
"Terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk berbicara. Namaku adalah Roni dan ini adalah cucu perempuanku Gia." Roni memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Namaku adalah Aksa, penanggung jawab dari Sajaya Farm." Aksa mengangguk dan memperkenalkan dirinya juga.
Aksa meminta salah satu karyawan wanita untuk duduk di kursi sambil bermain dengan Gia karena takut kalau Gia akan bosan dan malah membuat masalah.
Roni mengapresiasi tindakan Aksa, lalu ia mulai menjelaskan. Gia menderita penyakit anemia dan Roni tahu kalau apa yang dimaksud oleh cucunya tadi adalah daging sapi yang Gia makan bermanfaat melawan anemia.
Anemia adalah penyakit yang membuat orang yang terkena kekurangan darah, Gia menjadi lebih baik yang berarti kalau daging sapi yang Aksa serahkan mengandung sesuatu yang bisa memproduksi darah.
"Jadi begitu, sekarang aku paham mengenai situasinya." Aksa menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham dengan penjelasan dari Roni.
"Syukurlah, lalu Pak Aksa, apakah Anda bisa menjual daging sapi tersebut kepada saya?" tanya Roni dengan sopan.
"Pertama-tama, panggil saja aku Aksa dan jangan terlalu sopan. Tidak enak jika yang lebih tua bersikap terlalu sopan dengan anak muda, haha," kata Aksa sambil tertawa kecil.
Roni sedikit terkejut dengan sikap Aksa, ia tersenyum dan berkata, "Baiklah, Aksa. Kamu juga bisa memanggilku Pak Roni karena aku sudah sangat tua, hahaha."
Aksa tersenyum di dalam hatinya saat mendengar perkataan Roni. Panggilan tersebut membuat hubungan di antara keduanya menjadi dekat dan semua pembicaraan bisa dibicarakan dengan baik.
"Pak Roni pasti sudah tahu kalau di area penjualan juga menjual daging tapi aku tahu kalau Anda bukanlah orang yang bodoh. Daging sapi yang aku gunakan tadi adalah daging sapi yang berbeda."
"Daging sapi ini berasal dari sapi yang dirawat secara khusus yang selain rasanya yang lebih enak, ada juga efek tambahan kalau bisa memproduksi darah di dalam tubuh orang yang memakannya."
"Itulah mengapa bahkan meskipun Pak Roni ingin banyak daging, aku tidak bisa terlalu banyak menyediakannya karena keterbatasan stok."
Tanpa basa-basi, Aksa langsung menjelaskan mengenai daging sapi kualitas C yang ia gunakan tadi sebagai daging dari sapi yang dirawat secara khusus agar orang yang mendengarnya tidak curiga.
"Seperti yang diharapkan, tentu saja aku sudah memikirkan hal ini. Lalu apakah kamu bisa menyediakan satu atau dua kilogram daging sapi dari bagian manapun untukku setiap minggu?" tanya Roni dengan yakin.
"Tentu saja aku bisa jika hanya satu atau dua kilogram per minggunya. Tapi apakah Anda yakin? Maksudku, dua kilogram daging sapi tidak cukup untuk beberapa orang," tanya Aksa untuk memastikan.
"Hohoho, itu lebih dari cukup. Keluargaku ada empat orang termasuk anak dan menantuku. Aku ini seorang dokter dan tahu berapa batas aman mengonsumsi daging setiap minggunya," kata Roni sambil tertawa.
"Kita hanya perlu mengonsumsi daging sebanyak 350-500 gram per minggu atau setidaknya 50-70 gram per hari. Jadi dua kilogram daging sudah cukup bagi kami," sambungnya.
"Oh? Anda seorang dokter? Aku tidak menyangka. Kalau begitu kita sepakat untuk dua kilogram per minggu?" kata Aksa.
__ADS_1
"Sepakat, dua kilogram per minggu," angguk Roni.
Mereka saling bertukar kontak sebelum mengakhiri pembicaraan. Aksa memberikan beberapa gram daging untuk Roni sebagai hadiah awal dan Roni juga tidak menolaknya.
Mereka tidak membicarakan mengenai harganya karena Aksa dan Roni sama sama tahu kalau daging sapi yang mereka bahas tidak tersedia di pasar dan tidak bisa dibeli oleh orang-orang biasa.
--- {Gila, aku tidak menyangka kalau siaran langsung peternakan menjadi siaran langsung bisnis. Meskipun begitu, aku tidak mempermasalahkannya.}
--- {Aksa!! Katakan padaku berapa harga untuk daging sapi itu yang lebih lezat itu!? Aku ingin membelinya!?}
Para penonton tidak menyangka mereka berbicara dalam waktu yang cukup singkat namun sudah membahas sampai ke intinya yang membuat para penonton tercengang.
Aksa mengabaikan pertanyaan dari penonton mengenai harga dan stok daging sapi kualitas C. Jika ia menanggapi pertanyaan itu, bisa dipastikan kalau akan ada banyak orang yang memburu daging sapi kualitas C.
Meskipun Aksa mempunyai banyak stok di gudang peternakan, tapi ia akan menggunakan produk peternakan kualitas C untuk orang-orang tertentu saja.
Jadi, sambil menanggapi pertanyaan ramah dari penonton, Aksa dan yang lain kembali ke tempat semula dan melanjutkan siaran langsung masak-memasaknya.
