
Eddy dan Dewi memanggil pelayan dan memesan susu murni terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokan. Seperti yang mereka pikirkan, susu murni di Sajaya Farm sangat enak.
"Aku tahu kalau pemilik Sajaya Farm itu masih muda tapi aku tidak menyangka akan semuda itu!" desah Dewi yang terkejut dengan penampilan Aksa tadi.
"Sama sepertiku, saat Sarah menyapaku, aku penasaran siapa pria di sampingnya dan tidak disangka-sangka kalau dia adalah pemilik Sajaya Farm," angguk Eddy yang setuju dengan perkataan istrinya.
"Selain kita, apakah ada kenalan atau temanmu yang berkunjung ke sini?" tanya Dewi dengan penasaran.
"Hahaha, beruntungnya aku karena aku adalah orang yang pertama datang ke sini dan kamu adalah yang kedua. Mungkin orang tua Sarah sudah mengetahuinya tapi hanya kita berdua yang datang ke sini," kata Eddy sambil tertawa.
"Kalau begitu aku akan mengajak teman-temanku nanti. Mereka tidak memiliki banyak kegiatan dan biasanya kami hanya minum teh bersama dan mengobrol yang sedikit membosankan," kata Dewi.
Eddy mengangguk mendengar perkataan istrinya, ia berkata, "Bawa saja mereka ke sini. Aku malah khawatir jika kalian tidak memiliki kegiatan dan melakukan sesuatu yang merugikan."
Dewi memutar matanya dan membalas, "Aku tahu maksud perkataanmu itu. Jangan khawatir, aku hanya mencintaimu sampai mati."
"Hahaha, bagus!" Eddy tertawa dengan puas.
Pintu ruangan diketuk dan pelayan masuk sambil membawa troli makanan. Ia segera menyajikan dua porsi makanan yang dipesan oleh Eddy dan Dewi dan beberapa hidangan tambahan.
"Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya." Pelayan membungkukkan badannya dan akan pergi namun berhenti karena Eddy mengajukan pertanyaan.
"Permisi, apakah Aksa sedang sibuk?" tanya Eddy.
"Bos Aksa sedang berada di lokasi pembangunan, sepertinya dia sedang memeriksa para pekerja. Apakah perlu saya panggil?" kata pelayan.
"Ah, tidak perlu. Kalau begitu terima kasih," kata Eddy sambil melambaikan tangannya.
"Baik." Sekali lagi pelayan membungkukkan badannya kali pergi meninggalkan ruangan setelah menutup pintu.
Eddy dan Dewi mencium aroma yang harum dari makanan di depan mereka. Karena sudah sangat lapar, mereka langsung makan tanpa mengatakan apapun lagi.
"!!" Eddy dan Dewi membelalakkan mata mereka saat daging sapi dan daging ayam di sendok mereka bersentuhan dengan lidah.
"Ini sangat enak!!" kata Eddy memuji daging sapi yang ia makan bersama dengan mie nya.
"Aku setuju." Dewi mengangguk setuju dengan perkataan Eddy.
__ADS_1
Dewi yang sudah mencoba makanan tadi sudah menjadi penggemar Sajaya Farm. Ia berpikir kalau akan mengajak teman-temannya saat ada waktu luang karena mereka hanyalah ibu rumah tangga.
Mereka makan dengan lahap karena dagingnya sangat enak. Mereka adalah orang kaya dan pasti sudah memakan banyak sekali makanan yang mahal dan enak, namun baru kali ini mereka makan daging yang sangat enak.
Jika ada restoran yang menjual daging selezat ini, bisa dipastikan kalau harganya akan sangat mahal dan hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang memiliki banyak uang.
Namun sekarang mereka menikmati makanan selezat ini dengan harga cukup murah untuk mereka dan di masa depan mereka juga bisa membeli daging sapi dan daging ayam ini dengan sangat mudah.
"Menurutmu, dari mana Aksa mendapatkan semua ini?" tanya Dewi setelah menghabiskan makanannya sampai bersih tak tersisa.
Eddy menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak tahu, tapi mari jangan bertanya karena itu adalah hal yang pribadi. Kita hanya perlu membeli dan menikmatinya."
"Baiklah." Dewi mengangguk karena ia tahu kalau apa yang suaminya katakan memang benar kalau tidak sopan bertanya sesuatu yang merupakan rahasia bisnis.
Saat mereka sedang berbincang-bincang sambil mencerna makanan, Aksa mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ia tersenyum melihat piring dan mangkuk yang bersih di meja makan.
"Sepertinya Pak Eddy dan Bu Dewi menikmati produk baru Sajaya Farm?" tanya Aksa sambil tersenyum cerah.
"Sangat menikmati!" kata Eddy dan Dewi dengan penuh semangat.
Aksa tersenyum dan menjawab, "Dua produk baru akan tersedia di area penjualan saat pembangunan kandang sudah selesai. Kira-kira kandang akan selesai dalam waktu satu minggu."
