
Yang tidak Aksa duga adalah ada banyak orang yang mengunjungi Sajaya Farm hari ini. Bahkan jika dihitung secara kasar, pengunjung hari ini adalah yang terbanyak sejak Sajaya Farm buka.
Reputasi Universitas Indonesia memang tidak bisa diremehkan, meskipun banyak orang yang bukan dari sana, tapi mereka penasaran bagaimana kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia.
Beberapa orang juga membawa kamera sendiri yang digantung di leher atau dibawa menggunakan tas. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang tertarik dengan fotografi.
Meskipun ramai, mereka tetap kooperatif dan tidak saling berdesakan. Galih dan penjaga keamanan lain juga mengatur barisan dan mengamati pengunjung agar tidak terjadi keributan.
...----------------...
Sementara itu persiapan Rina dan teman-temannya belum selesai, Aksa memberitahu kalau kegiatan akan siap pada pukul 10 pagi. Para pengunjung yang mendengar hal tersebut berkeliling Sajaya Farm untuk mengisi waktu.
"Rina, apakah kamu siap?" tanya Aksa sambil tersenyum.
Rina saat ini sedang membersihkan lensa kamera, mendengar pertanyaan Aksa, ia tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Kakak ipar. Aku rasa kegiatan kali ini akan lebih menyenangkan karena ada banyak orang yang melihat kami."
Aksa mengangkat alisnya dan bertanya, "Oh? Apakah kegiatan sebelumnya hanya sedikit orang yang melihat?"
Rina mengangguk dan menjawab, "Ya. Bukan karena orang-orang tidak ingin melihat, tapi karena kegiatan sebelumnya dibatasi dan tempatnya juga tidak mendukung untuk banyak orang."
"Jadi begitu. Lalu, di kegiatan kali ini kamu harus mencurahkan semangatmu," kata Aksa.
"Tentu saja!!" teriak Rina dengan penuh semangat seperti biasa. Sifat Rina mirip dengan Elvina yang selalu ceria dan bersemangat.
...----------------...
"Permisi, bisakah aku mengambil foto kamu dengan Simba?" Seorang pria yang membawa kamera bertanya kepada Sarah yang sedang menggendong Simba.
Pria itu melihat kalau maskot Sajaya Farm sedang digendong oleh wanita cantik. Ia memutuskan untuk bertanya apakah diperbolehkan untuk mengambil foto.
"Tidak." Sarah menolak dengan tegas karena dirinya tidak suka difoto.
Pria tersebut berakhir kecewa, namun saat ia berbalik dan akan berkeliling, Sarah memanggilnya dan meminta pria tersebut mengambil foto Simba dengan Elvira dan Elvina saja.
"Terima kasih banyak!" Pria tersebut mengangguk dan berterima kasih dengan tulus.
__ADS_1
Elvira dan Elvina juga tidak keberatan, mereka tidak demam panggung dan melakukan berbagai gaya yang lucu. Simba juga bertindak kooperatif dan tidak melawan.
Kemudian, semakin banyak orang yang berdatangan untuk mengambil foto mereka bertiga. Elvira dan Elvina pada awalnya bahagia, namun lama-kelamaan mereka mulai lelah.
Tapi melihat antusiasme orang-orang di depan, mereka tidak berani untuk mengakhiri sesi foto. Kebetulan Sarah melihat ekspresi wajah mereka berdua dan segera menghentikan sesi foto.
"Permisi, sepertinya mereka berdua sudah lelah. Mengapa kalian tidak mengambil foto pemandangan Sajaya Farm saja? Ada banyak hal indah di sini dan kalian pasti akan puas," kata Sarah dengan sopan.
Orang-orang yang memegang kamera juga menyadari kalau mereka sudah berlebihan. Mereka mengangguk dan berterima kasih kepada Elvira dan Elvina sebelum pergi mengambil foto di tempat lain.
"Terima kasih, Kak Sarah." Elvira dan Elvina menghela napas lega dan berterima kasih kepada Sarah yang sudah membantu mereka.
Sarah tertawa kecil dan berkata, "Haha, sama-sama. Jika kalian sedang dalam situasi seperti itu, kalian harus berani. Jika tidak, mereka akan terus mengambil foto dan kalian malah menjadi terlalu lelah."
Elvira mengangguk dengan sungguh-sungguh dan berkata, "Benar. Kami baru pertama kali dihadapi dengan situasi seperti itu, jadi kami belum bisa merespon."
Elvina setuju dengan perkataan kakaknya dan berkata, "Ya. Aku tidak menyangka kalau antusiasme mereka sangat tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan kita."
