
Sementara itu di depan Sajaya Farm, sebuah mobil mewah yang familiar memasuki area parkir khusus dengan sendirinya tanpa dipandu oleh penjaga keamanan seolah-olah mobil itu sudah cukup sering ke sini.
Pintu mobil terbuka dan keluarlah satu pria paruh baya yang mengenakan pakaian semi-formal. Pria paruh baya tersebut adalah Eddy yang sedang istirahat siang dan berpikir untuk mengunjungi Sajaya Farm.
"Galih, apakah kamu tahu ada di mana Aksa berada?" Eddy berjalan menuju pos penjaga keamanan dan bertanya kepada Galih yang sedang duduk di sana dengan penjaga keamanan lain.
"Pak Eddy, saya kurang tahu Bos ada di mana, perlukah saya telepon?" tanya Galih dengan nada sopan karena tahu siapa pria paruh baya di depannya.
"Tidak perlu, aku bisa meneleponnya sendiri." Eddy melambaikan tangannya. Dia duduk di kursi dan memanggil Aksa.
Panggilan terhubung, kemudian setelah beberapa saat, panggilan berakhir. Eddy mengangguk ke arah Galih dan penjaga keamanan lainnya lalu setelah itu dia pergi ke restoran.
...----------------...
"Pak Roni?" Eddy terkejut saat melihat Roni sedang berbicara dengan Aksa dengan santai seolah-olah mereka sudah kenal lama.
"Oh, Eddy!" Roni menyapa Eddy dan mempersilakannya untuk duduk di sebelahnya.
"Kalian berdua saling kenal?" Aksa bertanya dengan penasaran, tapi setelah beberapa detik dia sudah mendapatkan jawabannya.
"Haha, dilihat dari ekspresimu, kamu sudah tahu jawabannya ya. Yah, Pak Roni adalah dokter yang biasanya menangani pasien orang-orang berstatus, banyak orang kaya yang mengenalnya," kata Eddy setelah tertawa.
Biasanya memang begitu, kepala dokter selalu menangani orang-orang penting karena seorang kepala dokter pasti memiliki keterampilan yang sangat ahli dan pengalaman yang banyak.
Juga tidak bisa sembarang dokter yang bisa menangani orang-orang berstatus. Jika terjadi sesuatu, maka dokter tersebut tidak akan bisa menanggungnya, itulah mengapa kepala dokter yang turun tangan.
"Ngomong-ngomong, apa yang Pak Roni lakukan di sini?" tanya Eddy kepada Roni dengan penasaran karena statusnya yang tidak biasa.
Eddy tentu saja tahu kalau Roni membeli daging sapi dari Sajaya Farm karena dia sudah melihat siaran langsung saat itu. Ia hanya bertanya urusan apa yang dilakukan oleh Roni di sini.
Roni menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan rahasia, tapi nanti saja. Kami sedang menunggu hidangan dengan bahan yang lebih tinggi, mari kita berbicara setelah makan."
__ADS_1
Eddy mengangkat alisnya dan berkata dengan nada tertarik, "Bahan gang lebih tinggi? Bolehkah aku merasakannya juga?"
Aksa tersenyum dan mengangguk, lalu ia berkata, "Tentu saja, Anda dipersilakan."
Kebetulan sekali pada saat ini, beberapa pelayan membawa troli makanan ke arah meja mereka. Pelayan tersebut menaruh makanan yang ada di atas troli makanan ke atas meja makan mereka.
Namun sebelum pelayan itu pergi, Aksa berkata kepadanya. "Tolong panggilkan karyawan wanita yang sedang senggang ke sini, yang penting dia mau bermain dengan anak kecil."
"Baik, Bos." Pelayan itu mengangguk sebelum dia pergi sambil membawa troli makanan.
Roni dan Eddy menganggukkan kepala mereka, tindakan Aksa sangat bagus di mata mereka karena peduli dengan Gia. Gia tidak perlu bermain dengan orang lain karena dia bisa duduk diam, tapi tindakan Aksa mencerminkan sikapnya.
"Nah, mari kita makan. Aku yang merupakan pemilik Sajaya Farm juga belum pernah merasakan bahan ini," kata Aksa sambil mengambil sendok dan garpu.
"Oh? Kalau begitu kami merasa terhormat karena menjadi yang pertama mencoba," kata Eddy sambil tertawa kecil.
Roni juga tertawa dan berkata, "Hohoho, pria tua ini juga merasa terhormat."
