan untuk menculik kalian berdua. Jadi sebuah pukulan sudah cukup untuk membalasnya," kata Aksa dengan santai.
Elvira dan Elvina merasakan arus hangat mengalir di dada mereka. Meskipun mereka selalu bertarung dengan Aksa, tapi mereka tahu kalau Aksa adalah kakak yang bisa diandalkan.
"Ini, minum." Aksa menyerahkan susu sapi kualitas C kepada kedua adiknya dan menyuruh mereka untuk beristirahat di sekitar.
"Terima kasih, Kak." Elvira dan Elvina berterima kasih dan langsung meminumnya. Mereka tidak bertanya dari mana susu sapi itu berasal karena yang mereka butuhkan adalah susu sapi itu.
Sementara itu Aksa memindahkan semua penculik yang pingsan dan mengikat mereka dengan tali. Setelah selesai, dia menghampiri kedua adiknya dan berbincang-bincang dengan mereka.
Mereka tidak pergi karena perlu menunggu polisi datang, karena jika saat polisi datang namun mereka tidak ada, mereka akan dicurigai apalagi Aksa membuat semua penculik pingsan.
"Kakak, bagaimana Kakak datang ke sini dengan cepat?" tanya Elvira dengan penasaran karena jarak sekolah mereka dan pabrik terbengkalai ini cukup jauh.
"Ah! Aku lupa!" Aksa berdiri dan berlari ke luar pabrik. Kemudian saat ia kembali, Zoe berada di sisinya.
"Dia namanya Zoe, anjing yang aku temukan di dekat taman. Dialah yang menemukan kalian dengan cara mengendus dompet kalian," kata Aksa.
"Guk!" Zoe menggonggong dengan gembira karena tahu kalau dua gadis di depannya adalah adik dari pemilik barunya.
"Anjing!" Elvira dan Elvina terkejut dan berniat untuk memeluk Zoe. Namun dihentikan oleh Aksa karena tubuh Zoe masih kotor dan banyak sekali kumannya.
Kemudian setelah beberapa menit, sirine polisi terdengar dari jauh dan terdengar suara rem mobil di luar pabrik terbengkalai ini.
Beberapa orang berseragam masuk ke dalam dengan hati-hati, mereka adalah polisi yang dipanggil oleh Aksa. Pada polisi yang masuk dengan hati-hati tercengang karena melihat ada banyak pria yang diikat.
Kemudian mereka melihat kalau ada satu pria tampan dan dua gadis kembar sedang melihat ke arah mereka. Setelah saling memandang satu sama lain, para polisi akhirnya tersadar.
"Diam di tempat dan angkat tanganmu!" Seorang polisi berkata kepada mereka bertiga sambil mengarahkan pistol.
Mereka bertiga tentu saja Aksa dan kedua adiknya. Mereka tidak mengangkat tangan dan hanya berdiam diri di tempat sambil memandang para polisi.
"Kubilang angkat tanganmu!" teriak polisi itu.
__ADS_1
"Pak, tadi Anda menyuruh kami untuk diam di di tempat. Sekarang Anda menyuruh kami untuk mengangkat tangan. Yang mana yang harus kamu lakukan?" tanya Aksa dengan nada polos.