Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Aksa dan Adiknya yang Membeli Mobil Mahal


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu sejak acara penyerahan hadiah lomba balap sampan. Dalam waktu satu minggu tersebut, banyak hal yang terjadi di dunia bisnis dan entertainment.


Dalam dunia bisnis, Sajaya Farm meraup banyak keuntungan setelah lomba balap sampan diadakan. Cerita yang dikatakan oleh Heru dan yang lain cukup menyentuh hati banyak orang yang mendengarnya.


Lalu, perusahaan investasi Albar sedang dalam masa kritis karena Albar sama sekali tidak mengambil tindakan atau mengatakan sesuatu terkait dengan video yang tersebar di internet.


Di dunia entertainment, berita yang paling panas adalah kemerosotan reputasi Salsa. Meskipun pihak Dream Star sudah membuat klarifikasi, tapi para penggemarnya tidak mempercayai hal tersebut.


Sudah ada banyak orang yang ahli dalam bidang editing yang memeriksa keaslian video tersebut. Mereka sama sekali tidak menemukan adanya pengeditan lain selain sensor.


Karena hal inilah Salsa yang dulunya dianggap seperti burung yang terbang bebas di langit sekarang seperti ayam yang tidak bisa terbang.


Namun kedua hal tersebut tidak ada kaitannya dengan Aksa, dia saat ini sedang berada di dealer mobil bersama dengan kedua adiknya yang sedang berlibur karena hari ini adalah Hari Sabtu.


"Permisi, apakah Anda sudah memiliki mobil yang diinginkan?" Seorang pramuniaga wanita bertanya dengan senyum hangat kepada Aksa yang baru masuk ke dalam gedung.


Aksa menggelengkan kepalanya dan berkata, "Belum ada, bisakah kamu bantu kami beritahu mobil untuk keluarga? Harga tidak masalah asalkan sesuai dengan kualitasnya."


Mata pramuniaga wanita menjadi cerah karena mendapat pelanggan kaya, ia pun segera membalas, "Tentu saja, daripada saya jelaskan lewat buku promosi, lebih baik saya mengajak kalian melihat mobilnya langsung."


Aksa mengangguk dan berjalan mengikuti pramuniaga itu, Elvira dan Elvina juga mengikuti Aksa sambil melihat sekitar dengan rasa penasaran karena mereka belum pernah membeli mobil.


Beberapa waktu sebelumnya, Aksa mengajak mereka berdua untuk membeli mobil secara tiba-tiba yang membuat mereka tidak percaya.


Sekarang mereka sudah berada di dalam gedung penjualan mobil dan perasaan mereka saat ini seperti ombak besar yang naik turun tidak jelas.


"Kalian berdua juga melihat mobil mana yang bagus untuk keluarga kita. Yah, meskipun aku baru bisa membeli satu mobil karena uangnya masih kurang," kata Aksa kepada kedua adiknya.


"Baik, Kak!" Elvira dan Elvina mengangguk dengan penuh semangat. Mata mereka juga berubah menjadi mata pemindai yang memindai semua mobil yang ada di sana.


Mereka sampai di area mobil keluarga, semua mobil di area ini memiliki body yang besar yang mampu menampung banyak orang sekaligus bagasi yang luas juga.


Saat pramuniaga akan menjelaskan Monik satu per satu, Elvira dan Elvina melihat ke arah suatu mobil dan berlari ke arahnya. Aksa yang melihat hal itu langsung menghentikan mereka dan bertanya.


"Jangan berlarian dengan sembarangan, kalian bisa saja merusak mobil yang ada di sini. Katakan, mengapa kalian berlari ke arah mobil itu?" tanya Aksa dengan nada tidak berdaya.

__ADS_1


Meskipun Aksa menegur dan menasihati kedua adiknya, nada bicaranya tetap seperti dia mengatakan sesuatu yang biasa, bukan dengan nada untuk menasihati seseorang


"Kakak, kami pernah melihat mobil itu di sekolah. Salah satu teman kami biasanya dijemput dengan mobil itu, kami penasaran dengannya dan ingin melihat-lihat," kata Elvira.


"Kata teman kami, mobil itu cukup mahal sehingga kami menjadi sangat penasaran," tambah Elvina.


Aksa menatap kedua adiknya dengan curiga kemudian berkata kepada pramuniaga di samping. "Benarkah? Kalau begitu, tolong jelaskan mobil itu."


"Baik." Pramuniaga tersenyum dan mengangguk.


Mereka berjalan menuju mobil yang dipilih oleh Elvira dan Elvina. Aksa melihatnya lebih dekat, mobil itu ternyata memiliki body yang besar, selain itu desainnya juga elegan dan modern.


"Pak, mobil ini bernama Toyota Innova dan ini merupakan keluaran terbaru dari pabriknya. Mobil ini cocok untuk perjalanan jauh contoh saja saat melakukan perjalanan mudik."


"Selain itu, mobil ini dilengkapi dengan berbagai fitur dan teknologi yang canggih. Innova bisa menampung penumpang sebanyak delapan orang dan bagasi di belakang juga luas."


"Ada sistem keamanan yang sudah teruji dan terjamin keamanannya. Sistem audio dan media yang canggih, dilengkapi dengan layar sentuh yang bisa disambung dengan bluetooth."