Mereka mengambil makanan yang berbeda-beda, Aksa dan Gia mengambil telur, Roni mengambil daging sapi, dan Eddy mengambil daging ayam.
Mereka memasukan makanan yang mereka ambil ke dalam mulut, kemudian betapa terkejutnya mereka saat merasakan rasa yang belum pernah mereka rasakan di lidah.
"Apa ini!? Bentuk dan teksturnya sama dengan daging sapi biasa tapi rasanya benar-benar tidak bisa diremehkan, tidak, ini bukan rasa yang umum lagi!" teriak Roni dengan terkejut.
"Pak Roni benar, daging ayam yang aku makan juga sangat enak seolah-olah yang aku makan selama hidupku bukanlah daging ayam!' Eddy mengangguk sependapat dengan Roni.
"Ini Enak!" Gia hanya berkomentar singkat kemudian dia melanjutkan makan telur dengan lahap yang membuat Aksa tertawa.
Aksa juga sangat terkejut di dalam hatinya, "Jadi seperti ini rasanya produk peternakan kualitas B. Meskipun hanya berbeda satu tingkat, tapi perbedaannya sangat besar."
Apa yang membuat hidangan lebih enak adalah karena kualitas produk peternakan itu sendiri. Karena rasa yang mereka rasakan berasal dari produk itu sendiri, bukan dari bumbu-bumbu yang digunakan.
__ADS_1
Bumbu digunakan untuk memberi rasa pada sebuah hidangan yang sedang dimasak. Namun hidangan yang ada di Sajaya Farm, bumbu digunakan untuk pelengkap rasa saja.
Itulah mengapa banyak orang yang sangat menyukai produk peternakan Sajaya Farm karena rasanya sangat berbeda dengan hidangan yang menggunakan banyak sekali bumbu.
"Aksa, apakah hidangan ini akan diperjualbelikan kepada pengunjung?" tanya Eddy sambil menyendok daging ayam dengan nasi ke dalam mulutnya.
"Tidak, aku akan menggunakan bahan kualitas tinggi untuk menjamu orang-orang berstatus. Sajaya Farm kekurangan sesuatu yang berkelas, itukah mengapa aku memutuskan hal ini," jawab Aksa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu benar. Meskipun saat ini Sajaya sudah terkenal, tapi itu hanya sebatas orang biasa. Orang-orang berstatus tidak tertarik karena tidak ada yang membuat mereka tertarik," angguk Roni karena perkataan Aksa memang benar.
"Paman, ini sangat enak!" Gia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan namun dia memuji hidangan yang dia makan saat ini.
"Sungguh? Kalau begitu makan lebih banyak." Aksa tersenyum dan mengelus-elus kepala Gia, lalu dia memberikan potongan daging sapi kepadanya.
"Um!" Gia mengangguk, dia melihat potongan daging sapi di piringnya dengan mata penasaran karena dia berpikir kalau itu akan sangat enak juga.
Pada saat ini, karyawan wanita yang dipanggil oleh pelayan tadi datang. Aksa mengangguk dan memintanya untuk menyuapi Gia, karyawan itu juga diperbolehkan untuk makan.
Namun bagaimana bisa karyawan wanita itu makan di meja yang sama dengan bos dan tamunya. Jadi dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat dan hanya menyuapi Gia.
Aksa juga tidak memaksanya meskipun dia tidak keberatan. Eddy dan Roni juga tidak keberatan, namun mereka juga mengangguk dengan puas dengan sikap karyawan wanita itu.
Setelah beberapa saat, mereka berempat sudah menyelesaikan makan mereka. Aksa meminta karyawan wanita untuk membawa Gia bermain di area lain.
Roni juga menganggukkan kepalanya ke arah orang-orang sekitar. Mereka segera berdiri karena sudah paham dengan perintah dari Roni bahkan tanpa mengeluarkan suara.
Lalu Gia dibawa pergi bermain oleh karyawan wanita sedangkan beberapa pengawal bergerak setelah mereka dan memantau denga sistematis.
"Jadi, haruskah kita memulai perbincangannya sekarang?" kata Aksa setelah meminum jus miliknya.
"Tentu, Pak Roni dipersilakan untuk berbicara terlebih dahulu." Eddy mempersilakan Roni untuk berbicara karena dia lebih senior dan dia yang datang terlebih dahulu sebelum dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, haruskah aku berbicara?" Roni mengangguk dan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.