...----------------...
Sementara itu, Aksa sedang menyambut temannya, Ivan. Selain Ivan, ada tiga orang lagi, dua wanita dan satu pria. Dan mereka berempat adalah dua pasang kekasih.
"Tunggu sebentar, jelaskan bagaimana kalian bisa berpacaran." Aksa masih belum paham bagaimana mereka dekat satu sama lain.
"Hahaha, Aksa, apakah kamu tahu kalau aku dan Alya kuliah di kota yang sama. Kemudian, kami secara kebetulan bertemu saat sedang ada di kafe dan memutuskan untuk mengobrol," jelas Ivan sambil tertawa bahagia.
"Kebetulan apa, ini namanya takdir," sambung Alya yang sedang memegang lengan kiri Ivan dengan penuh cinta.
Aksa mengepalkan tangannya karena tidak tahan dengan tebaran cinta mereka berdua. Ia hanya bisa menghela napas dan menerima kenyataan kalau mereka berdua berpacaran.
"Kalian berkeliling dulu, aku akan mengurus beberapa hal," kata Aksa.
"Ah, ya. Jangan pedulikan kami, kami aka berkeliling terlebih dahulu," angguk Ivan.
Aksa mengangguk kemudian ia pergi, ia memang ada beberapa urusan, yaitu mengangkut lebih banyak produk peternakan karena pengunjung hari ini sangat banyak dan bisa gawat jika produk peternakan di area penjualan habis.
__ADS_1
"Ivan, orang itu temanmu?" tanya seorang pria di sebelah Ivan.
"Ya, dia, aku, dan Alya teman sekelas saat SMA dulu," angguk Ivan.
Namun Ivan lupa mengataka kalau Aksa adalah pemilik Sajaya Farm sehingga Alya dan yang lain berpikir kalau Aksa bekerja di sini karena dia mengatakan kalau ada beberapa urusan tadi.
"Ivan, bukan bermaksud menghina atau bagaimana, tapi kamu berteman dengan seorang pekerja rendahan?" tanya pria tersebut dengan nada ragu-ragu.
Pria tersebut adalah teman satu universitas Ivan, namanya adalah Rizal. Dia orang yang memiliki harta, jadi ia merasa sombong dan selalu merendahkan orang-orang yang ada di bawahnya.
"Benar, jauhi saja dia. Bukankah kamu sudah tidak menjadi pekerja magang lagi? Statusmu sudah berbeda dunia dengan temanmu," kata wanita di samping Rizal.
Wanita tersebut bernama Dinda, yang merupakan pacar Rizal. Sama seperti Rizal, Dinda adalah orang yang penuh kesombongan hanya karena dia memiliki uang yang lebih banyak.
Ivan mengerutkan keningnya, ia tentu saja tahu sifat kedua temannya ini namun tidak menyangka kalau mereka berdua akan menjadi separah ini sampai menghina sahabatnya.
Saat Ivan akan membuka mulutnya untuk menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang mengumumkan kalau sebentar lagi kegiatan akan dimulai dan meminta pengunjung untuk bersiap.
Alya yang bersemangat menarik lengan Ivan menuju area dekat taman bunga yang membuat Ivan tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan kalau Aksa adalah pemilik Sajaya Farm.
Alya juga tahu kalau Rizal dan Dinda memiliki sifat yang sedikit buruk, ia menarik lengan Ivan karena mengira kalau Ivan marah dan ia takut kalau ada perselisihan diantara mereka berempat.
...----------------...
Aksa kembali ke Sajaya Farm dengan membawa banyak sekali produk peternakan. Ia meminta Galih dan penjaga keamanan lain untuk membantu membawa produk peternakan ke area penjualan.
Setelah itu ia membuka ponselnya dan mengirimkan pesan ke grup Sajaya Farm. Grup ini berisikan orang-orang Sajaya Farm, Aksa dan Sarah ada di dalam grup ini beserta semua karyawan.
"Hari ini pengunjungnya sangat banyak, tolong bekerja keras! Aku akan memberi kalian bonus saat awal bulan depan!"
Setelah selesai mengetik dan menekan tombol kirim, karyawan lain yang membaca pesan Aksa segera membalas dengan penuh semangat karena mereka diberikan bonus.
"Hidup Bos Aksa!!"
"Terima kasih Bos!!"
__ADS_1
"Bos! Kami mencintaimu!!"
Aksa mengabaikan pesan tidak jelas mereka dan segera pergi ke area dekat taman bunga karena sebentar lagi kegiatan akan segera dimulai.