Pramuniaga menjelaskan mobil yang bernama Toyota Innova tersebut dengan fasih yang membuat Aksa dan kedua adiknya bisa paham dengan cepat.


"Dimulai dari harga 425 juga, dan yang termahal memiliki harga 625 juta. Tentu saja semakin mahal, semakin baik pula fasilitas dan kenyamanan mobilnya," jawab pramuniaga tersebut.


"Apakah yang termahal tersedia sekarang?" tanya Aksa.


"Tentu, masih ada satu Innova yang termahal," angguk pramuniaga.


Aksa mengangguk, ia menoleh ke arah kedua adiknya dan bertanya, "Apakah kalian menyukai mobil ini? Atau perlu melihat yang lain terlebih dahulu?"


"Kami suka!" jawab Elvira dan Elvina secara bersamaan dengan nada gembira.


"Bagus, aku beli Innova yang termahal." Aksa mengeluarkan kartu atm-nya, kemudian ia menyerahkannya kepada pramuniaga yang tertegun.


Bukan berarti pramuniaga itu tidak profesional, tapi baru kali ini dia melihat ada pelanggan yang membeli mobil tanpa mengedipkan matanya dan langsung memberikan kartu ATM.


Dia sudah pernah melayani banyak pelanggan kaya raya, meskipun mereka membeli mobil, mereka membuat keputusan yang cukup lama bahkan ada yang memerlukan beberapa hari

__ADS_1


"Halo? Ada apa?" Aksa menatap pramuniaga itu dengan tatapan curiga karena tidak memberinya tanggapan.


Pramuniaga itu tersadar dan segera berkata, "Ah, maafkan saya! Mari saya duduk terlebih dahulu, saya akan mengambil dokumen-dokumennya"


Setelah menerima kartu ATM milik Aksa, pramuniaga itu berlari untuk mengambil dokumen mobil. Mereka berbicara mengenai beberapa hal dan setelah itu Aksa menandatangani surat dan dokumen.


Tentu saja Aksa membayarnya secara penuh, ia tidak ingin mengambil kredit karena itu akan membebani pikirannya. Ia juga punya uang, lantas mengapa dia harus mengambil kredit.


Mobil Innova yang dipilih oleh Aksa sudah siap untuk langsung digunakan. Namun plat nomor nya masih belum dipasang karena harus didaftarkan terlebih dahulu. Jadi mobil ini sekarang masih menggunakan plat nomor sementara.


Aksa masuk ke dalam mobil dengan kedua adiknya, kemudian dia keluar dari dealer mobil dan berkeliling kabupaten sambil menikmati udara segar.


"Gunakan mobil ini untuk pergi ke sekolah, kita sekarang sudah kaya, hahaha!" kata Aksa sambil tertawa kepada Elvira dan Elvina.


"Tentu saja!!" Elvira dan Elvina sangat bersemangat dan membayangkan bagaimana reaksi teman-teman mereka saat melihat mengendarai mobil mahal ke sekolah.


"Apakah kalian memerlukan motor?" tanya Aksa.


Anak SMA zaman sekarang sudah banyak yang menggunakan motor, bahkan anak yang belum mempunyai SIM juga mengendarai motor ke sekolah dengan santainya.


"Tidak, kami perlu motor saat kuliah saja. Lagipula sekolah kami dekat dan jika ingin pergi, kami bisa menggunakan motor milik Ayah," jawab Elvira.


"Aku juga sependapat dengan Vira. Kami tidak terlalu membutuhkan motor untuk saat ini, lagipula kami juga baru membeli mobil," angguk Elvina.


"Baiklah kalau begitu, katakan saja jika kalian memerlukan sesuatu. Akan aku usahakan untuk membelinya, lagipula kita sudah memiliki uang dan harus meningkatkan kualitas hidup," kata Aksa dengan serius.


Elvira dan Elvina mengangguk dengan patuh. Mereka juga sangat bahagia dengan kondisi keluarga yang sekarang ini. Yang paling membuat mereka bahagia dalam kamar baru yang terpisah.


Lalu uang saku mereka juga bertambah banyak dari yang awalnya hanya 10.000, kini sudah naik dua kali lipat menjadi 20.000, dan yang memberi uang saku bukanlah orang tua mereka melainkan Aksa


Aksa sudah menjadi tulang punggung keluarga, sekarang di adalah orang yang memegang kendali. Aji dan Ani juga sudah menyerahkan urusan keluarga kepada Aksa.


Aji dan Ani juga sangat bahagia dengan perkembangan yang terjadi. Apalagi mereka bisa melihat anak pertama yang selalu menanggung banyak beban di pundaknya menjadi orang yang sukses.


Kadang-kadang mereka sangat khawatir dengan Aksa yang menyerahkan kuliahnya untuk Alvan. Dia yang merupakan anak pertama harus mengalah kepada adiknya namun harus menanggung beban yang sangat banyak dan berat.

__ADS_1


Untunglah berkah Sistem Game Peternakan, kehidupan Aksa mulai berubah dan perubahan itu merupakan hal yang baik bagi Aksa, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya.


__ADS_2