Pembangunan akan selesai dalam waktu satu bulan namun jika hanya kandang, maka akan selesai dalam waktu satu minggu karena bagi pekerja konstruksi, cukup mudah untuk membuat kandang.
"Satu minggu? Tidak apa-apa, kami bisa menunggunya. Lalu, di dekat area sungai, kamu sedang membangun apa?" Eddy bertanya dengan pemasangan.
Aksa menyentuh dagunya dan berpikir sebentar sebelum berkata, "Yah, tolong rahasiakan ini."
Eddy mengangguk dengan serius dan menjawab, "Tentu saja, kami tidak akan memberitahu siapapun bahkan keluarga kami."
"Terima kasih. Selain kandang untuk dua hewan baru, aku membangun villa dan kamar untuk orang menginap di Sajaya Farm." Aksa menjelaskan rencana yang sedang diproses kepada Eddy dan istrinya.
"Oh! Sangat bagus! Saat akhir pekan atau hari luang, aku pasti akan menginap di sini!" teriak Eddy yang tertarik dengan rencana baru Sajaya Farm.
"Tentu saja, Anda dipersilakan kapanpun," angguk Aksa.
"Ngomong-ngomong, Aksa. Apakah Sajaya Farm memiliki sistem keanggotaan?" tanya Eddy.
__ADS_1
Sistem keanggotaan, maksud dari dua kata tersebut adalah menjadi anggota suatu tempat dan membayar biaya tertentu. Nanti, tempat tersebut biasanya akan mengeluarkan kartu yang berbeda sesuai dengan biaya yang dihabiskan.
Kartu keanggotaan tersebut berguna untuk memberikan diskon kepada pemiliknya, memberikan otoritas untuk pergi ke tempat tertentu, dan jika memiliki kartu keanggotaan tertinggi, orang tersebut akan dilayani dengan pelayanan yang terbaik.
"Maaf, Pak. Sajaya Farm masih tempat wisata kecil dan belum layak untuk menambahkan sistem keanggotaan. Lagipula tidak ada tempat-tempat khusus yang bisa digunakan," kata Aksa dengan nada tak berdaya.
Memang, biasanya sistem keanggotaan diluncurkan di sebuah hotel kelas atas, restoran terkenal, dan tempat terkenal lainnya. Namun Sajaya Farm masih jauh dari kata itu.
"Sangat disayangkan, namun kamu ada benarnya juga. Akan sia-sia menambahkan sistem keanggotaan sekarang," angguk Eddy setuju karena perkataan Aksa cukup masuk akal.
Setelah berbicara sebentar, Aksa pergi karena masih harus berpatroli. Lalu saat ia berada di taman bunga, ia melihat ada sekelompok orang sedang menempati area kecil. Ada beberapa wanita dengan pakaian indah dan beberapa pria yang memegang kamera.
Aksa teringat kalau Galih pernah melapor kalau ada beberapa kelompok fotografi datang ke taman bunga untuk berfoto-foto. Seperti biasa Aksa tidak mempermasalahkan hal tersebut asalkan tidak merusak apapun.
"Aku mendapatkan ide bagus. Mengapa tidak mengadakan event cosplay di sini? Acaranya gratis karena tujuan dari acara ini adalah untuk mempopulerkan Sajaya Farm. Hm, sepertinya aku harus berbicara dengan Sarah nanti," pikir Aksa.
Meskipun Aksa sudah melihat video di media sosial yang diunggah oleh pengunjung, tapi Sajaya Farm masih belum terlalu populer. Tahun ini Aksa berencana untuk mempopulerkan Sajaya Farm sampai luar provinsi.
...----------------...
Sore harinya, Eddy dan Dewi pulang karena sudah cukup bersenang-senang di Sajaya Farm. Sajaya Farm juga sudah tutup dan karyawan mulai membersihkan dan beres-beres.
Meskipun rumah Aksa dan Sarah berdekatan, mereka tidak pulang atau berangkat bersama. Itu karena Aksa harus mengangkut produk-produk peternakan game menggunakan motor roda tiga.
Biasanya Aksa mengangkat produk peternakan dua kali sehari. Pertama saat pagi hari sebelum Sajaya Farm buka dan kedua saat siang hari setelah istirahat makan siang. Karena pengunjung biasanya membeli banyak barang sekaligus.
Setelah pulang, ia mandi dan mengobrol dengan keluarganya. Elvira dan Elvina sudah masuk sekolah, namun Alvan dan Rina akan kembali seminggu kemudian karena mereka sudah meminta cuti.
"Kakak, bisakah kami datang ke Sajaya Farm besok?" tanya Alvan.
"Yah, mengapa kamu meminta izin?" Aksa menatap adiknya dengan heran.
"Benar juga, mengapa aku harus bertanya?" Alvan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya menyadari kebodohannya.
"Kakak bodoh!" Seperti biasa itu adalah suara Elvina yang suka mengejek.
"Apa katamu!?" Alvan berbalik dan mulai bertarung dengan Elvina.
__ADS_1