"Itu, Pak Aksa, para penonton tidak terlalu ingin melihat acara masak-memasak, mereka hanya ingin mendengar beberapa pengetahuan," kata Lisa sebagai tiba-tiba.
"Baiklah, lalu akan aku beritahu mengenai perbedaan cara menyembelih dengan cara menggunakan pisau seperti yang biasa kita lakukan dan menyembelih dengan cara pemingsanan yang digunakan oleh negara barat," kata Aksa.
--- {Boleh juga, meskipun topiknya biasa-biasa saja tapi aku cukup tertarik dengan perbedaannya karena ternyata cara menyembelih hewan di negara barat berbeda.}
--- {Aku pernah mendengar beberapa informasi namun aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak karena saat itu aku tidak percaya.}
"Baiklah, kalian pasti penasaran bukan? Lalu akan aku beritahu perbedaannya." Aksa mulai menjelaskan perbedaan di antara dua cara menyembelih hewan.
Pertama adalah menyembelih menggunakan pisau seperti yang biasa negara Indonesia lakukan. Hewan akan disembelih dengan cara menyayat leher hewan dengan tepat dan cepat.
Proses penyembelihan ini bisa dikatakan cukup sulit karena hewan biasanya berbaring meronta-ronta secara berlebihan yang membuat proses penyembelihannya tertunda cukup lama.
Kedua adalah menyembelih menggunakan alat listrik kejut yang digunakan untuk membuat hewan yang akan disembelih pingsan terlebih dahulu.
Proses penyembelihan dengan cara ini juga cukup mudah, orang hanya perlu memberi kejutan listrik di kepala hewan dan menunggunya pingsan sebelum siap untuk disembelih.
--- {Jadi begitu ya, ternyata cara dari negara barat sangat sederhana. Mungkin negara kita bisa menerapkan cara tersebut agar lebih efisien.}
__ADS_1
--- {Aku setuju, menyembelih dengan menggunakan pisau cukup sulit karena hewan biasanya meronta-ronta yang menunda proses penyembelihan.}
--- {Meskipun aku juga setuju, tapi aku yakin kalau ada alasan tersendiri mengapa negara kita menyembelih dengan menggunakan pisau.}
"Tepat sekali, ada alasan tersendiri dan alasan ini sangat penting. Sebelum aku memberitahu, aku ingin bertanya apakah kalian peduli dengan hewan?" tanya Aksa dengan serius kepada para penonton.
Para penonton yang mendengar pertanyaan Aksa langsung menjawab 'peduli' dengan cepat tanpa pikir panjang dan mereka tidak tahu mengapa Aksa mengajukan pertanyaan sederhana seperti itu.
"Bagus, akan aku beritahu alasannya. Metode pemingsanan atau stunning memang lebih efisien karena hewan akan dipingsankan sebelum disembelih."
"Namun, ada penelitian yang mengungkapkan kalau penyembelihan dengan cara negara barat justru akan menyiksa hewan dan ini sudah dibuktikan."
"Para peneliti meletakkan alat khusus yang berguna untuk mendeteksi sinyal rasa sakit. Mereka menemukan sinyal rasa sakit yang luar biasa di hewan yang dipingsankan dengan cara diberikan kejutan listrik."
"Dan sebaliknya, cara yang menggunakan pisau justru sama sekali tidak ada rasa sakitnya bagi hewan karena penyembelih menyayat leher hewan dengan tepat dan cepat."
Aksa menjelaskan perbedaan antara dua cara penyembelihan yang digunakan oleh negara Indonesia dan negara-negara di barat yang mengejutkan para penonton.
--- {Tidak mungkin? Aku tidak menyangka kalau ternyata faktanya seperti itu, aku akan menarik komentarku tadi yang mengatakan cara negara barat lebih bagus.}
--- {Aku juga sangat terkejut, itu artinya setiap hewan yang disembelih dengan cara negara barat akan merasakan rasa sakit yang luar biasa.}
--- {Aku paham dengan rasa sakit, tapi mengapa sapi yang disembelih dengan menggunakan pisau selalu meronta-ronta?}
Aksa mengangguk dan berkata, "Pertanyaan yang sangat bagus. Hewan meronta-ronta dikarenakan kejutan otot di tubuh mereka. Hewan tentu saja akan panik saat ia dibaringkan dan dikelilingi banyak orang."
--- {Jadi begitu! Ternyata hewan meronta-ronta bukan karena rasa sakit yang diterima saat lehernya disayat dengan pisau.}
--- {Wah, terima kasih Aksa! Kamu sungguh berpengetahuan, aku tidak menyangka akan diberi Informasi yang cukup mengejutkan di siaran langsung.}
Aksa tersenyum melihat para penonton paham dengan penjelasan Aksa. Lalu setengah jam kemudian, siaran langsung berakhir.
Aksa kembali ke kantornya untuk tidur sebentar karena ia terlalu lelah. Namun saat ia tidur, banyak media yang membicarakan Aksa.
Alasannya karena Aksa adalah anak muda yang berpengetahuan luas dan bisa memberikan informasi yang cukup mengejutkan para penonton siaran langsung.
Berkat berita ini, banyak orang dari luar provinsi yang tertarik dengan Aksa dan mereka melihat kalau ada sebuah tempat wisata peternakan yang bernama Sajaya Farm di Kabupaten Banyumas.
__ADS_1